ZealotSaya mendapatkan versi ebookZealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth” (New York: Random House, 2013) tulisan Reza Aslan pada awal bulan Agustus 2013, sekitar satu bulan setelah buku ini diterbitkan (Juli 2013). Namun karena kesibukan, saya belum sempat membaca buku ini hingga akhir bulan September 2013. Hingga menulis review ini, saya sudah membaca buku ini sebanyak tiga kali.

Saya membaca buku tersebut sebanyak tiga kali, bukan karena buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang sulit dimengerti (sebaliknya ia ditulis dengan gaya bahasa popular dan bahkan tanpa catatan kaki sama sekali, kecuali diskusi mengenai segelintir literatur sekunder di sekitar studi Yesus Sejarah untuk setiap babnya di akhir buku tersebut). Bukan pula karena Aslan mengemukakan sebuah proposal baru mengenai potret Yesus Sejarah yang memukau perhatian saya (sebaliknya Aslan hanya “membangkitkan kembali” sebuah teori usang mengenai Yesus sang pejuang revolusioner melawan Romawi). Saya membacanya sebanyak tiga kali karena saya wonder mengapa buku yang lebih cocok dikategorikan sebagai sebuah rekonstruksi imajinatif berkedok studi sejarah seperti ini mendapat perhatian media di Amerika hingga saat ini dan segera menempati posisi bestseller di Amazon tidak lama sesudah publikasinya seakan-akan ia adalah buku yang berisi kajian kesarjanaan yang serius mengenai bidang ini.

Karena buku ini baru terbit sekitar tiga bulan lalu, maka mungkin belum banyak orang di Indonesia yang membacanya. Karena itu, saya akan memosting tinjauan saya terhadap buku ini dalam dua bagian. Bagian pertama berisi ulasan deskriptif mengenai inti klaim dan argumentasi Aslan. Lalu, bagian kedua berisi interaksi evaluatif saya terhadap klaim dan argumentasi tersebut.

Aslan membangun argumentasinya di atas klaim bahwa

“In the end, there are only two hard historical facts about Jesus of Nazareth upon which we can confidently rely: the first is that Jesus was a Jew who led a popular Jewish movement in Palestine at the beginning of the first century C.E.; the second is that Rome crucified him for doing so” [p. 19; huruf tebal-miring dari saya sebagai penekanan].

Sebenarnya, setelah mendengarkan rekaman tanya jawab mengenai isi buku tersebut di sini, menurut saya dua hal di atas dapat dibagi menjadi tiga klaim terpisah yang saling berkaitan dalam membentuk gambaran Aslan mengenai Yesus Sejarah.

Pertama, Yesus adalah orang Yahudi. Menurut Aslan, penekanan ini penting karena melalui penekanan ini, ia ingin mendukung asumsinya bahwa pemahaman Yesus akan diri-Nya, akan Kitab Suci [PL], tujuan keberadaan-Nya, TIDAK MUNGKIN berbeda dengan orang-orang Yahudi lainnya pada masa itu. Misalnya, inti pengajaran Yesus adalah “kerajaan Allah” tidak mungkin berarti suatu kerajaan yang bersifat spiritual karena sebagai seorang Yahudi, Yesus PASTI dan HARUS memahami serta mengajar mengenai kerajaan Allah yang bersifat politis. Demikian pula pemahaman Yesus mengenai “Mesias” pasti berkesinambungan dengan harapan orang-orang Yahudi akan seorang Mesias-politis. Tidak mungkin lain dari itu!

Kedua, karena Yesus tidak mungkin dipisahkan dari identitas etnis-Nya [dengan implikasi seperti yang sudah dijelaskan di atas], maka fenomena kepemimpinan Yesus semasa hidup-Nya tidak mungkin tidak bersifat politis. Dalam rangka menempatkan klaim ini dalam konteks Second Temple Judaism, Aslan “menggabungkan” Yesus ke dalam sebuah gerakan oposisi politis dari kalangan Yahudi pada waktu itu, Zelot. Sampai di sini, kita harus berhati-hati untuk tidak menyalahpahami maksud Aslan. Umumya saat ini kita memahami istilah Zelot dalam konotasi yang hampir mirip dengan kaum teroris atau di Indonesia hampir mirip dengan FPI. Menurut Aslan, kaum Zelot pada masa itu terdiri atas beberapa karakteristik variatif: a) ada yang sangat radikal dan tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik dan anarkis; b) ada yang memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan sosial dengan menjadi bandit atau perampok lalu adakalanya membagikan hasil perampokan itu kepada orang-orang miskin; dan c) ada pula yang memperjuangkan visi mereka secara spiritual. Kelompok yang terakhir ini bisa dikatakan kurang bersifat violence. Tetapi, ada satu prinsip umum yang memayungi diversitas karaktersitik gerakan Zelot tersebut yaitu bahwa hanya Allahlah yang berdaulat dan umat Tuhan tidak boleh dipimpin oleh pemerintahan kafir! Di bawah payung pemahaman umum Zelotisme ini dan ditandai dengan karakteristik pengajaran spiritual yang intinya adalah kerajaan Allah yang bersifat politis, Yesus memulai sebuah gerakan yang menarik minat banyak orang pada waktu itu.

