Untuk jelasnya, saya perlu memulai ulasan ini dengan mengutip QS. 4:157-158 terlebih dahulu.[1]

And because of their saying (in boast), “We killed Messiah Isa (Jesus), son of Maryam (Mary), the Messenger of Allah,” – but they killed him not, nor crussified him, but the resemblance of Isa (Jesus) was put over another man (and they killed that man), and those who differ therein are full of doubts. They have no certain knowledge, the follow nothing but conjecture. For surely; they killed him not [i.e. Isa (Jesus), son of Maryam (Mary) – 157.

But Allah raised him [Isa (Jesus)] up (with his body and soul) unto himself (and he is in the heavens). And Allah is Ever All-Powerful, All-Wise – 158.

Saya sudah membahas tafsiran dari sejumlah sarjana Muslim mengenai ayat di atas dalam sebuah tulisan lain. Saya tidak mengulanginya lagi di sini. Hanya, perlu dicatat kembali bahwa mereka berbeda pendapat soal apakah Yesus disalibkan atau tidak, namun yang pasti mereka percaya bahwa Yesus tidak mati karena penyaliban itu. Mereka sepakat bahwa telah terjadi substitusi korban penyaliban (ada seseorang yang wajahnya diubah Allah SWT menyerupai wajah Yesus), namun tidak sependapat soal siapa orang tersebut.[2]

Menariknya, jika kelompok penafsir di atas mengasumsikan unsur kesejarahan dari QS. 4:157-158, Mahmoud Ayoub mengakui bahwa penolakkan terhadap penyaliban Yesus dari aspek kesejarahannya (historisitas) berdasarkan teks tersebut, tidak dapat dilakukan oleh para sarjana Muslim secara meyakinkan. Ayoub sendiri percaya bahwa QS. 4:157-158 tidak boleh dibaca dari perspektif sejarah, tetapi dari perspektif teologis. Ia menulis, demikian:

Why then . . . does the Qur’an deny the crucifixion of Christ in the face of apparently overwhelming evidence? Muslim commentators were not capable of refuting the crucifixion convincingly. . . . . However, this statement, like all the other statements about Jesus in the Qur’an, does not belong to history, but to theology in the broadest sense. . . . The reproach of the Jews, “for their saying: ‘We have surely killed Jesus the Christ, son of Mary, the apostle of God,’ ” with which the verse starts, is not directed at the telling of an historical lie, or at the making of a false report. It is rather, as is clear from the context, directed at human arrogance and folly, at an attitude towards God and His messenger. The words identifying Jesus are especially significant. They wished to kill Jesus, the innocent man, who is also the Christ, the Word, and God’s representative among them. By identifying Christ in this context, the Qur’an is addressing not only the people who could have killed yet another prophet, but all of humanity is told who Jesus is.

The Qur’an is not speaking about a man, righteous and wronged though he may be, but about the Word of God who was sent to earth and who returned to God. Thus the denial of the killing of Jesus is a denial of the power of men to vanquish and destroy the divine Word, which is forever victorious. Hence the words, “they did not kill him, nor did they crucify him,” go far deeper than the events of ephemeral human history; they penetrate the heart and conscience of human beings. The claim of humanity (here exemplified in the Jewish society of Christ’s earthly existence) to have this power against God can only be an illusion. “They did not slay him . . . but it seemed so to them.” They only imagined doing so.

The words, wa lākin shubbiha lahum do not disclose, therefore, a long-hidden secret of divine deception; rather they constitute an accusation or judgment against the human sin of pride and ignorance. They are explained further in what follows: those who have disagreed about Christ are surely in doubt concerning the truth. They have no knowledge; they follow only conjecture, the foolish imaginings of their minds. What is the truth? It is, I think, the affirmation, once again, that God is greater than human powers and empty schemes: “They did not kill him, [that is, Jesus the Christ and God’s Apostle] with certainty, rather God took him up to Himself, and God is mighty, and wise. Again, human ignorance, delusion and conjecture are all identified as a lack of certainty or firm faith. In the phrase, “and God is mighty and Wise,” these human limitations are contrasted with divine power and infinite wisdom.[3]

