Spoudason seauton dokimon parastesai to theo, ergaten anepaiskhunton, orthotomounta ton logon tes aletheias (Transliterasi dari GNT; 2Tim. 2:15)

“Bertekunlah untuk mempresentasikan dirimu layak bagi Allah, seorang pekerja yang tidak malu, yang menafsirkan firman kebenaran itu dengan tepat” (Terjemahan saya; 2Tim. 2:15)

Dalam tulisan ini, saya akan memberikan catatan mengenai dua pokok penting, yaitu: a) catatan eksegetis; dan b) catatan khotbah (catatan homiletic). Khotbah yang baik dan bertanggung jawab, haruslah khotbah yang lahir dari atau berdasarkan atas penyelidikan eksegetis yang baik. Anda dipersilakan untuk menggunakan catatan ini sebagai salah satu pemandu dalam menyampaikan khotbah dari teks di atas.

A. Catatan Eksegetis

Dalam bagian ini, saya akan memberikan catatan-catatan penting mengenai: konteks historisnya, studi kata, dan struktur serta relasi sintaksisnya.

1. Konteks Historis: Ajaran Sesat

Di penjara di kota Roma, Paulus mendapat kabar bahwa jemaat Efesus sedang dirongrong oleh ajaran sesat. Kita tidak tahu persis ajaran sesat apa yang membahayakan iman jemaat di Efesus, namun karakteristik-karakteristknya digambarkan Paulus demikian:

  • Paulus menggambarkan para pengajar sesat itu sebagai orang-orang yang fasih dan pandai berbicara namun isinya “omong kosong” (ay. 14-16).
  • Sedemikian pandainya mereka mengkomunikasikan “omong kosong” mereka, maka ada orang-orang seperti Himeneus dan Filetus yang termakan oleh kefasihan yang menyesatkan tersebut, bahkan jemaat-jemaat lainnya juga ikut terpengaruh. Pengaruh itu “perlahan namun pasti” dan merusak iman jemaat (perhatikan kata-kata Paulus: “menjalar seperti penyakit kanker” – ay. 17-18).
  • Paulus menyebut ajaran mereka “omong kosong” karena yang mereka ajarkan adalah over-realized-eschatology, yaitu bahwa “kebangkitan kita sudah berlangsung” (ay. 18). Jika “kebangkitan kita sudah berlangsung” (perhatikan: mereka masih hidup saat itu, bukan?), maka itu berarti mereka hanya menerima “kebangkitan spiritual”, bukan “kebangkitan fisik”. Dan itu berarti juga, mereka menyangkali kebangkitan tubuh di masa depan (future bodily resurrection). Penyangkalan ini persis bertentangan dengan Injil yang Paulus beritakan dalam 1 Korintus 15. Dalam 1 Korintus 15, Paulus mengajarkan bahwa kebangkitan Yesus secara fisik menjadi dasar pengharapan bagi kebangkitan kita secara fisik juga di masa depan. Jika mereka menyangkali kebangkitan tubuh di masa depan, maka secara tidak langsung mereka juga menolak manfaat dari kebangkitan Yesus di masa lampau. Jadi mereka sebenarnya bukan hanya menolak kebangkitan tubuh di masa depan; mereka, pada dasarnya, menolak kebangkitan Yesus secara fisik di masa lampau.

Ringkasnya, mereka menolak Injil yang diberitakan oleh Paulus dan para rasul, yaitu: Yesus mati, dikuburkan, bangkit secara fisik pada hari ketiga, dan telah naik ke sorga (1Kor. 15:3-5). Semua pemberitaan – entah dinamakan “injil” atau tidak – yang tidak memberitakan Injil Rasuli ini apalagi bertentangan dengannya, bagi Paulus, adalah “omong kosong”. Bahkan Paulus juga menyatakan,

Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. (Gal. 1:6-9).

2. Studi Kata

Sedemikian pentingnya ajaran yang sehat (sound doctrine) dalam pelayanan, maka Paulus menandaskan kepada Timotius:

Bertekunlah untuk mempresentasikan dirimu layak bagi Allah, seorang pekerja yang tidak malu, yang menafsirkan firman kebenaran itu dengan akurat (Terjemahan saya; 2Tim. 2:15).

