R. Dean Anderson,[1] “The Use of the Word ‘Amen’,” dalam Kehidupan Kristiani yang Seutuhnya: Sebuah Festschrift bagi Yakub Susabda dan Esther Susabda, ed. Panitia Festschrift Susabda STTRII (Yogyakarta: Andi, 2006), 119-128. 

unduhanKita sudah terbiasa mendengar dan mengucapkan kata “Amin”, bukan? Untuk mengakhiri sebuah doa, atau meresponsi sebuah ucapan berkat bagi kita, bahkan kadang ada pengkhotbah yang meminta jemaat mengucapkan “amin” untuk meresponsi poin tertentu dalam khotbahnya. Tentu saja, sebagai orang Kristen kita pasti secara teoritis percaya bahwa kebiasaan-kebiasaan religius kita mestinya memiliki fondasi biblikal. Sayangnya, kita tidak selalu konsisten menerapkan prinsip ini. Pernahkah kita bertanya mengenai legitimasi biblikal dari kebiasaan-kebiasaan ini?

Dalam kebiasaan yang sudah mendarah-daging ini, membaca kesimpulan artikel Anderson membuat saya cukup terhenyak. Untuk jelasnya, berikut ini saya akan merangkum poin-poin konklusif Anderson atas studinya mengenai berbagai konteks penggunaan kata “Amin” dalam PL maupun PB.

Penggunaan “Amin” dalam PL

Setelah meneliti penggunaan-penggunaan kata “Amin” dalam konteks yang beragam dalam PL, Anderson menarik empat poin konklusif:

  1. Kata “Amin” digunakan sebagai respons penerimaan akan deklarasi kutukan dari Tuhan (16 kali dalam PL).
  2. Kata “Amin” digunakan sebagai bentuk persetujuan atas formulasi kata-kata pujian kepada Tuhan (10 kali dalam PL).
  3. Kata “Amin” digunakan sebagai bentuk persetujuan atas sebuah nubuat yang diungkapkan oleh seseorang (2 kali dalam PL).
  4. Kata “Amin” digunakan sebagai gelar yang mewakili atribut atau karakter Tuhan (1 kali dalam PL – Yes. 65:16).

Penggunaan “Amin” dalam PB

Beralih kepada PB, Anderson mengemukakan lima poin konklusif, yaitu:

  1. Kata “Amin” digunakan sebagai bentuk persetujuan setelah seseorang mengucapkan formulasi pujian kepada Tuhan (22 kali dalam PB).
  2. Kata “Amin” digunakan sebagai bentuk persetujuan atas nubuat yang disampaikan seseorang (2 kali dalam PB).
  3. Kata “Amin” digunakan sebagai gelar yang mewakili karakteristik Tuhan Yesus (1 kali dalam PB – Why. 3:14).
  4. Kata “Amin” digunakan sebagai konfirmasi atas pengucapan formula berkat (Anderson merujuk kepada banyak teks dalam PB tanpa menampilkan jumlah penggunaannya).
  5. Kata “Amin” digunakan sebagai sebuah kesimpulan (Mrk. 16:9).[2]

Selain beberapa implikasi lain yang dikemukakan atas hasil studinya, penegasan implikatif Anderson mengenai beberapa kebiasaan praktis kita dalam menggunakan kata “Amin” perlu digarisbawahi di sini.

  1. Bahwa dalam poin 4 [penggunaan kata “Amin” dalam PB] di atas, kata “Amin” digunakan sebagai penutup ucapan yang berisi formulasi berkat, Anderson merujuk kepada sejumlah teks, mis. Rm. 15:33 di mana formulasi berkat ditutup dengan kata “Amin”. Bagi Anderson tidak jelas apakah PB mengindikasikan bahwa dalam sebuah pertemuan jemaat, kata “Amin” diucapkan beramai-ramai setelah formulais berkat tersebut selesai diucapkan. Tegasnya, tidak ada bukti dari PB yang menegaskan kebiasaan ini.
  2. Tidak ada rujukan dalam Alkitab di mana sebuah doa diakhiri dengan mengucapkan kata “Amin”. Anderson mendiskusikan “Doa Bapa Kami” dan menurutnya kata “Amin” di situ merupakan konfirmasi terhadap doksologi yang mengakhiri doa tersebut, bukan digunakan sebagai formula pengakhir doa. Dalam ulasannya, Anderson menyatakan bahwa pada masa itu memang mereka tidak memerlukan kata “Amin” sebagai penanda doa selesai karena mereka berdoa dengan membuka mata dan menengadah ke atas. Kita saat ini menggunakan kata “Amin” sebagai pengakhir doa karena kita berdoa dengan menutup mata. Yang menyedihkan adalah saya tidak jarang melihat orang menjadikan “tutup mata” atau “tidak tutup mata” sebagai indikasi apakah orang itu berdoa atau tidak. Bahkan ada yang dengan nada judgmental sambil merasa rohani menulis di status fbnya, seakan-akan mengeluhkan sebuah dosa besar karena baru saja melihat rekan hamba Tuhan yang membuka mata saat yang lain berdoa dengan menutup mata…saya jadi lucu..gimana tahu si rekan ini buka mata kalau yang nulis nutup mata?? Capek deh!
  3. Anderson menulis bahwa merupakan sebuah “…fact that the word ‘Amen’ is never used in the Bible to affirm a blessing directed at oneself” […fakta bahwa kata ‘Amin’ tidak pernah digunakan dalam Alkitab untuk mengafirmasi ucapan berkat yang ditujukan kepada seseorang”]. Bila Anderson benar, maka mulai sekarang kita harus menahan diri untuk tidak segera “berbunga-bunga” sambil menyemburkan kata “Amin” tatkala ada yang berkata kepada kita: “Tuhan memberkatimu yaaaaa”….hehehehehe

Saya belum meneliti penggunaan kata “Amin” dalam Alkitab sebagaimana yang sudah dilakukan Anderson. Namun, melihat presentasi data Alkitab yang dicantumkan Anderson dalam artikel ini, saya kira poin-poin kesimpulan dan implikasi-implikasi di atas patut kita pertimbangkan. Lagi pula, kita memang sudah terbiasa “menelan” tanpa “mengunyah” suatu kebiasaan lalu menjadikannya simbol kerohanian kita tanpa duduk dan berpikir apakah hal tersebut biblikal atau tidak. “Pokoknya” dan “yang penting” kedengaran rohani, maka kita sudah cukup puas untuk mempraktikkannya dengan segala daya yang ada!

Akhirnya, saya hanya bisa berkata: “Hati-hati deh!”


[1] Sebagai informasi, R. Dean Anderson menamatkan Doctor of Theology nya dari Theological University of Kampen [Broederweg] dalam bidang Perjanjian Baru. Ia adalah seorang penulis buku dan juga produktif menulis artikel-artikel ilmiah. Ia menjadi gembala di Reformed Church di Katwijk [Belanda] dan mengajar untuk Intercultural Reformed Theological Training (IRTT, Belanda). Saat menulis artikel ini, Anderson merupakan salah seorang dosen tamu di STTRII.

[2] Dengan memasukkan data ini, tampaknya Anderson menerima autentisitas the longer ending of Mark [16:9-20].