Sekarang saya akan menampilkan kutipan-kutipan serta penjelasan dari teks-teks Gnostik, khususnya yang berbicara mengenai penyaliban Yesus. Saya tidak lagi menyertakan kutipan dari Second Treatise of the Great Seth yang sudah dikutip Ahmad dalam tulisannya. Tujuan saya adalah untuk memperlihatkan: pertama, tidak ada keraguan apalagi penyangkalan terhadap penyaliban Yesus dalam teks-teks Gnostik; dan kedua, ada hubungan yang sangat erat antara Kristologi Doketisme dalam sejumlah teks-teks Gnostik tersebut dengan QS. 4:157. Saya akan membahas poin pertama terlebih dahulu di sini.

The Gospel of Peter (GP). Menurut Eusebius (H.E. VI.12.2-6), seorang bishop di Antiokhia bernama Serapion (pertengahan abad kedua Masehi) mengijinkan GP dibaca di dalam Gereja namun kemudian ia melarang pembacaannya setelah mengetahui adanya ajaran Doketisme di dalam teks ini. Naskah ini terdiri atas 60 ayat yang diawali dengan bagian akhir dari prosesi pengadilan Yesus di mana Herodes memutuskan untuk menyalibkan Yesus sebagaimana permintaan orang-orang Yahudi. Yesus disalibkan, bangkit (Maria Magdalena mendapati kubur itu kosong dan diberitahu malaikat bahwa Yesus telah bangkit). Di samping ada beberapa perbedaan, secara keseluruhan kerangka naratifnya mirip dengan pengisahan Injil-injil Kanonik mengenai penyaliban Yesus walau ada perbedaan di sana-sini. Menariknya, kita bisa mendeteksi karakter doketis dari teks ini berdasarkan penggambarannya mengenai Yesus pada saat disalibkan. Dikatakan bahwa pada saat Yesus dipakaikan mahkota duri, dicambuk, ditampar lalu disalibkan (ay. 6-9), “…he was silent, as if he had no pain” (ay. 10). Dalam ayat 19, ketika Yesus sudah di atas salib, Ia berkata: “My Power, O Power, you have left me behind!” Lalu penulisnya melanjutkan, “When he said this, he was taken up.” Perhatikan bahwa penulisnya menghindari menggunakan istilah “mati”; ia memilih menggunakan istilah “taken up” untuk memberi kesan bahwa roh atau jiwa Yesus diangkat langsung dari salib ke hadirat Allah (Bruce; 1974: 93)

The Acts of John (akhir abad kedua Masehi). Teks yang dibagi menjadi 105 pasal ini sangat eksplisit karakter doketisnya, mis. Yesus dikatakan kadang tampak seperti anak kecil namun kadang tampak menjulang hingga mencapai langit; kadang tubuhnya terasa lembut dan halus, namun kadang keras seperti batu karang, bahkan kadang tubunya seperti imaterial seolah-olah tidak bereksistensi (pasal 89). Mengenai penyaliban Yesus, dikatakan: “he was hung upon the cross on Friday, at the sixth hour of the day, there came darkness over all the earth” (pasal 97). Ketika Yohanes mendekati gua itu, Yesus berkata kepadanya:

John, to the multitude down below in Jerusalem I am being crucified, and pierced with lances and reeds, and gall and vinegar is given me to drink. But to you I am speaking, and pay attention to what I say. I put it into your mind to come up to this mountain, so that you might hear matters needful for a disciple to learn from his teacher, and for a man to learn from his God. And showed having me a cross said of this, light set he up, and around the cross a great multitude which had no one form; and in the cross was one form and one likeness. And the Lord himself I beheld above the cross, not having a shape, but only a voice, and a voice not such as was familiar to us, but a sweet and kind voice and one truly divine…(pasal 97-98).

Lalu dalam pasal 99, dinyatakan:

But this is not the cross of wood which you will see when you go down here, neither am I he who is upon the cross, whom now you do not see but only hear a voice I was reckoned to be what I am not being what I was to many others; but they will call me something else, which is vile and not worthy of me.

Apocalypse of Peter (AP; abad kedua Masehi) bersama dengan Second Treatise of the Great Seth (abad kedua Masehi)terdapat dalam Kodeks VII naskah Nag Hammadi. Dalam terjemahan James Brashler dan A. Bullard, AP tidak dibagi ke dalam ayat maupun pasal. Mengenai penyaliban Yesus, dinyatakan:

When he had said those things, I saw him seemingly being seized by them. And I said “What do I see, O Lord? That it is you yourself whom they take, and that you are grasping me? Or who is this one, glad and laughing on the tree? And is it another one whose feet and hands they are striking?” The Savior said to me, “He whom you saw on the tree, glad and laughing, this is the living Jesus. But this one into whose hands and feet they drive the nails is his fleshly part, which is the substitute being put to shame, the one who came into being in his likeness. But look at him and me.”

Lalu muncullah Kristus (Penyelamat yang hidup) sambil tertawa dan dipenuhi Roh Kudus kemudian berkata kepada Petrus:

“Be strong, for you are the one to whom these mysteries have been given, to know them through revelation, that he whom they crucified is the first-born, and the home of demons, and the stony vessel in which they dwell, of Elohim, of the cross, which is under the Law. But he who stands near him is the living Savior, the first in him, whom they seized and released, who stands joyfully looking at those who did him violence, while they are divided among themselves.”

