Masih berhubungan dengan historisitas penyaliban Yesus yang sudah saya bahas dalam sejumlah tulisan terdahulu, kali ini saya akan membuat tinjauan kritis (critical review) terhadap buku yang ditulis oleh: Louay Fatoohi, The Mystery of the Crucifixion: The Attempt to Kill Jesus in the Qur’an, New Testament, and Historical Sources (Birmingham: Luna Plena Publishing, 2008), 147 pp. Fatoohi adalah seorang sarjana kelahiran Baghdad (iraq) yang beralih dari Kekristenan kepada Islam serta berdomisili di Inggris. Ia meraih gelar Bachelor of Science in phisics dari College of Science dan Doctor of Philosophy in astronomy dari Durham University. Kelihatannya bidang kepakaran Fatoohi  tidak terlalu cocok dengan isu yang ia bahas dalam buku ini. Namun dengan memperhitungkan ketertarikannya yang sangat luas terhadap The History of the Early Christianity (terindikasi pada judul dari sejumlah buku yang sebelumnya telah ia tulis) dan menggunakan the principle of charity, saya berharap menemukan interaksi yang mendalam terhadap primary sources dari isu ini serta penarikan kesimpulan yang sound dalam buku ini.

The Mystery of the Crucifixion terdiri atas tiga bagian: Bagian pertama berbicara tentang penyaliban menurut catatan PB; bagian kedua berisi ulasan interaktif Fatoohi dengan sumber-sumber sejarah non-Kristen yang berbicara mengenai penyaliban; dan bagian ketiga memuat ulasan mengenai penyaliban Yesus menurut Quran. Ketiga bagian besar ini mengandung 12 bab pembahasan.

Secara umum, Fatoohi menolak historisitas penyaliban Yesus berdasarkan konstruksi argumen berikut:

  1. Kitab-kitab Injil memuat catatan yang kontradiktif di sekitar narasi-narasi penyaliban Yesus;
  2. Presentasi historis dalam Kitab-kitab Injil mengenai peristiwa-peristiwa spesifik di sekitar penyaliban Yesus berkontradiksi dengan sistem pengadilan Yudaisme seperti yang terdapat dalam tradisi-tradisi Rabbinik;
  3. Sumber-sumber sejarah non-Kristen mengenai penyaliban Yesus bukanlah sumber-sumber independen;
  4. Kesimpulannya, kematian Yesus disalib tidak dapat dikonfirmasi berdasarkan Kitab-kitab Injil maupun sumber-sumber sejarah non-Kristen mengenai penyaliban Yesus

Rangkaian argumen di atas terdapat dalam Bagian Pertama dan Bagian Kedua bukunya. Sementara Bagian Ketiga buku tersebut memuat rekonstruksi alternatif berdasarkan catatan Qur’an. Poin terakhir ini akan saya bahas kemudian.

Tinjauan ini akan dilakukan per bab (bukan bagian). Saya memilih cara ini agar interaksi saya tidak terkesan terlalu umum atas buku tersebut.  Khususnya dalam postingan ini saya akan berinteraksi dengan bab pertama bukunya.

Dalam bab 1 bukunya (pp. 11-31), Fatoohi mencatat empat belas poin kontradiktif dalam narasi kitab-kitab Injil di sekitar peristiwa penyaliban Yesus. Mis, apakah Yesus ditahan pada atau sebelum peristiwa Paskah; apakah Yesus diadili oleh para pemimpin Yahudi pada malam hari atau pada pagi hari; apakah Yesus ditanyai oleh Sanherdin atau oleh Imam Besar; soal perbedaan catatan mengenai jam penyaliban Yesus; soal ketidakcocokan analogi Yunus dan kematian Yesus; soal kutipan-kutipan dari PL yang tidak kelihatan cocok dengan Yesus; siapa yang pertama kali melihat Yesus pasca kebangkitan-Nya; dll.

Di samping sejumlah data yang diklaim sebagai kontradiksi di atas, Fatoohi mengakui: “There are considerable similarities between the accounts of the Gospels of the arrest, conviction, crucifixion, and resurrection of Jesus” (p. 11). Menurut Fatoohi, “It still may argued that these extra details do not constitute a problem as long as they remain compatible with other parts of the story. But there are serious contradictions between the four narratives” (p. 11) seperti yang sudah digambarkan pada paragraf di atas.

