Tema sentral dalam pengajaran Yesus, sebagaimana yang tercatat dalam Kitab-kitab Injil, adalah tema tentang kerajaan Allah. Gordon D. Fee dan Douglas Stuart memberikan nasihat berikut: “Orang tidak berani berpikir bahwa ia dapat menafsirkan dengan semestinya kitab-kitab Injil itu tanpa pengertian yang jelas mengenai konsepsi kerajaan Allah dalam pelayanan Yesus.” Kedua profesor ini hendak mengingatkan supaya pembahasan tentang kerajaan Allah dalam hubungannya dengan pemberitaan Yesus dan upaya memahami Kitab-kitab Injil jangan sampai dilewatkan.

Latar Belakang
Konsep kerajaan Allah dalam pengajaran Yesus berakar dalam PL. Konsep kerajaan Allah dalam PL berhubungan dengan pemerintahan Allah yang didemonstrasikan melalui sejumlah peristiwa. Misalnya, Allah menghancurkan para tentara Mesir dan menyelamatkan Israel (Kel. 15:18). Israel juga melihat ke depan untuk menantikan hari di mana pemerintahan Allah ditegakkan di atas bumi: “Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya” (Dan. 2:44). Kerajaan masa depan ini akan diwujudkan oleh Anak Manusia (Dan. 7:14, 18, 23, 27), dan keturunan Daud akan memerintah dalam kerajaan ini (Yes. 9:2-7; 11).

Jelas bahwa Israel sangat mengharapkan perwujudan kerajaan masa depan ini atas seluruh bumi (Yes. 24:23). Zefanya mengarahkan pandangannya ke depan dan menubuatkan mengenai janji akan pemerintahan Allah sebagai Raja di antara Israel (3:15). Zakharia menubuatkan, “Maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya” (14:9; bnd. Ob. 21; Am. 9:11-15).

Pengharapan akan pemerintahan Allah di masa depan dimana Ia akan menggenapi janji-janji-Nya kepada Israel, terus terpelihara pada periode intertestamental. Komunitas Qumran menghasilkan dokumen-dokumen yang di dalamnya berisi pengharapan akan kemenangan Allah sebagai Raja. Dalam kitab apokrifa, Perjanjian Musa tertulis demikian: “Kemudian kerajaan-Nya akan muncul meliputi seluruh ciptaan. Kemudian kejahatan akan mencapai akhirnya. Ya, dukacita akan sirna di dalam Dia” (T. Mos. 10:1; bnd. 2Bar. 73:1-7). Dalam kitab apokrifa, Mazmur Salomo 17-18, terdapat doa yang isinya adalah pengharapan bahwa Allah akan membangkitkan seorang raja dari keturunan Daud yang juga adalah Mesias, untuk mengusir keluar orang-orang berdosa dari Yerusalem dan memerintah atas umat-Nya. Orang-orang non Yahudi akan tunduk kepada-Nya dan seluruh bumi akan menghormati Dia.

Pada masa Yesus, pengharapan itu juga terus terpelihara di antara orang-orang Yahudi. Kita dapat mengamati betapa kuatnya pengharapan itu dengan melihat kesannya dalam puji-pujian Zakharia, juga Simeon dan Hana ketika berjumpa dengan bayi Yesus (Luk. 1:52-55, 68-75; 2:25, 29-32).

Jadi, konsep kerajaan Allah dalam PL dan juga yang diteruskan pada periode intertestamental adalah pemerintahan Allah di masa depan yang membawa kelepasan bagi Israel. Allah akan menundukkan segala bangsa dan membawa Israel memasuki masa keemasan. Pemerintahan itu akan terwujud melalui seorang keturunan Daud yang akan memerintah sebagai Raja dan Mesias. Pada saat itu terjadi, tidak ada lagi air mata dan kesedihan bagi Israel, sebaliknya mereka akan memerintah bersama Raja-Mesias itu atas segala bangsa. Itulah gagasan mengenai kerajaan Allah yang mengalir deras di dalam diri orang-orang Israel sampai pada masa Yesus.

