Kadang saya senyum-senyum saja; kadang saya jengkel juga mendengar orang berkata: “Kalau baca firman Tuhan jangan pakai logika manusia.” Biasanya saya tidak tahan untuk nyeletuk: “Kalau begitu kita pakai logika ayam saja?

Biasanya juga mereka berbicara tentang hal-hal ajaib semisal mukjizat dan menyatakan, “Memang kalau dimengerti pakai logika manusia, yang beginian tidak masuk akal.” What? Apanya yang tidak masuk akal? Kalau Tuhan itu Mahakuasa dan memang DIA Mahakuasa, mukjizat itu bukan sesuatu yang tidak masuk akal. Justru tidak masuk akal kalau Tuhan itu Mahakuasa tapi tidak bisa atau tidak pernah melakukan mukjizat.

Logika (hukum-hukum penalaran) justru sangat penting untuk menguji apakah sebuah ajaran benar atau tidak benar. Tuhan menciptakan manusia dengan kapasitas penting ini supaya manusia dapat menggunakannya untuk mengenali kebenaran. Membaca Alkitab tanpa logika, sama dengan omong kosong bahkan menyesatkan. Misalnya, Alkitab menyatakan Yesus mati di salib sebagai korban pengganti bagi umat-Nya. Kita mendapatkan pengajaran ini dari Alkitab, tetapi untuk mengertinya, itu tidak terjadi tanpa logika. Tanpa logika, tulisan-tulisan di Alkitab tidak akan bermakna  apa-apa. Anda harus menggunakan logika Anda untuk memahami Alkitab.

Logika juga diperlukan untuk merumuskan ajaran-ajaran yang benar dari Alkitab. Misalnya, tidak ada perintah sama sekali, tidak satu ayat pun di dalam Alkitab yang menyuruh kita harus berbahasa Roh, tetapi kemudian Anda menjadikan bahasa Roh sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus, ini tidak benar. Ketika Paulus memberi perintah agar “hendaknya kamu penuh Roh Kudus,” Paulus tidak memasukkan bahasa Roh di situ sebagai salah satu karakteristik orang yang dipenuhi Roh Kudus (Ef. 5:18). Paulus bahkan melarang orang berbahasa Roh dalam ibadah jemaat jika tidak diterjemahkan (1Kor. 14), tetapi lihat fenomena-fenomena ibadah di berbagai Gereja masa kini. Mungkin mereka berpikir bahwa kepenuhan Roh yang mereka pahami itu lebih tinggi otoritasnya dari Paulus yang menulis 1 Korintus 14. Fenomena ini persis bertentangan dengan ajaran Paulus. Dan karena bertentangan, maka pasti salah. Sekali lagi, logika sangat penting agar kita tidak mudah terbawa oleh arus fenomena-fenomena semacam ini.

Misalnya juga setiap kali membaca bagian Alkitab yang bicara tentang berkat dan mukjizat, Anda mengaminkannya dengan suara besar seakan-akan bagian itu langsung ditujukan kepada Anda. Pertanyaannya, bagaimana dengan bagian-bagian yang berbicara tentang kutuk dan penderitaan? Mengapa itu tidak langsung ditujukan kepada Anda? Jadi hanya bagian-bagian tentang berkat saja yang Anda aminkan, dan bagian-bagian yang berbicara tentang kutuk dan penderitaan Anda pikir itu untuk orang lain? Dengan logika, Anda tahu bahwa cara membaca Alkitab semacam ini sudah pasti salah karena Anda melakukan cherry-picking, mencomot-comot bagian yang cocok dan menyenangkan Anda sementara mengabaikan begitu saja bagian-bagian yang Anda rasa tidak cocok atau tidak enak untuk Anda.

Jadi, kalau ada orang yang berkata kepada Anda: “Jangan pakai logika Anda untuk membaca firman Tuhan,” katakan kepadanya, “Anda menganjurkan saya untuk tidak menjadi manusia lagi?” Tidak memakai logika, sama dengan tidak menjadi manusia lagi, sebab logika adalah salah satu properti kemanusiaan kita yang membedakan kita dari binatang atau makhluk hidup lainnya.

Pakai logika Anda dengan benar. Itu merupakan wujud pertanggungjawaban Anda terhadap properti kemanusiaan yang Allah anugerahkan bagi Anda sebagai manusia!