shabir allySetelah membuat ulasan deskriptif-evaluatif terhadap buku Reza Aslan, Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth, saya terdorong untuk menulis tentang pandangan Shabir Ally tentang penyaliban Yesus. Sebagaimana Aslan, Ally pun adalah seorang muslim. Lebih tepatnya, Ally adalah seorang apologet Muslim yang perdebatannya dengan beberapa apologet Kristen pernah saya tonton secara online. Namun, tidak seperti Aslan yang menerima penyaliban Yesus dan kematian Yesus di atas salib sebagai “hard historical fact”, Ally hanya percaya bahwa Yesus memang disalibkan, namun tidak mati dalam penyaliban tersebut.

Dalam sebuah interview mengenai buku Aslan (di sini), Ally menyatakan bahwa buku ini sebenarnya tidak mewakili predisposisi Islam. Misalnya, Aslan menolak doktrin kelahiran dari anak dara, sementara Islam menerimanya; juga Aslan menerima historisitas penyaliban dan kematian Yesus di atas salib, sementara umumnya Islam menolak bahwa Yesus mati di atas salib walau beberapa pihak menerima bahwa Yesus memang disalibkan.

Jika demikian, apa dan bagaimana pandangan Ally mengenai penyaliban dan kematian Yesus?

Pandangan Shabir Ally

Menurut salah satu sumber online (di sini), pada awalnya Ally, sebagaimana pandangan tradisional dalam Islam, percaya bahwa Yesus tidak pernah disalibkan apalagi mati di atas salib. Penyaliban itu memang terjadi, namun Allah SWT mengubah wajah Yudas menyerupai wajah Yesus sehingga Yudaslah yang disalibkan kemudian mati disalib dengan wajah yang menyerupai Yesus, namun bukan Yesus sendiri. Yesus langsung diangkat ke sorga oleh Allah SWT. Di kemudian hari [saya percaya karena serangan teologis terhadap pandangan tradisional Islam ini dari para apologet Kristen seakan-akan Allah melakukan penipuan dan juga tuntutan logis untuk mengkorespondesikan ajaran Quran dan sejumlah catatan sejahrawan kuno mengenai penyaliban Yesus] Ally beralih menerima klaim bahwa Yesus memang disalibkan namun tidak mati dalam peristiwa penyaliban itu. Hanya saja, tidak seperti Ahmed Deedat yang mengusulkan Teori Pingsan untuk menjelaskan ketidakmatian Yesus di salib, Ally tidak mengemukakan solusinya untuk isu tersebut. Baginya, fakta bahwa Yesus disalib cukup konsisten dengan sejumlah tulisan dari para sejahrawan kuno mengenai penyaliban Yesus dan pada saat yang sama konsisten dengan QS. 4.158 bahwa “…they kill him not, nor crucified him…”. Ally menafsirkan frasa ini bukan sebagai dua anak kalimat yang terpisah: “mereka tidak membunuhnya juga tidak menyalibkannya”. Ally menafsirkan “mereka tidak menyalibkannya” sebagai keterangan instrumental (sarana kematian) yang melaluinya Yesus mati. Artinya Ally percaya bahwa ayat itu berarti Yesus tidak mati melalui cara penyaliban. Dan ini tampaknya mendukung pandangannya bahwa Yesus disalib namun tidak mati karena penyaliban tersebut.

Terlepas dari apa dan bagaimana Ally mengusulkan eksegesisnya terhadap QS 4.158 di atas, yang paling penting adalah bagaimana Ally membangun argumennya berdasarkan Kitab-kitab Injil. Dalam beberapa sumber online mengenai presentasinya dalam perdebatan-perdebatan (di sini, di sinidi sinidi sinidi sini (dan masih banyak rekaman perdebatan beliau mengenai penyaliban Yesus dengan para apologet Kristen lainnya) setidaknya ada dua pertimbangan penting yang dikemukakan Ally untuk mendukung pandangannya (catatan: kedua argumen ini merupakan rangkuman dari sejumlah sumber online yang saya rujuk dalam tulisan ini).

