Dalam bukunya yang berjudul: How Jesus Became God: The Exaltation of a Jewish Preacher from Galilee (New York: HarperCollins, 2014), khususnya dalam Bab 3, Ehrman membahas tentang apakah Yesus mengklaim bahwa Diri-Nya adalah Allah? Ehrman memberikan jawaban negatif untuk pertanyaan ini lalu mengajukan sebuah proposal historis mengenai Yesus Sejarah. Menurutnya, Yesus sekadar seorang nabi apokaliptik.[1] Ada sejumlah klaim spesifik Ehrman dalam bab ini yang perlu diresponsi, namun di sini saya secara khusus membahas proposal historis Ehrman, khususnya penjelasannya mengenai referensi dari penggunaan frasa “Anak Manusia” (the Son of Man) dalam Kitab-kitab Injil.

Perlu catat bahwa frasa “Anak Manusia” dalam Kitab-kitab Injil merupakan sebuah topik perdebatan yang sangat kompleks: soal maknanya; soal fungsinya; soal asal-usulnya dalam Kitab-kitab Injil (apakah berasal dari Yesus sendiri atau kreasi para penulis Injil); dan soal referensinya (apakah frasa itu digunakan bagi Yesus atau bagi figur yang lain).[2] Untuk penggambaran yang agak ringkas mengenai beragam posisi serta klasifikasinya, saya merekomendasikan sebuah esai yang ditulis oleh Ian Howard Marshall, berjudul: “The Son of Man in Contemporary Debate.”[3]

Dalam bukunya yang saya sebutkan di atas, Ehrman percaya bahwa sejumlah frasa “Anak Manusia” dalam Kitab-kitab Injil memenuhi kriteria-kriteria autentisitas, maka kita bisa percaya bahwa Yesus pernah menggunakan frasa tersebut. Tetapi bagi Ehrman, referensi dari frasa “Anak Manusia” bukanlah Yesus, melainkan figur apokaliptik yang lain. Misalnya, dalam Markus 8:38, Yesus berkata:

Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.

Bagi Ehrman, mereka yang mengasumsikan bahwa Yesus adalah Anak Manusia, akan mengaitkan referensi frasa “Anak Manusia” dalam ayat di atas dengan Yesus. Artinya, Yesus berbicara mengenai Diri-Nya sendiri. Tetapi Ehrman tidak setuju:

But this is not actually the saying says. Instead, it says that if anyone is ashamed of Jesus, of that person of the Son of Man will be ashamed when he comes from heaven. Nothing in this saying makes you think that Jesus is talking about himself. A reader who thinks Jesus is talking about himself as the Son of Man has brought that understanding to the text, not taken it from the text.

Pernyataan terakhir Ehrman di atas tampaknya dimaksudkan untuk mengingatkan kita mengenai keharusan eksegesis. Eksegesis berarti mendapatkan makna dari teks itu sendiri. Kebalikan dari eksegesis, yang adalah sebuah kesalahan eksegetis, adalah eisegesis (memasukkan arti ke dalam teks). Kedengarannya bagus! Sayangnya, ada sejumlah cacat serius dalam klaim dan argumentasi Ehrman, termasuk cacat secara eksegetis – sesuatu yang ia coba ingatkan bagi kita!

Pertama, Ehrman is simply wrong ketika ia menyatakan bahwa tidak ada di dalam teks itu sendiri yang mendukung pandangan bahwa Yesus sedang merujuk kepada Diri-Nya sendiri ketika menggunakan frasa “Anak Manusia” dalam ayat di atas.

Salah satu langkah mendasar dalam studi eksegesis adalah studi leksikal (arti, latar belakang penggunaan, dan penggunaannya di dalam konteks tulisan yang dirujuk). Dalam esai Marshall yang saya sebutkan di atas, dipaparkan mengenai beberapa kemungkinan arti dari frasa “Anak Manusia” (ho huios tou anthropou):

  1. Arti geneaologis: “putra dari orang tertentu”. Ini adalah arti leksikal dari latar belakang Yunani. Tetapi, para pakar umumnya sepakat bahwa frasa “Anak Manusia” dalam Kitab-kitab Injil berlatar belakang Semitik ketimbang Yunani. Maka kita perlu melihat arti berikutnya.
  2. Dalam bahasa Ibrani, frasa “ben adam” digunakan untuk “orang tertentu” atau “umat manusia secara umum”.
  3. Arti yang mirip juga terdapat dalam penggunaan Aramaiknya: “Orang [tertentu]”, “seseorang”; atau “umat manusia secara umum”.[4]