Dalam bagian-bagian lain, Paulus berbicara tentang anugerah Allah dalam memanggil dan melayakkan seseorang untuk melayani Dia (mengenai dirinya – Rm. 1:1; 1Kor. 1:1; 2Kor. 1:1; Gal. 1:1; Ef. 1:1; Kol. 1:1; 1Tim. 1:1; 2Tim. 1:1; mengenai Timotius, Paulus menyatakan bahwa ia menugaskan Timotius sebagai gembala berdasarkan “apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu” 1Tim. 1:18). Paulus juga sudah berbicara tentang kualifikasi etis dari para pelayan Tuhan (1Tim. 3; 2Tim. 2:19-26; dll.). Tetapi, bukan hanya ini. Pelayanan itu tidak cukup dilakukan hanya karena mendapat “panggilan” dan “berkelakuan baik”!

Berbicara mengenai kelayakan Timotius sebagai seorang pelayan Allah, Paulus menggunakan sejumlah istilah penting dalam 2 Timotius 2:15, yaitu:

Spoudason

Kata spoudason, berarti “gemar, memiliki keinginan yang kuat, bersemangat, melakukan segala upaya yang terbaik, rajin, tekun” (BDAG). Itulah sebabnya, beberapa versi terjemahan Alkitab menerjemahkan kata ini: “Do your best,” (NIV; NIB; RSV; ESV) atau “Make every effort,” (NJB) atau “Be eager,” (NAB), atau “Be diligent” (NAU; NAS; NKJ; YLT), atau “Work hard” (NLT). Saya menerjemahkannya “bertekun” yang mengasumsikan “kerja keras, upaya terbaik, dan konsistensi serta komitmen”.

Seauton dokmon parastesai to theo 

Secara literal, seauton dokimon parastesai to theo, berarti “untuk mempresentasikan dirimu sendiri layak bagi Allah.”

Kata dokimon berarti “disetujui, diperkenan, dianggap layak” (approved), “which implies that someone will be carefully assessing Timothy’s work but also here he is to pass the test.”[1]

Kata parastesai dapat digunakan dalam arti etisnya yaitu “mempersembahkan diri sebagai korban” (Rm. 12:1; Kol. 1:22). Tetapi, kata ini juga dapat digunakan dalam arti legal (nuansa hukum), yaitu “menghadirkan seseorang di hadapan hakim” untuk dinilai bersalah atau tidak bersalah (Rm. 6:13; 2Kor. 4:14; Kol. 1:28). Nuansa legal dari kata parasth/sai lebih cocok dalam konteks ini. Artinya, Paulus berbicara tentang kelayakan Timotius dalam pelayanan menurut penilaian Allah (to theo).

Ergaten anepaiskhunton

Secara literal, ergaten anepaiskhunton berarti “seorang pekerja yang tidak malu.” Menariknya, selain tema: saksi, penderitaan, dan kuasa, tema “malu” merupakan salah satu tema utama dalam Surat 2 Timotius. Tema ini diangkat dalam hubungan dengan isi Injil yang diberitakan, yaitu “salib” yang dalam kebudayaan Romawi merupakan sesuatu yang memalukan. Juga, tema ini diangkat berdasarkan fakta bahwa para pelayan Injil (yang “memalukan” itu) sedang berada di penjara (seakan-akan mereka adalah para kriminal). Penderitaan mereka berpotensi bagi seseorang untuk “merasa malu” dalam melayani pemberitaan Injil.[2]

Pertanyaannya, apakah “seorang pekerja yang tidak malu” (ergaten anepaiskhunton) mengasumsikan gagasan di atas?[3] Saya percaya Walter L. Liefeld benar, ketika ia berkomentar:

Although the idea of shame is significant in 1:16-18, this is a different context, for there is no suggestion that this workman might be ashamed of his product, that is, the gospel. Rather, the following clause indicates that it is the way the work is performed that might or might not give reason for shame.[4]

Jadi, Liefeld merujuk kepada anak kalimat (klausa) selanjutnya sebagai petunjuk untuk menemukan alasan untuk menjadi “pekerja yang tidak malu”. Dan dalam bagian selanjutnya, saya akan memperlihatkan dari aspek struktur kalimatnya bahwa Liefeld benar.

