“…ἀκούοντες μὲν τῆς φωνῆς…” (Kis. 9:7)
“…τὴν δὲ φωνὴν οὐκ ἤκουσαν..” (Kis. 22:9)

Kisah 9:7 menyatakan bahwa pada saat Paulus mengalami pengalaman dekat Damsyik, orang-orang yang bersama dia “mendengar suara”. Peristiwa yang sama, ketika dikisahkan kembali oleh Paulus dalam Kisah 22:9, ia menyatakan bahwa mereka yang bersama dia “tidak mendengar suara”. Tidak heran, kedua ayat di atas, oleh beberapa orang, dianggap berkontradiksi.

Solusi dari Gleason L. Archer, Jr.
Anggapan mengenai kontradiksi di atas, dibahas oleh Archer, dalam bukunya yang membahas hampir semua kesulitan-kesulitan yang ada dalam Alkitab.[1] Saya tahu bahwa solusi yang dikemukakan Archer ini pada umumnya dianut juga oleh orang-orang Kristen. Namun saya tidak perlu menyebutkan semua yang menganut solusi ini. Saya membaca buku Archer, dan saya perlu memberikan evaluasi terhadap solusinya.

Menurut Archer, kedua ayat tersebut tidak berkontradiksi. Alasannya,

“Bahasa Yunani membedakan antara mendengar suara yang bising [dalam hal ini kata kerja ‘mendengar’ menggunakan kasus genetif] dan mendengar suara yang mengandung pesan yang bisa dimengerti [dalam hal ini menggunakan kasus akusatif]”.

Ada dua yang bisa dicatat dari solusi Archer, yaitu: Pertama, Kisah 9:7 berarti mendengar suara bising, namun suara itu lebih menyerupai sebuah kebisingan; Kisah 22:9 berarti mereka tidak mendengar suara yang mengandung pesan yang bisa dimengerti. Kedua, kita bisa mengetahui perbedaan ini berdasarkan konstruksi gramatikalnya, yaitu penggunaan  akouo + genetif (Kis. 9:7) dan akouo + akusatif (Kis. 22:9). Jadi basis untuk mengetahui perbedaan ini adalah adanya penggunaan kasus kata “bunyi” (Yun. fone) yang berbeda. Terjemahan NIV tampaknya mengikuti solusi ini dengan menggunakan terjemahan yang berbeda untuk “bunyi” dalam kedua ayat ini (“sound” – Kis. 9:7; “voice” – Kis. 22:9).

Evaluasi
Saya memperhatikan bahwa umumnya solusi di atas diterima oleh banyak orang Kristen, karena mereka tidak cukup teliti atau bahkan tidak pernah memeriksa PB di dalam bahasa Yunaninya untuk memastikan kebenaran solusi tersebut. Kita harus ingat satu hal, solusi berbasis perbedaan makna berdasarkan perbedaan kasus kata benda ini akan solid bila kita mendapati bahwa PB menggunakan akouo + akusatif dan akouo + genetif secara konsisten dalam pengertian di atas.

Saya menyebut solusi ini “solusi gramatikal”.

Namun, solusi ini akan sangat mudah digugurkan bila terdapat satu kasus saja di mana akouo + akusatif atau akouo + genetif yang tidak digunakan dalam pengertian seperti yang dikemukakan Archer di atas. Konkretnya: Apakah akouo + genetif selalu berarti “suara yang tidak mengandung pesan yang bisa dimengerti”? Dan apakah akouo + akusatif selalu berarti “suara yang mengandung pesan yang bisa dimengerti”?

Sayangnya, pertanyaan di atas harus dijawab tidak! PB dalam bahasa Yunaninya menghadirkan banyak contoh yang “membubarkan” perbedaan mutlak antara akouo + akusatif atau akouo + genetif sebagaimana yang diasumsikan dan terekspresi dalam solusi Archer di atas.

Dalam beberapa bagian, akouo + akusatif digunakan dalam pengertian “mendengar suara yang mengandung pesan yang bisa dimengerti” [Mat. 13:19; Mrk. 13:7/Mat. 24:6/Luk. 21:9; Kis. 5:24; 1Kor. 11:18; Ef. 3:2; Kol. 1:4; Flm. 5; Yak. 5:11; Why. 14:2].  Sedangkan akouo + genetif juga digunakan dalam pengertian “mendengar suara yang tidak mengandung pesan yang bisa dimengerti” [Mat. 2:9; Yoh. 5:25; 18:37; Kis. 3:23; 11:7; Why. 3:20; 6:3, 5; 8:13; 11:12; 14:13; 16:1, 5, 7; 21:3].

Apakah solusi Archer harus ditinggalkan sama sekali? Tidak seluruhnya! Asumsi bahwa perbedaan arti antara akouo + akusatif dan akouo + genetif semata-mata berdasarkan perbedaan kasus kata bendanya, memang fallacious! Ada banyak contoh, sebagaimana yang dicantumkan di atas, yang melawan asumsi tersebut.

Lalu, bagaimana?

Solusi Gramatikal + Konteks
Penjelasan Archer mengandung kebenaran. Faktanya, memang ada perbedaan kasus kata benda di antara kedua ayat ini. Dan sebagaimana yang dikemukakan Archer, ada contoh-contoh di mana perbedaan penggunaan kasus kata benda ini mendukung maksud Archer [kesalahan Archer adalah mengasumsikan bahwa harus selalu demikian].

Tetapi, penentuan perbedaan arti ini bukan terletak atas perbedaan kasus kata benda fone [“buny”], melainkan konteks naratifnya. Dan konteks naratif yang harus menjadi basis pemahaman akan kedua ayat ini adalah Kisah 9 karena ini adalah konteks di mana peristiwa itu terjadi, sementara Kisah 22 merupakan pengisahan kembali dari peristiwa yang dikisahkan dalam Kisah 9.

Jelas dalam Kisah 9:7, dikatakan bahwa orang-orang yang bersama Paulus mendengar bunyi yang tidak mengandung pesan yang bisa dimengerti, kecuali Paulus. Jadi, bila dikemudian hari Paulus menyatakan bahwa mereka yang bersama dia tidak mendengar suara itu, pernyataan ini harus dimengerti dalam pengertian bahwa suara yang terdengar itu hanya dimengerti oleh Paulus pada waktu itu. Mereka tidak mendengar suara yang dimengerti oleh Paulus.

Tidak ada kontradiksi!


[1] Gleason L. Archer, Jr., Encyclopedia of Biblical Difficulties (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1982), 382.