Ending of MarkBeberapa waktu lalu saya membaca buku yang berisi diskusi mengenai originalitas bagian akhir Injil Markus, khususnya Markus 16:9-20 [selanjutnya akan disingkat: LE – kepanjangan dari The Longer Ending]. Buku yang saya maksud adalah: Perspectives on the Ending of Mark: 4 Views, ed. David Alan Black (Nashville, Tennessee: Broadman and Holman Publishers, 2008). Sebagaimana judulnya, buku ini memuat presentasi empat pandangan yang berbeda mengenai keaslian LE. Pandangan-pandangan ini bisa diringkas, sebagai berikut:

  1. Daniel B. Wallace – Markus menghendaki Injilnya diakhiri pada pasal
    16:8, jadi LE tidak original;
  2. Maurice A. Robinson – LE adalah bagian asli dari Injil Markus;
  3. J.Keith Elliott – LE tidak original, namun berbeda dengan Wallace, Elliot percaya bahwa lanjutan untuk bagian akhir Injil Markus telah hilang.
  4. David Alan Black – LE adalah tambahan dari Markus sendiri terhadap materi-materi sebelumnya yang berasal dari khotbah Petrus.

Wallace dan Elliot percaya bahwa LE tidak original, hanya saja keduanya berbeda dalam jawaban terhadap pertanyaan: Apakah masih ada lanjutan yang seharusnya menempati posisi LE? Wallace menjawab tidak, karena memang Markus menghendaki Injilnya diakhiri pada pasal 16:8. Elliot menjawab ya, namun LE yang sesungguhnya telah hilang.

Di sisi lain, Robinson dan Black percaya bahwa LE adalah bagian original dari Injil Markus. Namun, keduanya berbeda dalam hal sumbernya. Robinson percaya bahwa LE berasal dari Petrus, sementara Black percaya bahwa LE merupakan suplemen dari Markus terhadap khotbah-khotbah Petrus yang ia hitamatasputihkan dalam Injilnya.

Membaca presentasi keempat pandangan di atas, memberikan stimulasi yang positif untuk mempertimbangkan posisi saya dalam hubungan dengan isu ini. Saya memberi perhatian cermat atas seluruh klaim dan argumen mereka masing-masing. Karena isu ini mengandung implikasi yang amat penting, bukan hanya bagi kaum akademisi, melainkan juga bagi para praktisi pastoral. Mis. bila LE tidak original, maka seharusnya teks ini tidak dijadikan acuan doktrinal maupun nasihat-nasihat pastoral. Dan masih banyak isu implikatif lainnya.

Tidak jarang, orang menganggap diskusi-diskusi semacam ini tidak bermanfaat atau mungkin juga dianggap hanya memperkeruh persoalan yang sebenarnya bisa dipahami secara sederhana. Tidak demikian. Iman kita berakar di dalam pewahyuan yang diberikan Allah pada satu masa atau konteks jaman tertentu. Itulah sebabnya, iman kita adalah iman yang berakar juga di dalam sejarah. Isu-isu kesejarahan seperti ini, tidak boleh disepelekan, karena seperti yang sudah digambarkan di atas, bagaimanapun ia akan memberikan dampak pada pelayanan kita, kapan saja dan di mana saja.

Kembali kepada keempat pandangan di atas. Isu ini sudah cukup tua dan sudah sering pula didiskusikan. Saya sendiri sudah cukup lama mempertimbangkan isu ini dan membaca banyak sumber mengenainya. Karena keterbatasan ruang, saya tidak berniat mengemukakan argumen-argumen yang mewakili posisi saya. Namun, setelah membaca presentasi keempat sarjana di atas, bila harus memilih, saya lebih dekat dengan posisi Elliott, tentunya dengan sedikit tambahan variatif. Singkatnya, saya percaya bahwa LE tidak original namun isinya bisa ditelusuri pada bagian akhir Injil kanonik lainnya yang mengikuti Markus (saya menganut: Markan Priority), yaitu Matius 28, tentang kebangkitan Kristus, Kuasa Kristus di sorga dan di bumi, dan perintah untuk “menjadikan segala bangsa murid-Ku”.