Dan Ketiga, karena Yesus merupakan ancaman politis bagi kekaisaran Romawi, maka Ia dihukum mati sebagai pemberontak dengan cara disalibkan.

Dalam skenario imajinatif Aslan, kematian Yesus di atas salib seharusnya mengakhiri segala sesuatu yang sudah diperjuangkan Yesus karena bagi orang Yahudi Mesias yang mati tidak layak lagi disebut Mesias. Ia pasti Mesias palsu. Mesias yang sebenarnya akan memimpin perjuangan politis tersebut dan menang. Tidak mungkin kalah, apalagi mati.

Jika demikian, mengapa PB memberikan gambaran yang berbeda dari potret Yesus sang pemimpin revolusi sosio-politis yang gagal bahkan mati tanpa hasil pada kanvas Aslan? Keharusan menjawab pertanyaan ini membuat Aslan meminjam sebuah teori imajinatif lainnya seperti yang akan digambarkan secara ringkas di bawah ini.

Aslan menjelaskan bahwa Kitab-kitab Injil ditulis sesudah tahun 70 M (tahun kehancuran Yerusalem dan Bait Suci). Injil Yohanes bahkan ditulis pada awal abad kedua M. Pada masa sesudah kehancuran Bait Suci, para pengikut Yesus, dalam hal ini yang paling dominan adalah Paulus, mulai memunculkan sebuah versi potret pribadi dan ajaran Yesus yang sama sekali berbeda dengan Yesus yang sebenarnya sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas. Paulus yang bahkan tidak pernah diakui sebagai rasul baik oleh para rasul lainnya maupun Lukas, demikian menurut Aslan, mencetuskan ajaran bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (doktrin inkarnasi) dan dilahirkan melalui rahim seorang perawan (doktrin virgin birth), yang datang untuk menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi orang-orang berdosa (doktrin substitutional death). Dan bahwa pemerintahan Allah bersifat rohani dan eskatologis, bukan bersifat duniawi dan politis. Potret Yesus dan ajaran-ajaran seperti ini yang terdapat juga dalam Kitab-kitab Injil sudah jelas merupakan versi revisi terhadap potret dan ajaran Yesus yang sebenarnya demi menarik perhatian kaum gentiles dan menghapus gambaran negatif mengenai kebrutalan Romawi dan menimpakannya kepada orang-orang Yahudi yang pada waktu itu memang sudah memiliki reputasi buruk di mata kekaisaran Romawi. Hal ini dilakukan agar mereka mendapatkan simpati kekaisaran Romawi dan memenangkan kaum gentiles yang hampir-hampir tidak memiliki masalah sama sekali dengan potret dan ajaran-ajaran tersebut. Tidak diragukan lagi, pendiri Kekristenan, menurut Aslan, adalah Paulus [atau setidaknya Kekristenan seperti yang diajarkan dalam PB didominasi dan dipengaruhi oleh Paulus].

Tetapi, jika PB memberikan potret Yesus dan ajaran-ajaran yang sama sekali berbeda dari potret Yesus dan ajaran-ajaran-Nya yang sebenarnya, dari manakah Aslan mendapatkan informasi guna mendukung klaimnya bahwa Yesus adalah seorang pemimpin revolusioner sosio-politis pada masa itu?

Lagi-lagi, kali ini Aslan tinggal melakukan “cherry-picking” terhadap PB guna membuat teorinya kelihatan masuk akal. Ia percaya bahwa sekalipun para penulis PB berupaya sedemikian rupa untuk menutup jejak-jejak karakteristik revolusi sosio-politis Yesus, namun kita masih bisa menelusuri “sisa-sisanya” dalam PB. Misalnya, kata-kata Yesus: “…Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang” (Mat. 10:34; Luk. 12:51) digarisbawahi Aslan sebagai bukti sisa-sisa visi revolusi sosio-politis Yesus Sejarah yang masih tertinggal dalam upaya penghapusan jejak yang dilakukan para penulis PB.

Itulah klaim dan argumentasi Aslan dalam buku: Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth.

Mengakhiri tinjauan deskriptif ini, saya perlu mengantisipasi sebuah respons terhadap cara pendeskrpsian saya yang tampak nyata di atas. Beberapa kali saya menggunakan sebutan-sebutan yang berkesan negatif terhadap rekonstruksi Aslan: “teori usang”; “rekonstruksi imajinatif berkedok studi sejarah”; “skenario imajinatif”; dan “cherry-picking” [sebuah istilah yang saya gunakan untuk tindakan selektif dalam memilah-milah data yang mendukung sebuah teori dan mengabaikan data lain yang tidak mendukung teori tersebut]. Tanpa bermaksud membuat Anda bertanya-tanya, saya perlu menegaskan bahwa saya memang menggunakan istilah tersebut dalam konotasi yang negatif. Saya tidak menggunakannya dengan secuil pun nuansa positif di dalamnya. Dan Anda akan menemukan “why” untuk hal ini pada tinjauan evaluatif saya dalam postingan berikutnya.