Bart D. Ehrman sering menggunakan istilah “discrepancy” (saya meng-Indonesia-kannya menjadi “diskrepansi”) dengan kesan yang sama dengan “contradiction” (kontradiksi). Secara linguistik, diskrepansi tidak sama dengan kontradiksi. Perhatikan definisi diskrepansi dan kontradiksi di bawah ini.

Diskrepansi berarti “sebuah perbedaan khususnya hal-hal yang seharusnya sama” (Merriam-Webster). Kontradiksi berarti “perbedaan antara dua hal di mana keduanya tidak dapat sekaligus benar [pada saat yang sama dan dalam aspek yang sama]” (Merriam-Webster).[1]

Katakanlah Anda berjumpa dengan Si A yang menyatakan ia baru saja bertemu dengan Prabowo dalam sebuah pertemuan. Beberapa saat kemudian, Anda berjumpa dengan Si B yang mengisahkan mengenai pertemuan yang sama seperti yang dikisahkan Si A. Tetapi Si B menyatakan ia bertemu dengan salah Calon Presiden 2014 dan Fadli Zon. Tidak lama kemudian Anda diberitahu oleh Si C mengenai pertemuan yang sama di mana Si C menyatakan bahwa dalam pertemuan itu hadir Jokowi bersama timnya.  Pengisahan Si A, Si B, dan Si C merupakan diskrepansi. Diskrepansi karena informasi mengenai kehadiran Fadli Zon tidak muncul di dalam pengisahan Si A, juga informasi mengenai kehadiran Jokowi dan timnya tidak muncul dalam tuturan Si A dan Si B. Tetapi, pengisahan Si A, Si B, dan Si C bukan kontradiksi karena Si A tidak menyatakan bahwa yang hadir di situ hanya Prabowo sendiri, juga Si B tidak menyatakan bahwa yang hadir di situ hanya Calon Presiden 2014 dan Fadli Zon.

Contoh di atas persis menggambarkan sejumlah contoh diskrepansi yang dibahas oleh Ehrman dengan kesan kontradiktif. Akan saya beri argumentasi mengapa saya mengklaim begini. Tetapi terlebih dahulu kita lihat sejumlah contoh dari Kitab-kitab Injil yang sering digunakan Ehrman untuk propagandanya.

Misalnya, menurut Markus, para wanita yang datang ke kubur Yesus itu melihat “seorang muda” (16:5-6); menurut Matius, yang mereka lihat adalah “seorang malaikat” (28:2-3); dan menurut Lukas “dua orang” yang mereka lihat (24:4). Ehrman membahas contoh ini dalam Jesus Interupted: Revealing Hidden Contradiction in the Bible (and Why We Don’t Know about Them) (New York: HarperCollins, 2009), 8.

Sebagai informasi, dalam tulisan-tulisan Yahudi para malaikat sering digambarkan sebagai manusia (2Macc. 3:26, 33; Josephus, Ant. 5.8.2 §277; Hermas, Vis. 3.1.6; 3.4.1). Dan juga para penulis Injil tidak menyatakan bahwa para perempuan itu hanya melihat seorang muda (Markus) atau hanya melihat seorang malaikat (Matius). Ehrman sadar betul akan hal ini, itulah sebabnya ia menyatakan bahwa jika begitu maka tidak satu pun dari para penulis Injil tersebut yang menyatakan yang sebenarnya karena tidak satu pun di antara mereka yang menyatakan bahwa para wanita itu berjumpa dengan dua malaikat.[2]

Pertama, yang Ehrman maksudkan dengan kisah yang sebenarnya adalah totalitas detail mengenai peristiwa itu. Dan di sinilah masalahnya. Keharusan ini adalah keharusannya Ehrman, bukan keharusan bagi para penulis kitab Injil. Sama seperti contoh di atas. Anda tidak dapat menjewer kuping Si A dan Si B hanya karena tidak mengikutsertakan detail informasi yang dikemukakan Si C. Anda juga tidak dapat menuding Si A dan Si B tidak menyatakn yang sebenarnya. Mereka menyatakan yang sebenarnya, tetapi bukan totalitas yang Anda harapkan. Ada alasan tertentu yang bisa Anda dapatkan dari mereka soal mengapa mereka tidak menyatakan totalitas informasi itu, tetapi Anda tidak dapat menuding mereka tidak menyatakan yang sebenarnya!

Dan silakan Anda perhatikan semua contoh mengenai diskrepansi dengan kesimpulan yang sama dari Ehrman di dalam Jesus, Interupted maupun di dalam perdebatan-perdebatannya, bahkan di dalam bukunya yang terbaru: How Jesus Became God, mis. tentang penyangkalan Petrus dan narasi Penyucian Bait Allah dalam Injil Markus dan Injil Yohanes. Semua contoh-contoh yang ia kemukakan dari Kitab-kitab Injil hanya ada pada tataran diskrepansi tetapi tidak seperti gagasan yang ingin Ehrman tanamkan di benak Anda dengan presentasi-presentasi tersebut.

