Untuk tahun penyaliban Yesus, dalam Bab 4 (p. 53-55) Fatoohi percaya bahwa peristiwa itu terjadi antara tahun 26 M – 36 M. Di dalam bab ini pun Fatoohi mengulangi klaim mengenai kontradiksi dan ketidaktepatan historis di dalam Kitab-kitab Injil. Ia menulis,

Because of the impreciseness and contradictions of the Gospel accounts of Jesus’ birth date and how long he live, all that can be said is that the Gospels imply that Jesus was killed during Pilate’s prefectship of Judea, which lasted from 26 to 36 CE (p. 53).

Tanpa perlu mempersoalkan ketepatan rekonstrukis Fatoohi mengenai tahun penyaliban Yesus, pernyataan di atas menjadi menarik bagi saya, karena agenda utama Fatoohi dalam memperlihatkan semua yang ia klaim sebagai kontradiksi di dalam Kitab-kitab Injil, dimaksudkan untuk menolak historisitas penyaliban Yesus. Jadi, dengan memperlihatkan kontradiksi-kontradiksi di sekitar narasi kelahiran Yesus dalam Injil Matius dan Injil Lukas, ia bermaksud memperlihatkan bahwa tahun penyaliban Yesus tidak dapat dipastikan, dan karena itu menurut agenda utamanya, Yesus tidak disalibkan dan tidak mati karena penyaliban itu.

Jika Fatoohi konsisten dengan argumen di atas, maka sekali lagi seperti yang sudah saya kemukakan dalam evaluasi Bab 3, Fatoohi harus menolak historisitas kelahiran Yesus bahkan harus menolak bahwa Yesus lahir dari seorang perawan (virgin birth). Menurut argumentasi Fatoohi, narasi-narasi di sekitar kelahiran Yesus berkontradiksi satu sama lain, karena itu kelahiran Yesus tidak dapat dipastikan dan bahkan bukan merupakan peristiwa historis (!). Sekali lagi, for the sake of consistency, Fatoohi harus menerima kesimpulan ini menurut baris-baris argumentasinya sendiri. Tetapi ia tidak akan menerima kesimpulan ini karena jika ia menerimanya, ia bukan lagi seorang Muslim. Dan karena itu pula saya sudah bisa mengantisipasi bahwa Fatoohi akan melakukan special pleading argument di sini!

Historisitas penyaliban Yesus tidak dapat ditolak hanya dengan memperlihatkan kontradiksi-kontradiksi mengenai detail-detail di sekitar narasi penyaliban Yesus. Melakukan demikian, sekali lagi dan crystal clear, merupakan argumentasi red herring – hal yang dilakukan Fatoohi sejauh ini!