Secara umum, Bab 1 dan Bab 2 How Jesus Became God bisa dikatakan sangat informatif mengenai konsep divinisasi dalam dunia Greco-Roman maupun dalam Yudaisme kuno. Masalahnya bukan kedua Bab pertama buku Ehrman tidak bermanfaat bagi pembaca; masalahnya adalah kedua Bab tersebut tidak relevan untuk dijadikan acuan latar belakang bagi Kristologi Perjanjian Baru. Kedua Bab pertama buku Ehrman yang dijadikan titik berangkat memahami Kristologi Perjanjian Baru, merupakan titik berangkat yang salah!

Beban penjelasannya adalah bagaimana menjelaskan klaim bahwa Yesus adalah Allah dalam PB dalam konteks Monotheisme Yahudi pada masa itu? Ehrman tampaknya menjawab pertanyaan ini dengan merujuk kepada diversitas konsep divinisasi dalam konteks Greco-Roman maupun Second Temple Judaism. Terangnya, Ehrman melihat bahwa fenomena eksaltasi terhadap beragam figur (manusia atau intermediary beings semisal malaikat) dapat dijadikan acuan untuk menjelaskan konsep divinisasi terhadap Yesus dalam PB.

Titik berangkat di atas salah karena Kristologi Perjanjian Baru berakar, bukan di dalam konsep divinisasi Greco-Roman, melainkan berakar di dalam Monotheisme Yahudi. Memang Ehrman tampaknya berupaya memperlihatkan diversitas konsep divinisasi di dalam Yudaisme kuno yang berkontinuasi dengan diversitas konsep divinisasi Greco-Roman (sesuatu yang sangat problematik),[1] namun ia mengabaikan karakeristik penting dari Monotheisme Perjanjian Lama hingga pada masa Yudaisme Palestina abad pertama. Karakteristik penting itu adalah bahwa di samping ada kecenderungan di dalam Yudaisme untuk mengeksaltasi (meninggikan) figur-figur tertentu (entah manusia atau intermediary beings – para malaikat), namun mereka tidak pernah mengasosiasikan figur-figur tersebut pada tataran identitas ilahi (divine identity) yang unik milik Yahweh.

Sekali lagi, tidak ada figur mana pun yang menerima pengasosiasian dengan identitas ilahi yang unik milik Yahweh di dalam PL maupun di dalam Second Temple Judaism. Jika ada kekecualian, maka itu adalah personifikasi mengenai Firman Allah dan Hikmat Allah. Tetapi ini adalah personifikasi mengenai atribut-atribut diri Yahweh, bukan figur-figur terpisah seperti yang dikesankan Ehrman di dalam bukunya. Monotheisme Yahudi tidak menyisakan ruang apa pun untuk memasukkan figur lain dalam asosiasi dengan identitas ilahi yang unik milik Yahweh. Dan menariknya, di dalam PB, Yesus bukan hanya diasosiasikan dengan identitas ilahi yang unik milik Yahweh (Pencipta, Kekal, menerima penyembahan, berkedaulatan, dll.), melainkan juga para penulis PB mengasosiasikan Yesus dengan kedua konsep personifikatif tersebut, yaitu Firman Allah dan Hikmat Allah. Dan pengasosiasian seperti ini telah ada di kalangan Gereja mula-mula bahkan sebelum dokumen-dokumen PB ditulis!

Argumen pada kedua paragraf di atas berasal dari Richard Bauckham dalam bukunya yang berjudul: Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament’s Christology of Divine Identity. Anda bisa membaca detail argumen Bauckham yang saya ringkas di atas dalam buku ini. Namun dalam kaitan dengan pendekatan Ehrman, kesimpulan dari Bauckham berikut ini perlu untuk ditandaskan:

The key to the way in which Jewish monotheism and high Christology were compatible in the early Christian movement is not the claim that Jewish monotheism left the room for ambigous semi-divinities, but the recognition that its understanding of the unique identity of the one God left room for the inclusion of Jesus in that identity. Though such a step was unprecedented, the character of Jewish monotheism did not make it impossible. Moreover, it was not a step which could be, as it were, approcahed gradually by means of ascending Christological beliefs. To put Jesus in the position, for example, for a very high rangking of angelic servant of God would not be to come close to a further step of assimilating him to God, because the absolute distinction between God and all other reality would still have to be crossed.

