Injil Yohanes adalah satu-satunya Kitab Injil yang memuat lontaran mengenai “murid yang dikasihi” (the beloved disciple). Kitab ini sendiri adalah “Injil yang dikasihi” (the beloved Gospel). Bahkan di dalamnya, kita mendapati banyak bagian yang “dikasihi”, salah satunya adalah Yohanes 3:16 yang disebut Kostenberger sebagai “much-loved verse” (John; BECNT).

Isu spesifik yang menjadi concern saya di sini adalah referen kata  ἔδωκεν (“telah memberikan”) dalam Yohanes 3:16. Apakah kata ini merujuk kepada peristiwa Natal atau Jumat Agung? Pertanyaan ini penting karena Yohanes 3:16, dalam konteks pelayanan pastoral sesuai dengan kalender Gerejawi, seringkali dikutip bahkan dikhotbahkan pada momen Natal. Maka secara eksegetis, kita mesti mengajukan pertanyaan ini untuk melihat keabsahan ekesegetis dari penggunaan teks ini dalam konteks pelayanan tersebut.

Dalam pandangan saya, menurut konteksnya, Allah “memberikan” Anak Tunggal-Nya dalam teks di atas, merujuk kepada peristiwa kematian Kristus. Kesimpulan ini didukung oleh dua poin observasi eksegetis, berikut ini.

Pertama, Yohanes 3:16 merupakan kesatuan teks dengan Yohanes 3:14-15.  Yohanes 3:14 berbicara mengenai “Anak Manusia harus ditinggikan” dalam kerangka tipologis dengan peristiwa Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun (Bil. 21:8-9). Jelas bahwa ayat ini berbicara tentang kematian Yesus di salib. Tujuan dari kematian Yesus adalah, ayat 15, membuat hidup kekal itu available bagi “setiap orang yang percaya kepada-Nya.” Kata γὰρ (“karena”) menandai alasannya, yaitu “Allah mengasihi dunia ini” (ay. 16; Wallace, 1996: 668).

Dan kedua, intonasi dari Allah memberikan Putra Tunggal-Nya, menggemakan peristiwa Abraham memberikan Ishak sebagai korban bakaran (Kej. 22). Dalam sejarah eksegesis, pengorbanan Ishak tersebut dilihat sebagai tipologi dari kematian Yesus sebagai korban pengganti bagi “dunia”.

Menariknya adalah, para penafsir semisal, Raymond R. Brown melihat bahwa Allah “memberikan” Anak Tunggal-Nya dalam teks ini merujuk terutama kepada momen inkarnasi (kelahiran Yesus), sementara rujukan kepada kematian-Nya hanya dianggap sebagai sebuah kemungkinan lain. Mengenai Yohanes 3:16, Brown berkomentar:

Dialog ini sekarang menjadi sebuah monolog (Nikodemus tampaknya telah meninggalkan [percakapan dengan Yesus – keterangan dari saya] pada malam ketika ia datang) yang di dalamnya dikembangkan pentingnya inkarnasi. Allah telah memberikan (dalam inkarnasi tetapi mungkin juga dalam kematian) Anak Tunggal-Nya… (1998: 33).

Memang, dari segi totalitas tendensi penggunaan istilah dalam Injil Yohanes, kata “memberikan” cenderung digunakan dalam dua arti, yaitu “memberikan” dalam arti mengirim Sang Putra ke dalam dunia (inkarnasi) dan “memberikan” dalam arti mengirim-Nya untuk mati di atas salib (Morris, John; NICNT). Tetapi merupakan kesalahan eksegetis (exegetical fallacy) ketika kita mengasumsikan bahwa setiap kali kemunculan kata “memberikan” dalam Injil Yohanes, maka kedua arti di atas pasti diasumsikan (bnd. Carson, Exegetical Fallacies).

Tafsiran both/and, kelahiran dan kematian Yesus, sebagai referen dari kata “memberikan” dalam Yohanes 3:16, tidak disarankan konteksnya. Dan jangan membuang waktu dengan berargumentasi bahwa tidak ada kematian Yesus tanpa kelahiran-Nya, maka pasti kata tersebut merujuk juga kepada kelahiran-Nya. Ini argumen yang bangkrut secara logika maupun eksegetis!

Yang pasti, inti komentar Brown di atas tidak mendapatkan dukungan dari konteksnya. Rujukan dari “Allah memberikan Putra Tunggal-Nya” dalam Yohanes 3:16, harus dihubungkan dengan peristiwa kematian Yesus di salib.

Implikasinya, dalam pelayanan pastoral menurut kalender Gerejawi, seharusnya teks ini bukan dikhotbahkan pada momen perayaan Natal, melainkan pada momen peringatan Kematian Yesus, atau yang kita kenal dengan Jumat Agung!