Friedrich Christian Baur adalah seorang teolog abad ke-19 yang namanya sering disebut-sebut sebaga dedengkot Tubingen School. Dalam studi terhadap surat-surat Paulus, Baur terkenal karena menerapkan dialektika Hegelian dalam menafsirkan pengajaran Paulus.

Seperti yang saya kemukakan dalam tinjauan saya terhadap entri “Head” dalam Dictionary of Paul and His Letters, riset saya mengenai frasa διὰ τοὺς ἀγγέλους dalam 1 Korintus 11:10 membawa saya berhadapan dengan banyak sekali proposal eksegetis mengenai frasa ini. Dalam artikel tersebut saya merujuk kepada proposal Baur, namun karena ruang ulasannya tidak “mengijinkan” saya memberikan interaksi yang luas, maka saya memutuskan untuk membahas tentang proposal dari Baur terhadap frasa tersebut secara khusus di sini. Artikel ini telah diserahkan ke redaksi Jurnal Coram Deo untuk dipublikasikan.

Dalam bukunya yang berjudul: Paul the Apostle of Jesus Christ: His Life and Works, His Epistles and Teachings,[1] Baur mengemukakan pandangan yang bisa dibilang distinktif tentang frasa di atas bila dibandingkan dengan pandangan para ahli lainnya mengenai 1 Korintus 11:2-16. Para ahli lain, menerima (mis. Schreiner, Witherington, Johnson, Ciampa, Garland, Murphy-O’Connor, dll.) atau menolak (mis. Walker, Trophf, Mount, dll.) otentisitas teks ini secara sekaligus. Berbeda dengan para ahli ini, Baur menerima otentisitas 1 Korintus 11:2-16 kecuali otentisitas frasa διὰ τοὺς ἀγγέλους dalam 1 Korintus 11:10b.

Sebelum saya mengajak kita menyimak kutipan argumen dari Baur, saya perlu mencantumkan kutipan lengkap dari 1 Korintus 11:10 dalam bahasa Yunaninya: διὰ τοῦτο ὀφείλει ἡ γυνὴ ἐξουσίαν ἔχειν ἐπὶ τῆς κεφαλῆς διὰ τοὺς ἀγγέλους.

Menurut Baur,

Here the apostle is admonishing the Corinthian women not to let themselves be seen with uncovered head, and for this he gives a reason : For this cause ought the woman to have a sign of the power (not of the power which she has, but of the power which her husband has over her; this is unquestionably the meaning of ἐξουσία) upon her head…” (Paul the Apostle of Jesus Christ: His Life and Works, His Epistles and Teachings, 2.254).

Saya sependapat dengan pandangan Baur mengenai frasa ὀφείλει ἡ γυνὴ ἐξουσίαν ἔχειν ἐπὶ τῆς κεφαλῆς. Frasa ini memang tidak bisa dimaknai dalam arti wanita memiliki otoritas di atas kepalanya sendiri, melainkan ia mengenakan simbol otoritas pria di atas kepalanya, yaitu penudung kepala (terimplikasi dari argumen-argumen Paulus dalam ayat 3-9; kontra: Hooker, Dunn, Johnson). Saya juga percaya, sebagaimana yang dikemukakan Baur, frasa διὰ τοῦτο menghubungkan ayat 10 dengan argumen-argumen Paulus dalam ayat 3-9 mengenai subordinasi wanita.

Tetapi kemudian Baur menolak otentisitas frasa διὰ τοὺς ἀγγέλους demikian:

…the words διὰ τοὺς ἀγγέλους cannot possibly have arisen out of anything in the apostle’s own religious consciousness, they cannot be considered to be part of the original text. Observe how unconnected these words are here, and how they destroy the sense (Paul the Apostle of Jesus Christ: His Life and Works, His Epistles and Teachings, 2.254).

Bagi Baur, frasa ini merupakan “an awkward interpolation” yang “destroy the logic of his argument” (Paul the Apostle of Jesus Christ: His Life and Works, His Epistles and Teachings, 2.254).

Untuk asersi Baur mengenai status interpolatif (sisipan yang dilakukan di kemudian hari, bukan dari Paulus sendiri) frasa διὰ τοὺς ἀγγέλους, saya harus menyatakan ketidaksetujuan saya berdasarkan argumen berikut: Penentuan akan integritas tekstual dilakukan terutama berdasarkan bukti-bukti tekstual. Pertimbangan soal kelogisan (kemasukakalan) argumen dalam sebuah teks adalah pertimbangan sekunder, bukan pertimbangan primer dalam konteks ini. Sebab, Paulus bisa saja memiliki sebuah alasan yang karena adanya gap-gap hermeneutis (mis. jarak sejarah, budaya, bahasa, filosofis, dsb.), maka kita sebagai para penafsir modern terhalang untuk melihat alasan Paulus menyertakan frasa ini. Dan pastinya, tidak ada varian tekstual yang mendukung asersi mengenai status interpolatif dari frasa ini termasuk status interpolatif dari keseluruhan teks ini (11:2-16). Para penafsir yang mengusulkan ide interpolatif terhadap teks [-teks seperti] ini, tidak lebih daripada sekadar mengekspresikan ketidakmampuan mereka untuk menerima apa yang menurut mereka Paulus tidak harus/boleh katakan. Mereka tidak membiarkan Paulus berbicara bagi dirinya sendiri, tetapi “menaruh kata-kata ke dalam mulut Paulus”.

Kesan bahwa penyertaan frasa διὰ τοὺς ἀγγέλους tidak “masuk akal” bila dikoneksikan dengan argumen-argumen Paulus dalam ayat 3-9 adalah satu hal [yang diakui oleh semua penafsir], tetapi adalah hal lain bila atas dasar kesan ini seorang penafsir merasa berhak menentukan integritas frasa ini dengan mengusulkan ide interpolasi sebagai solusinya. Bagi saya, kesan aneh terhadap kemunculan frasa ini dalam ayat ini seharusnya memimpin kita untuk melakukan riset eksegetis guna mencari solusinya; sebuah pilihan jauh lebih bisa diterima ketimbang langsung menentukan pilihan bahwa teks ini merupakan sebuah interpolasi ketika tidak ada dukungan varian tekstual mana pun yang mendukung ide ini.


[1] F.C. Baur, Paul the Apostle of Jesus Christ: His Life and Works, His Epistles and Teachings, Two Volume in One (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 2003).