Para pakar mendiskusikan mengenai kemungkinan penggunaan frasa tersebut sebagai kata ganti diri orang pertama (mis. “Aku” – artinya pembicara merujuk kepada dirinya sendiri) atau tidak; dan apakah frasa tersebut dapat digunakan sebagai gelar (titular) atau tidak. Misalnya, Marshall merujuk kepada hasil studi dari Geza Vermes di mana Vermes berargumentasi bahwa frasa tersebut dalam latar belakang Aramaiknya, digunakan dalam konteks tertentu dalam arti: “Aku, dan bukan orang lain!” Ini adalah semacam idiom untuk memberikan penekanan mengenai sesuatu yang unik dari pribadi sang pembicara ketika ia merujuk kepada dirinya sendiri dengan menggunakan frasa tersebut. Joachim Jeremias, yang juga dirujuk oleh Marshall, setuju dengan kesimpulan Vermes. Bagi Jeremias, frasa “Anak Manusia” dapat juga berarti “I as a particular man” atau “I qua man”.[5] Marshall sendiri percaya bahwa

… the phrase could have been used in Aramaic to refer to the manlike figure of Daniel 7.13 and that it could also be used in a generalizing sense by a person referring to himself as a representative human being.[6]

Maurice Casey, seorang pakar studi tradisi Aramaik, membangun argumentasinya di atas studi Vermes namun tiba pada kesimpulan yang berbeda. Menurutnya, frasa “Anak Manusia” dalam bahas Aramaik merupakan sebuah idiom yang digunakan untuk sekelompok orang, bukan umat manusia secara umum, di mana pembicara itu sendiri termasuk di dalam kelompok spesifik yang dirujuk tersebut. Artinya, Casey tidak menerima kesimpulan Vermes bahwa frasa “Anak Manusia” dapat digunakan secara eksklusif bagi diri seseorang yang menggunakannya.[7] James D.G. Dunn mengevaluasi beragam pandangan ini dan menyimpulkan bahwa kita dapat melihat frasa “Anak Manusia” dari latar belakang Aramaiknya dalam fungsi “general and self-refential”. Maksud Dunn, frasa ini mungkin berarti “‘a man like me’, equivalent to the English ‘one’.[8] Daftar ini bisa dibuat menjadi sangat panjang!

To be fair, pandangan yang dianut Ehrman adalah salah satu opsi dari sejumlah opsi yang dikemukakan oleh para pakar (Mis. Rudolf Bultmann, Gunther Bornkamm, H.E. Todt, A.J.B. Higgins). Jelasnya, pandangan Ehrman bukan pandangan yang terbukti pada dirinya sendiri seperti yang ia indikasikan. Walau saya tidak memasuki lahan evaluatifnya, namun to be sure, ada alasan eksegetis yang sangat baik untuk percaya bahwa Yesus sedang merujuk kepada Diri-Nya sendiri dalam ayat di atas.[9] Terlepas dari benar atau salahnya pandangan para pakar di atas (Vermes, Jeremias, Casey, Dunn, juga Ehrman!), kita langsung melihat bahwa Ehrman tidak dapat melakukan dua hal berikut:

  1. Ehrman tidak dapat menyatakan bahwa tidak ada apa pun di dalam teks itu yang mengindikasikan mengenai rujukan bagi Diri Yesus sendiri melalui frasa “Anak Manusia”; dan
  2. Ehrman tidak dapat memberi kesan bahwa arti “dia” (orang ketiga tunggal) merupakan arti terjelas dari frasa tersebut yang langsung kelihatan dalam teks tersebut. Ada argumen yang kompleks untuk setiap pandangan di atas termasuk saya percaya ada argumen yang sangat baik untuk menolak pandangan Ehrman!

Selain kedua poin penting di atas, juga tidak benar bahwa pandangan alternatif mana pun pasti merupakan eisegesis terhadap teks tersebut ketika ia tidak melakukan interaksi argumentatif sama sekali terhadap pandangan alternatif tersebut.

