Pada sebuah kesempatan, saya sempat berdiksusi dengan seorang sahabat penganut bernama Indra Wibisana. Setelah membaca ulang diskusi tersebut, saya berpikir alangkah baiknya isi obrolan kami “diarsipkan” dalam sebuah tulisan. Dalam diskusi tersebut, ada pokok-pokok penting berkenaan dengan sejarah, khususnya tujuan diadakannya Konsili Nicea (325 M) yang menurut pengalaman saya telah dipopularkan secara melenceng oleh pihak-pihak tertentu. Diskusi tersebut juga menyinggung tentang keberadaan naskah-naskah Nag Hamadi yang ditemukan tahun 1945 yang menurut beberapa pihak merupakan naskah-naskah yang sengaja disembunyikan demi menguntungkan posisi Kekristenan ortodoks.

Sebagai catatan, saya sudah meminta ijin dan mendapatkan konfirmasi dari Pak Indra Wibisana berkaitan dengan postingan ini. Nama Pak Indra Wibisana akan disingkat IW, sedangkan nama saya akan disingkat DN. Saya tidak mengedit isi diskusi tersebut sama sekali kecuali merapikan beberapa bagian yang perlu dirapikan.

Diskusi ini berawal dari postingan saya mengenai gap-gap dalam hal membaca naskah-naskah kuno. Kemudian, Pak Indra Wibisana mampir dan terjadilah diskusi santai berikut ini.

***************************

IW: Salam, Menarik juga yang ini. Jadi bagaimana interpretasi Bung DN tentang Konsili Nicaea I?

DN: Interpretasi dalam hal apa?

IW: Bukankah Konsili Nicaea ini yang memutuskan doktrin dalam Gereja Awal bahwa Yesus adalah Tuhan?

DN: Tadinya saya sudah menduga ke situ. Karena di Indonesia, ada orang-orang seperti Irena Handono dan Insan Mokoginta yang mempopularkan bahwa Yesus diangkat menjadi Tuhan dalam Konsili Nicea. Dan ternyata benar dugaan saya.

Coba pertimbangkan beberapa bukti berikut:

Jauh sebelum konsili Nicea dilakukan (thn 325 M) Yesus sudah diakui sebagai Tuhan:
a. Perjanjian Baru jelas mengusung gagasan mengenai ketuhanan Yesus (abad pertama).
b. Bapak-bapak apostolik, mis. Ignaitus dari Antiokhia juga menulis bahwa Yesus adalah Tuhan. Dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus saat dalam perjalanan menuju Roma untuk dihukum mati, ia menulis bahwa Yesus adalah “God in man” (Eph. 7; hidup pada akhir abad pertama – abad kedua M).
c. Bapak-bapak Gereja pada abad kedua, mis. Tertulianus dan Yustinus Martir sudah menulis mengenai Kristologi Logos.

Jadi historically speaking, klaim bahwa Yesus diangkat menjadi Tuhan baru pada Konsili Nicea adalah ide yang ridiculous.

Konsili Nicea diadakan karena munculnya ajaran yang berasal dari Arius yang menolak Yesus sebagai Tuhan. Bagi dia, Yesus hanyalah ciptaan yang sulung, bukan Tuhan. Itulah sebabnya, setelah melalui perdebatan panjang, Konsili Nicea menetapkan bahwa ajaran Arius adalah bidat. Bagaimana mungkin Yesus baru diangkat menjadi Tuhan dalam Konsili Nicea, jika sebelumnya telah terjadi perdebatan dengan Arius berkenaan dengan gagasannya? Bukankah itu mengindikasikan bahwa pada saat Arius memunculkan gagasannya, Gereja langsung mengenalinya sebagai ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran PB, itulah sebabnya perdebatan terjadi?

Jadi sekali lagi, secara historis doktrin bahwa Yesus adalah Tuhan sudah ada sejak abad pertama, bukan baru resmi diputuskan dalam Konsili Nicea. Konsili Nicea ada KARENA ada bidat, bukan ada UNTUK memutuskan doktrin ketuhanan Yesus. Demikian. Salam 

DN: [Seorang rekan berkomentar bahwa sebutan iman Yesus sebagai Tuhan sudah ada pada tahun 60-70an M, lalu saya mengomentarinya].

