History has been written by the victors” [“Sejarah ditulis oleh para pemenang”]. Inilah adagium yang konon pertama kali dikemukakan oleh Winston Churchill [ada pula yang menyatakan berasal dari Napoleon] yang mendominasi asersi modern dan post-modern mengenai natur dari sejarah.

Apa persisnya maksud penggunaan adagium di atas? Untuk menggambarkan maksudnya, saya akan menggunakan The Da vinci Code [TDVC]-nya Dan Brown sebagai representasinya.

The Da Vinci Code
Anda dapat menemukan pernyataan yang secara persis menggambarkan maksud penggunaan adagium di atas dalam TDVC. Untuk jelasnya, saya akan mengutipnya sebagai berikut:

History is always written by the winners. When two cultures clash, the losers is obliterated, and the winner writes the history books – books which glorify their own cause and disparage the conquered foe. … By its own nature, history is always one-sided account (p. 276).

Ada dua hal yang bisa dicatat berkait isi kutipan di atas maupun tendensi penulisan TDVC secara umum yang berguna untuk menggambarkan maksud penggunaan adagium di atas. Pertama, ada bias yang amat disengaja dalam tulisan-tulisan yang mewakili para “pemenenang” dan dengan demikian tulisan-tulisan sejarah tersebut tidak mengungkapkan fakta sejarah yang sebenarnya; dan kedua,Anda perlu berada di pihak para “losers” untuk mendapatkan sudut pandang historis yang lebih murni.

Seperti yang tergambar di atas, adagium tersebut mengobarkan skeptisisme radikal terhadap tulisan-tulisan sejarah yang mayoritas diakui reliabel (handal) hari ini. Dalam konteks keseluruhan TDVC, Brown ingin menjungkirbalikkan otoritas Vatikan termasuk ingin menjungkirbalikkan gambaran historis mengenai Yesus dalam Kekristenan. Mis. menurut Brown Yesus sebenarnya menikahi Maria Magdalena berdasarkan Injil Maria dan Injil Filipus – dua teks Injil Gnostik yang ditulis pada abad kedua dst. Brown juga menyatakan bahwa pengakuan akan ketuhanan Yesus baru disahkan dalam Konsili Nicea (th. 325 M). Sebelumnya belum ada pengakuan semacam itu. Sebuah asersi yang ditelan mentah-mentah oleh Irena Handono (lih. rekaman video ini).

Intinya, semangat di balik adagium di atas adalah semangat skeptisisme dan revisionisme. Ia membangun mosi “tidak percaya” terhadap sumber-sumber sejarah yang selama ini dijadikan acuan dan menggantikannya dengan sumber-sumber alternatif.

Benarkah Begitu?
Saya baru saja membaca entri mengenai “Historiografi” dalam New Dictionary of the History of Idea yang ditulis oleh Daniel Woolf. Entri sepanjang 54 halaman ini berisi sketsa ringkas mengenai seluruh tulisan sejarah penting yang mencakup penulisan sejarah pada periode 2000 tahun sebelum Masehi dan 2000 tahun sesudah Masehi. Di dalamnya terdapat begitu banyak sub-genre historiografi termasuk juga tendensi penulisan sejarah dalam sejumlah segmen budaya (Barat, Islam, China, Korea, Jepang, dan India). Woolf mengakhiri entri ini dengan menyimpulkan bahwa memang ada hubungan yang sangat dekat antara pengaruh para pengusa dengan penulisan sejarah. Tetapi, penulisan sejarah tidak selalu dilakukan oleh para “pemenang”. Sebaliknya, penulisan sejarah juga dilakukan oleh para “losers“, mis. Tucydides, Felipe Guaman Poma de Ayala dari India, penyair dan sejarahwan bernama John Milton, dan para pejuang revolusioner yang gagal meraih tujuan perjuangan mereka).

Jadi, sejarah tidak selalu ditulis oleh para “pemenang”!

Lebih khusus lagi, sebenarnya, Brown menggemakan adagium di atas demi agendanya sendiri. Dengan membangun skeptisisme radikal terhadap tulisan-tulisan sejarah yang ia kategorikan sebagai sejarah para pemenang, Brown berharap memenangkan perhatian pembacanya terhadap rujukan “sejarah” alternatif yang ia tawarkan dalam sejarah revisionisnya. Sayangnya, teks-teks acuan Brown sendiri tidak menguntungkan posisinya. Injil Filipus dan Injil Maria bukanlah historiografi, melainkan tulisan-tulisan Gnostik yang purely ditulis demi agenda devosi spiritual kelompok Gnostik abad kedua hingga abad keempat. Bahkan asersinya mengenai Konsili Nicea sebagai momentum penentu ketuhanan Yesus yang kemudian ditelan mentah-mentah oleh Irena Handono pun dapat disangkali dengan mudah dengan merujuk kepada catatan-catatan sejarah yang dapat ditarik hingga pertengahan abad pertama Masehi.

Bergunakah Adagium di Atas?
Seandainya skeptisisme radikal demi agenda revisionis tersebut ditiadakan, masih bergunakah adagium di atas dalam studi sejarah? Dalam taraf yang terbatas, adagium ini berguna sebagai alarm akan aspek bias karena dekatnya pengaruh kekuasaan dalam tulisan-tulisan sejarah.

Meski demikian, adagium ini tidak berguna sama sekali dalam membentuk perspektif atau bahkan penilaian kritis terhadap sejarah. Sudah sejak lama, para ahli sejarah sangat sadar bahwa dalam studi sejarah, orang perlu membedakan antara: fakta, bukti, dan penafsiran demi mendapatkan penjelasan terbaik atau representatif mengenai sejarah itu sendiri. Selain itu, para sejarahwan juga mengadakan riset berdasarkan sejumlah kriteria penyelidikan sejarah guna memberikan deskripsi yang akurat atau paling tidak deskripsi yang paling mungkin mengenai sebuah peristiwa atau fakta sejarah. Anda bisa membaca penjelasan rinci dari paragraf ini dalam tulisan: Peter Kosso, “Philosphy of Historiography,” in Aviezer Tucker [ed], A Companion to Philosophy of History & Historiography (Blackwell Companion to Philosophy; West Sussex: Blackwell Publishing, 2009), 9-25.