Kedua, sub-judul Jesus, Interupted mengindikasikan bahwa Ehrman akan membahas berbagai kontradiksi di dalam Alkitab. Faktanya, ia tidak membahas satu pun kontradiksi. Semua yang ia bahas adalah contoh-contoh pada tataran diskrepansi yang sangat mudah diselesaikan, semisal di atas. Di dalam Jesus, Interupted ketika membahas contoh-contoh itu, Ehrman memang menggunakan istilah discrepancies atau differences. Dengan mengingat perbedaan definisi diskrepansi dan kontradiksi di atas, kita dapat menyatakan bahwa Ehrman tidak salah dengan menyatakan begini. Kesalahan Ehrman adalah setiap kali ada diskrepansi atau perbedaan pengisahan, maka bagi Ehrman itu adalah “mistakes” yang dibuat oleh para penulis Injil.[3] Ehrman tidak menyajikan satu pun kontradiksi yang nyata (real contradiction) dari Kitab-kitab Injil. Ia hanya menyajikan bagi Anda sejumlah diskrepnasi pengisahan lalu menempatkannya dalam sebuah buku dengan sub-judul “kontradiksi”, maka Anda mendapatkan kesan bahwa diskrepansi-diskrepansi itu sama dengan kontradiksi!

Ketiga, dalam How Jesus Become God khususnya Bab 4, Ehrman menyajikan ulang (ber-ad nauseam lagi) soal diskrepansi-diskrepansi itu lalu mengklaim bahwa karena ada diskrepansi-diskrepansi itu maka Kitab-kitab Injil tidak dapat diharapkan sebagai sumber-sumber sejarah bagi para sejarahwan yang ingin merekonstruksi sejarah kebangkitan Yesus. Ini kesimpulan arbitrer. Justru sebaliknya, beragam pengisahan itu memberikan suplemen informasi bagi para sejarahwan untuk melakukan rekonstruksi. Saya kira, para sejarahwan justru seharusnya berterima kasih atas beragam pengisahan tersebut, bukan sebaliknya mengambil kesimpulan pesimistik seperti Ehrman.

Keempat, kembali ke kesimpulan Ehrman. Menurut Ehrman, karena adanya diskrepansi-diskrepansi itu, dan karena itu tidak satu pun penulis Injil yang menyatakan yang sebenarnya, maka setiap orang yang berupaya mendamaikan diskrepansi-diskrepansi itu berarti mereka menghasilkan Injil mereka masing-masing yang berbeda dari Kitab-kitab Injil. Lagi-lagi, imply­-nya bukan hanya para penulis Kitab Injil salah, melainkan hasil rekonstruksi itu sendiri adalah sebuah kesalahan. Ini adalah kesimpulan blunder Ehrman yang lain lagi. Misalnya, seorang researcher akan meneliti berbagai sumber yang memberikan kekayaan informasi mengenai isu risetnya. Tetapi, adalah sebuah kegilaan (plus tidak tahu berterima kasih!) ketika ia menghasilkan sebuah rekonstruksi atas informasi detail dari beragam sumber itu, lalu ia menyatakan karena tidak satu pun dari sumber-sumber yang ia teliti yang darinya ia mendapatkan informasi-informasi detail itu menyatakan selengkap hasil rekonstruksinya, maka semua sumber-sumber yang ia acu tersebut salah. Rekonstruksi dilakukan demi kepentingan kita berdasarkan beragam pengisahan yang ada. Keingintahuan kita mendorong kita melakukan rekonstruksi untuk mendapatkan totalitas detail yang menggambarkan mengenai peristiwa yang sebenarnya. Dan justru karena inilah Ehrman mendapatkan pekerjaannya sebagai seorang sejarahwan!

Dengan kesimpulan di atas, sebenarnya Ehrman membawa malapetaka intelektual bagi dirinya sendiri. Untuk menulis buku-bukunya, Ehrman meneliti berbagai sumber. Dan sudah bisa dipastikan, tidak satu pun sumber-sumber yang diteliti Ehrman sama persis dan mengandung totalitas isi buku Ehrman. Menurut alur argumentasi Ehrman, karena semua sumber-sumber itu tidak menyatakan sama persis dan tidak mengandung totalitas informasi yang ia sajikan dalam buku-bukunya, maka semua sumber-sumber yang ia kutip (entah untuk mendukung tesisnya atau untuk ia kritik) itu salah. Jadi menurut argumentasi Ehrman sendiri, Anda seharusnya menganggap buku-buku Ehrman maupun propganda-propaganda lisannya sebagai sebuah kesalahan karena ia menulisnya berdasarkan sumber-sumber yang tidak menyatakan persis sama seperti yang ia tulis dan semua sumber-sumber itu tidak mengandung detail-detail informasi seperti yang terdapat dalam buku-bukunya maupun propagand-propagandanya secara lisan.

Sekarang Anda bisa lihat blunder demi blunder dari pakar sejarah Kekristenan mula-mula yang menjual berbagai sesat pikir dengan kesan bombastis dan itu menjadi santapan yang disambut antusias khalayak ramai.

[1] Saya menambahkan keterangan dalam tanda kurung [] untuk memperjelas mengkualifikasi mengapa keduanya tidak dapat sekaligus benar.

[2] Jesus, Interupted, 8.

[3] Jesus, Interupted, 6.