Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu (1Kor. 15:14)

Kebangkitan dalam Dunia Greco-Roman
Orang-orang di Korintus, yang terdiri atas orang-orang Yahudi maupun orang-orang Yunani, tampaknya sulit untuk percaya bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Tidak jelas, apakah kesulitan ini berasal dari lingkungan jemaat sendiri, atau berasal dari lingkungan sekitar mereka yang dihadapi oleh jemaat kemudian mereka melaporkannya kepada Paulus yang saat itu sedang berada di Efesus. Yang pasti, ada penolakan terhadap pemberitaan mengenai kebangkitan Yesus yang bagi Paulus merupakan inti terpenting dari Injilnya (1Kor. 15:1-4).

Penolakan di atas bisa dipahami karena konsep kebangkitan baik di kalangan orang-orang Yunani maupun orang-orang Yahudi, persis bertentangan dengan klaim Paulus bahwa Yesus telah bangkit secara fisik dari antara orang mati.

  • Bagi golongan Epikurean (bnd. 1Kor. 15:32), kebangkitan sama sekali tidak mungkin karena mereka tidak percaya akan kehidupan setelah kematian.
  • Para filsuf Yunani yang lain, semisal Plato, percaya akan kekekalan jiwa dan karena itu percaya akan kehidupan setelah kematian, namun menolak bahwa tubuh fisik ini dapat bangkit lagi setelah kematian.
  • Orang-orang Yahudi pada umumnya percaya bahwa ada kebangkitan tubuh, namun itu bukan terjadi sekarang melainkan terjadi pada akhir jaman (Yoh. 11:24).
  • Orang-orang Yahudi dari golongan Saduki, sama seperti kaum Epikurean di atas, tidak percaya akan kehidupan setelah kematian.

Jadi, baik orang-orang Yunani maupun orang-orang Yahudi di Korintus memang tidak melihat alasan untuk percaya akan pemberitaan Paulus bahwa Yesus telah dibangkitkan secara fisik dari kematian.

Argumen Sejarah
Menariknya adalah Paulus tidak sekadar memaklumatkan bagi orang-orang di Korintus untuk “percaya saja”! Sebaliknya, Paulus berupaya membuktikan klaimnya mengenai kebangkitan Yesus dengan menggunakan argumen sejarah.

Paulus berargumen bahwa perkara kebangkitan Yesus, bukan hanya perkara iman melainkan juga merupakan perkara sejarah yang bisa diverifikasi. Dalam 1 Korintus 15:3-8, Paulus berbicara tentang sejumlah bukti sejarah mengenai kebangkitan Yesus. Di dalamnya (ay. 3b-5a), Paulus mengutip sebuah kredo (kerygma) Gereja mula-mula, yang struktur paralelnya berbentuk demikian:

1a Kristus telah mati
     2a Bagi dosa-dosa kita
           3a Sesuai dengan Kitab Suci
                 4a Dan Dia dikuburkan
1b Ia telah dibangkitkan
     2b Pada hari ketiga
           3b Sesuai dengan Kitab Suci
                 4b Ia telah menampakkan diri kepada Kefas

Perlu dicatat bahwa kredo di atas sangat mungkin sudah ada bahkan hanya beberapa bulan setelah kebangkitan Yesus. Bagian pertamanya berbicara mengenai kematian Yesus dan bagian kedua berbicara mengenai kebangkitan Yesus, dengan unsur-unsur berikut ini:

  • Fakta sejarah: 1a Yesus mati dan 2a Yesus bangkit.
  • Interpretasi teologis: 1b Dia mati bagi dosa-dosa kita dan 2b Dia bangkit pada hari ketiga.
  • Pembuktian teologis: 1c Sesuai dengan Kitab Suci dan 2c Sesuai dengan Kitab Suci.
  • Bukti sejarah: 1d Dia dikuburkan – untuk memperlihatkan bahwa Ia benar-benar mati dan 2d Dia telah menampakkan diri kepada Kefas – untuk membuktikan bahwa Ia benar-benar telah bangkit.

