Dalam How Jesus Became God (Bab 3), Ehrman berusaha meyakinkan pembacanya bahwa Kitab-kitab Injil tidak handal secara historis dan karena itu studi sejarah mengenai Yesus diperlukan. Ehrman menulis,

The reason we need book like these is that the Gospels cannot simply be taken at face value as giving us historically accounts of the things Jesus said and did. If the Gospels were those sorts of trustworthy biographies that recorded Jesus’ life “as it really was,” there would be little need for historical scholarship that stresses the need to learn the ancient biblical languages (Hebrew and Greek), that emphasized the importance of Jesus’ historical context in his firs-century Palestinian world, and that the maintains that full understanding of the true character of the Gospel as historical sources is fundamentally for any attempt to establish what Jesus really said and did. All we need to do would to read the Bible and accept what it says as what really happened.

For sure, Ehrman pernah menggunakan argumen yang sama persis seperti di atas saat berdebat dengan Craig A. Evans mengenai reliabilitas Kitab-kitab Injil pada tanggal 19 & 20 Januari 2012 di Saint Mary’s University, Nova Scotia.

Sebagai tanggapan, Evans menantang Ehrman untuk mempertimbangkan salah satu contoh dari Matius 11 mengenai pertanyaan Yohanes Pembaptis kepada Yesus serta jawaban Yesus yang merujuk kepada mukjizat-mukjizat-Nya (ay. 5). Bagian ini umumnya dianggap otentik oleh para sarjana. Evans menyatakan, bahkan jika seandainya menganggap catatan ini semacam “video tape” mengenai apa yang Yesus katakan pun, penelitian historis terhadap teks ini tetap diharuskan karena, misalnya kita tidak diberitahu mengenai konteksnya. Sebelum penemuan Dead Sea Scrolls, para sarjana critical umumnya menganggap bahwa kata-kata Yesus tersebut tidak mengindikasikan mengenai kesadaran Diri-Nya sebagai Mesias. Tetapi setelah penemuan tersebut, pandangan resistensif ini sudah sangat jarang terdengar. Karena dalam DSS, kita mendapati catatan mengenai apa yang akan dilakukan oleh Mesias ketika ia datang yang paralel dengan kata-kata Yesus seperti yang dicatat Matius.

Dan menariknya, Ehrman setuju seratus persen dengan Evans. Ehrman secara eksplisti menyatakan kepada Evans: “I completely agree with you”. Dengan kata lain, Ehrman mengakui bahwa ia salah total dalam argumentasinya mengenai poin ini! Anda dapat menonton rekaman mengenai bagian yang saya sebutkan di atas  di sini khususnya menit ke: 1.23.00 – 1.27.25.

Dan sekarang, dalam How Jesus Became God, Ehrman mengulangi lagi kesalahan argumentasinya yang sudah dibantah Evans secara meyakinkan dan ia menyatakan setuju sepenuhnya. Ia sekadar mengulanginya tanpa argumentasi baru sama sekali. Dan sudah pasti, ini merupakan ad nauseam fallacy.

Lagi pula, waktu saya memasuki seminari dan mengikuti studi bahasa Yunani dan bahasa Ibrani dengan antusias, termasuk juga studi sejarah mengenai Alkitab dan Yesus, saya tidak mengasumsikan bahwa karena Alkitab tidak handal maka saya memerlukan studi pada subjek-subjek tersebut. Saya memerlukan studi pada subjek-subjek itu untuk memahami konteks, makna kata, dsb., tanpa memerlukan asumsi Ehrman seperti di atas!

Mungkin yang terbaik untuk diasumsikan di sini adalah Mr. ad Nauseam lupa bahwa ia pernah setuju sepenuhnya dengan Evans!

Hahahahahahaha:D