Dalam pembacaan saya, Fatoohi mengawali bukunya dengan presentasi mengenai poin-poin kontradiktif dalam the passion narratives untuk mendiskreditkan nilai kesejarahan catatan Kitab-kitab Injil mengenai penyaliban Yesus. Mungkin, Fatoohi membayangkan prosesi pengadilan modern yang percaya bahwa jika seorang saksi mata kedapatan inkonsisten atau berkontradiksi dalam kesaksiannya, maka secara umum kesaksiannya tidak kredibel. Fatoohi tidak menyatakan ini secara eksplisit, namun kesimpulan ini terimplikasi dari rangkaian argumen Fatoohi yang sudah saya kemukakan sebelumnya.

Presentasi Fatoohi dalam Bab 1 langsung membuat saya meragukan secara serius harapan saya sebelumnya bahwa saya akan mendapati presentasi data yang relevan dan penarikan kesimpulan yang sound dalam buku ini. Sebaliknya, materi-materi mengenai  poin-poin kontradiktif dalam Bab 1 adalah materi-materi yang irelevan.[1] Sebutan lain yang lebih spesifik adalah red herring.[2] Red herring karena dalam studi sejarah, orang tidak harus membuktikan mengenai adanya konsistensi di sekitar peristiwa penyaliban Yesus untuk tiba pada kesimpulan yang konfirmatif mengenai  reliabilitas catatan-catatan sejarah mengenai peristiwa tersebut.

Misalnya, para sejarahwan tidak sepakat soal penyebab kematian Aleksander Agung (Alexander the Great). Penyebabnya adalah dua sejarahwan Greco-Roman, Arrian dan Plutarch menghadirkan catatan yang berbeda soal penyebab kematian Aleksander Agung. Keduanya juga berbeda soal kronologi menjelang akhir hidup Aleksander Agung. Tetapi, para sejarahwan tetap memperlakukan tulisan Arrian dan Plutarch sebagai catatan-catatan sejarah yang reliabel (handal) mengenai kehidupan Aleksander Agung. Lagi pula, tidak ada sejarahwan mana pun yang menyangkali reliabilitas catatan Plutarch dan Arrian khususnya mengenai kematian Aleksander Agung hanya karena keduanya kontradiktif soal penyebab dan kronologi peristiwa-peristiwa menjelang kematian Aleksander Agung.[3]

Keempat Injil Kanonik sepakat bahwa Yesus memang disalibkan dan bahwa Yesus memang mati di salib. Tidak ada kontradiksi soal kedua isu historis yang spesifik ini.[4] Hal ini bahkan diakui oleh Fatoohi sendiri seperti yang saya kutip di atas. Jadi, demi argumentasi, seandainya seseorang menerima presentasi data di atas – nyatanya Fatoohi tidak mengejutkan siapa pun melalui presentasi tersebut – orang dapat tetap mempercayai historisitas penyaliban Yesus berdasarkan presentasi Kitab-kitab Injil.

Dengan cara menarik diri dari kredibilitas kesejarahan Kitab-kitab Injil mengenai penyaliban Yesus, sebenarnya Fatoohi sedang berada di pihak yang tidak dianggap serius oleh para pakar studi Yesus Sejarah (the historical Jesus). Para pakar studi Yesus Sejarah  yang paling skeptis sekalipun terhadap Kitab-kitab Injil, tetap mengafirmasi kesejarahan peristiwa penyaliban Yesus. Misalnya, Bart D. Ehrman yang sering dijadikan “kawan” oleh para apologet Muslim dalam menyerang Alkitab. Ehrman adalah pakar Kritik Teks PB, juga pakar dalam studi mengenai PB dan teks-teks ekstra kanonik. Ia terkenal dengan propagandanya mengenai kontradiksi dan diskrepansi Alkitab.[5] Namun mengenai penyaliban serta kematian Yesus di salib, Ehrman menyatakan bahwa penyaliban serta kematian Yesus disalib tidak mungkin merupakan rekayasa para penulis Injil. James D.G. Dunn, pakar studi PB dan studi Yesus Sejarah dari Durham University (almamater Fatoohi sendiri) juga menandaskan historisitas penyaliban Yesus. Reza Aslan, seorang Muslim asal Iran yang pada tahun 2013 mempublikasikan buku berjudul: Zealot, The Life and Times of Jesus of Nazareth, menegaskan kesimpulan serupa. Para pakar lainnya juga berkesimpulan demikian seperti yang sudah saya bahas dalam sebuah tulisan lain.