Paulus kemudian memberikan komentar tambahan berupa daftar para saksi mata yang melihat penampakan-penampakan Yesus pasca kebangkitan-Nya (ay. 6-8). Paulus bahkan menambahkan klausa, “kebanyakan dari mereka masih hidup” (ay. 6) pada saat Paulus menulis surat ini. Artinya, bagi Paulus, kebangkitan Yesus tidak dapat ditolak hanya karena seseorang mengasumsikan konsep-konsep tertentu mengenai kebangkitan, semisal yang diasumsikan orang-orang Yunani maupun orang-orang Yahudi di Korintus (lih. Uraian pada poin sebelumnya). Kebangkitan Yesus benar-benar terjadi; sebuah peristiwa sejarah yang didukung oleh bukti-bukti sejarah yang meyakinkan bahkan orang dapat memverifikasi kebenarannya dengan menanyai mereka yang “masih hidup” saat itu!

Signifikansi Kebangkitan Yesus
Setelah meletakkan dasar historis bagi kebangkitan Yesus, Paulus lalu menggunakan silogisme “jika-maka” untuk memperlihatkan absurditas klaim bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik dari kematian dan juga bahwa tidak ada kebangkitan orang mati (15:13-19). Di sini Paulus mulai berbicara mengenai makna atau pentingnya kebangkitan Yesus bagi umat kepunyaan Allah.

Bagi Paulus, hanya jika seseorang mengasumsikan kebangkitan Yesus, maka ia dapat melihat iman bersama seluruh pengharapan Kristen menjadi sesuatu yang masuk akal, yaitu:

  • Kebangkitan Yesus merupakan dasar dari pengharapan akan kebangkitan tubuh orang-orang percaya yang adalah milik Kristus (ay. 20, 23).
  • Kebangkitan Yesus menjadi jaminan bahwa musuh terbesar manusia, yaitu maut sebagai upah dosa (Rm. 3:23; 6:23) telah dikalahkan (ay. 21-26).
  • Kebangkitan Yesus membuktikan superioritas dan kekuasaan Kristus atas kematian yang menjadikan-Nya layak disembah (ay. 27-28).
  • Kebangkitan Yesus menjadi dasar kesetiaan serta daya tahan dalam pelayanan Rasuli yang di dalamnya terdapat berbagai kesulitan dan penderitaan bahkan ancaman maut (ay. 30-32).
  • Karena kebangkitan Yesus menjadi dasar dari pengharapan akan kebangkitan orang tubuh orang percaya, maka pengharapan ini mendasari etika Kristen atau gaya hidup Kristiani yang bertanggung jawab (ay. 32b, 33-34).

Paulus kemudian mengembangkan sambil menegaskan kembali poin-poin di atas untuk berbicara mengenai tubuh kebangkitan dalam ayat 35-58.

Injil Rasuli
Dengan memahami betapa pentingnya kebangkitan Yesus bagi iman Kristen, kita bisa memahami mengapa bagi Paulus, Injil yang diberitakannya tidak berintikan hal lain kecuali kematian dan kebangkitan Yesus. Injil yang benar dan yang menyelamatkan adalah Injil yang inti beritanya adalah kematian dan kebangkitan Yesus (15:1-4).

Perhatikan bahwa Paulus menyebut inti berita Injil di atas dengan kata bahasa Yunani: protos yang berarti sesuatu yang “paling penting, paling utama, paling kemuka” (ay. 3). Paulus juga menyatakan dalam ayat 1 bahwa Injil yang ia beritakan itu adalah sesuatu yang “telah aku terima” (Yun. parelabon), sebuah istilah yang biasanya digunakan untuk menandai penurunalihan tradisi rasuli (bnd. 1Kor. 11:23). Juga, Paulus menyatakan bahwa Injil itulah yang “telah aku teruskan kepada kalian” (Yun. paredoka…humin).

