Dalam sejumlah perdebatan, saya menemukan bahwa tuduhan mengenai poetics-biblical-narrative-ideological-literature-drama-reading-meir-sternberg-paperback-cover-artanakronisme dalam Alkitab, sebenarnya disebabkan oleh ketidakpahaman para penuduh tersebut akan salah satu genre dominan dalam narasi-narasi Alkitab, yaitu narasi sejarah prolepsis.

Isitlah prolepsis berasal dari kata bahasa Yunani: prolambanein, yang secara umum berarti “mengantisipasi sebelumnya”.  Dari istilah ini, para ahli sejarah menggunakannya sebagai sebuah istilah teknis untuk tulisan sejarah yang mempresentasikan sesuatu tidak sesuai dengan jamannya. Contoh senderhananya: “Ketika raja Daud masih kecil, ia terbiasa berburu di padang”. Kalimat ini adalah prolepsis karena pada waktu Daud masih kecil, ia belum menjadi seorang raja. Tetapi, kalimat ini tidak dapat disalahkan, karena pada waktu kalimat ini dikomposisi, Daud telah menjadi raja.

Dalam The First Book of Samuel, Tsomura memberikan komentar menarik mengenai narasi Daud membunuh Goliat dalam 1 Samuel 17 di mana dalam ayat 54 dikatakan, “Dan Daud mengambil kepala orang Filistin yang dipancungnya itu dan membawanya ke Yerusalem, tetapi senjata-senjata orang itu ditaruhnya dalam kemahnya”. Tsomura bersama dengan ahli lainnya percaya bahwa penyebutan “Yerusalem” di sini merupakan sebuah sejarah prolepsis karena sebenarnya pada waktu itu Yerusalem belum merupakan bagian dari kerajaan Israel sampai Daud mengalahkan Yebus dan pasukannya (2Sam. 5:6-9).[1]

Pandangan di atas sebenarnya didasarkan atas tulisan dari Meir Sternberg yang berjudul: The Poetics of Biblical Narrative: Ideological Literatur and the Drama of Reading.[2] Dalam buku ini, Sternberg menyajikan begitu banyak contoh mengenai sejarah prolepsis dalam Alkitab. Salah satunya, adalah pernyataan pertama dalam Alkitab, “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Bagi Sterberg, penyebutan “Allah” di sini padahal sang penulis belum memperkenalkan siapa Allah – hal yang baru ditemukan para pembaca – secara sporadis dalam pembacaan selanjutnya, merupakan strategi pengisahan prolepsis.[3]


[1] David Tsoshio Tsomura, The First Book of Samuel (The New International Commentary on the Old Testament; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2007), 468.

[2] Meir Sternberg, The Poetics of Biblical Narrative: Ideological Literature and the Drama of Reading (Bloomington: Indiana University Press, 1985). Bagi Anda yang ingin membaca buku ini secara online, silakan klik di sini

[3] Lihat banyak contoh lain, dalam: Sternberg, The Poetics of Biblical Narrative: Ideological Literature and the Drama of Reading, 321-341.