treasure-in-earthern-vessels_979279610Kekristenan selalu dicobai dengan berbagai doktrin palsu yang tidak gampang dikenali kepalsuannya. Kadang-kadang, doktrin-doktrin palsu tersebut disakralkan dan dimasyarakatkan dalam Gereja sedemikian rupa, lalu dikemukakan terus menerus sambil para penggunanya merasa begitu rohani karena menerima ajaran yang demikian.

Ketika merenungkan akan hal ini, saya teringat akan isi sebuah kalimat pada status FB yang saya pernah baca. Saya tidak mengingat kapan persisnya saya membaca kalimat bernada semboyan rohani ini. Kalimat tersebut berbunyi demikian: “Tuhan dapat memakai bejana yang retak, tetapi Ia tidak dapat memakai bejana yang kotor”.

Cukkup lama saya memikirkan kalimat di atas, sambil mengevaluasi diri dan merenungkan status saya di hadapan Tuhan sebagaimana yang diajarkan Alkitab. Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa kalimat tersebut kelihatannya benar, tetapi salah!

Dalam 2 Korintus 4:7, Paulus menulis: “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Injil adalah harta yang mulia itu, sebagaimana kata Luther: “Satu-satunya harta Gereja yang berharga adalah Injil Yesus Kristus.” Para rasul dan kita sekalian sebagai para pemberitanya, dimetaforakan sebagai “bejana tanah liat”.  Bejana tanah liat itu walau berfungsi sebagai wadah pembawa harta itu, namun harus selalu mengingat dirinya sebagai “tanah liat yang rentan”. Sedemikian rentannya, maka Paulus menegaskan bahwa kekuatan yang berlimpah itu “berasal dari Allah dan bukan diri kami”. Paulus tidak menyatakan bahwa bejana itu bisa dipakai dalam kondisi retak dan kotor, demikian pula sebaliknya tidak dikatakan bahwa bejana itu utuh dan bersih. Namun, dari kata-kata Paulus ini, kita bisa mendeduksi bahwa karena harta itu mulia, maka tentunya bejana yang dipakai adalah bejana yang utuh dan yang telah “dilayakkan” (baca: dibersihkan) demi fungsinya sebagai penyimpan dan pembawa harta itu.

Bila “retak” yang dimaksudkan dalam kalimat di atas diartikan sebagai “lemah”, maka menurut Paulus, bejana itu memperoleh kekuatannya bukan dari dirinya sendiri melainkan dari Allah, sumber segala kekuatan dan kuasa. Dan bila “kotor” yang dimaksudkan dalam kalimat di atas adalah “dosa”, maka Paulus juga menyatakan bahwa Kristus telah mati menggantikan kita ketika kita masih berdosa (Rm. 5:8). Dan bahwa Kristus mati demi pendamaian kita dengan Allah dan dan bahwa Allahlah yang melayakkan kita untuk berbagian di dalam kasih karunia-Nya (Kol. 1:12).

Tuhan tidak dapat memakai bejana yang retak mau pun kotor. Tetapi, bila Ia berkenan memakai sebuah bejana, entah bejana yang retak atau bejana yang kotor, maka Ia akan meng-utuh-kan bejana itu atau Ia akan mem-bersih-kan bejana itu.

Saya kira semangat di balik kalimat berdoktrin palsu pada status FB tersebut terlontar karena tendensi judgmental yang sangat kuat dalam diri penggunanya. Apakah si penggunanya dapat mengklaim bahwa dirinya “bersih” dan hanya “retak” saja, dan dengan demikian ia dapat dipakai Tuhan?

Bukan karena “utuh”, bukan pula karena “bersih”. Kita ini, sebenarnya bukan hanya “retak” melainkan juga telah hancur oleh dosa. Dan dosa itu, bukan hanya telah “menodai” kita melainkan lebih dari itu mencemari dan memperbudak kita. Bila kita dipakai Tuhan, itu semata-mata karena anugerah dan kemurahhatian Allah!

Terpujilah Allah yang beranugerah besar dan yang melayakkan serta memampukan kita untuk menjadi alat-Nya dan yang terus-menerus mengerjakan kekudusan di dalam kita demi kemuliaan-Nya.