Masih dalam rubrik propaganda kontradiksi di sekitar the passion narratives, sebuah propaganda red herring,[1] Bab 3 dari “The Mystery of the Crucifixion” membahas dua isu penting dalam studi mengenai kematian Yesus di salib, yaitu siapa yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus dan mengapa Yesus disalibkan (pp. 39-52).

Fatoohi (p. 48) tampaknya mengikuti E.P. Sanders bahwa penyebab paling dekat yang memberi alasan mengapa Yesus dieksekusi adalah prediksi Yesus mengenai kehancuran Bait Suci (Mrk. 13:1-2; Mat. 24:1-2; Luk. 21:5-6) yang dijadikan salah satu tuduhan dalam pengadilan terhadap Yesus (Mrk. 14:58; Mat. 26:61).

Saya tidak akan mengomentari proposal di atas lebih lanjut. Mengenai hal ini, saya hanya ingin menyatakan saya sepakat dengan Fatoohi bahwa kiprah Yesus tidak “berbau” politis dan militer (pp. 45-48). Maka, kita tidak dapat menerima “zombie claim[2] yang dibangkitkan kembali oleh Reza Aslan (2013) yang melihat pelayanan Yesus dalam kacamata perjuangan Zelotisme abad pertama.[3]

Juga, saya sepakat dengan alarm dari Fatoohi (p. 40, 42, 51) mengenai bahaya anti-Semitisme atas pembacaaan terhadap potret para penulis Injil mengenai peran orang-orang Yahudi di sekitar penyaliban dan kematian Yesus. Sikap rasis semacam ini, pasca penulisan Kitab-kitab Injil, memang ada! Tetapi adalah klaim yang lain dan tidak benar bahwa pada dirinya sendiri potret tersebut dalam Kitab-kitab Injil memang anti-Yudaisme.[4] Craig A. Evans sebenarnya sudah mengingatkan mengenai hal ini. Ketika Evans membahas mengenai historisitas kematian Yesus, ia menyelipkan sebuah peringatan serius, sebagai berikut:

But before we turn to Jesus’ trial before Pilate, one thing needs to be made crystal clear: the Jewish people should never be blamed for the condemnation and death of Jesus. Not only is such an accusation bad theology, it is bad history. Historically speaking, Jesus was condemned by a very small number of influential Jewish men. He was not condemned by the people as a whole. Even those who cried out for his crucifixion later in the day were but a relatively small number. Theologically speaking,]esus died for the sins of the whole human race. In that sense we all sent him to the cross. No one particular people should be blamed.[5]

Fatoohi pasti menolak argumen Evans pada bagian “theological speaking”nya. Tetapi, Fatoohi tidak dapat tidak setuju dengan argumen historis Evans di atas![6] Jadi, bersikap rasis terhadap orang-orang Yahudi dan mengklaim bahwa Kitab-kitab Injil mengandung benih-benih rasisme itu, menurut Evans, adalah pembacaan dan pemahaman sejarah yang buruk!

Kembali ke inti bab 3-nya Fatoohi. Setelah menghabiskan banyak energi untuk bergulat soal siapa yang harus disalahkan (orang-orang Yahudi atau pihak Romawi), Fatoohi menyatakan,

…the case for the historicity of the crucifixion stands almost entirely on the textual evidence of the Gospels. If the Gospels accounts are rejected to this extent, then the question that would immediately present itself is why believe that Jesus was crucified in the first place! If all those intricate and lengthy details in the Gospel accounts of the crucifixion are wrong, then what argument can be made for the historicity of the event anyway? (p. 51-52).

