Saya ingat, tidak satu dua kali bertukar komentar secara intens dalam sebuah diskusi. Di tengah-tengah diskusi, ketika argumentasi sudah tak bisa dipertahankan karena terlilit fallacies, lawan diskusi mulai memunculkan proposisi ini: “Hanya Tuhan yang memiliki kebenaran mutlak”. Saya biasanya meresponsi hal ini dengan berujar: “Ya, betul sekali. Tetapi, itu non isu di sini.”

Sebenarnya memunculkan proposisi di atas dalam arena diskusi ketika topiknya bukan tentang Tuhan memiliki kebenaran mutlak atau tidak, maka seseorang sedang mengajukan sebuah proposisi red herring. Ya, red herring karena kita tidak sedang berdiskusi mengenai apakah kebenaran mutlak itu milik Tuhan saja atau bukan.

Bukan hanya itu, mengajukan proposisi di atas dalam sebuah diskusi merupakan sebuah tindakan manipulatif. Mengapa manipulatif?

Manipulatif karena bisa jadi maksud pengajuan proposisi itu sebenarnya bukan tentang Tuhan sendiri, melainkan tentang menyelamatkan diri dari keharusan mempertanggungjawabkan sebuah argumentasi. Mereka yang suka menggemakan proposisi ini di tengah-tengah diskusi adalah mereka yang sudah tidak bisa mempertahankan argumentasinya. Maka daripada mengaku secara jujur bahwa argumentasinya lemah, mereka memilih untuk menggunakan proposisi di atas sebagai tameng. Maka, bagi mereka yang suka memanipulasi proposisi di atas supaya tidak perlu mengakui kelemahan argumentasinya, saya bertanya: “Kebenaran mutlak milik Tuhan, so what? Dari awal Anda ngotot mempertahankan klaim tertentu lalu giliran klaim itu tak bisa dipertahankan lagi lalu sekarang Anda berlindung di balik proposisi itu? Bagus sekali!”

Tunggu dulu. Mungkin maksudnya adalah karena Tuhan yang memiliki kebenaran mutlak, maka tidak heran argumentasi yang dikemukakannya pun tidak luput dari kelemahan. Baiklah kalau ini maksudnya. Pertanyaan saya: “Mengapa harus menggunakan proposisi itu ketimbang mengaku secara jelas bahwa argumentasi Anda salah? Jadi, Anda menggunakan proposisi itu sebagai pembenaran (justifikasi) bagi kesalahanmu?” Podowae [sama saja], manipulatif!

Ada kemungkinan lain. Mungkin maksudnya begini: karena Tuhan yang memiliki kebenaran mutlak, maka Anda dan saya sama-sama tidak mutlak. Baiklah, jika ini kemungkinan maksud penggunaan proposisi ini, kita perlu mencermatinya lebih lanjut. Jika ini adalah maksud penggunaan proposisi tersebut, maka penggunaan proposisi tersebut merupakan sebuah klaim yang harus dibuktikan dalam konteks diskusi tersebut. Misalnya, kita berdiskusi tentang topik A, maka burden of proof (beban pembuktian) ada pada pihak Anda untuk membuktikan bahwa argumentasi saya relatif alias tidak mutlak mengenai topik tersebut. Jika argumentasi Anda-lah yang terlilit fallacies, dan dari pihak Anda sendiri, Anda tidak membuktikan klaim Anda bahwa argumentasi spesifik saya terkait topik itu lemah, maka penggunaan proposisi itu menjadi tidak bermakna. Bahkan, jika Anda menggunakan proposisi tersebut dalam maksud ini, maka Anda melakukan sesat pikir bernama: appeal to relativism. Anda menggunakan sebuah proposisi kemutlakan yang red herring untuk mereduksi argumentasi saya kepada posisi relatif tanpa membuktikan dengan argumentasi bahwa argumentasi saya memang relatif. Manipulatif lagi!

Masih dalam kaitan dengan isi paragraf di atas. Mengajukan proposisi “hanya Tuhan yang memiliki kebenaran mutlak” di tengah-tengah diskusi tanpa kaitan yang jelas dengan topik diskusi, tampaknya mengindikasikan Anda mengasumsikan bahwa karena kebenaran mutlak itu hanya milik Tuhan, maka argumentasi saya dan Anda dalam diskusi ini tidak mutlak (relatif). Jika ini tepat menggambarkan asumsi Anda, maka saya hanya perlu bertanya: “Proposisi itu sendiri mutlak atau relatif?” Jika relatif, maka ia tidak memiliki nilai apa pun untuk dikemukakan dalam konteks diskusi ini. Jika ia mutlak, maka kemutlakan proposisi itu melawan asumsi Anda sendiri (self-refuting) bahwa argumentasi saya dan Anda relatif.

Lebih baik dan lebih bijak dan lebih bermartabat, jika tatkala argumentasi Anda telah diperlihatkan kesalahannya, mengaku saja secara jujur. Justru dengan begini, Anda memperlihatkan bahwa argumentasi Anda lemah, namun karakter Anda patut diteladani. Sebaliknya, sudah berargumentasi secara serampangan, lalu menggunakan proposisi di atas sebagai tameng pembenaran, maka Anda bukan hanya mempresentasikan diri sebagai partisipan diskusi yang tidak qualified, melainkan juga mempresentasikan diri sebagai orang yang tidak memiliki karakter yang terpuji!

Supaya Anda tidak salah paham. Saya percaya kebenaran itu mutlak. Di mana saja dan kapan saja dan oleh siapa saja kebenaran itu dikemukakan maka kebenaran itu adalah kebenaran Allah. All truth is God’s truth. Maka untuk memperlihatkan bahwa saya tidak menyatakan kebenaran, dan dengan demikian argumen saya salah, Anda harus memperlihatkan di mana letak kesalahan saya, bukan sekadar berkoar-koar: “Kebenaran mutlak itu hanya milik Tuhan”.

Tanpa memperlihatkan hubungan spesifik antara proposisi ini dengan topik spesifik yang didiskusikan, maka proposisi tersebut sekadar menjadi pretext, bukan proof text.