Bukan hanya baru tahun 60-70. Karena dalam PB sendiri terdapat materi-materi yang eksistensinya mendahulu (predate) teks itu sendiri. Misalnya dalam Surat Filipi 2:5-9, Paulus mengutip sebuah himne (lagu) yang berisi pengakuan iman Gereja Mula-mula:

 “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

Mayoritas pakar PB setuju bahwa isi teks di atas mendahulu (predate) penulisan Surat FIlipi yang ditulis sekitar tahun 60an M.

IW: Terima kasih atas tanggapannya. Tentang Konsili Nicea dan Yesus secara global menjadi seru setelah buku fiksi-nya Dan Brown.  

a. Perjanjian Baru adalah bagian dari Alkitab. Alkitab ini adalah hasil seleksi dari puluhan tulisan saat itu. Artinya terdapat alasan tertentu sehingga empat penulis tersebutlah yang dipilih. Mungkin salah satu alasannya adalah keempat tulisan tersebutlah yang sesuai dengan doktrin yang diusung saat itu.
b. Demikian pula surat-surat, termasuk surat-surat Paulus setelah Injil adalah hasil seleksi. Lagipula seperti anda sampaikan, terdapat Gap Bahasa.
c. Apakah tidak ada tulisan bandingan yang menulis sebaliknya? Saya kira seharusnya ada, namun dimusnahkan.

Saya pikir pada saat tersebut terdapat dua mazhab besar, yaitu Yesus sebagai Tuhan dan Yesus bukan sebagai Tuhan. Kedua-duanya adalah doktrin yang valid pada saat itu.

Seperti anda sebutkan juga bahwa perdebatan dalam Konsili Nicea cukup panjang. Saya interpretasikan, panjangnya perdebatan ini disebabkan karena keputusan yang diambil bukanlah keputusan yang mudah (mungkin ada aspek politis). Kemudian diputuskanlah salah satu adalah sesat dan salah satu adalah benar.

Pemikiran Arius bukan merupakan pemikiran dirinya sendiri, tetapi dipengaruhi pula oleh pemikiran Lucian dari Antiokhia. Setelah Konsili Niceae, Arius kemudian diasingkan, kemudian entah bagaimana diperbolehkan kembali, dan mati pada saat di perjalanan menuju ke sebuah pertemuan dengan pihak gereja. Mati dihukum Tuhan secara ajaib kata orang-orang saat itu.  

IMHO, ini adalah modus pembungkaman yang dimainkan secara baik oleh pihak gereja saat itu.

Saya tidak menyanggah bahwa doktrin bahwa Yesus adalah Tuhan sudah ada sejak abad pertama, tetapi saya ingin menunjukkan bahwa terdapat doktrin lain yang cukup besar pada abad ke-3. Saya kira doktrin ini tidak muncul begitu saja di abad ke-3, melainkan terdapat cikal bakalnya sejak zaman Yesus sendiri.

IW: #Koreksi, ada yang terhapus, pada bagian a, empat penulis yang saya maksud adalah 4 penulis Injil. Bukan penulis Perjanjian Baru. 

DN: Trims untuk tanggapannya. Sebelum menanggapi komentar Anda di atas, saya ingin mendapat klarifikasi dari Anda mengenai dua hal dari tanggapan Anda di atas:

1.Apa yang anda maksud dengan “SELEKSI”? Seleksi dalam hubungan dengan naskah2 mana? Tujuannya apa?

2. Apa yang Anda maksud dengan “termasuk surat-surat Paulus SETELAH Injil adalah hasil seleksi? “SETELAH” di sini berarti Surat-surat Paulus ditulis SETELAH Kitab-kitab Injil atau penyeleksiannya dilakukan SETELAH seleksi terhadap Kitab-kitab Injil? Trims.

IW: 1. Setahu saya, penulis Injil sebetulnya bukan hanya keempat orang tersebut. http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_gospels

Saya kira keempat injil yang masuk ke dalam Alkitab seperti yang kita ketahui sekarang juga sudah melalui proses sensor.

2. Surat-surat itu juga sebetulnya ada lebih banyak lagi. Wahyu yang ada pada Alkitab sekarang adalah tulisan Yohanes, sedangkan masih ada wahyu menurut Paulus, Petrus, Stefanus, Thomas. http://en.wikipedia.org/wiki/New_Testament_apocrypha

Apakah seleksi tersebut benar merupakan proses sensor, ataukah ada tujuan lainnya? Saya berharap bung DN bisa menjelaskan lebih jauh. Artinya dalam gap sejarah biasanya ada aspek politis yang perlu diperhitungkan juga.