Ada beberapa komentar penting untuk shortcut conclusion di atas. Pertama, tidak benar bahwa historisitas penyaliban Yesus hampir seluruhnya berdasarkan pengisahan para penulis Injil semata. Ada bukti-bukti tekstual non-Kristen yang bisa dirujuk terlepas dari bagaimana Fatoohi menerapkan metode red herring-nya untuk membaca sumber-sumber itu, sama seperti yang ia terapkan untuk menilai reliabilitas presentasi para penulis Injil mengenai penyaliban Yesus.[7]

Kedua, sudah saya tegaskan dalam evaluasi Bab 1 bahwa tidak ada kontradiksi dalam presentasi para penulis Injil mengenai penyaliban dan kematian Yesus di salib. Ini adalah stasis-nya, dan Fatoohi menolak bukti-bukti meyakinkan soal isu diskusi ini dengan secara membabi-buta menyerang di sana-sini di sekitar stasis dari diskusi ini.[8] Apa yang dilakukan Fatoohi sejauh ini bisa diibaratkan begini. Seharusnya ada pertarungan di balik bukit sebelah sini. Dan di balik bukit sebelah sini, pasukan musuh sedang menanti karena memang di sinilah medan laga yang sebenarnya. Fatoohi membawa pasukannya dan membakar hutan di balik bukit di sebelah sana, sambil berpikir bahwa jika musuh tidak datang menyamperi dia di balik bukit di sebelah sana, maka ia sudah dapat mengklaim kemenangan. Setelah membakar hutan di sebelah sana tanpa berhadapan dengan satu musuh pun, ia lalu mengibarkan bendera kemenangan sambil berkata: “Mengapa harus percaya ada musuh di sebelah sana, buktinya saya membakar hutan di sebelah sini dan tidak satu pun yang datang menyamperi saya?” Sementara itu pasukan musuh di medan laga yang sebenarnya bertanya-tanya: “Mengapa sibuk membakar hutan di sebelah sana dan tidak menyeberang ke medan laga yang sebenarnya?”

Fatoohi sibuk mengurusi kontradiksi-kontradiksi yang sebenarnya di medan “laga” yang lain dapat dijawab, namun melalaikan pengamatan sederhana bahwa mengenai penyaliban dan kematian Yesus di salib, tidak ada secuil pun kontradiksi sama sekali! Satu-satunya kontradiksi adalah ketiadaan kontradiksi mengenai penyaliban dan kematian Yesus dalam Kitab-kitab Injil dan sumber-sumber sejarah non-Kristen, yang berkontradiksi dengan QS. 4:157-158!

Ketiga, karena tidak ada kontradiksi pada poin kedua di atas, dan juga karena Kitab-kitab Injil adalah sumber-sumber terdekat secara kronologis dengan peristiwa penyaliban itu sendiri, maka terlepas dari ketidaksetujuan teologis Fatoohi terhadap Kitab-kitab Injil, ia harus memberikan kredit kepada Kitab-kitab Injil – setidaknya inilah yang dilakukan ketika orang masuk ke dalam ranah studi sejarah, sesuatu yang tidak dilakukan Fatoohi!

Dan keempat, sejauh ini tidak satu pun kriteria-kriteria yang biasanya digunakan para pakar studi Yesus Sejarah[9] digunakan oleh Fatoohi. Semua yang ia nilai sebagai “salah” dan “kontradiktif”, selain red herring, juga merupakan hasil dari misreading terhadap Kitab-kitab Inil termasuk menggunakan teks-teks pembanding yang anakronis (Misnah dalam Bab 2). Saya memberi dua contoh untuk poin ini, yang satunya soal kriteria penilaian historisitas peristiwa, dan yang satunya lagi soal kesalahan pembacaan Fatoohi terhadap presentasi Kitab-kitab Injil.

