Catatan Awal

Ada beberapa hal penting yang perlu saya kemukakan terlebih dahulu sebelum membahas isu ini lebih lanjut.

Pertama, hindari reaksi “pokoknya”. Mayoritas orang sekadar mengasumsikan bahwa Yesus dapat membaca dan menulis tanpa dukungan argumen atau bukti-bukti sejarah yang bisa dijadikan dukungan untuk asumsi tersebut. Sikap iman yang bertanggung jawab adalah mendalami dan mengenali kesulitan-kesulitan yang ada, serta memberikan respons argumentatif yang tepat untuk kesulitan-kesulitan tersebut. Percayalah, iman yang takut atau bahkan antipati terhadap kritikan adalah iman yang lemah dan tidak layak diimani.

Kedua, ini adalah sebuah pembahasan dalam konteks studi sejarah. Apakah Yesus yang pernah hidup dan berkiprah di Palestina pada abad pertama Masehi, dapat membaca dan menulis? Maka jangan memasukkan asumsi teologis ke dalam isu ini, mis. “Ya, Dia Anak Allah. Tentu saja Dia dapat membaca dan menulis”. Asumsi ini dalam konteks teologis dapat dibela dengan argumentasi-argumentasi yang baik. Namun memasukkan asumsi ini ke dalam konteks studi sejarah mengenai Yesus, merupakan sebuah sesat pikir, yaitu kesalahan kategori (fallacy of category). Harus selalu diingat bahwa iman dan sejarah tidak pernah bertentangan (berkontradiksi). Memang, iman memiliki dimensi-dimensi yang melampaui sejarah. Namun, iman juga berakar di dalam sejarah – Allah berkarya di dalam sejarah. Maka bukti-bukti sejarah bersifat afirmatif terhadap iman. Ketika iman bertentangan dengan bukti-bukti sejarah, maka “iman” itu pastilah iman yang bermasalah. Anda tidak dapat berkata: “Persetan dengan sejarah; kalau iman saya bertentangan dengan sejarah, maka saya harus membuang sejarah dan tetap memeluk iman saya”. Ini, sekali lagi, adalah sikap iman yang fallacious!

Ketiga, lebih spesifik, apakah isu “Yesus buta huruf” penting bagi iman? Sangat penting! Karena dengan menjawab isu ini berdasarkan studi sejarah yang bertanggung jawab, kita mendapatkan afirmasi (lih. poin ketiga di atas) bagi asumsi teologis kita bahwa Yesus dapat membaca dan menulis. Selain itu, isu ini juga penting karena memberikan kontribusi bagi pemahaman kita mengenai potret Yesus yang sebenarnya menurut sejarah.

Dan keempat, sebelum membaca lanjutan tulisan ini, saya menyarankan Anda untuk membaca tulisan singkat saya sebelumnya mengenai ancient reading (di sini) guna mendapatkan gambaran awal mengenai konteks dan isu-isu khusus yang sangat berhubungan dengan isi tulisan ini.

Beberapa hal di atas kiranya cukup untuk mempersiapkan kita mengikuti ulasan mengenai sebuah isu “panas” di seputar studi sejarah mengenai Yesus. Saya akan memulainya dengan membahas sejumlah publikasi riset dari beberapa profesor bidang keahliannya adalah studi sejarah mengenai Yesus. Selanjutnya, saya akan mengemukakan tanggapan dari sejumlah profesor lainnya yang juga bidang keahlian mereka adalah studi sejarah mengenai Yesus.

Yesus Illiterate

Saya “berkenalan” dengan isu di atas sekitar tahun 2005, ketika profesor Pieter F. Craffert dan profesor Pieter J.J. Botha mempublikasikan sebuah artikel berjudul: “Why Jesus Could Walk on the Sea but He Could Not Read and Write?,” Neotestamenica 39.1 (2005): 5-35. Artikel ini membahas dua isu spesifik, yaitu masalah otentisitas narasi “Yesus berjalan di atas air” (Mrk. 6:45-52; Mat. 14:22-23; Yoh. 6:16-21 – Craffert yang membahas isu ini menerima otentisitasnya) dan narasi mengenai Yesus membaca Kitab Suci dan mengajar di sebuah sinagoge di Nazaret (Luk. 4:16-29 – Bottha membahas isu ini dan menolak bahwa Yesus dapat membaca dan menulis).

Isu ini kembali dikemukakan oleh profesor Reza Aslan pada bulan Juli 2013 dalam sebuah buku berjudul: Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth (New York: Random House, 2013). Aslan juga percaya bahwa Yesus yang sebenarnya tidak dapat membaca dan menulis.