Dengan pengungkapan-pengungkapan di atas, Paulus hendak menyatakan dua hal. Pertama, Injil bukan sekadar kabar baik, melainkan juga adalah kabar benar. Ada banyak kabar baik, tetapi tidak semua kabar baik adalah kabar benar. Kabar baik yang benar adalah bahwa Yesus telah mati bagi dosa-dosa kita dan bahwa Ia telah bangkit dari kematian. Tanpa inti ini, Injil yang diberitakan itu bukanlah Injil yang sejati. Dan kedua, Injil yang Paulus pahami di atas bukan Injil hasil karangannya sendiri. Injil itulah yang diberitakan oleh para rasul kemudian yang Paulus terima lalu meneruskannya kepada jemaat-jemaat yang ia layani. Paulus tidak memberitakan Injil yang berbeda dari pemberitaan para rasul yang lain. Kabar baik yang benar yang isinya adalah kematian dan kebangkitan Yesus, adalah Injil Rasuli (bnd. Kis. 2:14-40)!

Teori-teori Alternatif?
Selain beredarnya konsep Yunani dan Yahudi di atas pada masa Paulus, sepanjang sejarah telah muncul beragam teori alternatif untuk menolak kebangkitan Yesus. Sebelumnya, kita perlu mendaftarkan ulang berbagai bukti historis yang terdapat dalam PB:

  • Yesus mati melalui penyaliban. Fakta ini diterima oleh para pakar yang paling skeptis sekalipun karena didukung oleh banyak bukti sejarah non Kristen (Thalos, Yosefus, Plini Muda, Suetonius, Tacitus, Mara bar Serapion, Lusianus dari Samosata, Selsus, dan Talmud).
  • Para murid melihat penampakan-penampakan Yesus secara individual maupun berkelompok. Bukti ini juga diterima oleh para pakar skeptis karena didukung oleh multi-sumber.
  • Kubur kosong. Bukti ini didukung oleh tradisi yang sangat awal sekali (diasumsikan dalam 1Kor. 15:3-8) dan tidak pernah ada bukti sejarah sebaliknya!
  • Keberanian dan kerelaan para murid untuk mengalami aniaya bahkan kematian pasca klaim mengenai kebangkitan Yesus (bnd. Kisah Para Rasul dan juga kesaksian-kesaksian Paulus)

Merupakan sebuah keharusan untuk kita mengharapkan bahwa sebuah teori dapat menjelaskan fakta-fakta sejarah di atas secara menyeluruh. Maka mari kita perhatikan berbagai usulan teori alternatif yang diusulkan oleh berbagai kalangan.

  • Teori pingsan. Menurut teori ini, Yesus hanya pingsan saat disiksa. Tetapi teori ini tidak cukup untuk menjelaskan kekejaman para prajurit Romawi dalam menyiksa mereka yang dikenai hukuman penyaliban. Para tentara Romawi adalah para ahli penyiksaan yang akan memastikan korban-korbannya tewas dalam penyaliban.
  • Teori mati suri. Menurut teori ini, Yesus hanya mati suri. Teori ini juga memiliki kelemahan seperti teori di atas.
  • Teori halusinasi. Menurut teori ini, Yesus memang mati namun tidak bangkit. Penampakan-penampakan Yesus hanya halusinasi para murid saja. Teori ini bangkrut karena halusinasi tidak pernah terjadi secara berkelompok. Halusinasi hanya terjadi secara individual dan jika individu yang bersangkutan sangat menginginkan apa yang ia halusinasikan. Para murid bahkan sudah give up terhadap Yesus ketika Ia mati. Mereka tidak mengharapkan bahwa Yesus akan bangkit (bnd. Luk. 24:13-35). Thomas bahkan tidak percaya bahwa Yesus bangkit (Yoh. 24-29).
  • Teori Yesus Gnostik. Menurut teori ini, Yesus (Manusia) dan Kristus (Pribadi Rohani) adalah dua pribadi yang berbeda. Yang disalibkan adalah Yesus (Manusia) sedangkan Kristus (Pribadi Rohani) tidak disalibkan. Mereka membuat perbedaan ini karena bagi mereka, tubuh material itu bersifat jahat sedangkan yang rohaniah itu murni (The Second Treatise of Seth, The Apocalypse of Peter, The Acts of John, The Gospel of Peter, Gospel of Truth, First Apocalypse of James, dan Zostrianos). Teori ini tidak memiliki dukungan bukti apa pun, jadi bisa diabaikan saja.
  • Teori Substitusi. Beberapa penganut Gnostik percaya bahwa saat penyaliban, wajah seseorang diubah menyerupai wajah Yesus. Maka yang disalibkan adalah orang yang menyerupai wajah Yesus namun Yesus sendiri langsung diangkat ke sorga. Teori ini juga terdapat dalam Alquran (QS. 4:157). Para penafsir Muslim tradisional bahkan percaya bahwa orang yang wajahnya diubah menyerupai Yesus adalah Yudas. Teori ini, sama seperti teori Yesus Gnostik di atas, tidak memiliki dukungan bukti apa pun, bahkan memperlihatkan bahwa ada kesalahan sejarah yang sangat serius di dalam Alquran perihal penyaliban dan kematian Yesus melalui salib. Alquran hanya meneruskan saja kerangka pemahaman Gnostik mengenai penyaliban Yesus!