Jika Anda membaca presentasi mengenai kontinuasi diversitas konsep divinisasi yang dijadikan acuan dalam buku Ehrman (buku ini terbit tahun 2014), kemudian Anda membaca buku Bauckham di atas, Anda akan melihat bahwa pendekatan Ehrman bahkan hingga detail-detail penjelasannya, telah dibantah sebelumnya oleh Bauckham! Dan Ehrman tidak secuil pun berinteraksi dengan riset Bauckham (yang terbit tahun 2008) tatkala ia menggunakan sebuah pendekatan yang sudah usang dan telah dibantah secara meyakinkan – menurut saya – oleh Bauckham. Saya tidak percaya bahwa Ehrman tidak pernah mengetahui mengenai buku tersebut. Dan jika ia memang mengafirmasi bahwa ia tidak mengetahui mengenai buku tersebut, saya sungguh serius mempertanyakan riset kesarjanaannya dalam rangka menulis How God Became Jesus!

Selain itu, Ehrman hanya merujuk secara sekilas kepada dua buku Larry Hurtado: One God, One Lord: Early Christian Devotion and Ancient Jewish Monotheism; dan Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Ehrman tidak berinteraksi dengan argumen-argumen dalam buku-buku Hurtado sama sekali. Ia sekadar memberikan rujukan dan dalam satu kesempatan ia mengutip Hurtado di luar konteksnya untuk mendukung poinnya mengenai intermediary beings semisal para malaikat. Hurtado tidak mengklaim seperti yang dimaksud Ehrman. Hurtado sekadar membuat perbandingan. Bahkan Hurtado secara eksplisit menyatakan bahwa tidak terdapat analogi mana pun dalam Second Temple Judaism yang dapat digunakan untuk menggambarkan penyembahan terhadap Yesus (Lord Jesus Christ, 50)!

Lebih menarik lagi, dalam review terhadap How Jesus Became God, Hurtado secara eksplisit menyatakan bahwa pandangan Ehrman mengenai “Anak Manusia” sebagai figur yang lain (bukan Yesus), merupakan pandangan yang sudah usang karena dianggap tidak berdasar sama sekali sejak tahun 1970an.

Mengamati berbagai pengulangan-pengulangan usang tanpa argumen baru, sekadar kemas ulang dengan kata-kata yang heboh, seperti yang dilakukan Ehrman lagi dan lagi, sekali lagi saya mendapatkan afirmasi untuk sebutan saya bagi Ehrman: Mr. Ad Nauseam. Lebih khusus lagi dalam isu ini, Mr. Ad Nauseam menggunakan “Pendekatan Ad Nauseam”!

[1] Problematik karena Ehrman menggambar tiga pola diversitas konsep divinisasi dalam dunia Greco-Roman, lalu ia memakai tiga pola itu untuk menggambar konsep divinisasi Yudaisme. Dan di sinilah masalahnya. Ehrman merujuk kepada teks-teks yang tidak harus dikategorikan dalam pola-pola tersebut, lalu ia tafsirkan sedemikian rupa sehingga cocok dengan pola-pola tersebut. Cara berargumentasi seperti ini merupakan circular reasoning. Ehrman mengasumsikan adanya pola-pola tersebut, maka ia harus menemukan indikasi mengenai pola-pola itu, dan semua teks yang ia rujuk ia tafsirkan untuk cocok dengan pola-pola yang ia asumsikan. Dan hasil dari circular reasoning itu kemudian ia pakai untuk mengategorikan Kristologi PB ke dalam dua model: Kristologi eksaltasi dan Kristologi inkarnasi. Pengategorian semacam ini juga melahirkan circular reasoning yang lain ketika ia mulai menafsirkan teks-teks PB untuk cocok dengan pola-pola ini – pola-pola yang sebenarnya lahir dari circular reasoning.