Konsensus Umum: Sirkumlokusi
Istilah “kerajaan Allah” muncul 32 kali dalam Injil Lukas, 14 kali dalam Injil Markus, 4 kali dalam Injil Matius, dan juga 4 kali dalam Injil Yohanes. Yang menarik adalah, dari keempat Kitab Injil tersebut, hanya Injil Matius yang menggunakan istilah “kerajaan sorga” (32 kali). Sampai saat ini, mayoritas sarjana menerima pandangan bahwa istilah “kerajaan Allah” dan “kerajaan sorga” adalah dua istilah dengan maksud yang sama (sinonim). Menurut mereka, Matius menggunakan istilah “kerajaan sorga” sebagai ganti istilah “kerajaan Allah” karena ia adalah seorang Yahudi yang juga menuliskan Injil Matius bagi orang-orang Yahudi. Dan kita tahu bersama bahwa ada semacam “kesungkanan teologis” bagi orang Yahudi untuk terlampau sering menyebut kata “Allah”. Itulah sebabnya, kata “Allah” digantikan dengan kata “sorga” dalam pengertian yang sinonim. Istilah teknis untuk konsensus ini dalam studi biblika adalah circumlocution (sirkumolkusi). Apakah benar demikian?

Kontribusi Pennington
Kita perlu memperhatikan bahwa bagaimana pun, Matius tetap menggunakan istilah “kerajaan Allah” walaupun hanya sebanyak 4 kali, yaitu dalam pasal 12:28; 19:24; 21:31, 43. Penyebutan-penyebutan ini memang amat jarang dibandingkan dengan Injil Markus dan Injil Lukas. Jika “kesungkanan teologis” di atas menjadi alasannya, kita perlu memeriksa apakah Matius juga jarang menggunakan kata “Allah”? Perhitungan sekilas menggunakan sistem pencarian kata Yunani dalam Software BibleWorks6 menunjukkan bahwa Matius menggunakan kata “Allah” lebih dari 50 kali yang tersebar di seluruh Injil Matius. Jika Matius menggantikan istilah “kerajaan Allah” dengan istilah “kerajaan sorga” karena semata-mata ingin menghindari penyebutan kata “Allah”, mengapa justru ia menggunakan kata “Allah” lebih dari 50 kali di sepanjang Injil Matius? Tidakkah fakta ini menjadi sangat janggal untuk menunjang argumentasi soal “kesungkanan teologis” di atas? Lagi pula, jika Matius menghindari penyebutan kata “Allah” lalu menggantikannya dengan kata “sorga” karena latar belakang keyahudiannya, apakah sumber-sumber dari lingkungan Yahudi mendukung hal ini? Dalam riset yang dilakukan oleh Jonathan Pennington, penggantian kata “Allah” dengan kata “sorga” dalam konteks Yahudi bukan merupakan suatu kebiasaan yang umum. Hanya 2 kali dalam Misnah dan 3 kali di dalam Injil Thomas, kata “Allah” digantikan dengan kata “sorga”.

Atas dasar data di atas, Pennington menyatakan bahwa Matius memilih untuk menggunakan istilah “kerajaan sorga” ketimbang “kerajaan Allah” karena ia memiliki maksud yang khusus dalam pengisahannya mengenai Yesus. Selanjutnya Pennington mengadakan riset tentang penggunaan kata “sorga” (Yunani: ouranos) dalam Injil Matius dan berikut ini penulis akan meringkas hasil riset Pennington.

Ketika kata ouranos digunakan dalam bentuk tunggal tanpa dipasangkan dengan kata “bumi” (Yunani: ge), biasanya berarti “langit” (Mat. 16:1-3; bnd. 6:26; 8:20; 13:32; 14:19; 24:64). Di sisi lain, kata ouranoi (bentuk jamak dari ouranos) digunakan dalam pengertian realitas ilahi yang tidak kelihatan (Mat. 3:16-17; 5:12, 16; 18:10; 19:21). Selanjutnya, ketika Matius memasangkan kata “langit dan bumi”, ia memaksudkannya sebagai keseluruhan jagad raya yang diciptakan Allah (Mat. 5:18; 11:25; 24:35; bnd. Kej. 1:1). Meski begitu, dalam Injil Matius, penggunaan “langit dan bumi” lebih banyak digunakan untuk mengontraskan kehidupan menurut kehendak Allah dan kehidupan menurut standar duniawi (Mat. 6:1-21; bnd. 5:34-35; 6:10; 11:23; 21:25; 28:18). Matius menggunakan kata ouranoi (bentuk jamak) sebanyak 13 kali untuk merujuk kepada “Bapa di Sorga” dan “kerajaan Allah” sebanyak 32 kali untuk mengkontraskan antara kerajaan sorgawi dan kerajaan duniawi.

Atas dasar pengamatan-pengamatan di atas, Pennington berkesimpulan bahwa Matius menggunakan istilah “kerajaan Allah” untuk maksud yang khusus, yaitu menekankan tentang kebenaran bahwa kerajaan itu berasal dari atas. Kerajaan Allah bukanlah kerajaan duniawi. Kerajaan Allah menghadirkan kedaulatan-Nya dan mengatasi seluruh kerajaan dunia. Artinya melalui istilah “kerajaan sorga”, Matius menekankan mengenai kerajaan sorgawi yang telah terwujud di dalam diri Yesus.

