Nabeel Qureshi, Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2014), 296pp.

seeking-allah-finding-jesus-banner

“Seeking Allah, Finding Jesus” adalah sebuah autobiografi, sebuah buku yang ditulis dengan gaya bercerita mengenai perjalanan spiritual Qureshi. Qureshi adalah eks Muslim yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat religius dan berakar kuat dalam teologi Islam. Teologi Islam terintegrasi dalam seluruh sendi kehidupan keluarga itu. Sebuah keluarga Muslim yang taat dan yang menyenangi gagasan mengenai kedamaian.

Sebelum berjumpa kemudian bersahabat dengan David Wood, Qureshi tidak pernah memiliki seorang sahabat Kristen sebelumnya. Ia juga belum mendapati seorang Kristen yang benar-benar qualified dalam mempertahankan iman Kristennya, kecuali seorang teman sekelasnya, seorang gadis, yang pernah mengundangnya ke Gereja.

Persahabatan dengan David kemudian menuntunnya berjumpa dengan Mike Licona dan Gary Habermas, dua pakar PB dan sejarahwan yang sangat handal dalam sejarah penyaliban dan kebangkitan Yesus. Semua argumen inti yang sering dijadikan acuan menolak Kekristenan dari pihak Islam, dipresentasikan Qureshi dalam dialognya dengan David dan juga Mike.

Ia mulai menyadari bahwa teologi Islam tidak sekuat seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Gambaran mengenai kesempurnaan Quran sebagai firman Allah yang didikte langsung oleh malaikat Gabriel kepada Muhamad dan bahwa Islam adalah agama damai karena Muhamad sendiri adalah figur yang cinta damai, seketika kandas di atas bukti-bukti dari primer dari Islam sendiri, Qur’an dan Hadits. Gambaran-gambaran indah tentang Islam yang dulu dibanggakannya, seketika menjadi jelas bahwa itu bukanlah gambaran yang utuh. Orang menggambarkan Islam seperti yang mereka senangi dan mereka tahu orang lain akan senang melihatnya: cinta damai, tanpa paksaan, tidak ada kekerasan, dsb. Gambaran-gambaran yang persis bertentangan dengan isi Qur’an sendiri dan Hadits-hadits yang diakui handal dalam tradisi Islam.

Dalam kenangannya akan momen-momen pertukaran argumentasi intelektual itu, Qureshi menulis, “Saya kemudian menyadari akan nilai dari apologetika dan dampak dari argumen-argumen itu terhadap saya” (241).

Ringkasnya, pergulatan batin antara kekuatan argumentasi di satu sisi, dan betapa kuat serta berakarnya tradisi Islam di dalam dirinya, ditambah pertimbangan akan harga yang harus ia bayar jika ia menjadi Kristen, membuat keputusan itu tidak pernah mudah baginya untuk diambil. Harganya adalah seluruh hidupnya!

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia tidak dapat lagi menahan lebih lama untuk menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Meski ia tahu, dan ia selalu mengenang itu dengan liangan air mata kepedihan, melihat tatapan kekecewaan kedua orangtuanya yang sangat menyayanginya dan memberikan segala yang terbaik yang mereka bisa untuk mendidik dan membesarkannya.

Sebuah buku yang ditulis dengan nada yang hangat, bersahabat, dan tanpa intonasi ofensif di dalamnya. Gaya bertuturnya sederhana dan memikat. Saya sendiri, tidak dapat menahan diri untuk menghabiskan isi buku ini dalam sekali baca.

Menariknya, salah seorang pakar eksegesis Alquran dan juga seorang apologet Muslim internasional, Shabir Ally, ketika meninjau isi buku ini, mengakui daya pikat cara bertutur Qureshi. Memang menurut Ally, ada aspek-aspek yang seharusnya ada dalam buku itu namun tidak ia temukan. Dan menurutnya itu adalah kelemahan-kelemahan dari buku ini. Tetapi perhatikan, Ally tidak menyatakan bahwa apa yang telah tertuang di dalam buku ini patut dikritisi. Ia hanya menyatakan apa yang seharusnya ada namun tidak ada di dalamnya yang patut disayangkan.

Saya berharap, buku yang sangat inspiratif dan menarik serta menggugah emosi dan nalar ini, menarik minat dari para penerbit Kristen di Indonesia untuk menerjemahkannya bagi para pembaca berbahasa Indonesia. Orang-orang Kristen perlu didorong untuk memahami Islam dengan lebih baik dan membangun relasi persahabatan yang otentik dengan mereka, sebagaimana David yang menjadi alat Kristus menuntun Qureshi menuju jalan keselamatan satu-satunya, Yesus Kristus, melalui persahabatan mereka.

Theodore Roosevelt: “People don’t care how much you know, until they know how much you care!”