Ini bukan tafsiran lengkap atas narasi perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Siro-Fenisia seperti yang dikisahkan dalam Markus 7:24-30 (Mat. 15:21-28). Saya sudah membahas beragam tafsiran terhadap teks ini dalam buku terbaru saya: “Dari ‘Mesir’ ke Mesir.”

Dalam survei saya, semua variasi tafsiran terhadap narasi tersebut disetir oleh asumsi bahwa penggunaan kata “anjing-anjing kecil” (terj. literal dari: tois kunarois – ay. 27; ta kunaria – ay. 28) bermakna negatif. Terangnya, diasumsikan bahwa istilah “anjing-anjing” pada waktu itu adalah istilah khas dari orang-orang Yahudi yang memandang rendah orang-orang non-Yahudi. Secara historis, asumsi ini berasal dari John Chrysostom dalam homilinya mengenai Filipi 3:2 yang di dalamnya ia merujuk kepada penggunaan kata “anjing-anjing” dalam Matius 15:21-28. Entri mengenai kata “kuon” (“anjing”) dalam TDNT yang ditulis oleh Michael juga menegaskan asumsi ini. Intinya, apa pun maksud Yesus, penggunaan istilah “anjing-anjing” di situ pasti bermakna negatif. Saya menyebutnya tafsiran “sejuta umat”.

Berangkat dari asumsi di atas, muncul banyak sekali tafsiran. Salah satunya yang akan saya bahas secara ringkas di sini, yaitu tafsiran bahwa Yesus sedang menggunakan strategi retorika bernama “playing devil’s advocate.” Maksudnya, Yesus sengaja “meminjam” pandangan yang diasumsikan para audiensnya (orang-orang Yahudi termasuk para murid) dengan maksud untuk dibantah. Artinya, Yesus tidak memandang perempuan Siro-Fenisia itu sebagai bagian dari “anjing-anjing”. Yesus hanya meminjam pandangan itu sebagai sebuah strategi retorika.

Bagi Anda yang pernah mengikuti Kursus Kairos (Kairos Course) – saya dulu adalah salah seorang fasilitatornya – Anda akan disuguhi sebuah rekaman video yang di dalamnya Don Richardson (penulis buku: “Anak Perdamaian”) yang membahas Markus 7:24-30. Richardson menyatakan bahwa Yesus berbicara kepada perempuan Siro-Fenisia itu dengan menggunakan kata “anjing-anjing” sambil mengerlingkan mata-Nya kepada perempuan itu. Kerlingan itu dimaksudkan untuk memberitahu perempuan Siro-Fenisia tersebut bahwa yang memandangnya sebagai bagian dari “anjing-anjing” adalah orang-orang Yahudi pada umumnya (termasuk para murid-Nya).

Saat pertama kali menyaksikan rekaman itu, saya berpendapat bahwa tafsiran itu sangat menarik. Bukan hanya menarik, namun secara tidak langsung “menyelamatkan” Yesus dari tuduhan bahwa Ia melakukan abusive ad hominem terhadap perempuan Siro-Fenisia tersebut. Saya bahkan mengadakan riset lanjutan dan mendapati bahwa para penafsir terkenal lainnya pun menganut tafsiran senada dengan Richardson, antara lain: William Barclay, N.T. Wright, Alan Hugh McNeile, R.T. France, dan A.E.J. Rawlinson. Ringkasnya, para penafsir dengan tafsiran ini “menyelamatkan” Yesus dari sebuah sesat pikir (logical fallacy). Puji Tuhan!

Sekarang, saya masih dan akan terus memuji Tuhan atas kepakaran Richardson dan jiwa misinya yang membanggakan. Tetapi saya tidak lagi memuji Tuhan atas tafsiran di atas. Setelah melakukan riset lanjutan, saya mendapati bahwa sesungguhnya bukan Yesus yang perlu diselamatkan oleh tafsiran tersebut. Kita-lah yang perlu diselamatkan dari asumsi sejuta umat mengenai makna negatif kata “anjing-anjing” dalam teks di atas yang kemudian melahirkan tafsiran tersebut.

Seorang penafsir Yahudi pada awal Abad ke-20 sebenarnya sudah memprotes asumsi sejuta umat di atas. Penafsir itu, Israel Abrahams, dalam bukunya: Studies in Pharisaism and the Gospels menyatakan, “…tafsiran-tafsiran Injil Matius berasersi dengan ngotot bahwa orang-orang Yahudi biasanya menyebut orang-orang kafir sebagai ‘anjing-anjing’. Sudah seharusnya asersi ini dibantah…. Pada waktu itu, tidak pernah ada kebiasaan semacam itu” (1967; 2.195).

Baru-baru ini, asumsi sejuta umat ini juga kembali dibantah dalam studi terbaru dari Mark D. Nanos, seorang pakar Surat-surat Paulus yang mengadakan riset mengenai penggunaan kata “anjing-anjing” dalam Filipi 3:2 (yang umumnya diasumsikan sama negatifnya dengan penggunaannya dalam Injil Markus dan Injil Matius). Dalam risetnya terhadap seluruh teks-teks Yahudi sebelum masa Yesus hingga tulisan-tulisan Rabi pada Abad Pertengahan, Nanos hanya menemukan sebuah teks Rabbinik Abad Pertengahan, Pirke de Rabbi Eliezer 29, yang dalam taraf tertentu memang menyamakan orang-orang non-Yahudi dengan “anjing-anjing”. Nanos dengan eksplisit menyatakan bahwa kesimpulan Michael dalam entri mengenai “anjing” dalam TDNT bahwa orang-orang Yahudi pada masa itu biasa merendahkan orang-orang non-Yahudi dengan sebutan “anjing-anjing” adalah kesimpulan yang tidak berdasar sama sekali.

Adapun maksud penggunaan “anjing-anjing” dalam narasi perjumpaan Yesus dengan Perempuan Siro-Fenisia itu sudah saya bahas dalam buku saya di atas. Poin saya dalam note singkat ini adalah tafsiran “kerlingan mata” atau tafsiran “bermain mata” ala Richardson dan sejumlah pakar PB di atas hampir pasti tidak dapat dipertahankan. Pertama, tafsiran ini berangkat dari asumsi yang salah mengenai makna penggunaan kata “anjing-anjing” dalam teks tersebut; dan kedua, yang paling mendasar, tafsiran “kerlingan mata” ini sepenuhnya spekulatif. Tidak ada petunjuk apa pun dari Markus 7:24-30 (dan paralelnya) yang dapat dijadikan acuan untuk membaca gestur Yesus (“kelingan mata”) yang dijadikan penekanan dalam tafsiran ini.

Kadang-kadang para penafsir berniat menyelamatkan Yesus dan Alkitab; sebuah niat yang baik dan patut diapresiasi hingga akhirnya kita mendapati bahwa Kekristenanlah yang perlu diselamatkan dari tafsiran-tafsiran mereka!