Sudah menjadi kesepakatan umum di kalangan para sarjana bahwa sebelum Kitab-kitab Injil ditulis, ada sebuah periode di mana tradisi mengenai Yesus bersirkulasi secara lisan. Tidak menutup kemungkinan bahwa ada sejumlah catatan tertulis telah muncul pada periode ini. Periode ini bisa dikatakan dimulai sejak kehidupan Yesus hingga penulisan Injil yang pertama (Injil Markus).[1] Bart D. Ehrman mengemukakan fakta ini di dalam bukunya yang berjudul: How Jesus Became God (Bab 3).

Tetapi, bagaimana Ehrman menanamkan gagasan di benak Anda mengenai proses transmisi atau sirkulasi tradisi oral, merupakan sebuah asumsi usang milik Kritik Bentuk yang sudah berkali-kali ditolak namun terus dipopularkan. Ada beberapa poin argumen Ehrman dalam How Jesus Became God, khususnya mengenai proses transmisi tradisi oral, yang perlu disorot di sini. Pertama, sumber tertulis yang paling awal adalah tulisan-tulisan Paulus namun bagi Ehrman Paulus tidak mengenal Yesus secara pribadi dan ia tidak memberikan banyak kontribusi mengenai pengajaran dan aktivitas Yesus. Kedua, tidak banyak yang bisa diharapkan dari Kitab-kitab Injil yang ditulis sesudah Paulus, karena beberapa alasan:

  1. Kitab-kitab Injil tidak ditulis oleh para saksi mata (eyewitnesses). Pemberian “nama” bagi Kitab-kitab ini diberikan belakangan. Alasan Ehrman untuk menolak penamaan tersebut adalah bahwa para pengikut Yesus umumnya tidak terpelajar, sedangkan Kitab-kitab Injil ditulis oleh orang-orang yang sangat terpelajar dalam bahasa Yunani pada generasi sesudah para murid.
  2. Ada gap waktu setidaknya 35-40 tahun sejak Yesus hingga penulisan Injil yang pertama (Markus) dan sekitar 60-65 tahun dengan Injil yang terakhir (Yohanes).
  3. Pada era “gap waktu” tersebut, para murid Yesus mulai mengisahkan ulang secara lisan hal-hal mengenai Yesus.

Mengenai pengisahan ulang secara lisan di atas, Ehrman memberikan gambaran berikut:

These stories circulated. Anyone who converted to become a follower of Jesus could and did tell the stories. A convert tell his wife; if she converted, she would tell her neighbor; if she converted she will tell her husband; if he converted he would tell his bussines partner, if he converted he would take a bussines trip to another city and tell his bussines associate; if he converted he would tel his wife; if she converted she would tell his neighbor…and on and on. Telling stories was the only way to communicate in the days before mass communication, national media coverage, and even significant levels of literacy (at this time only about 10 percent of population could read and write, so most communication was oral).

Menurut Ehrman, proses transmisi di atas terjadi bukan hanya dilakukan oleh para rasul dan bahkan terjadi tanpa kontrol:

The stories were being told by word of mouth, year after year, decade after decade, among lots of people in different parts of the world, in different languages, and there was no way to control what one person the next about Jesus’ words and deeds…Details get changed, episodes get invented, events get exaggerated, impressive accounts get made even more impressive, and so on.

Ehrman bahkan menyatakan bahwa Injil yang pertama (Markus) ditulis atas tradisi seperti di atas, lalu atas penulisan Markus, Injil-injil lainnya ditulis (Matius dan Lukas). Kitab-kitab Injil tidak dimaksudkan untuk memberikan informasi biografis mengenai Yesus, melainkan untuk memberitakan “kabar baik”. Jadi bagi Ehrman, Kitab-kitab Injil sepenuhnya mewakili motif teologis para penulis Injil ketimbang sejarah mengenai Yesus.

Ehrman benar bahwa penamaan terhadap Kitab-kitab Injil terjadi di kemudian hari, tetapi ada argumen-argumen yang cukup baik untuk mempercayai penamaan tersebut. Namun karena fokus saya adalah proses transmisi tradisi oral, maka saya melewatkan isu ini.

