Saya sering mengikuti perdebatan mengenai kehandalan Kitab-kitab Injil secara khusus, dan kehandalan PB secara umum. Dan argumen yang sering kali dikemukakan adalah bahwa kekristenan tidak lagi memiliki autograph (naskah asli) dan yang dimiliki saat ini adalah salinan-salinan (tepatnya: ribuan salinan). Dan salinan-salinan itu ditulis paling awal 100-200 tahun setelah naskah asli ditulis (mis. P4, P5, P15, P22, P27, P39, P45, P46, P47, P48, P49, P70, disalin sekitarAbad III M). Sebenarnya argumen ini tidak memiliki daya serang apa pun terhadap kekristenan. Semua ahli naskah mengetahui akan hal ini dan mayoritas di antara mereka baik-baik saja (dalam arti tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang menggerogoti iman mereka). Serangan terhadap kekristenan sebenarnya terdapat dalam kesimpulan lanjutan berdasarkan fakta ini. Dua di antaranya akan saya kutip dari Bart D. Ehrman (Misquoting Jesus):

  1. Karena tidak ada naskah asli, skeptisisme dibangun untuk menyerang kehandalan manuskrip: Bagaimana kita tahu apa yang sebenarnya tertulis, bila kita tidak memiliki naskah asli dan yang kita punyai hanyalah salinan-salinan? Intinya, bagaimana mempercayai kehandalan salinan-salinan bila kita tidak bisa mengecek ketepatannya atas dasar naskah asli/autograf?
  2. Ehrman memberi kesan bahwa sekuensi penyalinan naskah dilakukan dalam tendensi demikian: naskah yang satu digunakan, setelah sudah tidak bisa digunakan, naskah berikut disalin, demikian seterusnya, sehingga kesalahan salinan yang terdapat pada naskah berikutnya, sulit untuk dicari acuan korektifnya karena naskah terdahulunya telah rusak.

Saya akan memberikan respons terhadap keberatan-keberatan ini dari aspek historisnya, dengan memperlihatkan tiga fakta sejarah:

Pertama, seperti telah dikemukakan berkali-kali, kekristenan memiliki lebih dari 5000an salinan yang bisa dijadikan acuan untuk mengurusi variasi teks (mis. perbedaan penggunaan: kata atau frasa). Kekristenan juga memiliki lebih dari satu juta kutipan dari Alkitab dalam tulisan-tulisan Bapak-bapak Gereja. Selain itu, kekristenan juga memiliki leksionari-leksionari, yang berisi daftar bacaan bagian-bagian Alkitab dalam kekristenan mula-mula. Selain jumlah salinannya yang berlimpah ruah, dari segi jarak waktu antara autograf dan salinan-salinan pun, PB memiliki reputasi historis yang jauh melampaui tulisan sejarah kuno mana pun. Bock & Wallace memberikan tabel perbandingan berikut (2009:52-61):

Sejarah

Salinan Tertua

Jumlah Salinan yang Ditemukan

Livy (59-17 M) Abad ke-4 M 27
Tacitus (56-120 M) Abad ke-9 M 3
Suetonius (69-140 M) Abad ke-9 M 200an
Thucydides (460-400 sM) Abad ke-1 M 20
Herodotus (484-425 sM) Abad ke- M 75
Perjanjian Baru 100 – 150 M 5.700an manuskrip Yunani + lebih dari 10.000 manuskrip Latin + lebih dari 1 juta kutipan dari Bapak-bapak gereja, dll.