Jadi, jelas bahwa Fatoohi mengawali Bab 1 dengan materi-materi  serta tujuan presentasi yang red herring.  Maka seharusnya evaluasi ini sudah bisa diakhiri di sini!

Meski begitu, saya ingin memberikan sejumlah catatan penting untuk materi-materi red herring yang diangkat oleh Fatoohi dalam Bab 1. Ada beberapa isu spesifik lain yang memperlihatkan ketidakpahaman Fatoohi terhadap kultur dan tradisi Yahudi pada masa itu (semisal, perbedaan penyebutan jam penyaliban Yesus yang ia klaim sebagai kontradiksi), namun saya hanya akan fokus pada dua isu mayor.

Pertama, Fatoohi merasa sulit memahami mengapa penulis Injil yang satu melaporkan peristiwa yang tidak dilaporkan penulis Injil yang lain. Lalu ia berkesimpulan bahwa itu terjadi karena “…he was either unaware them or did not accept them as authentic” (p. 11). Ini jelas adalah either/or fallacy! Fatoohi  mungkin perlu diingatkan bahwa Craig A. Evans telah membantah cara serta asumsi seperti ini yang digunakan oleh Bart D. Ehrman dalam perdebatan mereka mengenai kehandalan historis Kitab-kitab Injil. Evans mengingatkan bahwa para penulis Injil adalah para mathetai (learners). Mereka tidak boleh dipandang semata-mata sebagai reciters (para pengutip). Dalam konteks penulisan sejarah pada waktu itu, sebagai pakar sejarah Ehrman tidak menyangkali ini, orang dapat mengedit, memperluas, meringkas, memparafrase perkataan atau peristiwa-peristiwa tertentu tanpa harus dituduh “mengubah” dalam pengertian negatifnya. Di samping itu, sama seperti para penulis biografi Greco-Roman pada waktu itu, para penulis Injil juga bukan sekadar melaporkan sejarah (biografi) Yesus seperti seseorang memasang sebuah pas  foto (photograph). Mereka sedang menggambarkan potret yang berbeda (sudut pandang yang berbeda) mengenai Yesus.[6] Jadi, tidak benar bahwa terdapat “more than one Jesus in any Gospel” (p.  12).[7] Yang benar adalah terdapat empat potret yang berbeda mengenai Yesus yang sama.[8]  Fatoohi mendapatkan kontradiksi-kontradiksinya, mayoritas berdasarkan kesalahpahamannya mengenai genre Kitab-kitab Injil. Ingat, “meaning is genre-dependent”![9]

Kedua, seperti argumen saya di atas, saya percaya bahwa materi-materi Bab 1 red herring. Namun, sebagai seorang scholar, jika ia hendak membahas isu tersebut, sudah merupakan sebuah kewajiban baginya untuk berinteraksi dengan para pakar yang berbicara mengenai kehandalan Kitab-kitab Injil entah yang setuju atau tidak setuju. Nyatanya, berkaitan dengan isu red herring ini, pada daftar referensinya ia hanya berinteraksi dengan tulisan F.F. Bruce, The New Testament Documents: Are They Reliable? (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003) dan Misquoting Jesus-nya Bart D. Ehrman.[10] Bukunya Bruce sudah terlalu “tua” (terbit pertama kali pada tahun 1943). Ia tidak berinteraksi dengan riset terbaru dari para pakar semisal, dengan: Craig L. Blomberg,The Historical Relibality of John’s Gospel: Issues and Commentary (Downers Grove, Illinois: IVP, 2001); Craig L. Blomberg, The Historical Reliability of the Gospels (Downers Grove, Illinois: IVP, 2007); Richard R. Bauckham, Jesus and the Eyewitness: The Gospels as Eyewitness Testimony (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2006); James D.G. Dunn, Jesus Remembered (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003). Selain itu, sebenarnya sudah ada sejumlah buku yang membahas semua kesulitan yang diangkat oleh Fatoohi maupun yang lainnya, mis. Kaiser, et al, Hard Sayings in the Bible (sudah dirujuk di catatan kaki); Gleason L. Archer, New International Encyclopedia of Bible Difficulties (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2011).