Mengenai proses transmisi tradisi oral, Ehrman benar bahwa sulit untuk membayangkan bahwa hanya para rasul yang terlibat dalam transmisinya. Tetapi, saya perlu mengingatkan Anda untuk tidak menangkap gambaran Ehrman di atas seakan-akan tradisi yang dikisahkan dari mulut ke mulut itu semacam percakapan sehari-hari yang tidak signifikan dan orang bisa sesuka hati mengubahnya di sana sini dan atau melupakannya begitu saja. Gambaran Ehrman di atas, jika dibaca oleh orang-orang yang tidak berlatar belakang studi biblika, sangat mungkin dengan gampang menganologikannya demikian apalagi Ehrman memberi kesan penguat untuk analogi yang salah di benak pembaca: “suami memberitahu istri, istri memberitahu tetangga, partner bisnis memberitahu partner bisnis yang lain, dst.” Ehrman tampaknya tidak peduli dengan apa yang akan Anda pahami ketika membaca penggambarannya. Dan ini sesuatu yang sangat disayangkan karena Ehrman mengetahui persis, sebagai seorang pakar sejarah, bahwa pembaca kontemporer yang tidak berlatar belakang studi biblika sangat mungkin mengasosiasikan proses transmisi tersebut dengan daily conversations. Akan menjadi semakin salah jika bayangan yang muncul dalam benak Anda adalah proses transmisi tradisi oral terjadi seperti “permainan telpon”. Akan saya jelaskan di bawah ini mengapa pengasosiasian seperti ini adalah sesuatu yang salah!

Mengenai tradisi oral dan proses transmisinya, dalam tulisan ini saya merujuk mayoritas kepada tulisan Eric Eve: Behind the Gospels: Understanding the Oral Tradition.[2] Saya juga membaca sejumlah riset, mis. Jan Vansina, Oral Tradition as History (Madison, Wiscounsin: The University of Wiscounsin Press, 1985); Birger Gerhadson, The Reliability of the Gospel Tradition (Peabody, MA.: Hendrickson, 2001); Birger Gerhadson, Memory and Manuscript: Oral Tradition and Written Tradition in Rabbinic Judaism and Early Christianity (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1998); Werner Kelber, The Oral and Written Gospel: The Hermeneutic of Speaking and Writing in the Synoptic Tradition, Mark, Paul, and Q (Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press, 1997); James D.G. Dunn, Jesus Remembered (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003); Richard A. Horsley, Jesus in Context: Power, People, and Performance (Minneapolis: Fortress Press, 2008); Samuel Byrskog, Story as History – History as Story: The Gospel Tradition in the Context of Ancient Oral History (Leiden and Boston: Brill, 2002); Richard Bauckham, Jesus and the Eyewitnesses: The Gospel as the Eyewitness Testimony (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2006); dll. Selain itu bisa disebutkan juga sejumlah esai dari Kenneth E. Bailey[3] dan para pakar lainnya semisal David E. Aune, dll. Meski demikian, saya merujuk terutama kepada Eve karena buku Eve selain memuat survei cukup komprehensif terhadap berbagai pendekatan yang ada, namun juga merupakan hasil riset terbaru mengenai isu ini.

Ketika Anda menyebut sesuatu itu “tradisi”, Anda sebenarnya harus mengasumsikan beberapa elemen kunci. Pertama, tradisi itu sesuatu yang stabil, bukan hearsay (desas-desus) yang dapat berubah-ubah begitu saja dan kapan saja! Kedua, tradisi itu sesuatu yang signifikan bagi kelompok pengguna atau pemelihara tradisi tersebut. Ketiga, tradisi itu sesuatu yang aplicable, berhubungan dengan kebutuhan kelompok pengguna atau pemelihara tradisi tersebut dan keempat, tradisi itu sendiri mengasumsikan adanya kontrol entah oleh individu-individu yang dianggap otoritatif atau pun oleh kelompok penggunanya secara umum.[4]