Karena Bart D. Ehrman tampaknya lebih digemari Fatoohi, maka saya akan mengambil contoh dari Ehrman soal kriteria studi sejarah mengenai Yesus. Ehrman menyatakan, “Christians who wanted to proclaim Jesus as messiah would not have invented the notion that he was crucified because his crucifixion created such a scandal.”[10] Di sini, Ehrman tiba pada kesimpulan bahwa penyaliban dan kematian Yesus di salib tidak mungkin adalah rekayasa para murid Yesus karena ia menerapkan kriteria “rasa malu” (criteria of embarrassment). Kriteria yang sama juga dapat diterapkan untuk penguburan Yesus. Byron R. McCane menulis sebuah esai yang sangat gamblang menjelaskan tentang historisitas penguburan Yesus. Ada sejumlah detail ulasan historis McCane yang kontras dengan penjelasan Fatoohi terhadap sejumlah teks dalam the Passion Narratives. Namun saya fokus hanya pada argumennya mengenai penguburan Yesus. McCane membangun beberapa argumen historis berikut ini:[11]

  1. Normalnya, orang-orang yang disalibkan oleh pihak Romawi tidak dikuburkan. Mereka dibiarkan menggantung lalu dimakan oleh binatang-binatang buas demi deterrent effect-nya. Di sini, pihak Romawi sedang mempertontonkan kekuasaan mereka kepada publik. Artinya, ini adalah prosesi penyaliban yang diinginkan oleh pihak Romawi.
  2. The Passion Narratives mengindikasikan Yesus tidak memiliki “masalah” dengan pihak Romawi, dan penyaliban Yesus itu bukan kehendak pemerintah Romawi (Pilatus). Karena itulah, orang semacam Yusuf dari Arimatea memiliki alasan kuat untuk meminta jasad Yesus karena secara politis, dengan menguburkan jasad Yesus, itu menjadi aksi simbolik bahwa penyaliban Yesus tidak diinginkan oleh pihak Romawi. Ini menjelaskan mengapa Pilatus setuju memberikan mayat Yesus untuk dikuburkan.
  3. Di sisi lain, orang-orang Yahudi sendiri memiliki burial customs yang menjelaskan mengapa Yusuf dari Arimatea harus meminta jasad Yesus. Menurut burial tradition mereka, bahkan para kriminal pun harus dikuburkan. Penguburan adalah suatu keharusan bagi mereka.
  4. Tetapi, mereka membedakan antara honorable burial dan dishonorable burial. Orang-orang yang dikuburkan secara layak (terhormat) biasanya dilakukan dengan mengandung sejumlah elemen kunci: perkabungan dan penguburan di kuburan keluarga lalu nanti akan di adakah penguburan kedua (second burial) setelah satu tahun kemudian.
  5. Sementara itu, dishonorable burial atau burial in shame dipraktikkan bagi mereka yang dianggap kriminal atau pelanggar tradisi/hukum Yahudi oleh pihak otoritas Yahudi, tanpa mengandung unsur-unsur kunci di atas. Maka, McCane menyatakan, “Since at least a few of the Jewish leaders had been involved in the condemnation of Jesus, they had an obligation to bury him in shame. But they were not necessarily responsible for Pilate’s other victims” (p. 269).

McCane menyimpulkan,

The shame of Jesus’ burial is not only consistent with the best evidence, but can also help to account for an historical fact which has long been puzzling to historians of early Christianity: why did the primitive church not venerate the tomb of Jesus?…the earliest hints of Christian veneration of Jesus’ tomb do not surface until the early fourth century CE. It is a striking fact-and not at all unthinkable-that the tomb of Jesus was not venerated until it was no longer remembered as a place of shame.[12]

Jadi, dengan menggunakan criteria of embarrassment, para penulis Injil tidak akan mungkin merekayasa pengisahan mengenai kematian dan penguburan Yesus dalam keseluruhan konteksnya.[13]

Kembali ke Ehrman. Ehrman bahkan lebih eksplisit lagi menegaskan historisitas penyaliban Yesus, demikian:

The most certain element of the tradition about Jesus is that he was crucified on the orders of the Roman prefect of Judea, Pontius Pilate. The crucifixion is independently attested in a wide array of sources and is not the sort of thing that believers would want to make up about the person proclaimed to be the powerful Son of God.[14]

Kesimpulan afirmatif yang eksplisit di atas, selain “kriteria rasa malu”, juga lahir dari kriteria yang lain, bernama “criteria of independent attestation” juga “criteria of multiple attestation”. Pertanyaannya adalah atas kriteria studi sejarah yang mana Fatoohi tiba pada kesimpulan negatif di atas? Tidak ada! Menariknya, pertanyaan yang sama juga harus diterapkan untuk menilai intonasi resistensif itu dalam QS. 4:157-158. Saya akan mengajukan pertanyaan terakhir ini lagi nanti dalam ulasan mengenai Bagian Ketiga buku Fatoohi.

