Beberapa waktu lalu, saya menulis sebuah artikel yang secara khusus membahas masalah eksegesis terhadap frasa  διὰ τοὺς ἀγγέλους dalam 1 Korintus 11:10. Sebelumnya, saya juga sudah pernah melakukan riset khusus mengenai 1 Korintus 11:2-16 dalam hubungan dengan perdebatan antara komplementarianisme dan egalitarianisme. Dalam dua kesempatan yang sangat menyita banyak perhatian ini, saya tentu memberi perhatian juga kepada salah satu masalah eksegesis yang sangat luas didiskusikan dari 1 Korintus 11:3, yaitu masalah pemaknaan kata κεφαλὴ (“kepala”). Hal ini membawa saya berinteraksi dengan banyak sumber penting, salah satunya adalah entri mengenai “head” (“kepala”) dalam Dictionary of Paul and His Letters yang ditulis oleh C.C. Kroeger.

Bila Anda akrab dengan isu spesifik di atas, Anda pasti mengetahui bahwa dari beberapa pilihan arti untuk memaknai kata κεφαλὴ dalam 1 Korintus 11:3, dua di antaranya yang cukup luas dipertimbangkan oleh para sarjana, yaitu “sumber” (source) dan “berotoritas atas” (authority over). Kroeger menerima makna “sumber” untuk kata κεφαλὴ untuk ayat ini.

Saya akan kembali kepada tulisan Kroger namun ada baiknya saya memberikan sedikit gambaran mengenai diskusi antara komplementarianisme dan egalitarianisme. Para penganut komplementarianisme menerima arti “berotoritas atas” dengan implikasi bahwa dalam ayat ini Paulus berbicara tentang kekepalaan pria, dalam arti pria menerima mandat kepemimpinan dari Allah atas wanita dan wanita diciptakan dalam posisi subordinasi secara peran di bawah kepemimpinan pria. Jadi prinsip kekepalaan ini bersifat hierarkhial dalam hal peran, bukan status atau hakikat keberadaan. Pria dan wanita tidak setara dalam hal peran fungsional, tetapi setara dalam hal hakikat keberadaan di dalam Tuhan. Inilah posisi komplementarianisme. Di sisi lain, para penganut egalitarianisme memperjuangkan kesetaraan peran pria dan wanita dan dengan segala daya menolak arti “berotoritas atas” dari kata κεφαλὴ dalam ayat ini. Implikasi kontemporer dari diskusi ini berkenaan dengan boleh atau tidak boleh (bedakan dari: bisa  atau tidak bisa!) seorang wanita ditabhiskan sebagai gembala-pengajar dalam Gereja.

Kembali kepada Kroeger. Dalam entri tersebut ia menyatakan:

The contemporary desire to find in 1 Corinthians 11:3 a basis for the subordination of the Son to the Father has ancient roots. In response to such subordinationism, church fathers argued vehemently that for Paul head had meant “source.” Athanasius (Syn. Armin. 26.3.35; Anathema 26. Migne PG 26, 740B), Cyril of Alexandria (De Recte Fide ad Pulch. 2.3, 268; De Recte Fide ad Arcadiam 1.1.5.5(2). 63.), Basil (PG 30.80.23.), Theodore of Mopsuestia (Eccl. Theol. 1.11.2–3;2.7.1) and even Eusebius (Eccl. Theol. 1.11.2–3; 2.7.1.) were quick to recognize the danger of an interpretation of 1 Corinthians 11:3 which could place Christ in a subordinate position relative to the Father. In view of Scripture ascribing coequality of Christ with the Father (Jn 1:1–3; 10:30; 14:9, 11; 16:15; 17:11, 21), John Chrysostom declared that only a heretic would understand Paul’s use of “head” to mean “chief” or “authority over.” Rather one should understand the term as implying “absolute oneness and cause and primal source” (PG 61.214, 216 [huruf tebal sebagai penekanan dari saya].

Setelah membaca entri yang ditulis oleh Kroeger di atas, saya kemudian membaca dua artikel dari Wayne Grudem mengenai kata κεφαλὴ  dalam 1 Korintus 11:3, yaitu: “Does κεφαλὴ (“Head”) Mean “Source” or “Authority Over” in Greek Literature? A Survey of 2,336 Examples,” Trinity Journal 6.1 (Spring 1985): 38-59; dan “The Meaning Of κεφαλὴ (“Head”): An Evaluation Of New Evidence, Real And Alleged,” Journal of the Evangelical Theological Society 44:1 (March 2001): 25-65. Grudem melakukan riset yang luar biasa luas terhadap berbagai sumber-sumber kuno yang menggunakan istilah κεφαλὴ. Kesimpulan Grudem justru persis berseberangan dengan kesimpulan Kroeger:

The use of κεφαλὴ to mean “authority over” is common in the early church Fathers. But this survey is probably sufficient to demonstrate that “source, origin” is nowhere clearly attested as a legitimate meaning for κεφαλὴ, and that the meaning “ruler, authority over” has sufficient attestation to establish it clearly as a legitimate sense for κεφαλὴ in Greek literature at the time of the New Testament (“Does κεφαλὴ (“Head”) Mean “Source” or “Authority Over” in Greek Literature? A Survey of 2,336 Examples,” 59).

