Bab 1 dan Bab 2 dari How Jesus Became God, fokus untuk membahas beragam data tekstual mengenai konsep keilahian dalam konteks Greco-Roman dan Yudaisme. Saya tidak membahas kedua bab ini secara menyeluruh di sini, namun saya perlu mengingatkan satu hal penting. Tidak seperti upaya yang dilakukan oleh aliran Sejarah Agama (Religionsgeschichteliche Schule), Ehrman bukan menarik paralel antara beragam data tersebut dengan bagaimana para murid memahami keilahian Yesus.[1] Ehrman sekadar ingin memperlihatkan gambaran bahwa di dalam konteks seperti itulah klaim keilahian Yesus lahir, dan klaim tersebut bukan sesuatu yang unik.

Menariknya, dari semua data tekstual yang dipresentasikan Ehrman dalam dua bab pertama bukunya, satu-satunya kisah yang hampir mirip dengan kisah Yesus adalah Apollonius dari Tyana. Saya kira, walau secara umum Ehrman tidak berupaya membuat paralel seperti yang saya kemukakan di atas, namun penempatan kisah Apollonius dari Tyana pada urutan pertama bukunya ketimbang kisah-kisah lainnya yang secara kronologis seharusnya lebih dahulu dikisahkan, memberi kesan yang ambivalen dengan apa yang ingin dihindari Ehrman.

Seperti yang dikemukakan Ehrman, tulisan Philostratus merupakan satu-satunya catatan mengenai Apollonius dari Tyana. Juga seperti yang dicatat Ehrman, ada gap waktu yang panjang antara kematian Apollonius dari Tyana (+ 96/98 M) dengan tulisan Philostratus (+ 220 atau 230 M). Mengomentari tulisan Philostratus, Ehrman menulis:

He (Philostratus) had done considerable research for his book, and his strories, he tell us, were largely based on accounts recorded by an eyewitness and companion of Apollonius himself.

Sulit untuk tidak melihat upaya Ehrman “meyakinkan” kita melalui komentar di atas bahwa tulisan Philostratus mengenai Apollonius harus diberi kredit. Saya berharap, Ehrman memberikan komentar yang lebih kuat lagi mengenai kredibilitas tulisan Lukas (bnd. 1:1-4). Dan for sure, Lukas berhak mendapatkan kredit yang jauh lebih besar mengingat ia menulis pada rentang waktu yang sangat dekat dengan kehidupan Yesus ketimbang tulisan Philostratus mengenai Apollonius dari Tyana.

Lagi pula, menggambarkan tulisan Philostratus mengenai Apollonius dari Tyana sebagai sebuah “considerable research”, merupakan sesuatu yang melampaui bukti yang ada. Faktanya, Philostratus menulis mengenai Apollonius dari Tyana semata-mata berdasarkan suruhan dari Julia Domna yang “…clearly intended to rehabilitate Apollonius’s questionable reputation as magician and fraud.”[2] Sumber-sumber yang digunakan Philostratus mengenai kehidupan Apollonius sangat dipertanyakan kehandalannya. Philostratus semata-mata mendapatkan sebuah diari yang diberikan oleh Domna yang menurut dugaan berasal dari seorang pengikut Apollonius pada masa hidupnya, bernama Damis. Dan para pakar semisal Howard Clark Kee tidak melihat alasan untuk percaya bahwa diari tersebut merupakan catatan yang handal. Diari tersebut tidak lebih dari sebuah rekayasa mengenai kehidupan Apollonius, yang sangat mungkin ditulis berdasarkan pengisahan Kitab-kitab Injil mengenai Yesus.[3]

Menariknya, ketika mendiskusikan mengenai hubungan Apollonius dan Yesus, Ehrman sibuk membahas tentang perdebatan Abad Keempat dalam tulisan Eusebius yang menanggapi tulisan Hierocles. Jelasnya, saya tidak melihat diskusi Ehrman mengenai Eusebius relevan dengan maksudnya. Saya justru berharap, Ehrman memberikan komentar pada bagian itu mengenai argumen para pakar di atas bahwa kehidupan Apollonius direkayasa menurut pengisahan Kitab-kitab Injil mengenai Yesus. Ehrman memang memberikan komentar ini, namun ia menempatkannya di sebuah catatan kaki di bagian belakang bukunya. Mereka yang malas membaca catatan kaki di bagian belakang bukunya, dan tidak diperlengkapi dengan pengetahuan historis mengenai Philostratus, akan melewatkan poin penting ini dan menutup buku Ehrman sambil terkesan dengan tulisan Philostratus mengenai Apollonius yang sangat mirip dengan kehidupan Yesus.

Lagi pula, ketika memberikan komentar pada catatan kaki tersebut, Ehrman menyatakan bahwa sangat mungkin benar bahwa tulisan Philostratus didasarkan atas pengisahan Kitab-kitab Injil mengenai Yesus. Namun, Ehrman menambahkan bahwa poinnya adalah pada masa itu orang tidak sulit menerima klaim bahwa Apollonius adalah “manusia ilahi” yang lain sebagaimana halnya Yesus. Ehrman tidak salah dalam komentar ini. Yang salah adalah presentasi mengenai Apollonius totally anachronistic!

Saya kira, adalah valid untuk bertanya: Mengapa Ehrman mempresentasikan sebuah kisah anakronsitik di bagian paling awal bukunya, sambil memberikan komentar penguat bagi kredibilitas tulisan Philostratus dan menghindari memberikan komentar eksplisit pada tubuh teks bukunya mengenai anakronisme tersebut (menempatkannya di bagian belakang bukunya)? Jawabannya tidak sulit, karena kisah Apollonius merupakan satu-satunya kisah yang sangat paralel dengan kehidupan Yesus. Tampaknya, Ehrman tidak dapat menolong dirinya sendiri untuk memainkan “parallelomania game” di sini!

[1] Untuk kritik terhadap pendekatan Aliran Sejarah Agama-agama, lih. Paul Rhodes Eddy and Gregory A. Boyd, The Jesus Legend: A Case for the Historical Reliability of the Synoptic Jesus Tradition (Digital version; Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2007).

[2] Rhodes Eddy and Boyd, The Jesus Legend (digital version).

[3] Rhodes Eddy and Boyd, The Jesus Legend (digital version).