DN: Terima kasih atas klarifikasinya.

1. Hal paling pokok yang perlu ditegaskan kembali adalah bahwa asersi “ketuhanan Yesus ditetapkan dalam Konsili Nicea” tidak benar secara historis. Ketuhanan Yesus telah diterima dan diakui sejak masa gereja mula-mula sebagaimana bukti-bukti historis yang sudah saya kemukakan di atas. Perihal adanya perdebatan dengan Arius, itu justru meneguhkan poin bahwa Konsili Nicea ada bukan UNTUK menetapkan Ketuhanan Yesus melainkan karena memang adanya bidat. Dan sebenarnya, dalam PB sendiri, Gereja telah memiliki semacam panduan doktrinal mengenai apa yang dimaksud dengan Injil seperti yang dikutip oleh Paulus dalam 1 Korintus 15:3-5 bahwa Yesus disalibkan, mati, dikuburkan, bangkit dan naik ke sorga (semua pakar PB menerima bahwa ini adalah salah satu materi yang eksistensinya mendahului teks yang bersangkutan sebagaimana Filipi 2:5-9 yang sudah saya sebutkan sebelumnya). Itulah sebabnya, tidak heran dalam PB beberapa kali, Paulus sendiri mengingatkan bahwa di sekitar jemaat beredar pandangan mengenai “Yesus yang lain” (2Kor. 11:4) dan juga “Injil yang lain” (Gal. 1:6). Bagaimana mungkin ada julukan “Yesus yang lain” dan “Injil yang lain” bila Gereja mula-mula tidak memiliki konfesi (pengakuan iman) yang membuat mereka langsung mengenali pemberitaan-pemberitaan tersebut sebagai pemberitaan-pemberitaan yang tidak benar?

2. Mengenai teori “seleksi” dalam arti ada semacam konspirasi untuk melenyapkan tulisan-tulisan yang tidak sepaham dengan PB, ini adalah argument from silence (dugaan tanpa bukti). Anda pasti tahu bahwa orang boleh menduga apa saja, tetapi secara historis, bila tak ada bukti maka dugaan tetap berjudul dugaan.

3. Perihal adanya naskah-naskah lain, mis. dalam penemuan naskah-naskah kuno di Nag Hamadi (1945) ditemukan puluhan naskah yang di dalamnya terdapat banyak tulisan-tulisan yang diberi judul “Injil”, ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Seperti komentar saya pada poin 1 di atas, sudah ada tendensi itu pada masa para rasul. Tetapi, naskah-naskah Nag Hamadi itu adalah naskah-naskah yang ditulis pada abad kedua – abad keempat Masehi. Sedangkan PB semuanya sudah selesai ditulis pada abad pertama.

4. Poin ke-3 di atas soal waktu, sekarang soal apa kriteria Gereja untuk mengenali sebuah dokumen itu sebagai dokumen otoritatif. Singkatnya ada tiga kriteria: a) Kriteria ortodoksi, yaitu isinya sesuai dengan pengakuan iman Gereja mula-mula, lih. poin 1 di atas; b) kriteria apostolik – berarti dokumen itu berasal dari para rasul [murid-murid langsung Yesus] dan atau berasal dari mereka yang sejaman dengan para rasul termasuk sesuai dengan pengajaran para rasul; dan c) dokumen tersebut haruslah dokumen yang diterima sebagai dokumen otoritatif oleh semua Gereja lokal pada waktu itu. Jadi, penentuan kitab-kitab yang otoritatif yang hari ini disebut Perjanjian Baru, dilakukan bukan dalam rangka konspirasi seperti yang dihembuskan oleh Dan Brown, James Tabor, dll. Penentuan itu dilakukan karena sejak awal Gereja sudah memiliki pengajaran para rasul dan pengakuan iman yang bersumber dari ajaran Yesus sendiri yang diteruskan oleh para saksi mata yaitu para rasul.