 Kedua, pertanyaan yang sering diabaikan adalah berapa lama sebuah naskah dapat bertahan? Menurut penelitian yang dilakukan oleh E. Randolph Richards, ditemukan beberapa fakta berikut: a) bila material yang digunakan adalah perkamen, maka daya tahannya bisa mencapai bahkan hingga seribuan tahun [Richards; 2004:49, menulis: “…the greatest advantage of parchament was its ability to survive for hundreds, even thousands, of years”]; b) bila material tulisan yang digunakan adalah papirus maka daya tahannya lebih kecil ketimbang perkamen. Papirus cepat rusak, khususnya bila terkena air. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa orang tidak menulis naskah-naskah PB di atas papirus tanpa menganggapnya sebagai suatu dokumen penting [hal ini mengasumsikan adanya pemeliharaan terhadap naskah-naskah papirus tersebut]. Tidak heran, dalam penemuan arkheologis di Wadi Marraba’at (terletak di padang gurun Yudea), terdapat sejumlah papirus yang sejaman dengan Paulus dan masih ada hingga saat ini (Richards; 2004:50-51).

Ketiga, budaya dan situasi penulisan hingga abad pertama Masehi perlu mendapat perhatian kita. Pada masa itu, orang tidak menulis sebuah dokumen tanpa membuat salinan-salinan dari naskah asli dokumen tersebut. Bahkan untuk surat-surat pribadi, mis. dari seorang anak kepada orang tuanya pun, surat-surat itu dibuat salinannya. Salinan-salinan dari naskah asli itu dibuat atas beberapa alasan: a) untuk mengirimkan copyan dokumen yang sama kepada orang lain atau untuk membagikan isinya itu kepada orang lain. Mis. Cicero menulis surat kepada Balbus, namun mengirimkan salinan dari surat tersebut juga kepada Pallio. b) biasanya sebuah dokumen dibuat salinan-salinannya oleh penulisnya karena pada masa itu, para tamu sang penulis biasanya meminta salinan dari dokumen-dokumen yang pernah ditulis oleh si penulis yang bersangkutan. c) salinan-salinan dibuat untuk dikirim melalui pembawa dokumen yang berbeda ke alamat yang sama karena bila hanya mengirim satu  dokumen melalui satu pembawa dokumen saja, maka dikhawatirkan bahwa dokumen tersebut tidak sampai pada alamat yang dituju (mis. hilang di perjalanan atau karena dirampok). Itulah sebabnya, seorang penulis dokumen biasanya mengirimkan beberapa salinan dokumen yang sama melalui pembawa dokumen yang berbeda ke alamat yang sama. Dan d) seorang penulis, pada masa itu, biasanya menyimpan salinan dokumen yang ditulisnya untuk dirinya sendiri (semua informasi pada bagian ini bisa dibaca detail dan contoh-contohnya dari para penulis abad pertama, dalam: Richards; 2004: 156-161).

Tiga fakta sejarah di atas, membawa kita kepada beberapa pertimbangan rekonstruktif-historis mengenai autograf PB & salinan-salinannya:

  • Mengingat daya tahan material tulisan dan pemeliharaan terhadapnya karena dianggap sebagai dokumen penting, sangat mungkin bahwa pada saat salinan-salinan dibuat (mis. P45, dll), salinan-salinan naskah asli PB masih beredar. Tidak heran, seorang Bapak Gereja, Tertullianus (awal Abad III) menyatakan: “Marilah, hai engkau yang memerlukan banyak jawaban untuk keselamatanmu, datanglah ke Gereja-gereja apostolik yang masih memiliki dan membacakan tulisan-tulisan otentik dari para rasul serta menampilkan wajah beberapa dari mereka (“Come now, you who would indulge a better curiosity, if you would apply it to the business of your salvation, run over the apostolic churches, in which the very thrones of the apostles are still pre-eminent in their places, in which their own authentic writings are read, uttering the voice and representing the face of each of them severally” – Prescription again Heretics, bab 36).
  • Mengingat budaya pembuatan salinan-salinan dari sebuah dokumen pada abad pertama, maka adalah keliru untuk beranggapan bahwa, mis. Injil Matius hanya memiliki satu naskah saja saat ditulis.
  • Kita juga harus membedakan antara salinan-salinan dari naskah asli pada saat pertama kali ditulis dan salinan-salinan dari naskah asli dan salinan-salinannya.