Sebenarnya, beberapa dekade sebelum Botha dan Aslan mengemukakan pandangan di atas, beberapa profesor dari lingkungan studi The Historical Jesus sudah mengemukakan klaim tersebut. Dua di antaranya, profesor John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary Biography (New York: HarperSanFrancisco, 1994), 25 dan dalam sebuah bukunya yang lain: The Birth of Christianity: Discovering What Happened in the Years Immediately after the Execution of Jesus (Edinburgh: T&T Clark, 1998), 234-235; dan Robert W. Funk, The Five Gospels: What Jesus Really Say? The Search for the Authentic Words of Jesus (New York: HarperCollins, 1997), 27.

Setelah mengemukakan gambaran tentang publikasi akademis dari beberapa profesor di atas seputar isu “Yesus buta huruf”, sekarang saya akan mengemukakan rangkuman argumen mereka guna mendukung klaim tersebut.

Pertama, argumen berdasarkan konteks. Argumen ini bisa dirinci lagi menjadi dua rujukan konteks, seperti yang akan di rangkum di bawah ini:

  1. Konteks sosio-ekonomis. Menurut mereka, Yesus berasal Nazareth di Galilea yang mayoritas populasi penduduknya adalah orang-orang desa yang miskin (peasant). Bukan hanya itu, Yesus dan keluarga-Nya sendiri adalah orang-orang desa yang miskin. Mereka juga merujuk kepada sebuah riset mengenai prosentasi populasi Yahudi yang berpendidikan pada waktu itu dari Harris, Ancient Literacy [buku ini sudah saya rujuk dalam tulisan sebelumnya mengenai ancient reading]. Menurut Harris, populasi orang-orang Yahudi yang berpendidikan formal pada waktu itu hanya berkisar 3-5 persen. Hal ini disebabkan pada waktu itu sistem pendidikan formal memakan waktu cukup panjang dan harga material tulisan (mis. papirus dan perkamen), cukup mahal untuk ukuran para petani di desa-desa yang miskin. Jadi, adalah tidak mungkin bagi keluarga Yesus yang miskin itu untuk mengalokasikan biaya tambahan guna mengikutkan Yesus ke dalam pendidikan formal. Menurut Botha, Yesus mungkin bisa mengenali huruf-huruf dan bahkan bisa menandatangain namanya sendiri mengingat Yesus bekerja sebagai tukang (Yun. teknon) yang mengasumsikan hal-hal ini, namun Yesus tidak dapat membaca dan menulis dalam kategori oculiterate dan scribaliterate (lih. artikel saya sebelumnya). Tetapi Aslan lebih tegas lagi bahwa Yesus memang tidak dapat membaca dan menulis sama sekali, terlepas dari Dia dapat berbicara dalam bahasa Aramaik (bahasa Ibunya) dan sedikit mengenal bahasa Yunani (lingua franca pada waktu itu).
  2. Konteks religius. Botha memberi perhatian yang sangat besar terhadap tulisan Josephus – seorang sejarahwan Yahudi abad pertama – yang menyatakan bahwa dari antara semua bangsa, keunggulan orang-orang Yahudi adalah penekanan mereka akan hal pendidikan, khususnya pendidikan untuk mengenal isi Taurat. Hal senada juga dikemukakan oleh Philo, seorang Yahudi Hellenis yang hidup sejaman dengan Yesus yang menyatakan pentingnya pendidikan Taurat bagi anak-anak laki-laki Yahudi. Menurut Botha, tulisan Josephus dan Philo merupakan sebuah kebanggaan yang terlalu ideal untuk bisa dilihat penerapannya dalam konteks kehidupan Yesus dan keluarga-Nya di Nazaret (lih. argumen dari segi sosio-ekonomis di atas).

Kedua, argumen menentang kesan dari PB bahwa Yesus dapat Membaca dan Menulis. Beberapa teks di dalam PB, tampaknya memberi kesan bahwa Yesus dapat membaca dan menulis, yaitu:

