Saya sengaja membuat page khusus di weblog ini untuk membahas “propaganda kontradiksi” Bart D. Ehrman dalam buku-bukunya maupun dalam berbagai debat publik yang pernah dilakukannya. Tujuan saya sebenarnya lebih berintonasi positif, yaitu melatih kepekaan mendeteksi beragam sesat pikir. Sebagai pengantar, saya ingin mendorong Anda bahwa jika Anda ingin melatih kepekaan Anda mendeteksi beragam sesat pikir (logical fallacies), bacalah buku-buku Bart D. Ehrman. Tulisan-tulisan berikutnya akan membuktikan klaim ini.

Dalam sejumlah buku maupun debat publik, berulang kali Ehrman mengklaim bahwa Kitab-kitab Injil mengandung banyak kontradiksi atau setidaknya diskrepansi. Salah satu bukunya yang secara eksplisit dimaksudkan untuk membahas isu ini, yaitu: Jesus, Interpupted: Revealing the Hidden Contradiciton in the Bible (and Why We Don’t Know about Them) (New York: HarperCollins, 2009). Ia juga di sana sini mengungkapkan klaim ini dalam buku-bukunya yang lain. Misalnya dalam buku terbarunya: How Jesus Became God: The Exaltation of a Jewish Preacher from Galilee (New York: HarperCollins, 2014), Ehrman mengklaim bahwa diksrepansi-diskrepansi di sekitar narasi-narasi kebangkitan Yesus menjadikan Kitab-kitab Injil bukanlah sumber-sumber sejarah kuno yang diharapkan para sejarahwan untuk merekonstruksi sejarah kebangkitan Yesus.

Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan komentar secara umum mengenai propaganda kontradiksi dan/atau diskrepansi Ehrman. Dalam tulisan-tulisan berikutnya, saya akan membahas kasus per kasus untuk melihat apakah Ehrman dapat membuktikan klaim ini atau tidak.

Mengenai sub-judul pada Jesus, Interputed yang berbunyi: and Why We Don’t Know about Them, Ehrman memberi kesan “konspirasi” bahwa Kekristenan sengaja tidak membahas kontradiksi-kontradiksi tersebut karena tidak ingin membuat Alkitab terlihat buruk. Sub-judul ini juga memberi kesan bahwa Ehrman “berjasa” membuka mata banyak orang terhadap adanya kontradiksi-kontradikis tersebut yang selama ini disembunyikan atau diabaikan begitu saja oleh Kekristenan.

Ehrman sebenarnya memberi kesan yang menyesatkan (misleading) bahkan Ehrman mungkin dengan sengaja memberi kesan yang menyesatkan. Dengan menggunakan the principle of charity, saya tidak dapat percaya bahwa Ehrman tidak pernah membaca buku-buku, semisal: Walter C. Kaiser, Peter H. Davids, F.F. Bruce, and Manfred Bauch, Hard Sayings of the Bible (Downers Grove, Illinois: IVP, 1996); Gleason L. Archer, New International Encyclopedia of Bible Difficulties (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2011)[1]; Craig L. Blomberg, The Historical Relibality of the Gospels (Downers Grove, Illinois: IVP, 1983);  Richard R. Bauckham, Jesus and the Eyewitnesses: The Gospels as Eyewitness Testminoy (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2006); Craig L. Blomberg,The Historical Relibality of John’s Gospel: Issues and Commentary (Downers Grove, Illinois: IVP, 2001); Richard R. Bauckham, Jesus and the Eyewitness: The Gospels as Eyewitness Testimony (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2006); James D.G. Dunn, Jesus Remembered (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003).

Sebagai catatan, buku-buku di atas bukan hanya membahas berbagai kesulitan yang dipropagandakan Ehrman, bahkan jauh lebih banyak lagi yang disebutkan Ehrman, tetapi beberapa di antaranya merupakan jawaban terhadap berbagai tudingan yang dilontarkan Ehrman di kemudian hari, salah satunya, soal tradisi lisan (oral tradition) yang dalam tulisan Ehrman diberi kesan tidak terkontrol dan bersirkulasi tanpa saksi mata. Ini sudah dibantah berkali-kali dan Ehrman tidak memberikan argumen baru soal ini. Ia hanya mengulang-ulang klaimnya saja. Ehrman ber-ad nauseam!