Teori-teori di atas adalah teori-teori alternatif yang diusulkan sepanjang sejarah untuk mengeliminasi klaim kebangkitan Yesus. Namun seperti yang sudah dipaparkan di atas, tidak ada satu pun dari teori-teori alternatif di atas yang dapat menjelaskan seluruh fakta historis di atas secara memuaskan dan menyeluruh. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal untuk semua fakta historis di atas yang memiliki kekuatan eksplanatoris untuk mencakup semua bukti sejarah di atas adalah kebangkitan Yesus!

Penutup
Iman Kristen adalah iman yang memiliki fondasi sejarah yang solid dan terpercaya. Inti iman Kristen adalah kematian Yesus bagi dosa-dosa kita dan bahwa Ia telah dibangkitkan dari antara orang mati. Kebangkitan Yesus benar-benar terjadi; benar-benar merupakan peristiwa sejarah; bukan rekayasa; bukan juga hanya merupakan sesuatu yang diimani tanpa acuan bukti sejarah.

Tetapi, lebih dari sekadar peristiwa sejarah, kebangkitan Yesus adalah peristiwa teologis. Kebangkitan Yesus melandasi iman dan seluruh pengharapan Kristen. Maka Paulus berkata, “…andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor. 15:14). Tanpa kebangkitan Yesus, kita akan tetap hidup di dalam kesia-siaan dosa (15:17). Namun karena Kristus benar-benar telah dibangkitkan, maka Paulus menyerukan agar “berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!,” sambil dengan yakin percaya bahwa “dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (15:58).

Daftar Pustaka
Dunn, James D.G., Jesus Remembered. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003.
Evans, Craig A., and Wright, N.T., Jesus, the Final Days: What Really Happened. Louisville, Kentucky: Westminster John Knox, 2009.
Fee, Gordon D., The First Epistle to the Corinthians. The New International Commentary on the New Testament. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1987.
Garland, David E., 1 Corinthians. Baker Exegetical Commentary on the New Testament. Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2003.
Gary R. Habermas, The Risen Jesus & Future Hope. Lanham: Rowman & Littlefield Publishers, Inc., 2003.
Johnson, Alan F., 1 Corinthians. The IVP New Testament Commentary Series; Downers Grove, Illinois: IVP, 2004.
Keener, Craig S., 1-2 Corinthians. The New Cambridge Bible Commentary; Cambridge: Cambridge University Press, 2005.
Licona, Michael R., Paul Meets Muhammad: A Christian-Muslim Debate on the Resurrection. Grand Rapids, Michigan: Baker, 2006.
Porter, Stanley E., Hayes, Michael A., Tombs, David, eds. Resurrection. JSNTSupp. 186; Sheffield: Sheffield Academic Press, 1999.
Schafer, Peter, Jesus in the Talmud. Princeton: Princeton University Press, 2007.
Taylor, Mark, 1 Corinthians. The New American Commentary: An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture; Nashville, Tennessee: Broad & Holman, 2014.
Thiselton, Anthony C., The First Epistle to the Corinthians: A Commentary on the Greek Text. The New International Greek Testament Commentary; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2000.
Van Voorst, Robert E., Jesus Outside the New Testament: An Introduction to the Ancient Evidence. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2000.