Yohanes 21:15-19 memuat beberapa isu eksegetis yang diperdebatkan hingga saat ini. Di sini, saya hanya fokus membahas salah satunya yaitu perdebatan mengenai makna frasa πλέον τούτων dalam Yohanes 19:15. Ayat ini memuat pertanyaan pertama dari Yesus kepada Petrus yang berbunyi demikian: Σίμων Ἰωάννου ἀγαπᾷς με πλέον τούτων (“Simon [anak] Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada [mereka] ini?”). Yang menjadi isu di sini adalah apakah atau siapakah yang menjadi referen dari frasa πλέον τούτων?

Sebelum membahas kemungkinan-kemungkinan penafsiran terhadap frasa ini, perlu dicatat bahwa secara gramatikal (tata bahasa), kata benda τούτων di sini digunakan dalam bentuk genitif perbandingan (genitive of comparison). Selain itu, perlu dikemukakan juga bahwa dalam bahasa Yunani ada dua cara utama untuk mengekspresikan sebuah perbandingan: pertama, konstruksi yang menggunakan kata penghubung ἡ “daripada” dan menempatkan elemen kedua dari perbandingan tersebut dengan kasus yang sama dengan elemen yang pertama; dan kedua, konstruksi yang menempatkan elemen kedua dari perbandingan dalam kasus genitif tanpa menggunakan kata penghubung ἡ.[1] Jadi, nuansa perbandingan yang digunakan dalam frasa πλέον τούτων menggunakan jenis konstruksi yang kedua. Pertanyaannya adalah “lebih dari [mereka] ini” di sini merujuk kepada “apa” atau “siapa”?

Hingga saat ini, terdapat tiga usulan penafsiran terhadap frasa πλέον τούτων dalam Yohanes 21:15, yaitu:

  1. Yesus menggunakan frasa πλέον τούτων dalam pengertian Yesus menanyakan apakah Petrus mengasihi Dia lebih dari pada “jala, ikan-ikan, dan bisnis perikanannya”? Jadi rujukan dari frasa πλέον τούτων adalah perlengkapan pekerjaan nelayan bersama hasil tangkapan mereka yang dikisahkan dalam narasi sebelumnya (Yoh. 21:1-14).
  2. Yesus menggunakan frasa πλέον τούτων dalam pengertian Yesus menanyakan apakah Petrus mengasihi Dia lebih daripada ia mengasihi rekan-rekan murid yang lain? Jadi rujukan dari frasa πλέον τούτων adalah para murid yang lain.
  3. Yesus menggunakan frasa πλέον τούτων dalam pengertian Yesus menanyakan apakah Petrus mengasihi Dia lebih daripada murid-murid lain mengasihi Yesus? Jadi, rujukan dari frasa πλέον τούτων adalah kasih para murid lain terhadap Yesus.

Sekarang penulis akan mendeskripsikan bagaimana para penafsir membela atau pun menolak setiap pandangan di atas.

Pertama, Greenlee membela tafsiran a di atas karena menurutnya tafsiran c tidak mungkin karena tingkat kasih para murid yang lain hanya mungkin diketahui oleh Yesus sendiri. Bagaimana mungkin Petrus ditanyai untuk mengukur level kasihnya dengan level kasih para murid yang lain, sementara ia tidak memiliki kuasa untuk mengetahui bagaimana membuat perbandingan itu? Selanjutnya, jika tafsiran c lah yang dimaksudkan Yesus, akan menjadi jelas jika konstruksi kalimat Yunaninya: ἀγαπᾷς με σὺ πλέον τούτων [ada penambahan kata σὺyang menekankan gagasan ini].[2] Greenlee juga menolak tafsiran b karena memang Yesus pernah mengajarkan bahwa para pengikut-Nya harus mengasihi Dia lebih daripada mereka mengasihi orang lain. Namun, pengajaran ini digunakan dalam konteks kekerabatan. Juga tidak mungkin, menurut Greenlee, bahwa kasih Petrus kepada murid-murid lain lebih kuat ketimbang ia mengasihi Yesus. Lagi pula, jika tafsiran inilah yang dimaksudkan, seharusnya konstruksi kalimat Yunaninya berbunyi: ἀγαπᾷς εμε σὺ πλέον τούτων (ada penambahan kata εμε yang menekankan gagasan ini).[3] Akhirnya, Greenlee menyatakan bahwa ia menerima tafsiran a, yaitu bahwa frasa tersebut merujuk kepada segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan Petrus sebagai nelayan (pukat, ikan, dan bisnis perikanannya). Argumen Greenlee adalah bahwa ketika Yesus meninggal dan bangkit bahkan sudah beberapa kali menampakkan diri kepada mereka, para murid masih merasa kurang jelas mengenai hubungan mereka selanjutnya dengan Yesus. Itulah sebabnya, mereka kembali kepada pekerjaan mereka yang dulu yaitu menjadi penjala ikan. Itulah sebabnya, dalam pertanyaan pertamanya kepada Petrus, Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi Yesus lebih daripada pekerjaan serta hasil dari pekerjaannya? Maksud Yesus adalah bahwa Petrus harus memberikan prioritas penting bagi pelayanan ketimbang hal-hal tersebut.[4]