Di atas soal kriteria, sekarang soal kesalahan pembacaan Fatoohi terhadap Kitab-kitab Injil. Ia mengutip dari Yohanes18:31, “‘Kata Pilatus kepada mereka: ‘Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu.’ Kata orang-orang Yahudi itu: ‘Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.’” Lalu ia berkomentar demikian:

Amazingly, the Roman prefect, who had been governing the Jews for at least 3-4 years at the time of Jesus’ supposed crucifixion, is portrayed as being ignorant of the fact that the Sanhedrin did not have the power to impose capital punishment (p. 49).

Membaca komentar di atas, saya membayangkan Fatoohi merasa mendapat jackpot (perhatikan, “Amazingly…”). Padahal, ada alasan yang kuat bahwa kata-kata Pilatus di atas dapat dibaca dengan cara lain yang sama sekali tidak perlu membuat Fatoohi terheran-heran. Misalnya George R. Beasly-Muray membaca ayat itu demikian:

Pilate’s reply, accordingly, was both ironic and humiliating for the Jewish leaders. If by their answer they wished to give the impression that Jesus was offending against their laws, let them judge him according to those laws. If however they wanted to bring about his death they must speak up and state their case clearly, for, as they themselves acknowledged, they had no power to carry out the death penalty; that authority lay in the hands of the governor alone.[15]

Fatoohi tidak menerapkan the principle charity, sebuah prinsip mendasar dalam berargumentasi dimana kita wajib mengasumsikan aspek terkuat dari posisi lawan diskusi. Dan saya kira, ada alasan yang baik untuk menganggap pembacaan Beasly-Muray lebih berbobot ketimbang pembacaan Fatoohy. Mengasumsikan bahwa Yohanes menaruh kata-kata yang salah ke dalam mulut Pilatus merupakan asumsi yang tidak disarankan oleh: a) latar belakang keyahudian Yohanes; b) dominasi kekuasaan Romawi pada masa penulisan Injil ini; c) walau ditulis mendekati akhir abad pertama, namun secara historis ini bisa dianggap sangat dekat dengan peristiwa yang dibicarakannya; dan d) Yohanes sendiri adalah salah murid Yesus yang ikut mengalami sendiri peristiwa-peristiwa di sekitar penyaliban dan kematian Yesus. Ketiadaan penggunaan the principle of charity sangat mungkin memimpin seseorang melakukan straw man fallacy. Dan for sure, Fatoohi memang melontarkan sebuah kesimpulan straw man atas sejumlah alasan di atas!

Lagi pula, cara pembacaan terhadap Kitab-kitab Injil dengan menggunakan lensa “perkembangan” dengan maksud pembumbuan untuk menolak historisitas hasil pengembangan itu, merupakan cara pembacaan yang berbahaya bagi Fatoohi sendiri.[16] Saya akan menggunakan reductio ad absurdum untuk memperlihatkan poin ini. Ia mengutip dari Markus 15:10-15, setelah itu ia menyatakan,

Matthew develops this story further to emphasize Pilate’s innocence and the Jew’s complete responsibility for the crucifixion. He introduces Pilate’s wife in the plot to stress her husband’s innocence, makes Pilate declare that he is innocent of Jesus’ blood and, more crucially, makes the Jews accept with their children the responsibiity for their execution (p. 39-40).