Tradisi oral itu sudah pasti tradisi yang disirkulasikan secara lisan dengan bentuk yang dapat diingat (memorable).[5] Sirkulasi secara lisan ini mengasumsikan beberapa elemen kunci di atas, yaitu stabilitas dalam derajat tertentu; karena tradisi itu sesuatu yang signifikan dan dapat diingat maka proses transmisinya mengasumsikan pemeliharaan oleh kelompok penggunanya. Dan karena tradisi oral itu aplicable, maka ketika sirkulasinya menyentuh konteks yang baru, secara otomatis itu menuntut cara pengaplikasian yang baru. Dan karena tradisi oral itu sesuatu yang signifikan bagi kelompok penggunanya, maka secara natural kita bisa membayangkan adanya kontrol terhadap sirkulasi tradisi tersebut dalam taraf tertentu. Mengenai stabilitas dan kontrol dalam sirkulasi tradisi lisan di balik Kitab-kitab Injil, akan saya jelaskan secara ringkas nanti.

Jadi, tradisi oral itu tidak sama dengan isi percakapan sehari-hari dan/atau gosip/rumor yang hari ini ramai dibicarakan namun satu minggu kemudian sudah hilang tanpa bekas. Itulah sebabnya, Eric Eve menyatakan:

To survive, oral tradition have to be memorable and significant to the society or group that transmits it, which mean among other things that is must be shaped in such a way as to allow it to endure.[6]

Gambaran Ehrman mengenai transmisi tradisi lisan mengenai Yesus yang menggelinding liar tanpa pengetahuan serta tanpa ketertarikan terhadap sejarah mengenai Yesus, sebenarnya merupakan “hantu” (baca: asumsi) Kritik Bentuk (Form Criticism).[7] Ehrman hanya menggunakan sebuah pengungkapan kontemporer dengan isi yang sama persis dengan asumsi Kritik Bentuk. Hantu Kritik Bentuk ini, menurut Eve, telah dibunuh berkali-kali oleh para pakar, namun terus hidup kembali. Bahkan, Eve sendiri menyatakan bahwa salah satu tujuan ia menulis bukunya adalah untuk membunuh sekali lagi hantu Kritik Bentuk tersebut.[8] Saya pun bersama Eve di sini dan jangan khawatir, saya tekun dalam hal ini!

Sudah banyak studi sebelumnya yang dilakukan untuk membunuh hantu Kritik Bentuk tersebut, seperti yang dapat Anda baca di dalam sejumlah publikasi ilmiah yang saya sebutkan di atas. Tentu saja, ada perdebatan-perdebatan mengenai aspek-aspek tertentu dalam setiap studi ilmiah tersebut. Namun, seperti yang dicatat dalam survei Eve, ada hal-hal mendasar yang sangat mungkin bisa dipegang mengenai proses transmisi tradisi lisan di balik Kitab-kitab Injil. Pertama, soal kontrol dan peran para saksi mata terhadap tradisi, menurut Eve kontribusi penting dari studi Bauckham mengantar kita kepada kesimpulan berikut:

 It is completely fair to point out that the tradition was more likely to have been transmitted and controlled by certain individuals such as authorized teachers rather than simply passed round an anonymous collective, and it is entirely reasonable to suggest that recognized eyewitnesses were likely to have hat a continuing role in this process for as long as they were around.[9]

Menyatakan seperti di atas, tidak berarti kita dapat memastikan sejauh mana para saksi mata dan tokoh-tokoh otoritatif tersebut berperan untuk memastikan akurasi tradisi lisan yang disirkulasikan. Untuk pastinya, kita tidak memiliki akses mengenai poin ini. Yang pasti adalah tidak benar bahwa tradisi lisan itu bersirkulasi secara “liar” tanpa kontrol dan tanpa keterlibatan para saksi mata sama sekali.