Yang sangat menarik adalah artikel Grudem yang terakhir disebutkan di atas: “The Meaning Of κεφαλὴ (“Head”): An Evaluation Of New Evidence, Real And Alleged”. Dalam artikel ini, Grudem memberi perhatian besar terhadap entri yang ditulis oleh Kroeger, khususnya ulasan Kroeger mengenai pandangan Yohanes Krisostomus bahwa: a) Krisostomus membahas mengenai pengertian kata κεφαλὴ; b) menurut Krisostmus kata κεφαλὴ dalam 1 Korintus 11:3 berarti “sumber”; dan c) hanya para bidat yang mengartikan kata ini dalam pengertian “berotoritas atas”. Sebelum membahas interaksi kritis Grudem terhadap ketiga asersi Kroeger ini, mari kita perhatikan kutipan dari tulisan Krisostomus yang dirujuk Kroeger:

But the head of the woman is the man; and the head of Christ is God.” Here the heretics rush upon us with a certain declaration of inferiority, which out of these words they contrive against the Son. But they stumble against themselves. For if “the man be the head of the woman,” and the head be of the same substance with the body, and “the head of Christ is God,” the Son is of the same substance with the Father (Chrysostom, Homily 26 on 1 Corinthians [NPNF series 1, vol. 12, p. 150]).

Terhadap kutipan di atas, Grudem menyatakan, dan saya percaya Gurdem benar, bahwa Krisostomus tidak sedang menulis mengenai κεφαλὴ dengan mengasumsikan arti “sumber”. Dalam kutipan di atas, Krisostomus sedang melawan pandangan bidat Arianisme yang menyangkali kesetaraan hakikat Anak dan Bapa. Bertolak belakang dengan asersi Kroeger, Krisostomus justru mengklairifikasi bahwa “Allah adalah kepala dari Kristus” tidak berurusan dengan masalah esensi/hakikat ontologis, demikian pula “pria adalah kepala dari wanita” tidak berurusan dengan perihal esensi/hakikat ontologis. Dan ini juga yang diasumsikan oleh para penganut komplementarianisme ketika mengartikan kata kefalh dalam 1 Korintus 11:3 dalam arti “berotoritas atas” (lih. kutipan selanjutnya dari Krisostomus di bawah dan komentar Grudem)

Selanjutnya, Grudem menarik perhatian saya kepada kutipan lanjutan dari Krisostomus setelah kutipan di atas:

“Nay,” say they, “it is not His being of another substance which we intend to show from hence, but that He is under subjection” For what if the wife be under subjection to us? It is as a wife, as free, as equal in honor. And the Son also, though He did become obedient to the Father, it was as the Son of God, it was as God. For as the obedience of the Son to the Father is greater than we find in men towards the authors of their being, so also his liberty is greater…. we ought to admire the Father also, that He begat such as son, not as a slave under command, but as free, yielding obedience and giving counsel. For the counselor is no slave…. For with us indeed the woman is reasonably subjected to the man… (Chrysostom, Homily 26 on 1 Corinthians (NPNF series 1, vol. 12, p. 150).

Menegaskan komentarnya yang sudah saya cantumkan dalam paragraf sebelumnya, Grudem memperlihatkan bahwa Krisostmus tidak menolak arti κεφαλὴ sebagai “autorithy over”, sebaliknya Krisostomus mengasumsikan arti “authority over” namun menolak pemahaman kaum Arian terhadap arti tersebut seakan-akan Paulus bermaksud menyatakan bahwa Anak memiliki esensi atau hakikat keberadaan yang berbeda dari Bapa. Grudem menulis,

Does Chrysostom differ with “the heretics” over the meaning of κεφαλή? No, he agrees with them. But they were saying that “the head of Christ is God” (1 Cor 11:3) implied that the Son was a lesser being than the Father, that he was not equal in deity. Chrysostom says that the Son is equal in deity, and is also subject to the Father (“The Meaning Of kefalh (“Head”): An Evaluation Of New Evidence, Real And Alleged,” 27).

Selanjutnya, Grudem juga berinteraksi dengan sumber-sumber lain dari Bapa-bapa Gereja yang dirujuk Kroeger dalam kutipan di atas. Kesimpulan Grudem persis berseberangan dengan yang dipahami Kroeger. Bahkan, Grudem juga mencantumkan respons dari Kroeger terhadap evaluasi kritis Grudem dalam artikel ini. Menurut Grudem, Kroeger tidak dapat mempertahankan tesisnya namun secara cukup memalukan, tidak membuat pernyataan terbuka bahwa ia telah melontarkan sebuah tesis yang menyesatkan baik terhadap kutipan dari Krisostomus, maupun pemahamanannya mengenai implikasi dari pemaknaan kata κεφαλὴ sebagai “authority over” oleh para penganut komplementarianisme.

Mencermati diskusi di atas, saya hanya bisa memberikan komentar singkat di sini. Kroeger melakukan strawman dalam dua hal: a) Kroeger salah memahami maksud kutipan Krisostomus yang akibatnya ia memberikan kesan yang salah kepada para pembaca entrinya mengenai pandangan Krisostomus; dan b) Kroeger salah memahami implikasi dari pemaknaan “authority over” terhadap kata κεφαλή seakan-akan pemaknaan ini berarti bahwa Kristus berbeda secara esensi/hakikat ontologis dengan Bapa sebagaimana yang dipahami Arianisme.