Di atas, Fatoohi menerima Markan priority dan baginya, unsur-unsur tambahan dalam tulisan Matius, merupakan unsur-unsur pembumbuan yang tidak benar secara historis. Pembumbuan itu dilakukan hanya demi agenda teologis Matius sendiri! Sekmanya adalah: setiap unsur tambahan dalam tulisan-tulisan yang kemudian, merupakan pembumbuan dan tidak benar secara historis. Demi argumen, jika kita mengasumsikan Fatoohi benar dan kita terapkan skema itu untuk bagian yang lain. Misalnya, Injil Markus tidak mengatakan apa-apa soal kelahiran Yesus dari seorang perawan dan bahkan tidak mengatakan apa-apa mengenai kelahiran Yesus. Di kemudian hari, kita baru mendapati catatan itu dalam Injil Matius dan Injil Lukas. Menggunakan lensa Fatoohi, seharusnya catatan Matius dan Lukas mengenai kelahiran Yesus merupakan “pengembangan” yang membumbui Injil Markus. Maka, for the sake of concistency, Fatoohi harus menolak historisitas kelahiran dari anak dara (virgin birth) bahkan historisitas kelahiran Yesus sama sekali – sesuatu yang pasti tidak akan pernah dia lakukan. Jika ia melakukan itu, maka ia bukan lagi seorang Muslim!

Bahkan jika Fatoohi menolak reductio ad absurdum di atas dengan menyatakan bahwa Matius dan Lukas tidak menggunakan Markus sebagai sumber untuk narasi kelahiran Yesus, skema metodologis Fatoohi tetap kelihatan dalam narasi itu: apa yang tidak ada dalam Markus, ada dalam tulisan Matius dan Lukas di kemudian hari. Jadi keharusan menggunakan Markus sebagai sumber lalu terdapat unsur tambahan dalam tulisan-tulisan yang belakang baru disebut pengembangan, merupakan special pleading argument![17]

Saya kira, tidak ada alternatif lain untuk menjelaskan posisi Fatoohi selain kesimpulan bahwa karena QS. 4:157-158 menyatakan bahwa Yesus tidak disalib dan mati melalui penyaliban itu, maka semua data historis sebelum Alquran yang berbicara sebaliknya harus ditolak. Sesuatu yang tidak akan dilakukan sejarahwan mana pun![18]?

[1] Lih. evaluasi saya terhadap Bab 1 dan Bab 2.

[2] Istilah zombie claim di atas berasal dari profesor Larry W. Hurtado ketika meresponsi klaim yang terdapat dalam buku Aslan.

[3] Reza Aslan, Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth (New York: Random House, 2013). Aslan membangkitkan kembali sebuah klaim usang yang sudah muncul pada tahun 1960-an oleh: Samuel G.F. Brandon, Jesus and the Zealots: A Study of the Political Factor in Primitive Christianity (Manchester: Manchester University Press, 1967). Sebenarnya Brandon hanya mempopularkan saja klaim yang sebelumnya telah dilontarkan oleh Robert Eisler dan Joseph Klausner.

[4] Pada beberapa halaman bukunya yang saya rujuk di atas, Fatoohi secara umum menyatakan bahwa presentasi para penulis Injil mengenai peran sentral orang-orang Yahudi dalam penyaliban Yesus menyebabkan sejumlah pihak menuduh Kitab-kitab Injil mengandung anti-Yudaisme. Fatoohi sendiri memberi kesan bahwa ia melihat hal itu di dalam presentasi para penulis Injil: “Surely, the Christian sources’ incrimination of the Jews and exculpation of Pilate of Jesus’ crucifixion fueled Christian anti-Judaism for a long time” (p. 51).

[5] Craig A. Evans, “The Shout of Death,” in Troy A. Miller (ed.), Jesus, The Final Days: What Really Happened (Louisville, Kentucky: Westminster John Knox, 2008), 19.

