journey to betlehemKebanyakan orang Kristen akan menjawab pertanyaan di atas secara teologis, “Karena sudah dinubuatkan bahwa Yesus, Sang Mesias, harus lahir di Betlehem. Maka Tuhan memimpin Yusuf untuk membawa Maria ke sana, bertepatan dengan sensus yang diadakan oleh Kaisar Agustus” [bnd. Mat. 2:4-5; Luk. 2:1]. Saya tidak menyalahkan jawaban di atas. Tetapi, pertanyaan pada judul tulisan singkat ini, lebih bertendensi historis ketimbang teologis.

Pertimbangkan Situasinya

Kepergian Yusuf bersama Maria ke Betlehem, secara historis, dilakukan karena adanya kegiatan sensus yang diperintahkan Kaisara Agustus. Maka, saya tergelitik untuk bertanya: Haruskah sensus itu dihadiri oleh seluruh anggota keluarga yang hendak disensus pada waktu itu? Bila iya, maka pertanyaan pada judul tulisan ini sudah tidak perlu diperpanjang lagi. Namun, bila tidak, maka pertanyaan ini menarik untuk dielaborasi. Katakanlah, bila sensus itu bisa dilakukan hanya dengan kehadiran kepala keluarga, maka mengapa Yusuf harus membawa Maria bersama dengan dia menempuh perjalanan dari Nazaret [tempat tinggal Yusuf dan Maria] ke Betlehem di Yudea? Bukankah pada waktu itu, Maria sedang hamil tua? Pertanyaan ini semakin menarik karena kita mendapati kesan dalam Injil Matius bahwa Yusuf adalah seorang yang saleh dan tulus hati. Seorang pria dengan watak seperti ini pastilah seorang yang sangat menghargai dan melindungi istrinya. Mungkinkah pria dengan watak seperti ini membawa istrinya yang sedang hamil tua untuk menempuh perjalanan itu, padahal sensus tersebut tidak harus dihadiri oleh suami-istri? Mengapa ia membawa Maria bersama dia dalam perjalanan itu?

Haruskah seluruh anggota keluarga menghadiri sensus itu?

Beberapa kutipan di bawah ini akan memperlihatkan bahwa Yusuf tidak harus membawa Maria bersama dia untuk mengikuti sensus tersebut:

Kenneth E. Bailey menulis: “In the Middle East, men usually represent their families in any official or legal matters” (Jesus through Middle Eastern Eyes: Cultural Studies in the Gospels [Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2008], 46).

Maurice Startre menulis: “… for reasons unknown to us, there would have been no reason for him [Joseph] to take his wife with him, because the head of the family always had to register all the members of his household” (The Middle East Under Rome, trans. Catherine Porter & Elizabeth Rawlings [Harvard: Harvard College, 2005], 95).

Philip Yancey menulis: “Seorang pria kepala keluarga sebenarnya sudah memenuhi syarat untuk sensus Romawi …” (Bukan Yesus yang Saya Kenal, terj. Esther S. Mandjani [Jakarta: Professional Books, 1997], 34).

Lalu, Mengapa?

Jika Yusuf tidak harus membawa Maria bersama dia dalam perjalanan itu, mengapa ia membawa Maria?

Ada yang menyatakan bahwa Yusuf mengetahui bahwa Maria akan segera melahirkan. Karena ia ingin berada di dekat Maria saat melahirkan, maka ia membawa Maria bersama dengannya.

Ada pula yang menyatakan bahwa karena tidak ada keharusan bagi Yusuf untuk membawa Maria ke Betlehem, maka kisah Lukas merupakan sebuah rekayasa historis.

Menurut saya, Yusuf membawa Maria bersama di dalam perjalanan itu karena situasi Maria sendiri. Kita diberitahu dalam Injil Matius bahwa Yusuf adalah seorang yang tulus hati dan tidak ingin mempermalukan Maria. Sebelum ia didatangi oleh malaikat yang memberitahukan kepadanya perihal kehamilan Maria yang terjadi secara supranatural, Yusuf berniat menceraikan Maria secara diam-diam. Ia tidak ingin situasi Maria terekspose ke hadapan publik.  Sebab bila berita kehamilan di luar nikah itu sampai ke hadapan publik, maka Maria akan berhadapan dengan hukuman lemparan batu.

Kebanyakan kita tidak memikirkan lebih lanjut tekanan suasana itu pasca malaikat menyampaikan hal yang sebenarnya terjadi pada Maria. Kita seakan-akan langsung merasa tenang. Malaikat sudah membereskan tekanan itu. Tetapi, Maria dan Yusuf yang hidup dalam lingkungan sosial dengan aturan hukum keagamaan yang begitu ketat, apakah mereka dapat semudah itu mengabaikan pandangan publik bila publik tahu bahwa Maria telah hamil sebelum dihampiri oleh Yusuf?

Bisa jadi, Yusuf membawa serta Maria ke Betlehem bertepatan dengan pengadaan sensus itu, juga sebagai upaya perlindungan Yusuf terhadap reputasi Maria. Yusuf ingin Maria melahirkan di tempat yang bukan tempat tinggal mereka karena ia ingin menghindarkan Maria dari gunjingan orang-orang sekampungnya. Dan hal yang menarik adalah bahwa Yusuf tidak pernah diberitahukan mengenai tempat kelahiran Yesus.

Jadi Yusuf membawa Maria ke Betlehem bukan karena diharuskan oleh peraturan sensus itu. Ia membawa Maria ke Betlehem karena ia, sebagai suami Maria, bertanggung jawab atas reputasi istrinya. Dan bahkan hal itu pun bertepatan dengan rencana Allah bahwa Yesus, Sang Mesias, akan dilahirkan di Betlehem, walau ia sendiri tidak pernah diberitahukan mengenai di mana Yesus harus dilahirkan.

Allah bukan hanya mengontrol sejarah dan memimpinnya memenuhi tujuan-Nya. Allah juga mengontrol kehidupan umat-Nya dan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya demi pemenuhan tujuan-Nya dan demi kemuliaan-Nya.