  1. Lukas 2:42-45 bahwa Yesus bersoal jawab dengan para alim ulama Yahudi pada usia 12 Tahun di Yerusalem dan membuat mereka takjub. Menurut Aslan, kisah ini adalah rekayasa fabulous (fantastic) dari Lukas. Para profesor lain tidak terlalu memperhatikan teks ini karena tidak mengatakan apa pun yang berhubungan dengan isu spesifik di atas.
  2. Lukas 4:16-29 bahwa Yesus membaca dari gulungan Kitab Suci dan mengajar di sinagoge di Nazaret. Aslan menganggap bahwa kisah ini pun adalah rekayasa karena tidak terdapat bukti arkhaelogis mengenai keberadaan sinagoge di Nazaret. Botha tidak menganggap kisah ini sebagai rekayasa, namun mengusulkan interpretasi yang berbeda. Berangkat dari asumsinya bahwa Yesus tidak mungkin memiliki skill membaca dan menulis, ia mengusulkan bahwa yang dilakukan Yesus pada waktu itu adalah sejenis magical reading.[1] Ia mendukung usulan pandangan ini dengan merujuk kepada peristiwa-peristiwa ‘magis’ di seputar narasi tersebut, yaitu narasi Yesus berjalan di atas air, dan kemampuan Yesus untuk berjalan melewati orang-orang Yahudi di Nazaret yang marah dan hendak mencelakai-Nya.
  3. Yohanes 7:15 yang berisi keheranan orang-orang Yahudi: “Bagaimana orang ini mempunyai pengetahuan tanpa belajar”? [“tanpa belajar” dalam bahasa Yunaninya: oiden grammata yang secara literal berarti “tidak mengenal huruf-huruf”]. Umumnya para profesor di atas tidak memberikan perhatian pada teks ini.
  4. Dan Yohanes 8:6 yang menyatakan Yesus membungkuk dan menulis sesuatu di tanah. Teks ini juga dianggap tidak relevan untuk isu ini karena: a) bisa jadi Yesus sekadar mencoret-coret di tanah; dan b) teks ini merupakan bagian dari Yohanes 7:53 – 8:11 yang diragukan otentisitasnya.

Seperti yang tergambar di atas, mereka yang mengemukakan klaim bahwa Yesus buta huruf tidak sekadar mengemukakan klaim tanpa argumen. Mereka mengemukakan argumen-argumen yang mendukung klaim tersebut. Dan mereka memang para ahli dalam bidang studi sejarah mengenai Yesus. Jadi adalah tidak tepat bila kita sekadar menyatakan “pokoknya mereka salah” atau “persetan dengan studi mereka”. Menyatakan demikian berarti memperlihatkan kenaifan kita sendiri.

Jika demikian, apa dan bagaimana respons terhadap klaim dan argumen-argumen di atas dari para profesor yang berpendapat sebaliknya?

Yesus Literate

Sebelum Botha dan Aslan mempublikasikan tulisan mereka, sebenarnya telah ada beberapa profesor yang telah mendiskusikan soal kemampuan literasi Yesus. Sebut saja ahli studi Yesus Sejarah yang sangat disegani, John P. Meier, A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus, Vol. 1: The Roots of the Problem and the Person (New York: Doubleday, 1991). Menurut Meier,

“To sum up: individual texts from the Gospels prove very little about the literacy of Jesus. Instead, it is an indirect argument from converging lines of probability that inclines us to think that Jesus was in fact literate. … [S]ometimes during his childhood or early adulthood, Jesus was taught how to read and expound the Hebrew Scripture. This most likely happened…in the synagogue at Nazareth” (pp. 227-228).

Maurice Casey, seorang ahli studi bahasa Aramaik dan ahli studi Kitab-kitab Injil berinteraksi dengan klaim Crossan berdasarkan riset Harris bahwa kondisi sosio-ekonomis dan prosentase orang-orang yang berpendidikan formal pada masa Yesus sangat rendah, maka Yesus kemungkinan besar buta huruf. Casey merujuk kepada tulisan Millard [Reading and Writing in the time of Jesus] bahwa data yang dikemukakan Harris terlalu minimalis. Selain itu, dari dalam Kitab-kitab Injil sendiri, berkali-kali Yesus berdebat dengan para pemimpin Yahudi: “tidak pernahkah kalian membaca”; “seperti ada tertulis”; dsb. (lih. Mat. 12:3, 5; 19:4; 21:16, 42; 22:31; Mrk. 2:25; 12:10, 26; Luk. 6:3; 10:26) , yang hanya bisa memiliki kekuatan retoris bila mengasumsikan sebuah kemampuan literasi (lih. Jesus of Nazareth: An Independent Historian’s Account of His Life and Teaching [New York: T&T Clark International, 2010], 158-164).

Perlu dicatat bahwa baik Meier maupun Casey menolak klaim bahwa Yesus adalah seorang yang miskin (peasant).

Tetapi, argumen yang sangat baik untuk menolak klaim tersebut, dikemukakan oleh profesor Ben Witherington III. Witherington mempublikasikan tulisan-tulisan berseri mengenai isu ini yang dapat dibaca secara online: di sini, di sini, di sini, dan di sini.

