Tafsiran “sejuta umat” terhadap kata-kata Yesus dalam Markus 7:27, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing“, adalah bahwa Yesus mengasumsikan kebiasaan umum orang-orang Yahudi yang biasa mendegradasi status etnis non-Yahudi dengan sebutan “anjing-anjing”. Berbagai pandangan yang mencoba menjelaskan maksud Yesus dalam berbagai buku tafsiran (commentaries) maupun artikel-artikel jurnal selalu berangkat dari asumsi ini.

Ruth Schafer adalah salah satu dari sekian banyak penafsir yang terus mengulang kembali asumsi “sejuta umat” di atas. Ia mengemukakan tafsirannya dalam naskah orasi ilmiahnya pada momen Dies Natalis STT GKE Banjarmasin pada tahun 2008. Naskah tersebut berjudul: “Yesus Sang Pelajar”.(diterbitkan dalam: Ruth Schafer, dkk., Menggugat Kodrat Mengangkat Harkat: Tafsiran dengan Perspektif Feminis atas Teks-teks Perjanjian Baru [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014], 339-351).

Menurut Schafer, sebelum berjumpa dengan perempuan Siro-Fenesia itu, Yesus masih terperangkap dalam prejudis etnis-religius yang bukan hanya memandang rendah status gentiles melainkan juga memandang bahwa misi-Nya hanya terbatas secara eksklusif bagi orang-orang Yahudi saja. Ringkasnya, perempuan itu mengoreksi pandangan misi Yesus yang terbatas itu menjadi sebuah pandangan misi yang universal (Mrk. 7:28). Yesus akhirnya belajar dari perempuan itu dan mengubah pandangan serta sikap misi-Nya (ay. 29-30). Yesus salah, perempuan itu mengoreksi-Nya, dan Yesus mengubah pandangan-Nya. Itulah inti tafsiran Schafer, sebuah tafsiran yang sama persis dengan yang dianut Dr. Eben Nuban Timo yang mendasarkan pandangannya pada tulisan Sharon Ringe.

Yesus menggunakan kata-kata abusive bagi seorang perempuan yang sedang memohon kesembuhan bagi putrinya. Betapa kasarnya Yesus?

Saya sudah membahas isu di atas dalam sebuah tulisan eksegetis yang sedang dalam proses terbit dalam buku terbaru saya. Di situ saya memperlihatkan bahwa asumsi “sejuta umat” di atas merupakan asumsi yang salah! Dan dengan melepaskan diri dari asumsi tersebut, kata-kata Yesus dapat dibaca dalam terang pemahaman yang baru tanpa harus dianggap memuat nuansa abusive yang menjadi skandolon bagi semua penafsir sampai dengan hari ini!

Lebih khusus lagi, saya memperlihatkan secara gamblang bahwa tafsiran Schafer mengandung kontradiksi yang sangat eksplisit, bahkan salah pada tataran observasi eksegetis!

Memang, seperti yang diingatkan Bultmann, orang tidak dapat membaca Alkitab tanpa presuposisi. Namun presuposisi-presuposisi tersebut harus bersedia untuk senantiasa diuji kembali. Dalam isu spesifik ini, para penafsir tidak lagi aware untuk menguji ulang asumsi “sejuta umat” di atas. Hasilnya adalah, apa pun pandangannya, dalam taraf tertentu mereka harus mengasumsikan Yesus melakukan abusive ad hominem terhadap perempuan itu.

Teks yang “malang” di tangan para penafsir yang “malang” pula. Sayang sekali!