Orthotomounta ton logon tes aletheias

Frasa ton logon tes aletheias (“firman kebenaran”) digunakan dalam teks lain dalam arti “Injil” (Kol. 1:15; Ef. 1:13). Arti ini cocok dengan konteks Surat 2 Timotius dimana Paulus membicarakan “Injil” (euangelion) sebagai konsep sentral (1:8, 10; 2:8). Tetapi, Paulus memilih menggunakan frasa ton logon tes aletheias untuk menekankan mengenai Injil sebagai kebenaran mutlak (the absolute sense of the Gospel) sebagai kontras dari ajaran sesat yang sedang beredar di dalam jemaat Efesus.[5]

Kata orthotomounta digunakan dalam bentuk partisip, yang artinya kata ini menjelaskan kata anak kalimat utama sebelumnya, yaitu “bertekun mempresentasikan diri sendiri layak bagi Allah, seorang pekerja yang tidak malu.”

Secara literal, kata orthotomounta berarti “menempuh jalan yang lurus”. Konteks awal penggunaannya adalah seorang traveler yang mengambil jalan pintas yang langsung menuju sasaran, ketimbang menempuh jalan yang berkelok (BDAG). Berdasarkan arti literal ini, ditambah intonasi dari konteksnya mengenai “omongan yang kosong dan tidak suci” (ay. 16), tidak heran LAI-ITB menerjemahkan kata ini “berterus-terang”.  Tetapi terjemahan LAI-ITB ini tidak secara akurat mempresentasikan makna kata ovrqotomou/nta di dalam konteksnya. Tidak pernah keterus-terangan dalam memberitakan Injil menjadi ukuran kelayakan seorang pelayan. Di dalam konteksnya, Paulus sedang membuat kontras antara ajaran yang menyimpang (ajaran sesat) dan ajaran yang menurut “firman kebenaran”. Maka kata orthotomounta pasti bukan soal bagaimana seorang pelayan mempresentasikan Injil Kebenaran itu (mis. dengan keterusterangan), melainkan soal bagaimana seorang pelayan memahami Injil Kebenaran itu sendiri.

Itulah sebabnya, hampir semua versi terjemahan berbahasa Inggris menerjemahkan kata orthotomounta dengan memberikan penekanan soal bagaimana memahami firman kebenaran itu: “correctly handles” (NIB; NIV), “rightly handling” (NRS; RSV), “handling accurately” (NAS); “accurately handling” (NAU); “rightly explaining” (NRS), “correctly explain” (NLT). Knight secara tepat menyimpulkan makna kata orthotomounta, demikian: “To handle this word correctly is to handle it in accord to its intention and to communicate properly its meaning (cf. 2Cor. 2:17; 4:2).”[6]

Tidak ada cara lain yang lebih bertanggung jawab untuk menentukan “maksud penulis” (its intention) seperti yang dikemukakan Knight di atas, selain dari melakukan eksegesis (penyelidikan gramatikal-historis). William B. Tolar menyatakan,

No element of interpretation is more important to an accurate understanding of the Bible than is the grammatical-historical method. It is the sine qua non for any valid understanding of God’s word. Without an honest, careful, intelligent use of grammatical and historical knowledge, there is little or no hope for a correct interpretation of documents written in foreign languages within several different ancient historical context. To fail to use proper grammatical rules or to ignore those historical contexts is most certainly to guarantee failure in understanding the writers’ intended meanings.[7]

Selanjutnya, Tolar kembali menandaskan,

It is a moral imperative for the interpreter to do his or her best to understand the text correctly so as to discover the meaning placed there by the original author. Anything less is intellectually dishonest and spiritually immoral and unworthy of a person of integrity.[8]

3. Struktur dan Relasi Sintaksis

Untuk memahami alur pikir Paulus dalam 2 Timotius 2:15, kita perlu memperhatikan struktur dan relasi sintaksisnya (sintaksis: hubungan antar-kata dalam kalimat):

Struktur 2 Tim 2_15

Berdasarkan struktur kalimat di atas, alur pikir Paulus dalam 2 Timotius 2:15 adalah: a) Timotius harus berupaya dengan tekun; b) tujuan dari ketekunan itu adalah untuk dinilai layak oleh Allah; c) penilaian Allah itu adalah bahwa ia seorang pekerja yang tidak malu; dan d) alasan atau kriteria penilaian itu adalah ketepatannya dalam menafsirkan (atau: memahami) dan mengkomunikasikan makna firman kebenaran.