Ringkasnya, sekali lagi, Fatoohi mengawali presentasinya dengan sebuah bab red herring yang di dalamnya ia kemas atas riset interaktif kesarjanaan yang tidak memadai dan juga kesalahpahaman atas genre Kitab-kitab Injil. Awal yang sangat buruk!

[1] Pendekatan red herring seperti ini juga digunakan oleh Shabir Ally dalam sejumlah perdebatannya dengan para apologet Kristen.

[2] Mengenai red herring fallacy, lih. T. Edward Damer, Attacking Faulty Reasoning: A Practical Guide to Fallacy-Free Arguments (6th ed.; Belmon, CA.: Wadsworth, 2009), 204, 209. Di sini Damer menyatakan bahwa sesat pikir red herring terjadi ketika seseorang “menarik diskusi dari isu yang sebenarnya kepada isu sampingan”.

[3] Lih. James Romm, “Who Killed Alexander the Great?,” History Today 62/4 (April 2012): 30-36.

[4] Yesus mati disalibkan dan Yesus mati di salib adalah dua isu terkait namun harus dipisahkan. Karena ada yang percaya bahwa Yesus memang disalibkan namun tidak mati karena penyaliban itu, seperti yang sudah saya bahas mengenai tulisan-tulisan Doketisme Gnostik, juga semisal yang diyakini oleh Shabir Ally (seorang apologet Muslim).

[5] Mis. Bart D. Ehrman, Jesus, Interupted: Revealing the Hidden Contradiction in the Bible (And Why We Don’t Know About Them) (New York: HarperOne, 2009); Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why (San Francisco: Harper San Francisco, 2005).

[6] Walter C. Kaiser, Peter H. Davids, F.F. Bruce, and Manfred Bauch, Hard Sayings of the Bible (Downers Grove, Illinois: IVP, 1996), 84, “…as was the case in ancient biography, the Gospels are not photographs of Jesus but potraits. In a potrait, it is important to bring out an accurate likeness, but the painter can also put in other things he or she sees in the person; perhaps some feature of their character will be brought out or some deed they did or office they held.”

[7] Di sini ia mengutip dari tulisannya sendiri: Louay Fatoohy, The Mystery of the Historical Jesus: The Messiah in the Qur’an, the Bible, and Historical Sources (Birmingham: Luna Plena Publishing, 2007), 22.

[8] Kitab-kitab Inil membentuk sebuah genre unik dalam konteks Greco-Roman yang bisa disebut sebagai “biografi teologis” (Theological Biographies). Jadi ada unsur sejarahnya (biografi), namun ada motif imannya (teologi). Mengenai hal ini, lih. Craig L. Blomberg, Jesus and the Gospels: An Introduction and Survey (Nashville, Tennessee: B&H Publishing, 2009), 121-122.

[9] Grant R. Osborne, The Hermeneutical Spiral (Downers Grove, Illinois: IVP Academic, 2006), 6.

[10] Interaksi dengan Misquoting Jesus-nya Ehrman merupakan ketidakrelevanan sumber. Buku ini adalah buku dalam bidang studi Kritik Tekstual (Textual Criticism) bukan bidang studi sejarah. Sayangnya ia tidak berinteraksi dengan buku Barth Erman yang lain yang sangat relevan dengan isu ini yang di dalamnya justru Ehrman menandaskan historisitas penyaliban Yesus: The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings (2nd ed.; New York: Oxford University Press, 2000). Mengenai isu kontradiksi dalam Kitab-kitab Injil, jika ia ingin mendapatkan dukungan, seharusnya ia merujuk kepada tulisan Ehrman yang sudah saya rujuk di atas (Jesus, Interupted), bukan merujuk kepada sebuah buku yang tidak relevan semisal Misquoting Jesus!