Dalam tulisan lanjutan ini, saya akan memberikan ulasan ringkas mengenai Kristologi Doketisme serta varias-variasi pandangan yang ada di dalamnya.

Doketisme berasal dari kata bahasa Yunani: dokein yang berarti “tampak” atau “kelihatan”. Secara umum Doketisme adalah pandangan bahwa Kristus hanya kelihatan saja seperti manusia, namun bukan manusia sejati. Kemanusiaan Yesus di dalam segala aspeknya hanya ilusi; walau kelihatan seperti manusia, namun itu tidak lebih dari sesuatu yang hanya tampaknya saja.

Rujukan paling jelas mengenai Doketisme baru muncul pada pertengahan hingga akhir abad kedua Masehi. Dalam tulisan Hyppolytus of Rome (+ 170-235 M), kita mendapati sebuah sekte yang ia sebut doketai (Refut. 8.8.2; 8.11.1) yang berkarakter sinkretistik (Refut. 8.2; 8.8.1- 11:2; 10.16.1-6).

Clement of Alexandria (+ 150-215 M) juga berbicara mengenai Julius Cassianus yang menurutnya merupakan ho tes dokeseos (Strom. 3.13) yang dapat diterjemahkan sebagai “pendiri Doketisme”, walau sebenarnya dalam tulisan Clement, sebutan itu lebih cocok diterjemahkan “pengajar Doketisme”. Clement menyebut Doketai sebagai sebuah sekte heretik yang bukan mendapatkan namanya dari latar geografis atau praktik tertentu, melainkan dari “dogma yang aneh” (Strom. 7.17). Dari tulisan Clement inilah para pakar percaya bahwa ajaran Julius Cassianus (mendekati akhir abad kedua, mungkin berasal dari Mesir atau Siria) merupakan basis dari perkembangan Doketisme selanjutnya.

Dari tulisan Irenaeus (+ 125-202 M), terungkap mengenai variasi-variasi pandangan di dalam Doketisme. Variasi-variasi itu ada pada dua ekstrim, yaitu Doketisme murni yang menyangkali sama sekali bahwa Yesus memiliki tubuh yang riil dan semi Doketisme yang walau dalam taraf tertentu percaya bahwa Yesus memiliki tubuh manusiawi yang riil namun mengklaim bahwa tubuh manusiawi Yesus sangat berbeda dengan manusia lain pada umumnya (Adv. Haer. III.11.3). Irenaeus juga berbicara mengenai teori substitusi penyaliban dari Basilides seperti yang telah dikutip oleh Ahmad (Adv. Haer. I.24.4). Selain Basilides, kita juga bisa menyebut para pengajar Kristologi Doketisme lainnya yang dilawan oleh Bapa-bapa Gereja, yaitu: Simon Magnus, Saturninus, Cerinthus, Marcion, Valentinus, Bardesanes, dll.

Dalam tulisannya yang berjudul: “The Origins of Docetism,” J.G. Davies membagi Doketisme ke dalam empat tipikal berdasarkan titik berangkat konseptual mereka: 1) mereka yang membangun gagasan doketis berdasarkan doktrin Allah, khususnya doktrin imutabilitas dan impasibilitas Allah; 2) mereka yang menekankan mengenai kosmologi bahwa segala sesuatu yang berada di dalam lingkup Demiurge tidak berbagian dalam keselamatan; 3) mereka yang menekankan soal antropologi, percaya bahwa tubuh/daging itu sesuatu yang jahat, hanya jiwa/roh yang membentuk kemanusiaan sejati; dan 4) mereka yang menekankan soal Kristologi, menyangkali inkarnasi Kristus dan menolak penderitaan serta kematian Kristus melalui penyaliban. Variasi-variasi pandangan ini dipercaya secara bertumpang tindih oleh para penganut Doketisme.

Dalam hubungan dengan Kristologi, karena berangkat dari paradigma dualistik di atas, umumnya penganut Doketis membedakan antara “Yesus” (manusia yang hanya kelihatannya saja) dan “Kristus” (Yang Ilahi).[1] Adolph Harnack menjelaskan bahwa karakteristik dari Kristologi Gnostik memang bukanlah pandangan Doketisme murni seperti di atas, melainkan pembedaan atas kedua natur Kristus yang tercermin dari pembedaan mereka terhadap “Yesus” dan “Kristus”. Mereka percaya bahwa natur manusia secara inheren jahat dan berdosa itu menganulir gagasan bahwa Penebus (Redeemer) adalah seorang manusia. J.N.D. Kelly menyatakan bahwa Doketisme bukanlah sebuah bidat terpisah. Ia dominan dalam sejumlah bidat, secara khusus Marcionisme dan Gnostisisme  (kontra Ahmad yang memberi kesan seakan-akan ada kelompok Gnostik yang tidak menganut Kristologi Doketis).

Atas dasar klaim umum di atas, ada kelompok Doketis yang mengklaim bahwa “Yesus” memang lahir sebagai manusia, namun “Kristus” baru mendiami tubuh Yesus sejak pembaptisan hingga beberapa saat sebelum penyaliban (untuk menghindari gagasan bahwa “Kristus” ikut mengalami proses kelahiran sebagai manusia dan menderita bersama “Yesus” di salib).

Jadi, walau tidak sedikit pakar yang percaya bahwa “akar” Doketisme sudah bisa dideteksi pada taraf yang samar pada abad pertama, namun yang pasti kita baru mendapatkan rujukan jelas mengenai sekte ini pada pertengahan abad kedua Masehi.

Sumber-sumber:

  1. D.F. Wright, “Docetism,” in Ralph P. Martin and Peter H. Davids (eds.), Dictionary of the Later New Testament and Its Developments (Downers Grove, Illinois: IVP, 1997), 306-309.
  2. J.G. Davies, “The Origins of Docetism,” in F.L. Cross (ed.), Studia Patristica VI (Berlin: Akademie Verlag, 1962), 13-55.
  3. Adolph Harnack, History of Dogma, trans. Neil Buchanan (7 vols.; Eugene, Oregon: Wipf and Stock Publishers, 1997), 1.260.
  4. J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrines (5th ed.; New York: Harper and Row, 1978), 141.

[1] Mungkin bisa dianalogikan dengan tren dalam studi Yesus Sejarah (the historical Jesus) yang membedakan antara: “Jesus of history” (Yesus yang sebenarnya di dalam sejarah) dan “Christ of faith” (Kristus iman) yang lebih merupakan bentukan dogma ketimbang sejarah yang sebenarnya mengenai Yesus.