Bisa dikatakan, semua artikel eksegetis saya di weblog ini selalu mengandung lontaran tentang posisi eksegetis saya terhadap isu-isu yang dibahas di dalamnya. Kali ini, saya ingin melakukan hal yang sedikit berbeda. Saya hanya akan memberikan semacam arahan deskriptif guna memperlihatkan isu-isu riset yang perlu diperhatikan dan selanjutnya saya membiarkan Anda menggunakannya sebagai “kompas” untuk mencari dan menemukan kesimpulan eskegetis Anda sendiri dalam riset pribadi Anda.

Fokus tulisan ini adalah anteseden (mengenai definisi “anteseden”, lih. di sini) dari kata αὐτήν dalam Ibrani 12:17.

Isu Eksegetis

Sebelum memperlihatkan isu eksegetisnya, ada baiknya saya mencantumkan terlebih dahulu kutipan Ibrani 12:17 dalam bahasa Yunani dan juga dalam terjemahan LAI-ITB.

ἴστε γὰρ ὅτι καὶ μετέπειτα θέλων κληρονομῆσαι τὴν εὐλογίαν ἀπεδοκιμάσθη μετανοίας γὰρ τόπον οὐχ εὗρεν καίπερ μετὰ δακρύων ἐκζητήσας αὐτήν (GNT; Ibr. 12:17; huruf tebal dan garis bawah dari saya).

“Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata” (LAI-ITB; Ibr. 12:17; huruf tebal dan garis bawah dari saya).

Langsung saja. Dalam ayat di atas, sebenarnya kita berhadapan ada dua pilihan dalam menentukan anteseden dari kata αὐτήν (dalam terjemahan ITB-LAI, kata αὐτήν – pronoun akusatif feminim tunggal – diterjemahkan dengan “-nya, seperti yang saya tandai di atas). Kedua pilihan itu adalah kata benda feminim tunggal: εὐλογίαν (“berkat”; akusatif feminim tunggal) dan μετανοίας (“pertobatan”; genetif feminim tunggal; catatan: LAI-ITB menerjemahkan kata ini dalam kesan kata kerja “memperbaiki kesalahan”, padahal seharusnya diterjemahkan secara konsisten dalam makna kata benda “pertobatan”)

Pertanyaannya, mengapa hanya ada dua pilihan seperti yang terungkap di atas? Jawabannya adalah karena menurut aturan gramatikal Yunani, pronoun harus cocok dengan antesedennya dalam hal: jumlah (number) dan gender (gender).[1] Dalam ayat ini, ada dua kata benda yang memiliki kasus dan jumlah yang sama dengan kata αὐτήν, yaitu kata εὐλογίαν dan μετανοίας.

Heb 12_17Isu Implikatif

Selain isu eksegetis di atas, kita juga berhadapan dengan isu implikatif dari penetapan anteseden kata αὐτήν dalam ayat di atas.

Pertama, bila anteseden dari kata αὐτήν adalah kata μετανοίας, maka implikasinya berdasarkan isi Ibrani 12:17, seseorang dapat menginginkan pertobatan bahkan mencarinya dengan sedemikian rupa namun Tuhan tidak membuka pintu penerimaan-Nya terhadap orang tersebut. Menurut Anda, apakah implikasi semacam ini tidak bermasalah dengan bagian-bagian lain dalam Alkitab mengenai sikap Allah terhadap orang berdosa yang berbalik kepada-Nya? Jika iya, bagaimana Anda memberikan penjelasan alternatif yang “menyelamatkan” implikasi ini dari masalah kontradiksi hal tersebut?

Kedua, bila anteseden dari kata αὐτήν adalah εὐλογίαν, maka pilihan ini tampaknya cocok dengan ayat 16 yang berbicara tentang Esau yang “menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan”. Tetapi ayat 16 juga berbicara tentang  Esau yang “menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah” yang tampaknya memberikan dukungan juga untuk kata μετανοίας. Bila Anda mengikuti pilihan ini, bagaimana Anda menjelaskan kesan ini dan tetap mempertahankan kata εὐλογίαν sebagai anteseden dari kata αὐτήν? Implikasi dari pilihan ini adalah bahwa Allah menutup “pintu” berkat bagi orang yang merendahkan atau menyia-nyiakan berkat-Nya. Pertanyaannya, dalam konteks narasi mengenai Esau dalam PL, apakah “berkat” yang dimaksudkan di sana? Apakah “berkat” tersebut bersifat umum (mencakup segala bentuk pemberian Tuhan bagi manusia) atau berkat tertentu saja dan tidak dapat diaplikasikan secara umum?

Informasi Pendukung

Sebagai informasi, kedua pilihan di atas mendapat dukungan dalam sejumlah versi terjemahan Alkitab, beberapa di antaranya akan dicantumkan di bawah ini:

Pertama, versi terjemahan Alkitab yang menerima εὐλογίαν sebagai anteseden dari kata αὐτήν, yaitu: NIV; NIB; NAB; GNV; NRS [“…even though he sought the blessing with tears”]; dan NJB [“As you know, when he wanted to obtain the blessing afterwards, he was rejected and, though he pleaded for it with tears, he could find no way of reversing the decision”].

Kedua, versi terjemahan Alkitab yang menerima μετανοίας sebagai anteseden dari kata αὐτήν, yaitu: NLT [“nd afterward, when he wanted his father’s blessing, he was rejected. It was too late for repentance, even though he wept bitter tears”].

Ketiga, versi-versi terjemahan Alkitab lainnya menerjemahkan kata αὐτήν dengan rujukan anteseden yang ambigu (tidak jelas), antara lain: LAI-ITB; LAI-BIS; TNT; PNT; NAU; NAS; ESV; dll [“-nya” atau “it”].

Dalam terang deskripsi mengenai isu-isu di atas dan diversitas terjemahan di atas, Anda dapat melakukan riset lebih lanjut mengenai perbedaan pendapat para penafsir dalam buku-buku tafsiran (commentaries), catatan-catatan atau rekaman-rekaman khotbah, artikel-artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal-jurnal, dan juga buku-buku teologi biblika (mis. buku-buku teologi PB atau monograf mengenai teologi Surat Ibrani).

Akhirnya, saya perlu mengingatkan bahwa pilihan apa pun yang Anda anut dari dua pilihan di atas, Anda harus memberikan argumen-argumen eksegetis-teologis-logis yang menopang pilihan Anda.

Selamat melakukan riset!


[1] William D. Mounce, Basics of Biblical Greek Grammar (2nd edition; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003), 117.