Sama dengan Second Treatise of Seth, AP juga mengandung gagasan substitusi pada saat penyaliban Yesus, namun hanya Second Treatise of Seth yang menyebutkan nama Simon orang Kirene (mengikuti Basilides) sebagai substitutor bagi Yesus.

Gospel of Truth (+ 140-180)terdapat dalam Kodeks I naskah Nag Hammadi. Ada yang menduga bahwa teks ini ditulis oleh Valentinus. Di dalamnya terdapat rujukan mengenai penyaliban Yesus: “For this reason Jesus appeared; he put on that book; he was nailed to a tree; he published the edict of the Father on the cross.” Sebelumnya, naskah ini memuat pernyataan eksplisit bahwa:

Though the category of history is rarely touched, the history of Jesus’ passion is both implicitly and explicitly present. Even weather Jesus on earth is Docetically conceived is at least uncertain; the one expression which might decide the matter is ambguous.

Letter of Peter to Philip (+ 170-220 M)ditemukan dalam Kodeks VIII naskah Nag Hamaddi. Saya mengikuti terjemahan John N. Sieber yang tidak membagi teks ini ke dalam ayat ataupun pasal. Di dalamnya terdapat perkataan Petrus kepada para murid lainnya, demikian:

“Did our Lord Jesus, when he was in the body, show us everything? For he came down. My brothers, listen to my voice.” And he was filled with a holy spirit. He spoke thus: “Our illuminator, Jesus, came down and was crucified. And he bore a crown of thorns. And he put on a purple garment. And he was crucified on a tree and he was buried in a tomb. And he rose from the dead. My brothers, Jesus is a stranger to this suffering.”

Petrus tidak menyangkali bahwa Yesus disalibkan. Yang disangkali Petrus adalah bahwa Yesus tidak mengalami penderitaan ketika Ia disalibkan (keseluruhan naskah ini mengindikasikan demikian).

First Apocalypse of James (+ 180-250 M) ditemukan dalam Kodeks V naskah Nag Hamaddi. Saya mengikuti terjemahan William R. Schoedel yang tidak membagi teks ini ke dalam ayat atau pasal. Di dalamnya terdapat pernyataan ini: “The Lord said, ‘ James, do not be concerned for or for this people. I am who was within me. Never have I suffered in any way’”. Yesus menyatakan demikian sebagai tanggapan atas perkataan Yakobus:

“Rabbi, I have found you! I have heard of your sufferings, which you endured. And I have been much distressed. My compassion you know. Therefore, on reflection, I was wishing that I would not see this people. They must be judged for these things that they have done. For these things that they have done are contrary to what is fitting.”

Zostrianos[1] (+ 200-230) ditemukan dalam Kodeks VIII naskah Nag Hammadi bersama Letter of Peter to Philip. Dalam teks ini, kita menemukan pernyataan: “He was there again, he who suffer although he is unable to suffer, for he was a power of a power.”

Semua teks Gnostik yang berbicara mengenai penyaliban Yesus memiliki kerangka konseptual ini: Pertama, semua teks tersebut mengakui terjadinya penyaliban terhadap Yesus; kedua, Yesus memang disalibkan, namun Ia tidak mengalami penderitaan melalui penyaliban itu – Ia hanya tampaknya saja menderita; dan ketiga, orang-orang yang menyalibkan Yesus itu mengira bahwa bahwa mereka benar-benar menyalibkan Yesus padahal tidak. Poin kedua dan ketiga merupakan fitur khas Doketisme Gnostik. Selain itu, dua di antara teks-teks Doketis di atas, yaitu: Second Treatise of the Great Seth dan Apocalypse of Peter mengandung teori substitusi pada saat penyaliban yang sudah pernah diajarkan sebelumnya oleh Basilides. Kontra Ahmad, Edwin M. Yamauchi – pakar sejarah Kekristenan dari Miami University – menggolongkan kedua teks ini ke dalam “Clearly Docetic Texts” dan menyatakan bahwa kedua teks ini merupakan “…striking illustrations of the ‘substitutionary’ docetism of Basilides” (1982: 9).

Sumber-sumber:

  1. Semua naskah Gnostik di atas, berasal dari: James M. Robinson (ed.), The Nag Hammadi Library in English (Leiden/San Francisco: Brill/Harper & Row, 1977). Saya juga mengkonsutasikannya dengan: Bart D. Ehrman, Lost Christianities: The Battles for Scripture and the Faith We Never Knew (Oxford: Oxford University Press, 2003); dan Bart D. Ehrman, Lost Scriptures: Books That Did Not Make It into the New Testament (Oxford: Oxford University Press, 2003); Wilhelm Schneemelcher (ed.), New Testament Apocrypha: Volume One – Gospels and the Related Writings, trans. R. McL. Wilson (2nd ed.; Louisville, Kentucky: Westminster John Knox, 1991).
  2. Eusebius, Ecclesiastical History, trans. C.F. Kruse (Peabody, MA.: Hendrickson, 1998). 
  3. Edwin M. Yamauchi, “The Crucifixion and Docetic Christology,” Concordia Theological Quarterly, Vol. 46, No. 1 (January 1982): 1-20.
  4. F.F. Bruce, Jesus and Christian Origins Outside the New Testament (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1974).

[1] Zostrianos, menurut legenda, adalah putra dari Yolaos dan ayah dari Armenios yang adalah ayah dari Er the Pamphylian (Plato, Republic, X.614b).