Saya membeli buku Herman Ridderbos yang diterjemahkan oleh Momentum ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2009. Buku ini sendiri diterbitkan dalam bahasa Indonesia pertama kali pada tahun 2008 (Herman Ridderbos, Paulus: Pemikiran Utama Theologinya, terj. Hendry Ongkowidjojo [Momentum: Surabaya, 2008).[1] Seperti komentar-komentar yang terdapat di cover belakang buku tersebut, Ridderbos memang melakukan riset yang luar biasa serius dan menghasilkan sebuah buku mengenai teologi Paulus yang diapresiasi oleh banyak pihak.

Tidak jauh berbeda dengan kecenderungan para Pauline Theologians lainnya yang membahas tentang teologi Paulus berdasarkan salah satu tema kunci tertentu (center), Ridderbos juga demikian, walau ia memilih untuk membahas teologi Paulus dalam koridor beberapa struktur fundamental (konsep-konsep mendasar yang mendasari surat-surat Paulus). Ridderbos sendiri mengakui bahwa teologi Paulus ibarat sebuah rumah yang memiliki satu pintu untuk masuk ke dalamnya. Membaca buku ini, kelihatannya bagi Ridderbos, “pintu” untuk memasuki teologi Paulus adalah penggenapan sejarah penebusah atau dengan kata lain tema eskatologi (bukan dalam pengertian sistematika, melainkan biblika yaitu berbicara tentang overlapping of two ages yang klimaksnya adalah kedatangan Kristus). Rupanya, bila kita membaca Pauline Eschatology-nya Geerhardus Vos, kita akan menemukan kesamaan pandangan di antara kedua ahli ini mengenai pembahasan akan teologi Paulus, yaitu dari aspek eskatologinya. Bagi mereka, struktur konseptual yang paling mendasar dalam membaca surat-surat Paulus adalah konsep eskatologinya.

Secara teknis, garis besar buku Ridderbos mencerminkan bahwa ia menggunakan penyusunan yang mirip dengan isi surat Roma. Teknis pembahasan teologi Paulus dengan menggunakan surat Roma sebagai “template”, rupanya bukan hanya kita temukan dalam buku ini. Kita juga bisa menemukan tendensi ini dalam Theology of Paul the Apostle-nya James D.G. Dunn dan mayoritas buku-buku mengenai teologi Paulus lainya, kecuali Paul, The Apostle of God’s Glory in Christ: A Pauline Theology-nya Thomas R. Schreiner. Mayoritas ahli ini menggunakan isi surat Roma sebagai template dari pembahasan mereka karena seperti yang sudah diakui luas di kalangan Pauline theologians, surat ini merupakan surat yang “paling” teologis dan mencerminkan kematangan teologi Paulus ketimbang surat-surat lainnya.

Saya sendiri berhutang cukup banyak kepada Ridderbos (termasuk para ahli lainnya yang membahas tentang teologi Paulus) karena buku ini mencerminkan sebuah studi eksegetis yang teliti dan mengandung argumen-argumen yang ketat.

Sayang sekali, dalam terjemahan bahasa Indonesianya, buku yang lumayan tebal ini (595 hlm.) tidak disertai daftar indeks subjek maupun ayat-ayat Alkitab yang dibahas di dalamnya. Itulah sebabnya, bagi seorang researcher yang berniat “meminjam” atau berinteraksi dengan konsep tertentu dari Ridderbos dalam buku ini, tidak ada jalan lain, ia harus membaca seluruh isi buku ini. Dalam pengertian tertentu, hal ini tentu sangat baik. Namun untuk praktisnya, sudah merupakan suatu tuntutan agar buku-buku teks semacam ini mencantumkan daftar indeks di bagian akhirnya. Bagi pihak Momentum yang membaca tinjauan ini, saya sangat mendorong mereka untuk mencantumkan daftar indeks subjek maupun ayat-ayat Alkitab yang dibahas dalam buku ini pada edisi cetak berikutnya.

Akhirnya, saya mendorong semua orang Kristen di Indonesia untuk membaca buku ini. Seperti yang dikomentari oleh Christianity Today, buku ini merupakan “Sebuah tambang yang menyimpan banyak harta karun”!


[1] Buku ini pertama kali ditulis dan diterbitkan dalam bahasa Belanda pada tahun 1966 dengan judul: Paulus: Ontwerp van zijn Theologie. Pada tahun 1975, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Eerdmans dengan judul: Paul: An Outline of His Theology.