Tadi malam ada sedikit waktu untuk jeda dari pekerjaan. Saya membuka youtube dan menonton rekaman perdebatan antara Dr. Craig A. Evans vs Imam Karim Abu Zaid (di sini, di sini, dan di sini). Dan berikut ini adalah beberapa catatan saya sebagai tinjauan atas perdebatan tersebut.

Konteks perdebatan ini adalah historisitas penyaliban Yesus. Dan saya tidak melihat bahwa Abu Zaid memberikan kontra argumen yang meyakinkan untuk mendukung klaim Alquran bahwa Yesus tidak disalibkan. Abu Zaid melakukan beberapa kesalahan logika, antara lain:

  • Strawman argument: menafsirkan “tanda Yunus” (Mat. 12:39/par; 16:4) secara literal. Intinya, menurut kisah Yunus, Yunus tidak mati dalam perut ikan dan bahwa Yunus berada dalam perut ikan tiga hari tiga malam. Sementara Yesus disalibkan pada hari Jumat dan bangkit pada hari Minggu pagi. Kesimpulan Abu Zaid, Yesus tidak mati, dan bahwa jumlah hari penyaliban Yesus tidak mencapai waktu tiga hari tiga malam seperti kisah Yunus. Jadi, Yesus tidak disalibkan (=Yunus hidup dalam perut ikan) dan bahwa narasi penyaliban dalam Kitab Injil salah (karena tidak mencakup waktu tiga hari tiga malam seperti kisah Yunus). Argumen menarik ini telah diidentifikasikan secara menyakinkan sebagai sebuah strawman argument oleh Evans bahwa “tanda Yunus” adalah sebuah analogi dan sebuah analogi memang tidak paralel dalam segala aspek dengan objek yang dengannya analogi itu digunakan (Abu Zaid tidak memberikan bantahan lagi soal ini).
  • Standar ganda: berulang kali Abu Zaid menyatakan bahwa tidak ada saksi mata untuk peristiwa penyaliban Yesus. Untuk mengemukakan argumen ini, Abu Zaid HARUS mengasumsikan kehadiran saksi mata pada peristiwa tersebut sebagai kriteria historisitas penyaliban Yesus. Asumsi ini SEHARUSNYA LANGSUNG mengeliminasi Alquran dari arena perdebatan, karena secara diakronis, Alquran baru ditulis 600 tahun sesudah masa hidup Yesus. Menurut kriteria ini, klaim Alquran bahwa Yesus tidak disalibkan, TIDAK SAH untuk digunakan dalam perdebatan ini. Tetapi, rupanya Abu Zaid memilih standar ganda, ketimbang jujur terhadap ketidaklayakan sumber yang dijadikannya acuan untuk mendebat historisitas penyaliban Yesus.
  • Fallacy of Category: Dalam tanya jawab, Abu Zaid saat menjawab pertanyaan dari seorang penelpon yang menanyakan mengenai standar ganda di atas, menyatakan bahwa Alquran bukan berasal dari Muhammad tapi berasal dari Allah dan Allah tidak berdusta. Argumen ini adalah sebuah Fallacy of category, karena menggunakan argumen yang bersifat teologis untuk digunakan dalam konteks perdebatan historis di mana kriteria untuk konteks perdebatan ini adalah bukti-bukti historis, bukan klaim-klaim teologis.
  • Klaim Abu Zaid bahwa Paulus tidak pernah berjumpa dengan Yesus semasa hidupnya pun sebenarnya klaim yang debateable. Menurut kronologi kehidupan Paulus yang dikemukakan Paul Barnett, Paul: Missionary of Jesus, Paulus telah berada di Yerusalem pada saat Yesus melayani dan pada saat Yesus mengalami maut di atas salib.

Hal yang mengherankan saya adalah, argumen-argumen fallacious di atas sebenarnya tidak baru. Dari jaman ke jaman, para apologet Muslim selalu mengemukakan argumen-argumen di atas. Dan sudah berulang kali juga ditunjukkan bahwa argumen-argumen di atas tidak qualified untuk digunakan sebagai bantahan terhadap historisitas penyaliban Yesus. Sayangnya, mereka lebih memilih terlilit fallacies ketimbang secara jujur menerima fakta bahwa Yesus benar-benar disalib dan bahwa klaim Alquran bahwa Yesus tidak disalibkan adalah klaim yang tidak qualified untuk digunakan dalam konteks perdebatan ini.

Hal yang saya agak sayangkan dari Evans adalah ia lebih bersikap defensif ketimbang ofensif terhadap kualifikasi Alquran dalam area perdebatan historis ini. Argumen-argumen Evans sebenarnya secara tidak langsung menempatkan posisi Abu Zaid pada level yang tidak qualified. Namun, untuk orang-orang yang tidak tahu malu seperti ini, memang sebaiknya menggunakan pengungkapan-pengungkapan eksplisit mengenai ketidaklayakan sumber acuan mereka untuk membantah historisita penyaliban Yesus.

Kesaksian Kitab-kitab Injil, Paulus, dan sejaharawan Yahudi (Yosefus) dan Romawi (Tacitus), menurut kriteria penyelidikan historis, TIDAK MUNGKIN bisa dipatahkan hanya sebuah klaim kontra yang muncul ratusan tahun kemudian tanpa dukungan bukti sejarah!