Saya baru saja menyelesaikan sebuah artikel berjudul: “Yesus Belajar Ilmu Sihir di Mesir? Matius 2:13-23 dan Studi Yesus Sejarah”. Artikel ini telah diserahkan ke redaksi Jurnal Teologi Indonesia (Indonesian Journal of Theology) yang apabila dinilai layak terbit maka akan dimuat dalam edisi perdana jurnal ini pada bulan Juli 2013. Dalam artikel ini, saya berinteraksi secara khusus dengan Morton Smith yang mengklaim bahwa Yesus adalah seorang penyihir dalam bukunya: Jesus the Magician (New York: Barnes & Noble Books, 1978).

Markus/Q: Diri Yesus Sendiri; Paulus: Salib – Paulus Tidak Dapat Dipercaya
Dalam interaksi di atas, saya mencermati salah satu detail argumen Smith bahwa semasa hidup-Nya, Yesus ditolak oleh orang-orang Yahudi karena mereka menganggap bahwa mukjizat-mukjizat-Nya merupakan buah dari kuasa magis. Yesus bahkan didakwa kemudian disalibkan dan mati sebagai seorang penyihir di mata orang-orang Yahudi. Selain itu, Yesus ditolak oleh orang-orang sekampung-Nya karena mereka mengetahui tentang skandal Maria (bnd. “anak Maria” dalam Mrk. 6:3). Artinya, orang-orang Yahudi menolak Yesus karena diri-Nya (praktik persihiran dan ketidakjelasan ayah-Nya).

Selanjutnya, Smith membuat perbandingan berikut dengan tulisan Paulus mengenai alasan penolakan orang-orang Yahudi terhadap Yesus:

Morthon Smith_Jesus the Magicians_15

Pernyataan dalam schreenshot di atas dikemukakan Smith setelah ia mendiskusikan alasan penolakan orang-orang yang sekampung dengan Yesus dalam Markus 6:1-5. Dalam teks ini tercatat: “Lalu mereka kecewa dan menolak Dia” (ay. 3). Smith tidak menyebutkan rujukan teks mengenai alasan penolakan orang-orang Yahudi terhadap Yesus dalam tulisan-tulisan Paulus. Tetapi, pasti yang ia maksudkan adalah 1 Korintus 1:23, “tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan  dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.” Jadi, bagi Smith, Paulus “cannot be believed” [tidak dapat dipercaya] karena tradisi yang lebih tua yaitu Markus & Q menyatakan bahwa diri Yesus sendirilah yang menjadi alasan penolakan orang-orang Yahudi, bukan salib sebagaimana yang dikemukakan Paulus.

Disjungsi Palsu
Untuk mengklaim bahwa Paulus tidak dapat dipercaya, Smith mengasumsikan disjungsi [either/or] antara Markus dan Q dengan tulisan Paulus. Smith memang menggunakan istilah yang lebih umum “difference” (perbedaan), tetapi klaim bahwa Paulus tidak bisa dipercaya mengharuskan kita untuk memahami “perbedaan” di sini dalam pengertian disjunktif.

Tetapi, klaim di atas adalah hasil dari sebuah asumsi diskjunktif palsu, karena:

  • Markus/Q tidak menyatakan bahwa alasan penolakan orang-orang Yahudi terhadap Yesus pada masa itu, yaitu diri Yesus sendiri merupakan alasan satu-satunya dari penolakan orang-orang Yahudi terhadap Yesus. Demikian pula Paulus tidak menyatakan dalam 1 Korintus 1:23 bahwa salib adalah satu-satunya alasan penolakan orang-orang Yahudi terhadap Yesus. Justru, ketika mendiskusikan mengenai penolakan dari orang-orang Yahudi secara umum dalam Roma 9:32-33, Paulus mengutip dari Yesaya:16 yang dikaitkan Paulus dengan diri Yesus dalam segala totalitas-Nya: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebauh batu sentuhan dan batu sandungan dan siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan.”
  • Markus/Q dan Paulus memang sama-sama berbicara mengenai orang-orang Yahudi, tetapi Markus/Q berbicara mengenai orang-orang Yahudi pada masa hidup Yesus. Markus/Q tidak berbicara mengenai orang-orang Yahudi pada masa sesudah Yesus di salib. Di sisi lain, Paulus berbicara mengenai orang-orang yang sudah menyaksikan ataupun mengetahui tentang penyaliban Yesus. Lalu mengapa untuk audiens yang terakhir ini, Paulus tidak dapat dipercaya karena menyatakan bahwa mereka menolak Yesus karena salib?

Dengan mengemukakan sebuah klaim atas dasar disjungsi palsu tersebut, justru Smith-lah yang tidak dapat dipercaya bahwa “Paul cannot be believed”.