Tidak jelas apakah Ayoub mengakui bahwa Yesus mati pada peristiwa penyaliban itu atau tidak, walau pernyataannya pada awal kutipan di atas mengindikasikan ia percaya bukti-bukti historis jauh lebih meyakinkan ke arah kesimpulan mengenai kematian Yesus di salb ketimbang upaya alternatif dari para penafsir Muslim di atas. Yang pasti, bagi Ayoub, aspek yang disangkali oleh QS. 4:157-158 adalah aspek spiritual dari Kristus (Firman Allah). Alur argumen teologisnya adalah bahwa Firman Allah tidak dapat dibunuh oleh manusia. Dan dalam maksud inilah QS. 4:157-158 menyatakan, “they killed him not, nor crussified him.

Saya tidak ingin masuk ke dalam kancah perdebatan intern mereka. Objektif saya sederhana saja. QS. 4:157-158 entah ditafsirkan dari perspektif historis atau pun teologis, tetap memperlihatkan kontinuitas kerangka konseptualnya dengan teks-teks Doketisme Gnostik yang sudah saya perlihatkan dalam tulisan sebelumnya. QS. 4:157-158 mengandung kerangka konseptual, berikut:

  1. Orang-orang berupaya menyalibkan Yesus;
  2. Terjadi penyaliban (tidak jelas apakah Yesus benar-benar disalib atau tidak disalib, hal ini bergantung penafsiran terhadap kapan substitusi itu terjadi);
  3. Allah SWT mengubah wajah seseorang menyerupai wajah Yesus (teori substitusi);
  4. Yesus diangkat ke sorga atau ke hadirat Allah SWT.
  5. Orang-orang Yahudi berpikir bahwa mereka menyalibkan Yesus, padahal yang mereka salibkan adalah orang lain yang wajahnya telah diubah menjadi serupa dengan Yesus.

Menyimak kerangka konseptual di atas, kemudian kita membandingkannya dengan presentasi teks-teks Doketisme Gnostik pada tulisan sebelumnya, kita bukan hanya mendapati kemiripan, melainkan kesamaan kerangka konseptual.

  1. Semua teks Doketisme Gnostik itu juga percaya bahwa orang-orang Yahudi sangat gigih memaksa Herodes untuk menyalibkan Yesus.
  2. Semua teks Gnostik itu juga percaya bahwa terjadi penyaliban. Mayoritas percaya bahwa yang disalibkan adalah “Yesus”, bukan “Kristus” (atau the Living Jesus).
  3. Dua teks Gnostik (Apocalypse of Peter dan Treatise of the Great Seth) berdasarkan ajaran Basilides, percaya bahwa terjadi substitusi pada saat penyaliban (yaitu Simon orang Kirenen; para sarjana Muslim terdahulu mengusulkan Yudas Iskariot – bisa dipahami karena Yudas adalah bad guy).
  4. Sama seperti QS. 4:157-158 yang percaya bahwa Yesus “diangkat” ke hadirat Allah SWT (entah pada saat penyaliban atau sebelum penyaliban), naskah Doketisme Gnostik yang bernama The Gospel of Peter juga menyatakan demikian seperti yang sudah diulas dalam tulisan sebelumnya.
  5. Sama seperti QS. 4:157-158 yang mengolok-olok ignoransi orang-orang Yahudi, The Apocalypse of Peter dan Treatise of the Great Seth juga demikian, malah dalam kedua teks Doketisme Gnostik ini dikatakan bahwa “Kristus” menertawakan kebodohan orang-orang Yahudi tersebut.
  6. Semua teks Gnostik di atas juga menyatakan bahwa orang-orang Yahudi menganggap bahwa mereka telah membunuh Yesus, padahal tidak (entah dengan merujuk kepada konsep dualisme “Yesus” dan “Kristus” atau konsep substitusi seperti yang terdapat dalam Apocalypse of Peter dan Treatise of the Great Seth).

