Saya sedang menyiapkan sebuah tulisan responsif yang agak panjang mengenai Bab 4-5 dari buku Bart D. Ehrman yang terbaru, berjudul: How Jesus Became God: The Exaltation of a Jewish Preacher from Galilee (New York: HarperCollins, 2014). Dalam Bab 4, Ehrman menolak tradisi penguburan Yesus oleh Yusuf dari Arimatea, konsekuensinya ia juga menolak tradisi “kubur kosong” (the empty tomb). Bagi Ehrman, tradisi mengenai Yusuf dari Arimatea adalah rekayasa, Yesus tidak dikuburkan karena umumnya orang-orang yang disalibkan oleh pihak Romawi tidak diturunkan dari salib, tetapi dibiarkan menggantung di situ lalu menjadi santapan binatang-binatang buas. To be fair, Ehrman tidak mengikuti John Dominic Crossan yang percaya bahwa jasad Yesus kemungkinan dimakan oleh anjing-anjing. Ehrman hanya menyatakan kita tidak mengetahui secara historis apa yang terjadi dengan jasad Yesus namun yang pasti, menurut kebiasaan di atas, jasad Yesus tidak diturunkan dari salib itu.

Lalu, Ehrman mendiskusikan tulisan Philo Judaeus yang di dalamnya terdapat sebuah kekecualian di mana orang-orang yang disalibkan diturunkan dari salib untuk diserahkan kepada keluarga mereka guna dikuburkan. Saya akan mengutip tulisan Philo yang dimaksudkan Ehrman secara lengkap di bawah ini:

(81) I omit to mention, that even if they had committed the most countless iniquities, nevertheless the governor ought, out of respect for the season, to have delayed their punishment; for with all rulers, who govern any state on constitutional principles, and who do not seek to acquire a character for audacity, but who do really honour their benefactors, it is the custom to punish no one, even of those who have been lawfully condemned, until the famous festival and assembly, in honour of the birthday of the illustrious emperor, has passed. (82) But he committed this violation of the laws at the very season of this festival, and punished men who had done no wrong; though certainly, if he ever determined to punish them, he ought to have done so at a subsequent time; but he hastened, and would admit of no delay, by reason of his eagerness to please the multitude who was opposed to them, thinking that in this way he should be able, more easily, to gain them over to the objects which he had in view. (83) I have known instances before now of men who had been crucified when this festival and holiday was at hand, being taken down and given up to their relations, in order to receive the honours of sepulture, and to enjoy such observances as are due to the dead; for it used to be considered, that even the dead ought to derive some enjoyment from the natal festival of a good emperor, and also that the sacred character of the festival ought to be regarded.[1]

Saya setuju dengan Ehrman bahwa konteks tulisan Philo di atas penting untuk diperhatikan.[2] Menurut Philo, pada momen perayaan ulang tahun kaisar, orang-orang yang disalibkan itu diturunkan dari salib lalu diserahkan kepada keluarga mereka untuk dikuburkan.

Tetapi, saya tidak setuju dengan Ehrman ketika ia menyimpulkan bahwa selain dari konteks ini, “…we have no record at all – none – of governors making exceptions in any case such as that.” 

Mari kita perhatikan tulisan dari Flavius Josephus, berikut ini:

(420) and when I was sent by Titus Caesar with Cerealius, and a thousand horsemen, to a certain village called Thecoa, in order to know whether it were a place fit for a camp, as I came back, I saw many captives crucified; and remembered three of them as my former acquaintance. I was very sorry at this in my mind, and went with tears in my eyes to Titus, and told him of them; (421) so he immediately commanded them to be taken down, and to have the greatest care taken of them, in order to their recovery; yet two of them died under the physician’s hands, while the third recovered.[3]

Tulisan Yosefus di atas menarik karena memberikan konteks yang hampir paralel dengan kasus penyaliban Yesus. Konteksnya bukan konteks perayaan ulang tahun kaisar, melainkan permintaan personal Yosefus kepada Titus bagi ketiga orang sahabatnya yang disalibkan. Selain itu, mirip dengan permintaan personal Yosefus di atas, demikian juga permintaan Yusuf dari Arimatea kepada Pilatus untuk menurunkan jasad Yesus dari salib itu lalu menguburkannya.

Tetapi, tulisan Yosefus belum membantah kesimpulan Ehrman secara persis di atas karena menurut Ehrman tidak ada catatan mengenai para gubernur wilayah Romawi yang mengijinkan para korban penyaliban untuk dikuburkan. Karena itu, mari kita perhatikan tulisan Marcus Tullius Cicero, berikut ini:

The punishments of Roman citizens are driving him mad, some of whom he has delivered to the executioner, others he has put to death in prison, others he has crucified while demanding their rights as freemen and as Roman citizens. The gods of his fathers are hurrying him away to punishment, because he alone has been found to lead to execution sons torn from the embraces of their fathers, and to demand of parents payment for leave to bury their sons.[4]

Konteks dari tulisan Cicero di atas adalah argumentasi-argumentasinya melawan Verres. Verres didakwa terlibat dalam berbagai kejahatan, salah satunya adalah suap. Di dalam argumentasinya, Cicero menyebutkan mengenai seorang gubernur di Sicily yang membiarkan para korban penyaliban untuk dikuburkan oleh keluarga mereka dengan meminta bayaran.

Menariknya, Ehrman merujuk kepada tulisan Crossan berjudul: Jesus: A Revolutionary Biography, maka saya berharap ia memperhatikan juga tulisan Crossan yang lain, berjudul: Who Killed Jesus? Di sini Crossan merujuk kepada Yehohanan, seorang korban penyaliban pada masa itu yang kerangka tubuhnya ditemukan dalam sebuah kuburan keluarga di Giv’at ha Mivtar. Penemuan ini membuktikan bahwa setidaknya seorang gubernur Romawi pada masa itu telah mengijinkan penguburan terhadap Yehohanan.[5] 

Jadi kesimpulan Ehrman tidak benar bahwa tidak ada catatan sejarah di mana pada konteks yang lain para gubernur Romawi tidak membiarkan para korban penyaliban untuk dikuburkan.

[1] Philo Judaeus, Flaccus, X.81-83, in C.D. Yonge (trans.),  The Works of Philo: Complete and Unabridge (New updated version; Peabody, MA.: Hendricksen, 1993). Ehrman mengutip tulisan Philo berdasarkan kutipannya di dalam tulisan John Dominic Crossan, Jesus: A Revolutionary Biography (San Francisco: HarperOne, 1994), 159 [dalam bab 6: “The Dogs Beneath the Cross”].

[2] Di sini Ehrman sedang membantah para apologet konservatif yang merujuk kepada tulisan Philo soal kekecualian di atas.

[3] Flavius Josephus, The Life of Flavius Josephus, 420-421, in Whilliam Whinston (trans.), The Works of Josephus: Complete and Unabridged (Enlarged-type edition/Illustrated; Grand Rapids, Michigan: Kregel, 1980).

[4] Marcus Tullius Cicero, Second Book of the Second Pleading againts Verres, III, in C.D. Yonge (trans.), The Orations of Marcus Tullius Cicero Vol. I (London: Henry G. Bohn, 1856).

[5] John Dominic Crossan, Who Killed Jesus? Exposing the Roots of Anti-Semitism in the Gospels Story of the Death of Jesus (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1995), 167-168.