Saya baru saja menerima email dari seorang pecinta buku-buku Ehrman. Ia mengajukan protes karena menurutnya saya mengajukan false double-binding conclusion untuk posisi Ehrman dalam postingan saya berjudul: “Diskrepansi-diskrepansi dalam Kitab-kitab Injil: Sesat Pikir Bart D. Ehrman”. Baginya, Ehrman memang mengklaim adanya diskrepansi-diskrepansi tersebut, tetapi Ehrman tidak membuat penolakkan terhadap mereka yang “menghasilkan Injil mereka sendiri” untuk menyelesaikan diskrepansi-diskrepansi tersebut. Ia juga mempersoalkan doktrin Inerransi Alkitab.

Karena saya tidak (harus) dalam posisi mempertahankan doktrin Inerransi Alkitab ketika mempersoalkan kesalahan logika Ehrman, maka saya tidak memberikan komentar untuk isu ini di sini.

Sebagai informasi, saya tidak membalas emailnya karena saya berniat memberikan jawaban saya secara publik melalui tulisan ini. Saya akan mempertahankan kesimpulan double-binding saya kemarin dengan mengutip langsung dari tulisan Ehrman dalam Jesus, Interupted.

For students who come into seminary with a view that the Bible is completely, absolutely, one hundred percent without error, the realization that most critical scholars have a very different view can come as a real shock to their systems. And once these students open the floodgates by admitting there might be mistakes in the Bible, their understanding of Scripture takes a radical turn. The more they read the text carefully and intensely, the more mistakes they find, and they begin to see that in fact the Bible makes better sense if you acknowledge its inconsistencies instead of staunchly insisting that there aren’t any, even when they are staring you in the face (huruf miring sesuai aslinya).[1]

Kutipan di atas adalah paragraf pertama dari sebuah bagian dengan sub-judul: “Problem with the Bible”. Tepat sesudah paragraf tersebut, Ehrman mulai membahas contoh-contoh dari Kitab-kitab Injil yang ia klaim sebagai diskrepansi yang baginya merupakan “mistakes” atau “inconsistencies”. Termasuk salah satunya adalah contoh yang saya angkat kemarin mengenai siapa dan berapa orang yang dilihat para wanita itu ketika mengunjungi kubur Yesus. Mengenai contoh ini, dengan mempertimbangkan penjelasan alternatif dari para pakar, Erhman kemudian membuat kesimpulan, berikut ini:

The problem is that this kind of reconciling again requires one to assert that what really happened is unlike what any of the Gospels say—since none of the three accounts states that the women saw “two angels.”[2]

Bagi Ehrman,

…in order to resolve the tension between the Gospels the interpreter has to write his own Gospel, which is unlike any of the Gospels found in the New Testament. And isn’t it a bit absurd to say that, in effect, only “my” Gospel—the one I create from parts of the four in the New Testament—is the right one, and that the others are only partially right? (huruf miring sesuai aslinya).[3]

Saya akan urutkan alur argumentasi Ehrman dalam sejumlah poin berikut ini:

  1. Kitab-kitab Injil mengandung diskrepansi-diskrepansi (imply-nya, kitab-kitab Injil salah – seperti kutipan di atas).
  2. Ada penjelasan alternatif terhadap diskrepansi-diskrepansi tersebut karena tidak satu pun dari para penulis Injil yang mengklaim bahwa detail informasi yang mereka catat itu definitif pada dirinya sendiri.
  3. Tetapi bagi Ehrman, jika begitu maka hasil rekonsturksi itu sendiri merupakan “Injil yang lain” (Injilnya si penafsir itu sendiri) karena itu berarti memposisikan para penulis Injil itu pada posisi “benar sebagian” saja.
  4. Bahkan, bagi Ehrman hasil rekonstruksi itu sendiri adalah absurd.

Kesimpulan double-binding saya terjustifikasi oleh alur argumen Ehrman sendiri. Ehrman bukan hanya menyalahkan Kitab-kitab Injil karena tidak menyajikan totalitas detail sebuah peristiwa, melainkan juga menyalahkan hasil rekonstruksi yang merupakan sintesis dari beragam informasi dari para penulis Kitab Injil sebagai sesuatu yang absurd.

Dengan demikian, sekali lagi, jika argumentasi Ehrman benar maka propaganda-propaganda Ehrman melalui buku-buku dan debat-debat lisannya atau pengajaran-pengajarannya merupakan sesuatu yang absurd karena itu hasil riset (kompilasi dan evaluasi kritis) dari berbagai sumber yang tidak memuat informasi yang sama persis dan tepat seperti propaganda-propaganda Ehrman. Sebaliknya, jika argumentasi Ehrman salah, maka kita juga harus menolak propaganda-propaganda Ehrman.

Dengan posisi di atas, Ehrman harus menerima implikasi logisnya bahwa semua sumber yang ia kutip dalam tulisan-tulisan maupun pengajaran-pengajaran lisannya, entah yang ia setujui atau yang ia tidak setujui, merupakan sumber-sumber yang salah karena terkategori “benar sebagian”. Saya kira, Ehrman tidak suka dengan implikasi logis ini, tetapi secara logis, ia harus menerimanya demi konsistensi – sesuatu yang ia gembar-gemborkan tidak dimiliki oleh Kitab-kitab Injil!

Jadi, Either Ehrman benar or salah dalam argumentasinya, propaganda Ehrman melalui buku-buku dan pengajaran-pengajaran lisannya tetap merupakan kesalahan. Crystal clear!

[1] Jesus, Interupted, 6.

[2] Jesus, Interupted, 8.

[3] Jesus, Interupted, 7-8.