Bukti-bukti di atas memperlihatkan kontinuitas presentasi Doketisme Gnostik dan presentasi QS. 4:157-158 mengenai penyaliban Yesus. Sebenarnya ini bukan sebuah kesimpulan idiosentrik saya sendiri. F.F. Bruce, pakar PB dan pakar studi teks-teks kuno menyatakan bahwa gema (echo) dari pengungkapan The Gospel of Peter (Injil Petrus) mengenai Yesus “diangkat” ke sorga pada saat disalibkan terdengar juga di dalam QS. 4:157-158.[4] Edwin M. Yamauchi, pakar sejarah Kekristenan mula-mula dan pakar studi teks-teks klasik, juga menyatakan:

In the sevent century Muhammad may have revived a substitutionary docetism, similiar to that held by Basilides…. Most Christian interpreters (e.g. F.F. Bruce) and Muslim commentators interpret the verse [QS. 4:157-158] as docetic understanding of the crucifixion.[5]

Saya tidak menyatakan bahwa Muhammad menganut Kristologi Doketisme. Bruce dan Yamauchi juga tidak menyatakan demikian. Qur’an karangan Muhammad mengakui kemanusiaan Yesus, namun teks-teks Doketisme Gnostik tersebut tidak. Mengenai penyaliban Yesus, teks-teks Gnostik tersebut berangkat dari konsep dualisme mengenai Yesus; Qur’an berangkat dari, salah satunya, QS. 2:154, “And say not of those who are killed in the way of Allah, ‘They are dead.’ Nay, they are living, but you perceive (it) not.”

Poin saya adalah presentasi QS. 4:157-158 dan teks-teks Doketisme Gnostik mengenai penyaliban Yesus bukan hanya mirip, melainkan sama persis pada tataran kerangka konseptualnya, walau berbeda dalam detail-detail serta titik berangkat asumptifnya.

Sekarang saya tidak lagi heran mengapa Ahmad mencantumkan QS. 4:157 persis pada awal tulisannya lalu diikuti kutipan dari ajaran Basilides dan Treatise of the Great Seth. Kedua teks ini, sebenarnya ada teks-teks lain seperti yang sudah diperlihatkan pada tulisan sebelumnya, mengkonfirmasi isi QS. 4:157. Secara historis, tepatnya adalah: QS. 4:157-158 mengkonfirmasi presentasi teks-teks Doketsime Gnostik tersebut mengenai penyaliban Yesus.

Selamat, kerangka konseptual Doketsime Gnostik “dimualafkan” menjadi Firman Allah!

[1] Kutipan ayat-ayat Qur’an dalam tulisan ini berasal dari: Muhammad Taqi-ud-Din Al-Hilali and Muhammad Mushin Khan, The Noble Qur’an: English Translation of the Meanings and Commentary (Madinah: King Fahd Complex, 1985)

[2] Untuk ulasan lain yang lebih luas mengenai diversitas tafsir di kalangan para sarjana Muslim, lih. Joseph L. Cumming, “Did Jesus Die on the Cross? The History of Reflection on the End of His Earthly Life in Sunni Tafsir Literature,” (Yale University, May 2001): 1-40; Dr. Christine Schirrmacher, “The Crucifixion of Jesus in View of Muslim Theology” Chalcedon Report No. 337 (August 1993): 24-28; Gabriel Said Reynolds, “The Muslim Jesus: Dead or Live?,” Bulletin of SOAS 72/2 (2009): 237-258; Corrie Block, The Qur’an in Christian-Muslim Dialogue: Historical and Modern Interpretations (New York: Routledge, 2014).

[3] Mahmoud Ayoub, “Towards an Islamic Christology, II: The Death of Jesus, Reality or Delusion (The Study of the Death of Jesus in the Tafsir Literature),” The Muslim World 70/2 (April 1980): 116-117.

[4] F.F. Bruce, Jesus and Christian Origins Outside the New Testament (), 93. Di sini, Bruce menulis: “The docetic note in this narrative appears in the statement that Jesus, while being crucified, ‘remained silent, as though he felt no pain’, and in the account of his death. It carefully avoids saying that he died, preferring to say that he ‘was taken up’, as though he – or at least his soul or spiritual self – was ‘assumed’ direct from the cross to the presence of God. (We shall see an echo of this idea in the Qur’an.) Then the cry of dereliction is reproduced in a form which suggests that, at that moment, his divine power left the bodily shell in which it had taken up temporary residence.”

[5] Edwin M. Yamauchi, “The Crucifixion and Docetic Christology,” Concordia Theological Quarterly, Vol. 46, No. 1 (January 1982): 14.