Saya baru saja membaca sebuah tulisan dari Ijaz Ahmad, berjudul: Early Christian Believers Doubted The Crucifixion. Ahmad merujuk kepada dua tulisan Gnostik: a) tulisan dari Basilides; dan b) The Second Treatise of Seth. Tulisan Ahmad tidak mengandung argumentasi sama sekali, kecuali kesan bahwa kedua teks ini membuktikan klaim pada judul tulisannya.

Judul tulisan di atas menyesatkan dalam dua hal. Pertama, Tidak satu pun teks-teks Gnostik yang di dalamnya terkandung lontaran mengenai penyaliban Yesus, meragukan historisitas peristiwa penyaliban itu per se. Ahmad tampaknya mengacaukan gagasan dalam QS. 4:157 yang menyangkali baik historisitas penyaliban Yesus sekaligus bahwa Yesus mati melalui penyaliban itu. Sebenarnya, semua teks-teks Gnostik percaya bahwa penyaliban itu benar-benar terjadi. Mereka hanya menafsirkan bahwa yang disalibkan itu bukan Yesus yang sebenarnya – ada yang percaya bahwa ada orang lain yang diubah wajahnya menyerupai Yesus; ada yang percaya bahwa Yesus memang disalibkan namun tidak benar-benar menderita tetapi hanya kelihatannyasaja mengalami penyaliban. 

Kedua, dalam sebuah komentar di tulisan tersebut, telah dikemukakan bahwa teks-teks yang Ahmad rujuk di atas adalah teks-teks doketis maka ia tidak dapat begitu saja menggunakan teks-teks itu untuk mendukung poinnya. Kelompok yang bertanggung jawab atas kemunculan teks-teks tersebut tidak dapat disebut sebagai Christian believers. Ahmad menanggapi bahwa tidak semua penganut Gnostik itu doketis. Ia merujuk kepada tulisan Bultmann mengenai Injil Yohanes yang diduga ditulis dalam latar belakang Gnostik.

Tanggapan Ahmad di atas “jauh panggang dari api” dan bahkan ia salah memahami Bultmann. (a) Bahwa tidak semua Gnostik menganut Doketisme, for the sake of argument, ini tidak menjawab komentar di atas bahwa kedua teks di atas adalah teks Doketis. Yang harus dilakukan Ahmad adalah membuktikan sebaliknya dari kedua teks tersebut, bukan bersembunyi di balik sebuah klaim general mengenai Gnostisisme. (b) Bultmann justru melawan inti klaim Ahmad karena Bultmann dan para muridnya percaya bahwa Injil Yohanes merupakan adapatasi dari Doketisme Gnostik.[1] Mereka bahkan menyatakan bahwa kita bisa mendeteksi pengaruh dan polemik melawan Doketisme dalam seluruh PB. Para pakar yang percaya bahwa sejumlah teks PB ditulis dalam latar belakang Gnostisisme, merujuk kepada Doketisme sebagai gagasan spesifik yang entah memberi pengaruh atau dilawan.[2] (c) Ya, mereka tidak dapat disebut sebagai Christian believers karena teks-teks tersebut memang teks-teks yang berasal dari para penganut Doketisme.

Dalam tulisan-tulisan selanjutnya saya akan menampilkan kutipan dari teks-teks Gnostik yang berbicara mengenai penyaliban Yesus. Saya akan memperlihatkan bahwa teks-teks yang dirujuk Ahmad memang teks-teks doketis; dan lebih lagi, tidak ada keraguan sama sekali dalam semua naskah Gnostik mengenai historisitas penyaliban Yesus. Bahkan saya akan memperlihatkan kontinuitas teks-teks Gnostik tersebut dengan isi QS. 4:157, sambil secara khusus mendiskusikan tafsiran dari para sarjana Muslim mengenai ayat ini.

Tulisan-tulisan terkait:

  1. Sumber-sumber Sejarah Kuno Non-Kristen mengenai Penyaliban Yesus.
  2. Historisitas Penyaliban Yesus: Craig A. Evans vs Karim Abu Zaid.
  3. Pandangan Shabir Ally mengenai Penyaliban Yesus.

[1] Juga Ernst Kasemann yang menuding Yohanes sebagai penganut Doketisme yang naif.

[2] Mis. W. Schenk percaya bahwa kita bisa mendeteksi Doketisme atau Anti-Doketisme dalam Injil Matius dan Injil Markus; Charles H. Talbert mengklaim bahwa Injil Lukas dan Kisah Para Rasul ditulis untuk menyatakan “tidak” kepada Doketisme; W. Schmithals berasersi bahwa para lawan Paulus di Korintus adalah para penganut Doketisme; H.M. Schenke mengusulkan asal-usul Doketisme bagi tulisan Paulus mengenai Yesus dalam Filipi 2:5-11 atas klausa “mengambil rupa seorang hamba”; Robert H. Gundry mengklaim bahwa himne dalam 1 Timotius 3:16 dimaksudkan untuk melawan Doketisme Gnostik.