Witherington memperlihatkan beberapa indikasi dalam argumennya: a) Yesus adalah seorang tukang – yang meneruskan pekerjaan ayahnya, Yusuf; b) tampaknya hasil dari pekerjaan-Nya ini bukan hanya cukup untuk membiayai kehidupan keluarga-Nya, melainkan juga mendanai perjalanan-perjalanan-Nya ketika Ia memulai kiprah pelayanan-Nya di hadapan publik. Argumen ini sangat memungkinkan untuk dipertimbangkan karena Yesus baru mendapat sokongan finansial dari para pengikut-Nya setelah pelayanan-Nya mulai dikenal luas.

Mengenai keluarga Yesus, Witherington menggarisbawahi bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat taat dan saleh. Dan sulit membayangkan sebuah keluarga Yahudi yang saleh dan taat seperti itu, tidak mendorong anak-anak mereka untuk mempelajari Taurat [yang mengasumsikan adanya upaya belajar membaca dan menulis].

Witherington juga merujuk kepada berbagai penemuan arkheologis di desa-desa di sekitar Nazareth mengenai adanya sinagoge. Memang, belum ada penemuan arkheologis mengenai keberadaan sinagoge di Nazareth, namun keberadaan sinagoge-sinagoge di desa-desa di sekitarnya mengindikasikan  bahwa Nazareth tidak terkecuali dalam hal ini. Ingat, [belum] ada bukti, tidak berarti bukti bahwa tidak ada bukti!

Seperti halnya Casey, Witherington juga merujuk kepada berbagai data tekstual dalam kiprah perdebatan Yesus sebagaimana yang sudah disebutkan di atas. Mengenai Lukas 4, Witherington percaya bahwa itu adalah sebuah prosedur biasa di dalam sinagoge di mana eksposisi terhadap Taurat didahului dengan pembacaan isi Taurat. Artinya, Witherington percaya [kontra Botha] bahwa teks ini secara implisit mendukung klaim bahwa Yesus dapat membaca.

Selanjutnya, bisa dikatakan bahwa ahli studi sejarah tentang Yesus dan Kitab-kitab Injil yang paling banyak mempublikasikan tulisan atau mendiskusikan mengenai kemampuan literasi Yesus, adalah Craig A. Evans. Tulisan-tulisan Evans yang di dalamnya ia mendiskusikan mengenai isu ini, yaitu:

  1. Craig A. Evans, “Jewish Scripture and the Literacy of Jesus,” in From Biblical Criticism to Biblical Faith, ed. Craig A. Evans and W. H. Brackney (Macon, GA: Mercer University press, 2007), 41-54.
  2. Craig A. Evans, “Context, Family, and Formation,” in Markus Bockmuehl, The Cambridge Companion to Jesus (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 1-24 [khususnya hlm. 15-21].
  3. Craig A. Evans, Merekayasa Yesus: Membongkar Pemutarbalikan Injil oleh Ilmuwan Modern, terj. Johny The (Yogyakarta: Andi, 2007), 22-27.

Adapun rangkungan argumen Evans guna mendukung klaim bahwa Yesus memiliki kemampuan literasi, antara lain: Pertama, literatur-literatur Yahudi Intertestamental (Kitab-kitab Apokrifa dan Pseudopigrafa) serta tulisan Josephus dan Philo memberikan kesan yang sangat kuat mengenai keharusan anak-anak laki-laki Yahudi untuk membaca dan mempelajari Taurat. Memang, aku Evans, kita tidak dapat mengasumsikan bahwa semua keluarga Yahudi menerapkan hal ini. Namun, dari segi probabilitasnya, tradisi ini sangat kuat mendorong kemungkinan memiliki kemampuan literasi ketimbang sebaliknya.

Kedua, seperti halnya Witherington dan Casey, Evans juga merujuk kepada berbagai data dari PB mengenai kalimat-kalimat retoris Yesus yang mengindikasikan kemampuan literasi-Nya. Selain itu, Evans menambahkan, Yesus dipanggil dengan sebutan “rabbi” dengan para pengikut yang disebut “murid-murid” (Yun. mathetai – “learners”). Menurut Evans, tidak masuk akal untuk mengasumsikan bahwa ada seorang rabi Yahudi yang berkeliling dengan pengajaran yang menakjubkan banyak orang namun Ia buta huruf.

Menariknya, Evans tidak terlalu memberi perhatian terhadap Lukas 4 karena menurutnya, teks ini tampaknya merupakan adaptasi dari paralelnya dalam Markus 6 yang tidak berkata apa-apa mengenai hal membaca [Witherington tidak sependapat dengan hal ini]. Termasuk Evans juga tidak membahas secara rinci Yohanes 7:15 dan 8:6.