Pertama, Ally melihat indikasi yang mendukung pandangannya berdasarkan reaksi Pilatus ketika Yusuf dari Arimatea menghadapnya untuk meminta mayat Yesus. Dalam Markus 15:44, dikatakan bahwa “Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati.” Membaca bagian ini, Ally memasukkan dugaannya bahwa keheranan Pilatus itu berarti suatu ketidakmungkinan bahwa Yesus bisa mati begitu cepat di atas salib. Hanya saja, karena adanya perkembangan tradisi maka Kitab-kitab Injil mengisahkan seakan-akan Yesus memang mati di salib.

Kedua, menurut Ally catatan serjahrawan kuno lainnya menyatakan bahwa tidak semua orang yang disalibkan itu pasti mati pada saat disalib. Ada yang bertahan hidup hingga diturunkan dari salib.

Jadi, dua pertimbangan di atas, menurutnya merupakan dukungan bagi pandangannya bahwa Yesus memang disalibkan namun tidak mati pada peristiwa penyaliban itu, entah nanti bagaimana Yesus mati. Bagi Ally, itu sudah cukup untuk menyelamatkan Alquran dari kontradiksi historis mengenai fakta penyaliban Yesus.

Keberatan Saya

Pertama, demi argumen katakanlah saya menerima eksegesis Ally terhadap QS. 4.158 bahwa Yesus memang disalibkan tetapi tidak mati pada peristiwa salib tersebut. Tetapi, menurut Kitab-kitab Injil Yesus bukan hanya disalibkan melainkan juga mati pada peristiwa penyaliban itu. Ally kelihatanya berupaya mendiskulaifikasi kehandalan Kitab-kitab Injil dengan berargumentasi bahwa ada semacam perkembangan penuturan tradisi dalam Kitab-kitab Injil yang membuatnya tidak dapat menerima keterangan eksplisit dari Kitab-kitab Injil bahwa Yesus disalibkan dan mati dikuburkan. Pertanyaannya, mengapa mengusulkan teori perkembangan tradisi sebagai alasan pendiskualifikasian Kitab-kitab Injil? Ally tidak dapat menyangkal, bila ia ingin konsisten, bahwa untuk melakukan hal itu, ia harus bersikap skeptis terhadap reliabilitas pengisahan Kitab-kitab Injil. Ini adalah suatu sikap metodologis yang menyedihkan (tepatnya: fallacious) karena bila Kitab-kitab Injil yang ditulis pada abad pertama (Ally mengakui penulisan Injil-injil Sinoptik di atas tahun 70 M) saja tidak dapat dipercayai kehandalan historisnya, mengapa QS. 4.158 yang ditulis kurang lebih 600 tahun sesudah masa hidup Yesus layak dipertimbangkan? Bila dokumen-dokumen abad pertama ini sudah sedemikian tidak dapat dipercaya karena terdapat perkembangan penuturan tradisi penyaliban, bukankah sangat masuk akal bahwa jauh lebih tidak bisa dipercaya isi QS. 4.158 secara historis?

Mengapa jauh lebih tidak bisa dipercaya? Pertimbangkan beberapa perbandingan ini. Kitab-kitab Injil ditulis pada rentang waktu yang sangat dekat dengan peristiwa penyaliban Yesus; Quran ditulis jauuuuuuuuuuuuh sesudah masa penyaliban Yesus. Pada masa penulisan Kitab-kitab Injil, para saksi mata peristiwa penyaliban Yesus masih hidup; Quran ditulis bukan oleh saksi mata. Kitab-kitab Injil ditulis di lokasi geografis yang persis berdekatan dengan terjadinya peristiwa penyaliban. Quran ditulis di tanah Arab jauh dari tempat terjadinya peristiwa penyaliban.

Bila Ally menerapkan prinsip konsistensi metodologis, maka skeptisisme terhadap Kitab-kitab Injil yang adalah produk abad pertama Masehi seharusnya melahirkan skeptisisme atau bahkan eliminasi mutlak terhadap QS. 4.158 dari arena diskusi.

Hanya ada dua pilihan bagi Ally untuk keluar dari perangkap yang dibuatnya sendiri di atas dengan menerima teori perkembangan tradisi maka Kitab-kitab Injil tidak bisa dipercaya. 1) Ia dapat melakukan standar ganda di mana di satu sisi ia skeptis terhadap Kitab-kitab Injil, tetapi menekan skeptisisme itu ke titik nadir saat membaca QS. 4.158. Atau 2) ia dapat berkilah dengan mengajukan klaim bahwa QS. 4.158 adalah firman Allah SWT maka tidak mungkin salah. Entah pilihan 1 atau 2 atau kedua-duanya dipilih Ally, kedua pilihan ini memiliki judul yang sama: Fallacies. Yang pertama sudah kemukakan sebagai standar ganda, dan yang kedua adalah fallacy of category (kesalahan kategori) yakni memasukkan klaim telogis ke dalam konteks diskusi historis.