Jadi, salah satu kriteria penilaian Allah yang sangat penting bagi seorang gembala jemaat, adalah ketekunannya dalam mengasah pengetahuan, kemampuan, ketrampilannya dalam menafsirkan firman kebenaran serta mengkomunikasinnya maknanya dengan tepat. Kriteria ini sangat penting, karena jika tidak demikian, maka ia akan mendatangkan rasa malu bagi dirinya sendiri bahkan mempermalukan Tuhan. Itulah sebabnya, Frank Thielman mengomentari 2 Timotius 2:15, demikain: “…in his handling of ‘the word of truth’ he should prove himself to be a skillful worker who has no cause to be ashamed of his work.”[9]

B. Catatan Homiletis

Anda tidak perlu menyampaikan segala detail yang muncul dalam hasil penyelidikan eksegetis di atas. Tetapi, merupakan sebuah keharusan untuk mengkhotbahkan gagasan inti dari teks di atas. Dan gagasan inti dari 2 Timotius 2:15 adalah:

Ketepatan penafsiran serta pengkomunikasiannya yang tidak menyimpangkan makna firman Allah sebagai kriteria kelayakan seorang gembala/pengkhotbah/pemberita firman di hadapan Allah.

Saya mendapati bahwa komentar R. Kent Hughes dan Brian Chapell terhadap 2 Timotius 2:15 persis menggambarkan kondisi pemberitaan firman di berbagai Gereja masa kini. Hughes dan Chapell menyebutkan enam penyimpangan yang “memalukan” dalam khotbah-khotbah berdasarkan teks di atas, yaitu:[10]

  1. Fenomena “dysexposition,” yaitu: pertama, fenomena di mana seorang pengkhotbah membuka Alkitab, membacakan sebuah bagian lalu tidak mengkhotbahkan teks itu sama sekali tetapi mulai tanpa kaitan dengan teks tersebut. Dan kedua, fenomena di mana apa pun teks yang dibacakan, isi khotbah sang pengkhotbah tersebut selalu sama dari waktu ke waktu.
  2. Fenomena “de-contexted,” yaitu fenomena di mana sebuah teks ditafsirkan di luar konteks originalnya lalu ditarik aplikasi-aplikasi yang tidak dimaksudkan teks yang bersangkutan.
  3. Fenomena “lensed,” yaitu fenomena dimana sebuah teks ditafsirkan menurut “lensa” favorit si pengkhotbah, mis. psikologi, terapeutik, politik, khauvinistik, sosial, dsb., tanpa indikasi yang mendukung penggunaan lensa tersebut dari teks yang bersangkutan.
  4. Fenomena “moralized,” yaitu fenomena dimana teks-teks Alkitab selalu dikhotbahkan dengan tendensi moralizing (moralisasi) tanpa teologi sama sekali. Khotbah yang benar adalah theological preaching, bukan ethic preaching!
  5. Fenomena “doctrinalized,” yaitu fenomena di mana sejumlah teks diklasifikasikan sebagai proof-texts untuk mendukung doktrin tertentu tanpa eksegesis yang cermat terhadap teks-teks tersebut.
  6. Fenomena “silenced,” yaitu fenomena dimana teks yang bersangkutan tidak menyatakan apa-apa tentang sebuah pokok gagasan, namun sang pengkhotbah mulai berimajinasi kemudian menarik kesimpulan/aplikasi semata-mata atas dasar imajinasi tersebut.