Kedua, poin di atas mengindikasikan mengenai adanya upaya pemeliharaan terhadap tradisi lisan tersebut yang membuat kita dapat berbicara mengenai stabilitasnya walau tidak menafikan adanya fleksibilitas (adaptasi) di dalam transmisinya. Mengenai poin-poin ini, Eve kemudian menyimpulkan bahwa

…in a fairly general sense would it help control for historical accuracy; it would probably control better for perceive congruence (in other words, accepting or rejecting material on the basis of how well it fitted with received potrayals of Jesus). It give us a supporting reason that what we find in the Gospels does in some sense contain genuine memories of Jesus….[10]

Selanjutnya, mengenai klaim Ehrman bahwa Injil Markus misalnya ditulis atas pengisahan-pengisahan yang beredar tanpa kontrol itu, Eve mengemukakan sebuah pengamatan yang menarik untuk dikemukakan ringkasannya di sini. Eve memperlihatkan bahwa cukup banyak tradisi mengenai Yesus yang terdapat (secara sekilas maupun diasumsikan atau dikutip secara lengkap bahkan secara sambil lalu) yang dapat ditemukan di dalam Surat-surat Paulus. Faktanya, Paulus sendiri mengklaim dalam Surat Galatia bahwa ia pernah berjumpa dengan Petrus dan Yakobus dalam kunjungannya ke Yerusalem. Dan itu terjadi dalam rentang waktu sekitar 3 tahun pasca kematian Yesus. Artinya, tradisi-tradisi tersebut berakar di dalam pengisahan para saksi mata mengenai kehidupan Yesus. Sekitar 30 tahun kemudian, Markus menulis Injilnya, dan gema dari tradisi-tradisi tersebut (dalam Surat-surat Paulus) terlihat dalam Injil Markus tanpa perubahan yang signifikan. Ini menggambarkan dua hal pokok: pertama, tradisi lisan tersebut beredar dalam bentuk yang fixed, dan kedua, tradisi lisan tersebut stabil hingga masa penulisan Injil yang pertama.

Selain pengamatan dari Eve di atas, bisa ditambahkan sebuah argumen spesifik selain argumen-argumen lainnya. Misalnya, mengenai isu-isu yang menjadi “masalah” dalam Gereja mula-mula, semacam sunat dan termasuknya orang-orang non Yahudi ke dalam komunitas Kristen tanpa perlu “diyahudikan” (bnd. Kis. 15; juga masalah di Galatia), jika Ehrman benar, maka kita mengharapkan bahwa para penulis Injil akan “menciptakan” pengisahan-pengisahan yang dimaksudkan untuk menangani masalah-masalah tersebut. Misalnya dengan menaruh ke dalam mulut Yesus kata-kata yang otoritatif untuk isu-isu tersebut. Faktanya, Anda tidak akan menemukan upaya semacam ini di dalam Kitab-kitab Injil padahal menurut tahun penulisannya, Kitab-kitab Injil ditulis setelah surat-surat Paulus. Ini mengindikasikan adanya perhatian terhadap genuinitas tradisi lisan tersebut ketimbang perekayasaan tradisi demi kepentingan Gereja mula-mula atau demi agenda teologis semata.

Menggambarkan situasi di atas, para pakar menggunakan semacam diktum mengenai peralihan tradisi oral sebelum penulisan Kitab-kitab Injil, demikian: “Flexible transmission within fixed limits”.[11]

Ehrman tampaknya mempertimbangkan argumen dari sejumlah pakar mengenai stabilitas peralihan tradisi oral. Ehrman merujuk kepada sejumlah hasil studi dari para antropolog yang membuktikan bahwa peralihan narasi dalam budaya oral memang mengasumsikan perubahan demi perubahan yang tidak terkontrol seperti halnya budaya tulisan. Argumen Ehrman di sini straw man. Saya akan memberi satu contoh saja mengapa argumen Ehrman tersebut straw man.