Kedua, Colin G. Kruse menolak pandangan b karena menurutnya tidak pernah disebutkan dalam bagian lain bahwa Petrus mengasihi murid-murid lainnya apalagi mengasihi mereka lebih daripada ia mengasihi Yesus. Kruse juga menolak pandangan a, karena ia tidak percaya bahwa tindakan menjala ikan dalam Yohanes 21:1-14 mengindikasikan bahwa para murid kembali kepada pekerjaan lama mereka (lih. Inti argumen pembelaan Greenlee di atas). Kruse memilih pandangan c karena menurutnya dalam Injil ini, Petrus pernah mengklaim bahwa ia rela mengorbankan nyawanya bagi Yesus yang mengimplikasikan ia mengasihi Yesus lebih daripada para murid lain mengasihi Yesus (bnd. 13:37-38; Mat. 26:33). Itulah sebabnya, Yesus sengaja mengajukan pertanyaan ini untuk menguji apakah Petrus masih membuat klaim angkuh yang sama lagi atau tidak.[5] Perlu ditambahkan argumen dari Blaine yang menolak pandangan a bahwa perlengkapan menjala ikan tidak pernah dimaksudkan sebagai kompetitor dalam hal mengasihi Yesus, tetapi lebih berarti perlengkapan untuk melayani Yesus. Blaine Juga menerima tafsiran yang diterima oleh Kruse.[6]

Dan ketiga, para penafsir lain menyatakan bahwa konteks dari pertanyaan ini merujuk kepada narasi sebelumnya di mana Petrus bekerja bersama para murid lainnya untuk menjala ikan. Jadi, ketika Yesus bertanya: “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada ini?”, yang dimaksudkan adalah apakah Petrus mengasihi Yesus lebih daripada ia mengasihi para murid lain yang dengan mereka ia bersama-sama menangkap ikan?[7]

Mengamati perdebatan di atas, penulis mengakui bahwa sangat sulit untuk menentukan pilihan yang benar-benar meyakinkan di antara ketiga pandangan tersebut. Dari segi pengamatan tata bahasa, kesulitan ini tampak karena kata τούτων dapat digunakan dalam bentuk maskulin maupun neuter. Jika digunakan dalam gender maskulin, maka pandangan b dan c dimaksudkan; namun jika digunakan dalam bentuk neuter, maka pandangan a lah yang dimaksudkan. Sayangnya, kita tidak dapat menentukan gender yang persis dimaksudkan dari kata τούτων di sini. Meski demikian, penulis akan memberikan beberapa pertimbangan berikut ini yang memperlihatkan bahwa penulis mengikuti pandangan c yang dikemukakan oleh Kruse dan beberapa penafsir lainnya. Pertama, pandangan bahwa Yesus sedang menanyakan apakah Petrus mengasihi Dia lebih daripada para murid lain mengasihi perlengkapan menjala ikannya memang terindikasi dari segi urutan narasinya, namun keberatan Blaine memperlihatkan sangat sulit melihat perlengkapan menjala dipandang oleh Yesus sebagai kompetitor sehingga ia menanyakan pertanyaan komparatif yang demikian kepada Petrus. Kedua, pandangan bahwa Yesus menanyakan apakah Petrus lebih mengasihi para murid lain ketimbang mengasihi Dia, jelas tidak masuk akal karena justru dalam narasi sebelumnya, Petrus bahkan terjum ke dalam danau meninggalkan para murid tersebut untuk mendapati Yesus. Tindakan Petrus ini juga memperlihatkan bahwa ia relah meninggalkan perlengkapan menjala ikannya untuk mendapati Yesus dan sekaligus mengindikasikan ketidakmungkinan pandangan a di atas. Dan ketiga, pandangan bahwa Yesus bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi Yesus lebih daripada murid-murid yang lain mengasihi Yesus, jelas memiliki dukungan tekstual yang tidak dapat ditolak untuk alasan apa pun, bila dibandingkan dengan argumen pendukung dari kedua pandangan sebelumnya. Tidak ada yang dapat menyangkali bahwa ketika Petrus sesumbar bahwa ia rela mati untuk Yesus, jelas hal ini mengimplikasikan bahwa Petrus sedang menonjolkan dirinya di antara para murid lain. Dan ini sama dengan ia mengklaim bahwa ia mengasihi Yesus lebih daripada para murid lainnya. Dari segi konteks pun, para ahli mengingatkan bahwa Yohanes 21:15-19 merupakan momen restorasi sekaligus penugasan bagi Petrus.[8]

