Nabeel Qureshi, Seeking Allah, Finding Jesus: A Devout Muslim Encounters Christianity (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2014), 296pp (baca tinjauan umum saya di sini)

Karena Seeking Allah, Finding Jesus adalah sebuah eksodus spiritual, keluar dari Islam kepada Kristen, maka adalah sah bagi para pembaca untuk berharap menemukan lontaran-lontaran mengenai keyakinan-keyakinan teologis yang membuat Qureshi dulunya percaya bahwa Islam adalah agama yang benar, dan Kristen adalah agama yang salah.

Ringkasnya, dalam perspektif teologi Islam, pokok-pokok apa saja yang membuat mereka melihat teologi Kristen sebagai kesalahan? Kita berharap mendapatkan keberatan-keberatan yang real (nyata) dan representatif mengingat penulisnya, Nabeel Qureshi, adalah seorang eks Muslim yang saleh dan memahami dengan baik teologi Islam serta keberatan-keberatan mereka terhadap Kristen.

Dengan mengajukan pertanyaan seperti ini, kita tertolong untuk terhindari dari gambaran straw man terhadap perspektif teologi Islam mengenai kesalahan-kesalahan teologi Kristen. Hal ini juga merupakan sebuah representasi praktis dari salah satu prinsip berargumen yang sehat bernama the principle of charity (prinsip murah hati).[1]

Dalam pembacaan saya terhadap Seeking Allah, Finding Jesus, saya menemukan lontaran-lontaran sporadis mengenai keberatan-keberatan tersebut. Saya akan mendaftarkan pokok-pokok tersebut di bawah dengan beberapa suplemen penjelasan dari saya sendiri.

Pertama, mereka percaya bahwa Yesus tidak mati melalui penyaliban (QS. 5:157-158). Dan karena Ia tidak disalibkan maka Ia tidak dibangkitkan. Tetapi mereka berbeda pendapat soal apakah Yesus benar-benar disalibkan atau tidak. Mengenai isu terakhir ini, ada beberapa pendapat:

  • Para penafsir Muslim tradisional percaya akan “Teori Substitusi,” yaitu teori bahwa Allah mengubah wajah seseorang yang lain menyerupai wajah Yesus sehingga yang disalibkan adalah orang tersebut, sedangkan Yesus langsung diangkat ke sorga. Lalu, siapakah yang diusulkan sebagai kandidat yang wajahnya diubah menyerupai Yesus? Ada yang mengusulkan Simon dari Kirene, sedangkan ada yang mengusulkan Yudas Iskariot.
  • Para penafsir Muslim semisal Ahmed Deedat dan Shabir Ally, termasuk juga mereka yang menganut paham Ahmadiyya, percaya bahwa Yesus memang disalibkan, namun Ia tidak mati melalui penyaliban. QS 5:157-158 dibaca sebagai indikasi bahwa penyaliban bukan sarana kematian Yesus. Deedat sendiri percaya bahwa Yesus hanya mati suri (Swoon Theory). Jika Yesus hanya pingsan, lalu kemanakah Yesus setelah lolos dari penyaliban itu? Ada yang sekadar mengambil posisi agnostik (“tidak tahu”); ada yang percaya bahwa Yesus pergi ke India setelah lolos dari penyaliban.[2]

Kedua, Yesus bukan inkarnasi Allah. Yesus hanya nabi; utusan Allah yang saleh bagi Israel saja; firman Allah; lahir dari seorang perawan; dan melakukan mukjizat-mukjizat. Mereka membangun argumen penolakan itu, misalnya dari materi Injil Yohanes dimana Yesus menyatakan “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh. 14:28) dan juga sebutan “Anak Manusia” dipahami dalam arti Yesus adalah manusia.[3] Pauluslah yang bertanggung jawab di sini. Ia melihat kevakuman teologis di kalangan para murid kemudian mulai mengkhotbahkan doktrin keilahian Yesus.[4]

Ketiga, Doktrin Allah bukanlah Tritunggal (Trinitas) melainkan Tauhid (QS. 5:73, 116). Doktrin Trinitas dianggap sebagai sebuah “doktrin absurd yang layak mendapatkan pembalasan Allah.”[5]

Keempat, Injil telah diubah dalam arti direkayasa sehingga yang ada sekarang bukan lagi Injil yang autentik. Mayoritas argumen merujuk kepada varian-varian tekstual PB.[6]

Kelima, keselamatan bukan didasarkan atas penebusan substitusional Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya (substitutionary atonement). Dalam analoginya, Qureshi dulu berpikir bahwa adalah sebuah ketidakmungkinan bagi satu orang untuk menjadikan dirinya korban pengganti bagi semua umat manusia. Keselamatan, menurut perspektif Islam, didapatkan dengan melakukan perbuatan baik sebanyak mungkin. Perbuatan-perbuatan baik itu akan ditimbang bersamaan dengan dosa-dosa kita untuk menentukan seseorang masuk sorga atau masuk neraka.[7]

Dalam pengalaman berdiskusi dengan sejumlah rekan Muslim, saya melihat bahwa kelima pokok keberatan di atas bisa dikatakan sangat umum digunakan. Saya memang tidak melihat bahwa kelima pokok keberatan di atas adalah pokok-pokok keberatan yang tidak terjawab. Qureshi adalah salah satu contoh nyata bahwa keberatan-keberatan itu sudah saatnya dimuseumkan saja. Usang!

Saya menghimbau kepada rekan-rekan Muslim agar memformulasi keberatan-keberatan baru ketimbang sekadar mengulang-ulang saja keberatan-keberatan usang di atas yang sudah berkali-kali dijawab dan tidak ada keberatan lanjutan yang esensial dari pihak Islam.

[1] Prinsip “murah hati” dalam berargumen, dijelaskan oleh T. Edward Damer, demikian: “If a participant’s argument is reformulated by an opponent, it should be carefully expressed in its strongest possible version that is consistent with what is believed to be the original intention of the arguer,” lih. Attacking Faulty Reasoning: A Practical Guide to Fallacy-Free Arguments, 7.

[2] Chp. 13 “Swoons and Subtitutitons”; Chp. 25 “Crucifying the Swoon Theory”; Chp. 27 “Debating the Ressurection”.

[3] Chp. 14 “The Father is Greater than I”; bnd. Part 5 “Jesus: Mortal Messiah or Divine Son of God?”

[4] Chp. 31 “Paulemics and the Earliest Jesus”.

[5] Chp. 32 “Tension and the Trinity”; Chp. 33 “Resonating with the Trinity”.

[6] Chp. 22 “Textual Evolution”; Chp. 23 “Revisiting Reliability”.

[7] Chp. “Salvation in the Balance”.