Saya tidak menyatakan bahwa Ehrman harus setuju dengan jawaban dalam buku-buku di atas. Poin saya adalah: a) Ehrman melakukan ad nauseam fallacy; b) Ehrman memberi kesan menyesatkan yang sudah saya sebutkan di atas karena faktanya sudah banyak buku yang ditulis oleh para pakar Kristen untuk membahas kesulitan-kesulitan itu. Dan bahkan kesan ini terbantahkan oleh Ehrman sendiri ketika di dalam Jesus, Interputed Ehrman berulang kali menyinggung penjelasan-penjelasan alternatif terhadap propaganda kontradiksinya – ini membuktikan bahwa kesulitan-kesulitan yang diangkatnya itu sudah dibahas berkali-kali, lalu mengapa Ia perlu menambahkan “And Why We Don’t Know about Them”? Dan Ehrman tidak memberikan argumen baru untuk klaim-klaimnya. Setiap kali ia menulis buku, ia mengulang-ulang klaim-klaim tersebut seakan-akan klaim-klaimnya terbukti pada dirinya sendiri tidak peduli argumen bantahan apa pun yang telah dilemparkan ke wajahnya.

Menariknya, saya membaca Jesus, Interputed dan tidak menemukan jawaban dari “and Why We Don’t Know about Them”. Ehrman menambahkan sub-Judul ini tanpa memberikan argumentasi. Ia sekadar melemparkan sub-judul itu ke wajah Anda dan memberi kesan “konspirasi” lalu ia melupakannya begitu saja dan Anda yang membaca buku ini silakan berimajinasi seliar mungkin mengenai apa maksud Ehrman.

Tidak heran, dalam bantahan terhadap Misquoting Jesus-nya Ehrman,[2] Daniel B. Wallace dan Darrell L. Bock menyatakan:

Secara harafiah, pernyataan-pernyataan Ehrman sesungguhnya tidak mengejutkan atau meresahkan; bahkan dapat menjadi pendahuluan yang sangat berguna untuk mengenal bidang studi kritik teks Perjanjian Baru. Masalahnya adalah kesan yang diperoleh para pembaca, sekalipun kesan tersebut tidak dinyatakan secara eksplisit atau bahkan mungkin tidak dimaksudkan oleh penulis.[3]

Hal yang sama dapat dikemukakan juga mengenai Jesus, Interpupted. Tidak ada satu pun data dari Kitab-kitab Injil yang mengejutkan orang-orang Kristen. Semua data itu ada di dalam Kitab-kitab Injil. Tetapi, Ehrman mempresentasikannya seakan-akan itu “temuan baru” dan itu “mengejutkan” dengan ungkapan-ungkapan heboh pada judul-judul babnya, semisal: “The World of Contradictions”, “A Mass of Variant Views”. Juga, “propaganda kontradiksi” Ehrman dalam buku-bukunya, seperti yang saya perlihatkan dalam tulisan ini maupun tulisan-tulisan selanjutnya, merupakan lahan yang subur untuk menyemaikan kepekaan Anda dalam mendeteksi berbagai sesat pikir. Thanks Ehrman!

Jadi, persoalannya bukan pada data dari Kitab-kitab Injil itu sendiri. Persoalannya adalah kesan helpless yang diberikan Ehrman melalui buku-bukunya tanpa menandaskannya secara eksplisit. Dan yang paling penting adalah bagaimana Ehrman melakukan inferensi logis dalam menggunakan data tersebut untuk mendukung propaganda kontradiksinya. Poin penting yang terakhir inilah yang akan saya bahas dalam tulisan-tulisan berikutnya, kasus per kasus, untuk memperlihatkan berbagai sesat pikir (logical fallacies) yang dilakukan oleh Bart D. Ehrman.

[1] Pertama kali terbit dengan judul: Encyclopedia of Bible Difficulties (1982).

[2] Bantahan komprehensif terhadap Misquoting Jesus dan Lost Christianites Ehrman, telah dilakukan oleh: Timothy Paul Jones, Misquoting Truth: A Guide to Fallacies of Barth Ehrman’s Misquoting Jesus (Downers Grove, Illinois: IVP, 2007).

[3] Darrell L. Bock dan Daniel B. Wallace, Mendongkel Yesus dari TaktaNya, terj. Helda Siahaan (Jakarta: Gramedia, 2007), 50.