Kadang-kadang, para hamba Tuhan perlu menghentikan laju mereka sejenak untuk memikirkan kembali pertanyaan-pertanyaan sederhana tetapi penting, yang mungkin saja muncul di benak para jemaat, namun tak pernah dibahas dalam khotbah-khotbah di Gereja. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin saja tidak dibahas karena para hamba Tuhan mengasumsikan bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu sama jelasnya bagi mereka dan bagi para jemaat. Padahal tidak!

Salah satunya adalah pertanyaan di bawah ini:

Jika Alkitab adalah firman Allah, mengapa di dalamnya terdapat kata-kata Setan, kata-kata manusia, semisal Ayub dan teman-temannya, dsb.?

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan penting. Bahkan jika digeluti, jawabannya bukanlah sebuah jawaban singkat dan memerlukan pengetahuan yang solid akan doktrin Alkitab (Bibliologi).

Pertama, kita perlu memeriksa logic dari pertanyaan di atas terlebih dahulu, yang urutannya seperti di bawah ini:

  1. Firman Allah berarti “kata-kata yang langsung diucapkan oleh Allah” (the utterances of God).
  2. Jadi, Alkitab adalah firman Allah berarti Alkitab adalah “kata-kata Allah secara langsung yang tertulis.”
  3. Tetapi, di dalam Alkitab terdapat kata-kata Setan dan manusia.
  4. Bagaimana mungkin Alkitab adalah firman Allah (dalam pengertian ini)?

Sekarang menjadi kelihatan jelas bahwa pertanyaan di atas dimulai dari penentuan yang keliru akan maksud “firman Allah” (poin 1) ketika itu digunakan dalam konteks Bibliologi (poin 2). Untuk mengetahui mengapa saya menyembutnya “dimulai dari penentuan yang keliru”, mari kita perhatikan poin kedua di bawah ini.

Kedua, dari perspektif makna dan fungsinya, kita harus ingat bahwa sebuah istilah atau frasa dapat (dan sah) digunakan dalam arti yang berbeda. Ini adalah poin penting untuk memahami maksud “Alkitab adalah firman Allah.”

Dalam Kekristenan, frasa “firman Allah” digunakan dalam dua arti yang berkaitan erat, namun berbeda, yaitu:

  1. “Firman Allah” digunakan dalam arti “kata-kata Allah yang keluar dari mulut Allah sendiri,” baik itu disampaikan kepada para nabi atau disampaikan melalui utusan-utusan-Nya. Di dalam Alkitab, ketika frasa ini digunakan dalam arti ini, biasanya diawali dengan formula: “Demikianlah firman Tuhan,” atau “Tuhan berfirman,” dll (mis. Kej. 15:4; 22:16; 1Sam. 15:10, dsb.). Atau Alkitab bahkan mencatat mengenai dialog yang dilakukan oleh Allah dalam kitab Kejadian dan juga di awal dan di akhir kitab Ayub.

Pengertian “firman Allah” pada poin 1 di atas merupakan salah satu alasan penting (ada alasan-alasan lain!) mengapa Alkitab diyakini sebagai kitab yang diinspirasikan oleh Allah.

Alkitab diinspirasikan oleh Allah berarti seluruh kitab dalam Alkitab ditulis atas pimpinan Roh Kudus untuk memenuhi maksud Allah yaitu sebagai penyingkapan (pewahyuan; revelation) Diri Allah sendiri maupun kehendak dan karya penebusan-Nya.

Sebagai sebuah penyingkapan (pewahyuan), Allah memakai berbagai sarana, mis. kisah mengenai berbagai tokoh (di dalamnya termasuk juga Setan), sejarah Israel (juga termasuk di dalamnya keberhasilan dan kegagalan-kegagalan mereka), dsb. Allah memimpin para penulis Alkitab untuk menuliskan semua ini supaya memenuhi tujuan yang diringkas dalam 2 Timotius 3:16, yaitu: “… untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

Ketika frasa “firman Allah” digunakan dalam konteks Bibliologi (doktrin Alkitab, yaitu “Alkitab adalah firman Allah”), maka frasa ini digunakan dalam pengertian pada poin 2 di bawah ini:

  1. Alkitab ditulis atas inspirasi Roh Kudus yang memimpin para penulis Alkitab untuk menulis sesuai maksud, tujuan, dan sasaran pewahyuan itu sendiri.

Jadi, ketika kita menyatakan “Alkitab adalah firman Allah,” kita sedang mengakui bahwa Penulis Utama (Auctor Primairus) dari Alkitab adalah Allah sendiri.

Misalnya, bagi Anda yang pernah mengikuti studi teologi, Anda pasti akan langsung melihat bahwa penjelasan-penjelasan saya mengenai makna “firman Allah” dan juga makna “inspirasi Alkitab”, adalah parafrase dari pengakuan-pengakuan iman dalam hubungan dengan Bibliologi. Termasuk di dalamnya, saya mengutip juga dari Alkitab, bahkan pertanyaan di awal tulisan ini juga bukan merupakan pertanyaan saya sendiri melainkan pertanyaan yang saya dapatkan dari orang lain lalu saya mencantumkannya untuk di bahas. Semua materi yang saya kutip, entah yang saya setujui atau yang tidak saya setujui, bermanfaat untuk memenuhi tujuan penulisan artikel ini. Jadi, saya bisa menyebut tulisan ini dengan keyakinan penuh bahwa ini adalah tulisan saya!

Demikian pula halnya Alkitab. Allah menggunakan berbagai cara, berbagai material, berbagai penulis, untuk menghasilkan kitab yang hari ini kita sebut sebagai Alkitab untuk mengajarkan “kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik” (Mzm. 119:66) yaitu tentang Diri Allah sendiri, rencana, janji, karya, serta penggenapannya dalam sejarah penebusan (redemptive history).