Pennington melihat bahwa penggunaan frasa “kerajaan sorga” memiliki beberapa signifikansi: a) kritikan terhadap dominasi kerajaan Romawi; b) kritikan terhadap pemahaman kontemporer Yahudi mengenai kerajaan Mesias; dan c) memberikan identitas yang jelas bagi para pembacanya bahwa identitas spiritual mereka tidak ditentukan oleh latar belakang etnis (3:9-10; 8:11-12; 23:9), juga bukan oleh posisi terhormat dalam masyarakat (23:2-11) sebagaimana yang dominan dianut dalam konteks Greco-Roman; d) menggarisbawahi natur radikal dari pengajaran etis Yesus.

Implikasi
Kontribusi spesifik Pennington dalam studinya mengenai penggunaan frasa “kerajaan Allah” dan “kerajaan sorga” dalam Injil Matius diikuti oleh Thomas R. Schriener dalam bukunya: New Testament Theology: Magnifying God in Christ (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2008). Saya juga mengikuti elaborasi dan kesimpulan Pennington dalam buku saya: Pengantar Praktis Studi Kitab-kitab Injil (Yogyakart: Andi, 2011).

Selain riset Pennington membentuk ulang pemahaman umum yang sudah lama dipopularkan oleh para sarjana PB mengenai isu ini, juga sebenarnya, secara praktis, mengingatkan kita untuk tidak berpuas diri menerima begitu saja segala sesuatu yang diturunalihkan kepada kita tanpa mempertimbangkannya secara cermat. Saya tidak menyatakan bahwa kesimpulan Pennington adalah “pelabuhan” terakhir dari sebuah arung teologis-eksegetis mengenai isu ini. Maksud saya, dari sisi eksegesis, argumen dan kesimpulan Pennington membentuk tonggak pemahaman yang baru yang paling memungkinkan untuk dianut ketimbang ditolak. Tentu saja, dalam studi berbasis sejarah, kepastian jangan disodorkan sebagai standar. Menolak sebuah probabilitas lalu mereduksinya menjadi sebuah posibilitas, apalagi menihilisasinya menjadi sesuatu yang tanpa makna atas dasar “tidak pasti maka tidak valid”, merupakan sebuah sikap filosofis yang ironisnya justru melukai akal sehat.

Di sisi lain, riset Pennington juga merupakan sebuah teladan bagi kita untuk terus melakukan riset terbaik yang bisa kita upayakan demi memperkaya khasanah studi akan Firman Allah dan membawa kita sedekat mungkin dengan pemahaman yang benar akan maksudnya. Kebangkrutan Kekristenan akan menjadi realitas di hadapan kita, bila kita terus mendengarkan mereka yang malas melakukan riset dan terus menerus menjadi “pelancong” atas nama pelayanan dan sebagai tameng, mereka terus meninabobokan diri mereka dengan pemahaman-pemahaman asal-asalan sambil mempopularkan ajaran bahwa “yang penting tulus, aplikatif, dan gampang-gampang saja”. Mereka lupa bahwa kemalasan yang melahirkan kebodohan dan pembodohan adalah mentalitas busuk yang tidak dapat disembunyikan dalam sebuah jubah bernama kesungguhan dan ketulusan.

Referensi:

  1. Jonathan T. Pennington, Heaven and Earth in the Gospel of Matthew (Supp. Novum Testamentum 126; Leiden: Brill, 2007) – buku ini adalah edisi revisi dari disertasi Ph.D. Pennington.
  2. Jonathan T. Pennington, “The Kingdom of Heaven in the Gospel of Matthew”, in Southern Baptist Journal of Theology, Vol. 12, No. 1 (2008): 44-51.
  3. Jonathan T. Pennington, “‘Heaven’ and ‘Earth’ in the LXX: Exploring the Relationship between Shamayim and Ouranos,” in Bulletin of the International Organization for Septuagint and Cognate Studies 36 (2003): 39-59.
  4. Jonathan T. Pennington, “Dualism in Old Testament Cosmology: Weltbild and Weltanschauung,” in Scandinavian Journal of the Old Testament, Vol. 8, No. 2 (2004): 260-277.
  5. Jonathan T. Pennington and Sean M. McDonough (eds), Cosmology and the New Testament (Library of New Testament Studies, 355; New York: T. & T. Clark International, 2008).