Dan akhirnya, saya perlu menyebutkan kontribusi dari seorang profesor PB lainnya, Chris Keith yang juga sangat concern membahas isu ini. Keith disertasi doktoralnya mengenai narasi perempuan yang tertangkap berzinah yang di dalamnya terdapat informasi mengenai Yesus membungkuk dan menulis di tanah. Disertasi tersebut berjudul: “Jesus Began to Write: Literacy, The Pericope Adulterae, and the Gospel of John” (Ph.D. Diss., University of Edinburgh, 2008). Selanjutnya, Keith menulis sebuah artikel ilmiah mengenai Yohanes 7:15, yaitu: “The Claim of John 7.15 and the Memory of Jesus’ Literacy,” New Testament Studies, 56 (2009): 44-63.

Saya hanya akan fokus membahas kontribusi Keith dari artikel yang disebutkan terakhir di atas. Menurut Keith, Yohanes 7:15 justru mengasumsikan bahwa Yesus memiliki kemampuan literasi setingkat mereka yang menempuh studi formal pada watu itu. Jika tidak demikian, maka keheranan orang-orang Yahudi sebagaimana tertuang dalam ayat ini menjadi tidak bermakna.

Selanjutnya, Keith berargumentasi bahwa para penulis Kitab Injil memberi kesan bahwa Yesus memiliki kemampuan literasi karena memang demikianlah Yesus sejarah dalam ingatan mereka. Argumentasi ini didasarkan atas tulisan yang sangat penting mengenai Kitab-kitab Injil dari profesor James D.G. Dunn, Jesus Remembered (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003. Catatan. Dunn juga mengemukakan argumen-argumen bahwa Yesus memiliki kemampuan literasi, lih. hlm. 312-315).

Komentar Penutup

Mengakhiri ulasan ini, saya perlu memberikan komentar mengenai proposal Botha terhadap Lukas 4 yang tampaknya belum disentuh dalam tulisan-tulisan para profesor di atas. Pertama, magical reading yang diusulkan Botha tidak memiliki dukungan dari Lukas 4 itu sendiri karena teks yang dibuka oleh Yesus bukan “kertas kosong” [dalam penelitian Foley], melainkan Kitab Suci. Kedua, seperti yang dikemukakan Witherington, membuka gulungan Kitab Suci dan membaca-Nya lalu diikuti oleh eksposisinya adalah prosedur normal dalam Sinagoge pada waktu itu. Ketiga, dari teks itu sendiri terdapat indikasi mengenai adanya aktivitas membaca. Dalam ayat 17: “Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas…”. Tidak harus dinyatakan secara eksplisit bahwa Yesus membaca dari teks itu baru kita bisa menyimpulkan bahwa Yesus bisa membaca berdasarkan teks ini. Perhatikan bagian yang saya tebal-miringkan pada ayat itu. Bila Yesus tidak dapat membaca, bagaimana mungkin dikatakan “Ia menemukan nas” pada teks tersebut? Keempat, proposal bahwa Yesus melakukan semacam magical reading di sini tampaknya mengasumsikan bahwa kemampuan supranatural Yesus dapat begitu saja diasosiasikan dengan kemampuan magis dari kisah yang dirujuknya dari Foley. Memang ambigu, tetapi jika Botha mengasumsikan hal ini, maka sebenarnya Ia telah mencampuradukan kemampuan supranatural Yesus dengan kemampuan magis dari banyak tokoh magis pada waktu itu (Catatan: Saya pernah menulis sebuah artikel ilmiah mengenai isu khusus ini yang dapat dibaca secara online di sini).

Harus diakui bahwa bukti-bukti sejarah yang bisa dirujuk untuk mendukung atau pun menolak kemampuan literasi Yesus bukan merupakan bukti-bukti langsung. Meski demikian, mengamati perdebatan di atas, saya cenderung untuk menerima probabilitas bahwa Yesus memiliki kemampuan literasi.


[1] Botha meminjam pengamatan J.M. Foley, “Indigenous Poems, Colonialist Texts,” in Jonathan A. Draper (ed), Orality, Literacy, and Colonialism in Antiquity (Semeia 47; Atlanta: Society of Biblical Literature, 2001), 9-35. Dalam esai ini, Foley mengisahkan tentang sebuah tipe membaca di desa-desa di Tibet di mana seorang yang buta huruf memegang sebuah kertas kosong dan mulai mengeluarkan suara berupa nyanyian ‘berdasarkan’ kertas kosong itu. Para audiensnya menganggap itu sebagai “membaca”. Inilah yang disebut dengan magical reading.