5. Soal isinya, dokumen-dokumen Nag Hamadi berasal dari lingkungan Gnostik, sebuah bidat yang akar-akarnya sudah ada pada abad pertama, namun baru menjadi “bentuk” yang lebih jelas pada abad kedua-abad keempat Masehi. Jika seseorang ingin membangun argumentasi berdasarkan isi naskah-naskah kuno ini, dia dapat membuat studi komparatif untuk membandingkan isi naskah-naskah Gnostik itu dengan isi Kitab-kitab Injil. Para ahli yang paling liberal sekalipun menyadari bahwa ada unsur embellishment (pembumbuan) dan unsur fabrication (perekayasaan) yang sangat kuat tendensinya dalam naskah-naskah Gnostik tersebut. Hal ini tidak mengherankan karena Gnostisisme adalah perpaduan antara agama-agama misteri abad pertama, filsafat Yunani, dan ajaran Kristen yang sangat menekankan dualisme dan juga selibat. Jadi, isi naskah-naskah itu sebenarnya menolak dirinya sendiri untuk dijadikan sebagai dokumen sejarah mengenai Yesus.

6. Lagi pula, bila memang ada unsur konspirasi untuk sengaja menyembunyikan naskah-naskah itu, pertimbangkan bahwa ketika ada penemuan naskah-naskah kuno tersebut di Nag Hamadi, ditemukan pula cuplikan naskah atau manuskrip dari Plato yang berjudul: Republica yang ditemukan bersamaan dengan Injil-injil Gonstik itu. Pertanyaannya, apa urusannya naskah Republica sehingga perlu disembunyikan bersama-sama dengan naskah-naskah gnostik itu? Apa pun jawabannya, teori konspirasi hanya bisa diterima berdasarkan dugaan, dan pertimbangan-pertimbangan di atas justru menempatkan teori itu sebagai sebuah ketidakmungkinan historis.

Wah..jadi panjang ya..hahaha…Sayang sekali spacenya tidak memungkinkan untuk memperlihatkan kepada bapak betapa berbedanya isi naskah-naskah gnostik tersebut dengan keempat kitab Injil dalam PB.

Pak IW, tolong diperhatikan, penjelasan saya pada poin 2dst, adalah penjelasan demi menghargai keingintahuan bapak. Sebenarnya, inti diskusi kita yaitu bahwa Konsili Nicea sebagai titik penentu dalam sejarah mengenai ketuhanan Yesus sudah saya identifikasi sebagai ketidakmungkinan historis. Ada bukti-bukti tekstual yang sangat kuat bahwa: a) Ketuhanan Yesus telah diakui dalam gereja mula-mula; b) Konsili Nicea terjadi karena ada bidat bukan diadakan dalam rangka menetapkan ketuhanan Yesus; c) adanya perdebatan – sesuatu yang sebenarnya sejak masa hidup Yesus sendiri sudah terjadi – tidak harus dianggap mendukung dugaan konspirasi seperti yang dipopularkan Dan Brown misalnya. Saya harap, penjelasan di atas cukup untuk isu diskusi kita yang Bapak angkat dalam komentar awal di atas.

Trima kasih sudah menstimulasi adanya penjelasan ini sehingga mereka yang kebetulan mampir ke sini pun bisa membacanya sebagai pencerahan. Salam hormat:)

DN: Pak IW, kalau ada waktu, mungkin menonton penjelasan dari profesor D.A. Carson terkait terbentuknya kanon PB di video ini akan sangat membantu. Beliau adalah profesor Perjanjian Baru asal Amerika. https://www.youtube.com/watch?v=hF0BHErlsEQ Trims 

IW: Ya, cukup seru juga. Pada awalnya sebagian orang yang menjadi Kristen (pengikut Kristus) berasal dari orang Yahudi. Sebagian menerimanya sebagai Mesias, sebagai Nabi, sebagai Raja, dan banyak julukan lainnya. Dan kalau Yesus memenuhi nubuat dalam agama Yahudi, yang dinubuatkan adalah mesias, bukan Tuhan sendiri. Tetapi memang akhirnya Kristen menjadi berbeda dari Yahudi dan Islam karena aspek Ketuhanan Yesus. Baiklah, terima kasih atas diskusi yang menarik, Bung DN.

 DN: Terima kasih sekali lagi. Salam 

*********************************

Sedikit tambahan informasi bahwa sebagian besar Injil-injil Gnostik yang ditulis pada abad kedua – abad keempat adalah tulisan-tulisan pseudopigrafa. Tulisan-tulisan ini disebut demikian karena nama-nama pada judul tulisan-tulisan tersebut menggunakan nama-nama tokoh-tokoh terkenal dalam tradisi Kristen padahal penulisan teks-teks tersebut terjadi jauh sesudah tokoh-tokoh yang namanya digunakan pada judul-judulnya telah meninggal. Mis. Injil Maria, Injil Thomas, Injil Filipus, Injil Petrus, Injil Rahasia Markus, dll.