ZealotPasca publikasi Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth, Aslan mendapat banyak undangan interview. Salah satunya yang kemudian melahirkan banyak kritik di seputar kredensial Aslan adalah pernyataannya mengenai informasi profesi dan latar belakang akademisnya saat diwawancarai oleh Fox News. Banyak pihak yang menilai bahwa Aslan memberikan informasi yang tidak tepat mengenai latar belakang akademis serta profesinya (mis. di sini dan di sini).

Meski demikian, kritikan-kritikan di seputar kredensial Aslan, menurut saya, tidak substansial dan bisa memimpin kepada genetic fallacy. Buku ini harus ditanggapi berdasarkan isinya, bukan latar belakang penulisnya.

Mengenai klaim dan argumentasi Aslan dalam buku tersebut, beberapa sarjana atau ahli biblika PB telah memberikan review mereka dan memperlihatkan bahwa buku ini hanya berisi sebuah teori usang yang telah lama dibantah. Aslan hanya membangkitkannya kembali tanpa berinteraksi secara luas dengan literatur-literatur primer dan sekunder yang penting di seputar teori yang ia usung dalam buku tersebut. Beberapa ahli tersebut, antara lain: Craig A. Evans (juga di sini), Larry Hurtado, Greg Carrey, Anthony Le Donne, dan Paul Timothy Penley.

Saya sependapat dengan isi reviews dari para pakar di atas. Saya hanya ingin menambahkan bahwa klaim serta argumen Aslan (lih. tinjauan bagian pertama) sebenarnya cukup luas juga digembar-gemborkan oleh banyak orang non Kristen di Indonesia guna mendiskreditkan ajaran Kekristenan. Itulah sebabnya perlu diingatkan bahwa bantahan terhadap klaim tersebut, mis. diskontinuitas antara Paulus dan ajaran/misi Yesus, telah dipublikasikan dan dapat diakses dalam bahasa Indonesia. Mis. buku-buku yang ditulis oleh profesor Ben Witherington III, Apa yang telah Mereka Lakukan terhadap Yesus: Bantahan terhadap Teori-teori Aneh dan Sejarah ‘Ngawur’ tentang Yesus, terj. James Pantou, 2007) dan juga Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, Mendongkel Yesus dari TakthaNya: Upaya Mutakhir untuk Menjungkirbalikkan Iman Gereja mengenai Yesus Kristus, terj. Helda Siahaan (Jakarta: Gramedia, 2009). Baca juga sebuah artikel yang pernah saya tulis mengenai hal ini, di sini dan di sini.

Mengenai sikap metodologis Aslan terhadap PB (khususnya Kitab-kitab Injil) yang menurutnya tidak handal untuk dijadikan acuan bagi penyelidikan tentang Yesus Sejarah, sebenarnya juga merupakan sebuah pendekatan usang yang muncul sejak abad 19 M yang telah berulang-ulang dibantah namun terus muncul. Bantahan akan hal ini, mis. Jakob Van Bruggen, Kristus Di Bumi: Penuturan Kehidupan-Nya oleh Murid-murid dan oleh Penulis-penulis Sezaman, terj. Tim Penerjemah LITINDO (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), khususnya bab 1; Craig L. Blomberg, The Historical Reliablity of the Gospels (Downers Grove, Illinois: IVP Press, 1987); Richard R. Bauckham, Jesus and the Eyewitnesses Testimony: The Gospels as Eyewitness Testimony (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2006).

Secara teknis, mencermati interaksi literatur per bab dan bibliografi di bagian belakang buku tersebut, terlihat bahwa Aslan tidak melakukan interaksi yang luas dengan sumber-sumber sekunder yang telah ditulis sangat banyak berkenaan dengan isi bukunya. Dan yang paling penting, Aslan sebenarnya tidak berinteraksi dengan beragam sumber primer mengenai Yudaisme Intertestamental guna mendukung teorinya mengenai dominasi Zelotisme di Palestina pada abad pertama Masehi. Aslan seakan-akan memasang “kacamata kuda” bagi para pembacanya seakan-akan Yudaisme Intertestamental dapat diabaikan diversitas-diversitasnya (mis. penafsiran mengenai Mesias dalam Naskah-naskah Laut Mati; Pseudopigrafa, dan Apokrifa) dan membawa pembacanya hanya melihat gerakan Zelotisme lalu melekatkannya secara prematur bagi misi dan gerakan yang dimulai oleh Yesus.

Aslan memang mengakui bahwa isi bukunya tidak baru; yang baru hanyalah sasaran pembacanya yaitu khalayak non akademisi teologi. Namun, sayangnya, Aslan tidak memberikan pernyataan afirmatif bahwa teorinya sendiri adalah teori yang sangat minor dianut di kalangan para ahli the historical Jesus dan bahwa teori itu sendiri telah lama dibantah. Lalu, mengapa mengulanginya tanpa berinteraksi dengan bantahan-bantahan terhadap teori usang itu? Saya tidak tahu persis. Tapi saya menduga bahwa Aslan sengaja menutup mata terhadap bantahan-bantahan tersebut karena ia telah terlanjur “jatuh hati” terhadap teori itu dan merasa tidak perlu mempedulikan bantahan-bantahan terhadapnya. Bila ini yang terjadi, maka Aslan sebenarnya sedang menjadikan dirinya pengkhayal abad 21 dengan cara mempromosikan dirinya sebagai sejarahwan abad pertama. Ironis.

Akhirnya, saya juga perlu memberikan komentar antisipatif, khususnya bagi orang-orang non Kristen yang telah cukup lama getol menerima teori-teori ngawur semacam ini. Isi buku ini, di satu sisi kelihatannya mendukung eforia penolakan terhadap Kekristenan di Indonesia, mayoritas oleh kalangan Islam. Tetapi, ingatlah bahwa Aslan: a) menolak doktrin kelahiran dari anak dara; b) menolak kemesiasan Yesus [kecuali dalam arti politisnya]; dan c) menerima fakta penyaliban Yesus. Yakinlah, bila Anda seorang Muslim, Anda tidak akan berada di pihak Aslan untuk ketiga hal ini. Kecuali kalau Anda melakukan hal yang sama seperti Aslan, melakukan “cherry-picking” dengan memungut hal-hal yang menguntungkan Anda dan mengabaikan hal-hal yang tidak menguntungkan posisi Anda. Melakukan demikian berarti Anda sedang menggabungkan diri dengan orang-orang yang suka melakukan fantasi teologis, persis seperti yang dilakukan Aslan.