Mengakhiri keenam daftar penyimpangan memalukan di atas, Hughes dan Chapell menyatakan,

The preacher must be given to hard, hard work. And that is what I think the great problem with the preaching today – homiletical sloth. Possibly this is because some believe that the homiletical payoff does not merit the added work. It is God before whom we all will stand; it is God before whom we must not be ashamed. This command draws the picture from a workman who has done his work well and therefore can submit it to his superior without hesitation or embarrassment.[11]

Mengacu kepada inti eksegesis di atas, juga pengamatan Hughes dan Chapell terhadap kondisi kontras masa kini dengan intonasi imperatif dari 2 Timotius 2:15, coba perhatikan beberapa fenomena atau ungkapan kontemporer, di bawah ini:

  1. Jika kemampuan menafsir dan mengkomunikasikan firman Tuhan dengan tepat merupakan keharusan bagi seorang gembala, bagaimana pendapat Anda soal orang-orang yang tidak pernah menempun studi formal (mis. masuk STT), tanpa bekal pengetahuan Alkitab yang baik, namun langsung mendirikan jemaat kemudian menjadi gembala?
  2. Bagaimana pendapat Anda jika ada orang yang berkata: “Saya tidak perlu menafsirkan Alkitab; saya cukup taat saja”?
  3. Bagaimana pendapat Anda ketika seseorang berkata: “Tidak perlu eksegesis, yang penting adalah merenungkan makna praktisnya”?
  4. Bagaimana pendapat Anda bahwa “Saya bergantung atas pimpinan Roh Kudus saja, tidak perlu riset, tidak perlu baca buku, tidak perlu menggunakan tafsiran, tidak perlu studi bahasa Yunani-Ibrani”?

D.A. Carson menyatakan,

Khotbah sebagai tindakan ketaatan dan penyembahan seharusnya tidak dibungkus oleh akademis yang buruk dalam jubah kesungguhan. Biarlah khotbah Anda menarik, tetapi biarkan ia dalam segala sisinya setia kepada penyataan Allah.[12]

Jangan menyamakan antara “merenungkan” dan “mengkhayal”. Merenungkan firman Tuhan mengasumsikan pembacaan yang teliti, penyelidikan yang seksama, dan penafsiran yang tepat (bnd. Luk. 1:1-4). Jika Anda semata-mata mendasarkan khotbah Anda atas “merenungkan” tanpa semua upaya terbaik ini, Anda sedang “mengkhayal” lalu mengkhotbahkan “khayalan rohani” Anda bagi jemaat.

[1] Philip H. Towner, The Letters to Timothy and Titus (Epub Version; The New International Commentary on the New Testament; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2006).

[2] Paul M. Zehr, 1 & 2 Timothy, Titus (Believers Church Bible Commentary; Pennsylvania: Herald Press, 2010), 148.

[3] Yaitu: tidak malu akan Injil (Rm. 1:16-17); tidak malu karena menderita bagi Kristus (2Tim. 1:16-18; 2:1-13).

[4] Walter L. Liefeld, 1 & 2 Timothy, Titus (The NIV Application Commentary; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1999), 258.

[5] George W. Knight III, The Pastoral Epistles (Epub Version; The New International Greek Testament Commentary; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1992).

[6] Knight, The Pastoral Epistles [Epub Version].

[7] William B. Tolar, “The Grammatical-Historical Method,” in Bruce Corley, Steve W. Lemke, and Grant I. Lovejoy (eds.), Biblical Hermeneutics: A Comprehensive Introduction to Interpreting Scripture (Nashville, Tennessee: Broadman & Holman Publishers, 2002), 21.

[8] Tolar, “The Grammatical-Historical Method,” 21.

[9] Frank Thielman, Theology of the New Testament: A Canonical and Synthetic Approach (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2005), 434.

[10] R. Kent Hughes and Brian Chapell, 1-2 Timothy and Titus (Epub Version; Preaching the Word; Wheaton, Illinois: Crossway, 2012).

[11] Hughes and Chapell, 1-2 Timothy and Titus [Epub Version].

[12] Dikutip dalam: Deky Hidnas Yan Nggadas, Pengantar Praktis Studi Kitab-kitab Injil (Yogyakarta: Andi, 2011), 264.