Karena saya tidak ingin mewakili pengalaman siapa pun, walau sangat mungkin rekan-rekan yang berasal dari keanggotaan Gereja dengan tipikal liturgi ibadah seperti saya dulu pernah merasakan pengalaman ini, maka saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pengalaman pribadi.

Saya menghabiskan masa kecil hingga remaja dalam tradisi Gereja yang sangat menjaga ketertiban liturgis. Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) adalah asal Gereja saya. Sampai tahun 1998, saat dimana saya mulai menempuh studi teologi di Jakarta, saya adalah jemaat GMIT. Terlepas dari masalah keanggotaan administratif, pengaruh liturgis GMIT masih kuat membekas dalam diri saya hingga sekarang.

Seperti yang mayoritas Anda mungkin ketahui, mengangkat tangan ketika berdoa dan menyanyi, merupakan sesuatu yang tidak dilakukan dalam ibadah di GMIT (saya tidak tahu apakah masih begini sekarang). Dan “ketidakbiasaan” itu membentuk semacam rasa aneh di dalam diri saya ketika mulai mengikuti ibadah di berbagai Gereja lain, mayoritas Gereja-gereja Kharismatik dan Pantekosta. Tidak satu dua kali, para jemaat diminta untuk mengangkat tangan baik saat doa maupun saat bernyanyi. Saya sesekali mengangkat tangan, walau jujur saja, saat mengangkat tangan ada semacam perasaaan aneh dalam arti “this kind of act is definitely not mine.” Maka, meski berkali-kali mendengar suruhan baik dari pemimpin pujian maupun dari hamba Tuhan yang menyampaikan firman agar mengangkat tangan, saya sering memilih untuk tidak mengangkat tangan. Dan ini pun menimbulkan rasa aneh, karena sementara semua orang di sekeliling saya mengangkat tangan, kelihatannya hanya saya seorang yang tidak mengangkat tangan.

Serba salah!

Saya semakin merasa serba salah, bahkan jujur saja: jengkel, ketika beberapa waktu lalu, saya mengikuti ibadah KKR yang diadakan sebuah Gereja dari aliran Kharismatik. Setelah menyampaikan khotbahnya, tibalah momen “tantangan” dimana sang pengkhotbah menyerukan kepada jemaat untuk mengangkat tangan di hadapan Tuhan. Saya mengutip persis kata-kata sang pengkhotbah itu, demikian:

Jangan keraskan hatimu. Bahkan mengangkat tangan di hadapan Tuhan saja engkau begitu berkeras hati.

Saya tidak terlalu yakin apakah kata-kata itu ditujukan secara khusus dan langsung kepada saya atau tidak. Semua orang sedang menutup mata; saya juga. Namun saya mengasumsikan bahwa para jemaat yang lain memang mengangkat tangan karena semua yang hadir saat itu adalah anggota Gereja tersebut yang memang telah dididik untuk selalu mengangkat tangan dalam ibadah ketika mendapatkan arahan itu. Jadi sangat mungkin kata-kata itu memang ditujukan kepada saya, atau setidaknya saya pasti termasuk di dalam mereka yang mendapat hardikan di atas.

Kata-kata di atas setidaknya mengimplikasikan beberapa pokok teologis. Pertama, tidak mengangkat tangan sama dengan “mengeraskan hati”. Kedua, mengeraskan hati di sini adalah mengeraskan hati terhadap Tuhan, yang imply-nya adalah tidak mengangkat tangan sama dengan menolak Tuhan. Di sisi lain, secara positif, kata-kata mengandung makna teologis bahwa mengangkat tangan adalah tanda penerimaan dan penyerahan diri kepada Tuhan. Dan tindakan ini sekaligus mengindikasikan kelembutan hati untuk meresponsi secara positif firman Tuhan yang sudah disampaikan.

Juga, dalam doanya, sekali lagi saya kutip persis dari penggalan doa sang pengkhotbah di atas:

Tuhan, Engkau melihat tangan-tangan yang terangkat…

Dan karena saya tidak mengangkat tangan atas suruhanya, maka dalam teologi pengkhotbah di atas, saya adalah orang yang mengeraskan hati terhadap Tuhan, menolak Tuhan, dan tidak memiliki kelembutan hati untuk memberikan respons positif terhadap firman Tuhan – terlepas dari isi khotbahnya yang memang mayoritas, menurut saya – jujur saja, ngawur! Asal comot ayat sana-sini, dijelaskan di luar konteks gramatikal-historisnya, lalu ditarik aplikasi yang entah dasarnya apa!

Bukan hanya itu, dalam doanya pun, hanya “tangan-tangan yang terangkat” saja yang didoakan. Mengapa? Karena sang pengkhotbah sudah menjustifikasi bahwa hanya mereka yang tangannya terangkat yang memiliki kelembutan hati untuk meresponsi firman Tuhan. Sementara mereka yang tidak mengangkat tangan, termasuk saya pastinya, adalah orang-orang yang mengeraskan hati terhadap Tuhan, jadi tidak perlu didoakan.

Kasihan sekali, bukan?!

Kembali ke masalah mengangkat tangan. Dalam kerangka teologis di atas, perihal mengangkat tangan telah dianggap sebagai sebuah keharusan. Dan karena itu adalah keharusan, lebih tepatnya: keharusan teologis, maka perihal mengangkat tangan telah diberlakukan sebagai doktrin dalam korpus teologi penyembahan atau teologi ibadah!

Pertanyaannya: “Apakah mengangkat tangan dalam ibadah – entah saat bernyanyi dan atau saat meresponsi firman Tuhan – merupakan sebuah keharusan teologis menurut Alkitab?” Ataukah, mengangkat tangan merupakan ekspresi yang bebas dalam beribadah, dan dengan demikian relatif, tidak perlu dimutlakkan dalam ibadah dan penyembahan?

Supaya Anda tidak salah paham  bahwa tulisan ini dimotori oleh kejengkelan pribadi, saya perlu menandaskan bahwa pengalaman mendapat hardikan di atas adalah satu hal. Namun adalah hal lain untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting di atas ketika pertanyaan-pertanyaan di atas terstimulasi oleh pengamatan akan fenomena pengajaran-pengajaran yang berkembang dalam Gereja masa kini. Tulisan ini lahir dari tendensi yang terakhir saya sebutkan di sini.

Dan atas pertimbangan agar tulisan ini tidak menjadi terlalu panjang, saya akan menulis sebuah tulisan lanjutan yang berisi telusuran eksegetis ringkas terhadap bagian-bagian PL dan PB yang relevan. Setelah itu saya akan menarik sejumlah poin implikatifnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.