Kedua, berdasarkan poin pertama di atas, kita mendapati bahwa para pakar tersebut tiba pada kesimpulan yang persis ditolak oleh Ehrman bukan karena asumsi mereka, melainkan atas hasil studi terhadap berbagai bukti tekstual terlepas dari kita setuju atau tidak setuju dengan mereka.[10] Dengan demikian, ketika Ehrman menyatakan bahwa mereka yang percaya frasa “Anak Manusia” digunakan bagi Yesus sendiri lebih disetir oleh asumsi bahwa Yesus adalah Anak Manusia, tidak lain dari sebuah kesalahan logika bernama genetic fallacy! Ini adalah genetic fallacy, karena Ehrman berupaya menolak pandangan alternatif tersebut semata-mata dengan merujuk kepada asal-usulnya, ketimbang berinteraksi dengan argumen mereka. Bahkan ketika Ehrman tidak setuju dengan Vermes, Jeremias, dan Marshall (dll.), pun Ehrman tidak dapat sekadar menyatakan bahwa asumsi mereka yang melahirkan pandangan itu tanpa berinteraksi sama sekali dengan argumen-argumen untuk pandangan tersebut.

Hal di atas menjadi ironis bagi saya karena Ehrman akan menolak jika seseorang menyatakan kepadanya bahwa karena Ia tidak percaya Yesus adalah Anak Manusia maka ia menandaskan pandangan tersebut di atas. Saya percaya Ehrman akan berteriak tidak setuju pada kesempatan pertama sambil menantang orang-orang untuk berinteraksi dengan argumennya ketimbang merujuk kepada asal-usul pandangannya. Sayangnya, ia melempar “kotoran” yang ia tolak bagi dirinya sendiri kepada posisi alternatif ketika posisi alternatif tersebut dibangun di atas bukti-bukti yang harus ia geluti jika ia tidak setuju dengan posisi alternatif tersebut.

Dan ketiga, saya mengerti bahwa dari gaya penulisannya, Ehrman tampaknya lebih memaksudkan bukunya bagi para pembaca popular (yang mayoritas tidak berpendidikan teologi). Tetapi, dengan menggunakan pernyataan-pernyataan yang simplisistik plus salah (!) seperti di atas, Ehrman melakukan penggiringan opini yang tidak sah – sebuah istilah lembut dari apa yang kita sebut hari ini: manipulasi – terhadap para pembaca popular tersebut, ketika ada pandangan alternatif berikut argumentasinya yang tidak dapat begitu saja ia sapu bersih dengan “tidak ada apa pun di dalam teks tersebut” yang mendukung pandangan alternatif tersebut.

Akhirnya, saya teringat kata-kata profesor John Lenox (profesor matematika di University of Oxford) ketika membuka kedok kesalahan logika dalam The Grand Design yang ditulis oleh Stephen Hawking dan Leonard  Mlodinow. Saya sedikit memodifikasinya untuk Ehrman, demikian: “Nonsense remains nonsense even when spoken by a world-famious historian… A man with prestige and authority do not compensate for faulty logic!”

[1] Ulasan luas mengenai posisinya, lih. Bart D. Ehrman, Jesus, Apocalyptic Prophet of the New Millennium (Oxford: Oxford University Press, 1999).

[2] Lih. Delbert Burkett, The Son of Man Debate: A History and Evaluation (Cambridge: Cambridge University Press, 2004).

[3] Ian Howard Marshall, “The Son of Man in the Contemporary Debate,” in Craig A. Evans (ed.), The Historical Jesus: Critical Concepts in Religious Studies, Vol. III: Jesus’ Mission, Death, and Resurrection (London and New York: Routledge, 2004), 83-103.

[4] Marshall, “The Son of Man in the Contemporary Debate,” 86.

[5] Marshall, “The Son of Man in the Contemporary Debate,” 86.

[6] Marshall, “The Son of Man in the Contemporary Debate,” 87.

[7] M. Casey, Son of Man: The Interpretation and Influence of Daniel 7 (London: SPCK, 1979) 224-27

[8] James D.G. Dunn, Jesus Remembered (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003), 760.

[9] Mis. Robert H. Stein, Mark (BECNT; Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2008), 409; Thomas R. Schreiner, New Testament Theology: Magnifying God in Christ (Grand Rapids, Michigan: Baker, 2006), 224-226.

[10] Bnd. Komentar Schreiner: “The work of Vermes, Casey, Lindars represents careful and critical attempts to discern the meaning of the term ‘Son of Man’ in the life of the historical Jesus”, in New Testament Theology: Magnifying God in Christ, 224. Meski pun Schreiner tidak setuju dengan mereka.