Mengenai keberatan dari Greenlee di atas, menurut hemat penulis keberatan tersebut hanya valid jika yang Yesus bermaksud agar Petrus mengukur level kasihnya dengan level kasih para murid yang lain. Namun keberatan ini menjadi tidak valid, jika Yesus mengasumsikan peristiwa sesumbarnya Petrus sebagaimana yang sudah dicatat dalam bagian-bagian sebelumnya. Selain itu, kontra terhadap argumen pendukung yang dikemukakan Greenlee, perihal para murid menjala ikan, tidak harus dimaknai secara “negatif” bahwa mereka kembali kepada kehidupan lama mereka. Sebaliknya, keberadaan mereka di Galilea justru mengindikasikan ketaatan mereka terhadap pesan Yesus kepada Maria Magdalena sebagaimana yang tercatat dalam Markus 16:7.

Jadi, menurut penulis, pertanyaan Yesus: ἀγαπᾷς με πλέον τούτων; merujuk kepada apakah Petrus mengasihi Yesus lebih daripada para murid lain mengasihi Dia.

Terlepas dari perdebatan yang alot di seputar makna frasa pleon toutwn di atas, menariknya ketika menjawab pertanyaan Yesus, Petrus tidak menanggapi pertanyaan ini, melainkan hanya fokus untuk menjelaskan bahwa sebagaimana yang diketahui Yesus, ia mengasihi Yesus. Dan Yesus sendiri tidak mengulangi lagi frasa ini dalam pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Hal ini mengindikasikan bahwa pemaknaan terhadap frasa πλέον τούτων tampaknya tidak terlalu signifikan untuk diperdebatkan, walau tentu saja pemaknaan terhadapnya akan bermanfaat bagi kita untuk mengetahui secara persis keseluruhan maksud percakapan Yesus dan Petrus.[9]

[1] Lih. J. Harold Greenlee, “‘More Than These?’ John 21:15,” Journal of Translation, Vol. 1, No. 2 (2005): 19.

[2] Greenlee, “‘More Than These?’ John 21:15,” 19-20.

[3] Greenlee, “‘More Than These?’ John 21:15,” 20.

[4] Greenlee, “‘More Than These?’ John 21:15,” 20. Pandangan ini dianut juga oleh: Wiarda, “John 21:1-23: Narrative Unity and Its Implications,” 64; Culpepper, “Peter as Exemplary Disciple in John 21:15-19,” 172-173; Keener, The Gospel of John: A Commentary, 2.1236.

[5] Colin G. Kruse, John (The Tyndale New Testament Commentaries; Surabaya: Momentum, 2008), 391. Penafsir lain yang menganut pandangan ini, antara lain: Carson, The Gospel According to John, 675-676; Beasley-Murray, John [software version]; Burge, John, 586-587; Ridderbos, The Gospel According to John: A Theological Commentary, 665.

[6] Blaine, Peter in the Gospel of John: The Making of an Authentic Disciple, 164-165.

[7] A.M. Hunter, The Gospel According to John (Cambridge Bible Commentary; Cambridge: Cambridge University Press, 1965), 196. Penafsir lain yang menganut tafsiran ini, antara lain: Ben Witherington III, John’s Wisdom: A Commentary on the Fourth Gospel (Louisville, Kentucky: Westminster John Knox, 1995), 356; F.J. Moloney, The Gospel of John (Sacra Pagina; Collegeville: The Liturgical Press, 1998), 559.

[8] Lih. ulasan penulis mengenai alasan mengapa Petrus bersedih dan juga mengenai prediksi Yesus terhadap masa depan Petrus. Menariknya, Keneer, The Gospel of John: A Commentary, 2.1236, justru percaya bahwa Yohanes 21:15-19 merupakan momen restorasi sekaligus penugasan Petrus, namun tidak menyadari implikasi dari pandangan ini sehingga ia tetap percaya bahwa “ini” merujuk kepada perlengkapan menjala ikan.

[9] Bnd. Blaine, Peter in the Gospel of John: The Making of an Authentic Disciple, 164.