Beberapa catatan saya di weblog ini yang “berbau” apologetika berisi kritikan terhadap para penyerang kekristenan. Namun, dalam pengamatan saya, ada sebuah kecenderungan yang juga perlu dikoreksi dari pihak Kristeners. Kecenderungan yang saya maksudkan adalah kecenderungan untuk berpuas diri karena berhasil mengidentifikasi fallacies dalam argumen para penentang Kristus. Untuk menggambarkan kecenderungan ini, saya akan mencantumkan sebuah diskusi imajiner antara “Non Kristen” [NK] dan “Kristen” [K]:

NK: Tidak satu kali pun Yesus pernah mengaku secara verbal: “Akulah Tuhan, sembahlah Aku”.
K: Jadi, apa kesimpulan Anda?
NK: Karena Yesus tidak pernah mengaku bahwa Ia adalah Tuhan dan meminta untuk disembah, maka  Ia bukan Tuhan.
K: Aturan dari mana bahwa Yesus harus mengaku secara verbal dan eksplisit bahwa Ia Tuhan baru Ia benar-benar Tuhan?
NK: Udah, gak usah berbelit, sebutkan saja satu ayat yang menunjukkan Yesus berkata seperti di atas.
K: Astaga, kamu pikir ini forum cerdas-cermat? Premismu mengandung dua kesalahan: 1) premismu bersifat anakronis karena bukan merupakan sebuah keharusan pada konteks jaman itu bagi Yesus untuk menyatakan seperti yang engkau tuntut dalam premismu. 2) tuntutan dalam premismu yang engkau asumsikan sebagai suatu keharusan, ternyata bukan keharusan bagi penerimaan akan klaim seseorang sebagai Allah. Pada masa itu, para kaisar Romawi mengaku diri secara eksplisit sebagai “Deus et Noster” [Allah dan Tuhan] yang kemudian melahirkan penyembahan Kaisar [Caesar worship], tetapi pengakuan mereka ditolak karena memang mereka manusia.
[Setelah ngeyel dengan tuntutannya, lalu diskusi diakhiri].

Cuplikan diskusi di atas, sekali lagi, adalah diksusi imajiner yang sebenarnya juga bertebaran di internet. Diskusi di atas memang dalam pengertian tertentu sudah seharusnya berakhir karena si NK tidak mampu mempertahankan argumennya. Dan K membuktikan itu dengan memperlihatkan kesalahan-kesalahan (fallacies) yang terkandung dalam premisnya.

Tetapi, seorang apologet Kristen dipanggil bukan sekadar untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan argumen dan klaim lawan-lawannya. Mampu menunjukkan fallacies dari lawan debat adalah satu hal, tetapi adalah hal lain bila kita menganggap bahwa kita sudah menunaikan tugas apologetis kita karena kita berhasil memperlihatkan kesalahan-kesalahan tersebut!

Dalam 2 Korintus 10:5, Paulus menulis,Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus”. Paulus bukan hanya berbicara tentang “mematahkan siasat” dan “merubuhkan kubu” yang bisa kita kontemporerisasikan dengan memperlihatkan fallacies dari argumen para penentang kebenaran. Paulus juga berbicara tentang “menaklukkannya kepada Kristus” yang mengharuskan seorang apologet untuk memproklamirkan Injil [kebenaran] kepada para penentangnya sebab hanya Injil Kristus yang berkuasa untuk “menaklukkan” mereka kepada Kristus (Rm. 1:16). Atau bila kita menggunakan terminologi Yohanes, “kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32). Dan kebenaran yang dimaksudkan adalah “Anak” (Yesus Kristus; Yoh. 8:36). Gagasan seperti ini juga terdapat dalam 1 Petrus 3:15 yang merupakan salah satu ayat penting yang berbicara mengenai panggilan apologetika Kristen.

Refleksi saya adalah bahwa penting untuk mempelajari tentang berbagai macam fallacies dalam logika, eksegesis, dan teologis. Namun, mengetahui semua jenis fallacies ini tidak dengan sendirinya membuat kita tuntas menjalankan tugas apologetika. Kita harus “menguduskan Kristus sebagai Tuhan” dan “menaklukkan segala pikiran kepada Kristus” – percaya kepada Kristus, mengenal secara baik dan mendalam Alkitab dan memproklamirkannya bagi para penentang Kristus. Jangan hanya berhenti pada level memperlihatkan kesalahan-kesalahan, melainkan lanjutkanlah dengan memperlihatkan yang benar.

Saya tertarik bila seorang apologet Kristen memiliki kemampuan mengidentifikasi fallacies dan memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi argumen yang valid dan sound. Tetapi, percayalah, bila kemampuan mempresentasikan Kristus tidak terlihat dalam diskusi atau perdebatan, apalagi langsung merasa bangga karena berhasil memperlihatkan kesalahan-kesalahan para penentang Kristus, maka sebenarnya diskusi seperti ini tidak tuntas. Tidak tuntas karena tidak mencapai klimaksnya, yaitu presentasi Injil Kristus bagi mereka. Dan untuk itu, keharusan pengenalan akan Alkitab secara eksegetis dan teologis merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar.

Apakah logika, dalam pengertian aturan-aturan penalaran, saja tidak cukup? Tidak cukup! Logika tidak menciptakan premis yang benar – isi Injil Kristus, dari dirinya sendiri. Isi Injil Kristus harus alkitabiah dan teologis, maka harus mengenal Alkitab secara eksegetis dan teologis.

Sekarang saya akan melanjutkan diskusi imajiner di atas dengan sebuah gagasan peralihan:

K: Saya sudah memperlihatkan bahwa tuntutan yang terkandung dalam premismu salah, maka kesimpulanmu salah. Tetapi, sebenarnya Yesus memang mempresentasikan diri-Nya sebagai Allah dalam Alkitab. Kalau kamu tertarik untuk memperhatikan bagaimana Yesus mempresentasikan diri-Nya sebagai Allah – sekali lagi, bukan seperti yang engkau tuntut karena tuntutanmu anakronis dan bukan merupakan suatu keharusan pada masa itu – saya akan memperlihatkannya bagimu.

Gagasan peralihan di atas adalah bahwa Yesus memang mempresentasikan diri-Nya sebagai Allah, namun bukan dengan cara seperti yang dituntut oleh NK. Dan diskusi masih bisa dilanjutkan dengan presentasi akan keallahan Kristus menurut Alkitab.

Nah, kembali kepada poin saya sebelumnya. Untuk melanjutkan diskusi setelah mengemukakan gagasan peralihan ini, tentu saja beban pembuktian itu ada pada pihak apologet Kristen. Dan untuk itu, IA harus sedemikian rupa mengenal Injl Kristus sehingga tidak dipermalukan gara-gara tidak mampu mempertahankan presentasinya secara baik.

Sekian dulu. Lain kali saya nulis lagi tentang apologetika Kristen.