Kedua, keheranan Pilatus dalam Markus 15:44 harus dibaca dalam konteksnya. Segera sesudah catatan mengenai keheranan itu, dikemukakan secara eksplisit bahwa Pilatus melakukan konfirmasi perihal benarnya kematian Yesus kepada kepala Pasukan. Mari pertimbangkan satu hal. Kepala pasukan dan para prajuritnya adalah ahli-ahli pembunuhan. Mereka bukan amatiran dalam hal penyaliban dan memastikan kematian orang-orang yang mereka disalibkan. Dan perhatikan tulisan Markus: “Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf” (15:45; huruf miring-tebal dari saya). Tidak perlu ber-IQ tinggi untuk memahami bahwa konteksnya mengharuskan pemahaman bahwa saat Pilatus meminta konfirmasi mengenai kematian Yesus dari kepala pasukan, kematian Yesus memang dikonfirmasi olehnya sehingga Pilatus berkenan memberikan mayat Yesus kepada Yusuf dari Arimatea. Ally membaca Markus 15:44 sambil berhalusinasi untuk melihat pandangan yang hendak ia bela dan lupa akan aturan sederhana dalam hal membaca teks di mana ia harus memperhatikan konteks kalimat tersebut. Ally memanfaatkan eisegesis (kesalahan eksegetis di mana penafsir memasukkan gagasannya sendiri ke dalam teks ketimbang mendapatkan gagasan dari teks) untuk membuktikan pandangannya. Mungkin ia harus diingatkan bahwa menopang sebuah pandangan dengan cacat eksegetis yang dilakukan secara sadar (kecuali kalau Ally melakukannya sambil tertidur nyenyak dan bermimpi, tetapi saya yakin tidak karena ia mengemukakannya dalam forum perdebatan resmi), merupakan “mastrubasi teologis”. Ia bersenang-senang dengan pandangan teologisnya sendiri dengan memanfaatkan Markus 15:44 sebagai alat khayalannya.

Dan Ketiga, katakanlah benar bahwa ada orang-orang tertentu yang disalibkan namun tidak mati akibat penyaliban itu, TIDAK HARUS diaplikasikan pada kasus spesifik lainya, dalam hal ini kasus penyaliban Yesus. Untuk memvalidasi argumen ini, Ally HARUS mengasumsikan bahwa semua yang disalibkan tidak mati pada saat disalibkan. Kenyataannya, tidak semua yang disalibkan mati karena penyaliban, juga tidak semua yang disalibkan tidak mati karena penyaliban. Jadi, pengamatan terhadap penyaliban Yesus dan kematian-Nya harus dilakukan pada dirinya sendiri, bukan dinilai berdasarkan kasus-kasus penyaliban lainnya. Dalam kasus penyaliban Yesus, telah banyak studi medis dan juga studi mengenai pengisahan Kitab-kitab Injil tentang prosesi penyaliban Yesus mulai dari Ia ditangkap, dianiaya dengan cambuk, hingga disalibkan (bnd. ini). Dalam studi-studi tersebut, dikemukakan bahwa kengerian penganiayaan itu menempatkan gagasan bahwa Yesus dapat bertahan hidup di atas salib pada level “ketidakmungkinan historis”.

Apakah Yesus disalib? Sabir Ally mengiyakan. Apakah Yesus mati karena disalib? Alquran dan Shabir Ally memberikan jawaban negatif, tidak! Dan inilah letak permasalahannya. Argumen-argumen historis justru memberikan jawaban positif untuk kedua pertanyaan ini. Silakan tentukan, melakukan “mastrubasi teologis” atau mempercayai akal sehat Anda dan menerima fakta penyaliban dan kematian Yesus di atas salib. Dan itu berarti Anda harus menolak bukan hanya pandangan Shabir Ally melainkan juga pandangan Alquran. Alquran TIDAK KORESPONDEN SECARA HISTORIS, dalam kasus ini!