Tadi malam saya membaca sebuah esai yang sangat menarik mengenai aktivitas membaca di jaman kuno. Esai yang saya maksud ditulis oleh: L.B. Yaghjian, “Ancient Reading,” in R. Rohrbaugh (ed), The Social Scieences and New Testament Interpretation (Peabody: Hendrickson, 1996), 206-230.

Konteks penelitian Yaghjian adalah budaya literasi abad pertama Masehi di dunia Greco-Roman (Yunani-Romawi). Ia memperlihatkan, sebagaimana para penulis lainnya yang pernah saya baca tulisan mereka, bahwa budaya literasi yang menonjol pada waktu itu adalah budaya oral (lisan) yang tentu sangat berbeda jauh dengan budaya literasi kita saat ini.

Dalam konteks budaya seperti di atas, seseorang dapat saja memiliki kemampuan untuk membaca – atau setidaknya mengenali huruf-huruf dan membuat tanda tangan – tanpa harus bisa menulis. Menulis dan membaca tidak selalu berjalan seiring. Biasanya, orang-orang yang bisa membaca sekaligus bisa menulis adalah orang-orang yang menempuh pendidikan formal – sesuatu yang tidak cukup banyak orang bisa tempuh mengingat situasi ekonomi yang tidak memungkinkan di berbagai wilayah Greco-Roman pada waktu itu.

Setidaknya, saat ini kita memahami aktivitas membaca dengan asumsi bahwa orang yang membaca adalah orang yang mengenali huruf-huruf dan sudah tentu sekaligus adalah orang yang bisa menulis. Aktivitas membaca itu sendiri, bagi kita pengertiannya sederhana: ada teks tertulis di hadapan kita, kemudian kita membacanya entah dengan membunyikannya atau membaca diam.

Tetapi tidak demikian halnya dengan budaya literasi abad pertama Masehi. Yaghjian memperlihatkan beberapa kategori, yang oleh mereka yang hidup saat itu dianggap sebagai aktivitas membaca. Kategori-kategori tersebut, adalah:

  1. Auraliterate reading (mendengarkan sesuatu yang dibacakan [oleh pihak lain])
  2. Oraliterate reading (mengutip kemudian membunyikan isi sebuah teks berdasarkan ingatan)
  3. Oculiterate reading (membaca secara langsung dari sebuah teks tertulis)
  4. Scribaliterate reading (membaca untuk kepentingan teknis, profesional, dan tujuan-tujuan religius)

Sekali lagi, kategori-kategori di atas termasuk rentang pemahaman mengenai aktivitas membaca pada waktu itu. Jadi, ketika pada waktu itu seseorang disebut “dapat membaca”, orang lain harus memahami lebih rinci dalam kategori yang mana orang tersebut dapat membaca.

Secara generalisasi, umumnya mereka dapat membaca dalam kategori auraliterate dan oraliterate. Tetapi, hanya sekelompok kecil yang bisa membaca dalam kategori oculiterate dan scribaliterate (Harris, Ancient Literacy, menyatakan hanya 3-5persen populasi Yahudi di daerah Greco-Roman yang dapat membaca dalam kedua kategori terakhir di atas; penulis lain, Millard, Reading and Writing in the Time of Jesus, memberikan prosentasi yang lebih tinggi untuk kedua kategori terakhir ini).

Secara sosiologis, pada waktu itu ketika seseorang dikategorikan sebagai illiterate, pengategorian ini bukanlah sebuah stigma (yang mengidentikkannya dengan kebodohan; buta huruf) dalam konteks kita saat ini. Pada waktu itu, istilah illiterate atau illiteracy (Yun. agramatos) merupakan sebuah istilah deskriptif sosial yang lebih berarti bahwa orang-orang tersebut tidak mengikuti sebuah pendidikan formal. Sementara itu, istilah literate atau literacy pada masa itu digunakan untuk mereka yang memiliki skill membaca dan menulis, mis. para amanuensis (sekretaris) atau para ahli Taurat (seperti yang berkali-kali disebutkan dalam Perjanjian Baru).

Demikian tinjauan ringkas saya terhadap tulisan Yaghjian [dan juga informasi tambahan dari beberapa penulis lain] mengenai budaya literasi abad pertama di dunia Greco-Roman.

Semoga bermanfaatJ