Studi dari Gerhardson yang memberi perhatian terhadap budaya sirkulasi tradisi oral hingga penulisan literatur-literatur Rabbinik, memperlihatkan stabilitas dan formalitas peralihan tradisi yang sangat ketat. Ada sejumlah kemiripan yang diperlihatkan Gerhadson mengenai bagaimana para Rabbi memberikan pengajaran kemudian pengajaran mereka disirkulasikan secara formal dan lisan dengan tingkat stabilitas yang sangat serius. Perlu dicatat bahwa dilihat dari jangkauan etnisnya, studi Gerhardson seharusnya relevan karena masih dalam konteks budaya yang sama yaitu Yudaisme. Tapi bahkan beberapa pakar menolak kesimpulan Gerhadson karena dianggap anakronis mengingat tradisi-tradisi Rabbinik adalah tradisi-tradisi yang lebih kemudian dan tidak dapat diparalelkan begitu saja dengan situasi peralihan tradisi lisan pada masa Yesus hingga penulisan Kitab-kitab Injil. Poin saya di sini adalah, Ehrman tidak dapat merujuk kepada hasil studi yang umum “dari para antropolog” tanpa merujuk kepada sebuah studi yang secara khusus dilakukan dalam konteks budaya lisan Yudaisme Palestina pada masa Yesus. Argumen Ehrman tidak mengenai sasaran, karena bahkan jika hasil studi para antropolog tersebut benar, kita tidak serta merta melihat relevansinya dengan argumen mengenai stabilitas serta kontrol terhadap peralihan tradisi lisan mengenai Yesus (seperti yang diperlihatkan: Gerhardson, Bauckham, Bailey, Dunn, dan Eve di atas terlepas dari sejumlah kritik terhadap detail-detail pendekatan mereka).

Akhirnya, poin Ehrman yang membuat disjungsi (pemisahan) mutlak antara agenda teologis para penulis Injil dengan tendensi historis (biografi) mengenai Yesus, merupakan sebuah disjungsi palsu (false disjuntion). Bahwa para penulis Injil memiliki agenda teologis, itu tidak serta merta mengeliminasi tendensi historisnya. Salah satu contoh popular, dan saya yakin Ehrman tahu akan hal ini, adalah tulisan Josephus. Para pakar telah memperlihatkan agenda politik dari Josephus dalam tulisannya, namun itu tidak membuat mereka kehilangan kepercayaan bahwa Josephus menulis sejarah. Dan sebenarnya, mengenai Kitab-kitab Injil, telah banyak studi yang dipublikasikan mengenai genrenya. Para pakar biasanya menyebut Kitab-kitab Injil dalam kategori: “biografi teologis” (theological biography). Jadi ada aspek teologisnya tetapi juga ada aspek sejarahnya mengenai Yesus.[12]

[1] Dalam kritik sumber, umumnya disepakati bahwa Injil Markus adalah Injil yang pertama, lalu diikuti oleh Matius dan Lukas dan yang terakhir Injil Yohanes.

[2] Eric Eve, Behind the Gospels: Understanding the Oral Tradition (digital version; Minneapolis: Fortress Press, 2014).

[3] Kenneth E. Bailey, “Informal Controlled Oral Tradition and the Synoptic Gospels,” Themelios 20 (1995): 4-11; “Middle Eastern Oral Tradition and the Synoptic Gospels,” ExpTim 106 (1994): 363-367.

[4] Eve, Behind the Gospels (digital version).

[5] Bnd. studi dari: Bailey, Dunn, dan Gerhardson.

[6] Eve, Behind the Gospels (digital version).

[7] Lih. Mis. P.R. Eddy, “Orality and Oral Tradition,” in Joel B. Green, Jeannine K. Brown, and Nicholas Perrin (eds.), Dictionary of Jesus and the Gospels (2nd ed.; Downers Grove, Illinois: IVP, 2013), 642.

[8] Eve, Behind the Gospels (digital version), menulis, “It is rather that even after all this time their collective efforts have not yet fully exorcised the form-critical ghost from the scholarly mindset. The present book represent one more attempt to do so.”

[9] Eve, Behind the Gospels (digital version).

[10] Eve, Behind the Gospels (digital version).

[11] Craig L. Blomberg, The Historical Relibality of the Gospels (Digital version; Downers Grove, Illinois: IVP, 1987).

[12] Mis. Blomberg, The Historical Reliability of the Gospels (digital version).