[6] Saya bisa menambahkan beberapa data observatif: a) para rasul sendiri adalah orang-orang Yahudi; dan b) para pemimpin Yahudi sendiri tidak seluruhnya bersikap antipatik terhadap Yesus, mis. Nikodemus (Yoh. 3:1-21). Bahkan di kemudian hari, ketika Yusuf dari Arimatea sudah mendapatkan jenasah Yesus atas ijin dari Pilatus, Nikodemus datang membawa campuran minyak mur dan minyak gaharu untuk meminyaki jenasah Yesus (Yoh. 19:38-40). Yusuf dari Arimatea sendiri adalah salah seorang anggota Sanhedrin.

[7] Fatoohi membahas bukti-bukti tersebut dalam Bagian Kedua bukunya. Akan saya bahas nanti.

[8] Stasis adalah isu spesifik yang didisuksikan atau yang dipersoalkan.

[9] Mengenai kriteria-kriteria itu, lih. Dale C. Allison, Jr., “How to Marginalize the Traditional Criteria of Authenticity,” in Tom Holmen and Stanley E. Porter (eds.), Handbook for the Study of the Historical Jesus: Volume 1: How to Study the Historical Jesus (Leiden: Brill, 2011), 3-10; Stanley E. Porter, “The Criteria of Autethicity,” in Handbook for the Study of the Historical Jesus: Volume 1: How to Study the Historical Jesus, 695-714.

Secara umum, Bagian I Volume 1 dari buku ini membahas “how-to” dari studi mengenai Yesus Sejarah. Tulisan-tulisan lain dari sejumlah pakar dalam Volume 1 ini relevan untuk dijadikan rujukan di sini, mis. tulisan dari: James H. Charlesworth mengenai “The Historical Jesus: How to Ask Questions and Remain Inquisitivie”; Bruce D. Chilton mengenai “Method in a Critical Study of Jesus”; John Dominic Crossan mengenai “Context and Text in Historical Jesus Methodology”; James D.G. Dunn mengenai “Remembering Jesus: How to the Quest of the Historical Jesus Lost Its Way”; Richard A. Horsley mengenai “Jesus-in-Context: A Relational Approach”; John S. Kloppenborg mengenai “Sources, Methods and Discursive Locations in the Study of the Historical Jesus”; dan John P. Meir mengenai “Basic Methodology in the Quest for the Historical Jesus”.

[10] Bart D. Ehrman, The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings (2nd ed.; New York: Oxford University Press, 2000), 205.

[11] Diringkas dari: Byron R. McCane, “‘Where No One Had Yet Been Laid’: The Shame of Jesus’ Burial,” in Craig A. Evans (ed.), The Historical Jesus: Critical Concepts in Religious Studies, Volume III: Jesus’ Mission, Death, and Resurrection (London and New York: Routledge, 2004), 253-271.

[12] McCane, “‘Where No One Had Yet Been Laid’: The Shame of Jesus’ Burial,” 268.

[13] Tidak heran, di kemudian hari, The Gospel of Peter berusaha “menutupi” aspek dishonorable burial  Yesus dengan menambahkan elemen-elemen kunci di atas: Yesus dikuburkan di kuburan keluarga, dan sebelumnya Yesus diratapi atau dikabungi terlebih dahulu! Lih. McCane, “‘Where No One Had Yet Been Laid’: The Shame of Jesus’ Burial,” 265.

[14] Ehrman, The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings, 233.

[15] George R. Beasley-Murray, John (Software version of WBC Vol. 36; Dallas, Texas: Word Books, 1998).

[16] Cara pembacaan seperti ini juga digunakan oleh Shabir Ally dalam sejumlah perdebatannya dengan para apologet Kristen.

[17] Bnd. pernyataan keheranan diikuti kesimpulan either/or Fatoohi dalam Bab 1 yang sudah saya ulas.

[18] Kesimpulan tersebut akan menjadi semakin jelas dalam pembahasannya mengenai sumber-sumber non-Kristen (Bagian Kedua) dan presentasi Alquran mengenai penyaliban Yesus (Bagian Ketiga).